Select Page

Article Engine yang di kembangkan adalah article angine yang dapat mendukung artikel untuk menampilkan multiple page, multiple image, dan multiple files dalam sebuah artikel

Pada industri MIGAS, situasi tekanan berlebihan (over-pressure) haruslah dijaga dan dikelola dengan baik karena menyangkut faktor keselamatan terhadap personil, lingkungan, peralatan utama dan aset. Umumnya katup pelepas tekanan (Pressure Relief Valve/PRV) dan sistem pebakaran gas (Flare) digunakan untuk mengatasi kelebihan tekanan tersebut. PRV yang di-set sesuai dengan design pressure peralatan mechanical akan bertindak sebagai weak point dari sebuah sistem proses. Apabila tekanan melebihi setting pressure, maka pressure relief valve akan membuka untuk meneruskan fluida proses ke sistem flare, sehingga sistem proses terlindungi dari over-pressure.

Ada berbagai macam sparing phylosophy yang umum digunakan para pendesain ketika merancang pompa2 tersebut. Biasanya, sparing phylosophy itu berdasar atas: cost, flowrate flexibility, maintenance capability, criticality of service, company sparing phylosophy, serta personal preference.

Yang penganut pertama mengatakan bahwa ‘hot’ dan ‘cold’ itu berasal dari control system. Maksudnya gini kawan, ‘hot’ berarti jika pompa utama yang lagi bekerja tiba2 gagal, maka secara otomatis pompa kedua yang sedang nganggur tadi akan hidup. ‘Cold’ spare, berarti, jika pompa utama yang bekerja tiba2 gagal, pompa yang kedua hanya bisa dijalankan secara manual, jadi tidak otomatis. Penganut sparing philosophy kedua mengatakan bahwa ‘hot’ dan ‘cold’ spare berasal dari cara bekerjanya yang bergantian. Jadi misalnya, Jika kerjaanya bergantian setiap satu minggu, maka minggu pertama si pompa nomor 1 yang bekerja – dia itu di posisi ‘hot’ sedangkan pompa yang kedua berarti ‘cold’. Di minggu kedua, ditukar. Pompa kedua yang bekerja – dia jadi si ‘hot’ sedangkan pompa pertama di si ‘cold’. Penganut sistem ini biasanya berpendapat hal ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa dua pompa itu selalu siap sedia mompa, meskipun alasan dibalik itu adalah karena program preventive maintenance-nya yang jelek (he..he..). Bahkan kata ahlinya Reability Center Maintenance, justru penganut philosophy ini salah besar, terutama jika kedua pompa tersebut identik (dan biasanya pompa spare itu identik). Kenapa?

(test)

Dia menjelaskan seperti ini: Jika saya punya pompa dua, satu akan saya jalankan terus sampai dia rusak. Lalu ketika sedang memperbaiki pompa yang rusak ini, pompa yang kedua dihidupkan. Jika pompa pertama yang rusak tadi sudah selesai diperbaiki, dia dijalankan kembali, dan pompa kedua yang tadi dijalankan dimatikan. Kenapa? Karena dengan begitu, saya akan tahu pola-pola kerusakan pompa, apa saja yang bisa membuatnya rusak bisa saya record dan catat trendingnya. Dengan begitu saya punya data yang cukup akurat untuk melakukan suatu aktivitas maintenance yang lebih bagus dari preventive maintenance, yaitu predictive maintenance. Jika pompa itu saya jalankan secara bergantian dan teratur, sulit bagi saya untuk mengambil data reability pompa. Masuk akal juga yach….

Suatu perusahaan yang punya lebih dari satu pabrik minyak yang letaknya berjauhan, sparing phylosophy biasanya dikembangkan lebih jauh, guna menjamin bahwa export minyaknya reliable serta untuk mengantisipasi tidak tentunya jadwal kapal tanker minyak. Katakan ada suatu pabrik minyak yang punya tiga pabrik dan satu pelabuhan minyak. Pabrik pertama letaknya paling jauh, yang kedua lebih dekat ke pabrik ketiga, dan pabrik ketika adalah pengumpul utama. Dari pabrik ketiga mengirimkan semua minyak ke pelabuhan.

Share This