Select Page

Kata-kata ini pasti sudah tidak asing lagi bagi pekerja engineering dan operasi di dunia perpabrikan. Namanya biasanya menghias cukup kecil tertera di P&ID. Specs break ada terutama jika terjadi perbedaan specs di antara pipa, baik ketebalan, service, ataupun corrosion allowance-nya. Kata-kata ini pasti sudah tidak asing lagi bagi pekerja engineering dan operasi
di dunia perpabrikan. Namanya biasanya menghias cukup kecil tertera di P&ID.
Specs break ada terutama jika terjadi perbedaan specs di antara pipa, baik ketebalan,
service, ataupun corrosion allowance-nya. Karena kecilnya terlihat di P&ID,
sering kali orang lupa akan bahaya tersembunyi di dalamnya, terutama ketika terjadi
kesalahan dalam pengoperasian sehari-hari, tetapi tidak menutup kemungkinan juga
sudah salah dari awal desainnya.

Bukan barang aneh karena memang sifat dari bisnis, pinginnya murah, tapi tetap
aman. Nah, karena dorongan inilah banyak sekali design perpipaan di pabrik dicoba
‘ditawar’ tapi tetap aman. Hanya saja, biar tetap aman, harus ada
syarat-syarat yang harus dipenuhi, yang tertera di perbagai standard dan plus
daya kreatifitas dari si desainer itu sendiri. Kalau tidak percaya, coba saja
dua orang design engineer disuruh membuat suatu P&ID dari PFD yang identik,
pasti beda hasilnya. Karena safety itu sendiri pada fasa ini masih subjektif,
tergantung siapa yang merancang. Kalau enggak percaya, coba lihat gambar 1.

Gambar 1 menunjukkan desain specs break suatu gas/oil production facilities
yang kelewat mewah. Bayangkan, kita merancang pipa persumuran dengan specs break
yang sama, untuk HP ataupun LP. Perusahaan sekelas ExxonMobil atau BP pun akan
geleng-geleng kepala. Not cost wise man. Is it right ? Slow down…. Have
you ask me about reservoir strategy ? Biasanya, pada awal-awal dapat gas atau
minyak untuk sumur yang masih perawan, sumur akan bertekanan tinggi, sehingga
tidak mungkin mendesain suatu pipa yang bertekanan rendah, so desain nomor satu
tentu masih ada bagusnya. Yang kedua, di suatu saat nanti jika sudah terjadi
penurunan tekanan, katakan sumurnya jadi Medium pressure dan Low pressure, we
may get a benefit.


Gambar 1 – Determining Pressure Breaks


Gambar 2 – Determining Pressure Breaks


Gambar 3 – Determining Pressure Breaks

( Drawing taken from API RP-14J with Modification )

Ada suatu contoh yang sedikit berbeda tapi kelihatannya masih ada korelasinya.
Katakan header/trunkline MP berdiamater 16′ dan header LP berdiameter 20′,
yang ber-rating pipa berbeda. Yang MP ratingnya tetap MP dan yang LP berating
HP (karena dulu bekas sumur-sumur HP). Header MP mempunyai flow jauh lebih besar
dari LP, maka dengan sedikit kreativitas, kita bisa menukar-gulingkan keduanya
dengan tujuan untuk mendapatkan aliran gas MP yang lebih besar sebagai akibat
penurunan hilang tekan (pressure drop) karena pipanya berubah, dari 16′
ke 20′, tanpa membuat sumur-sumur LP lajunya menurun secara significant.
Ini bukan bualan loh, karena contoh ini adalah kasus nyata dulu. ….. Hal
ini cuma bisa dilakukan karena specs pipa kita memungkinkan, dan ditunjang oleh
keluwesan dari valving arrangement yang ada di manifold.

Kembali ke strategi reservoir, terkadang sudah sedemikian jelasnya strategi
reservoir tersebut, di mana kita bisa menentukan pipa-pipa yang ber-rating bersesuaian,
akan timbul masalah yang berkaitan dengan safety juga, meskipun terjadinya di
kemudian hari kelak. Ada satu cerita unik tentang ini. Katakan kita punya trunkline
panjang dan melintang sepanjang sumur-sumur gas/minyak. Sumur-sumur tersebut
beragam dalam hal shut in pressure dan flowline pressure. Maka diputuskan oleh
si desain engineer untuk membagi pressure rating flowline supaya reduce cost
tetapi tetap aman (harapannya…). Engineer tersebut tidak menyadari bahwa
dengan ‘tampil beda’ dibandingkan dengan unit pabrik lain yang masih
dalam satu perusahaan, ada suatu bahaya yang tersembunyi, yang mungkin belum
di assess. So, safety problem starting from here. Have you consider that is
it really your management having sufficient control for this stuff ?

Beberapa tahun kemudian, ketika tekanan sumur mulai berkurang dan sudah ada
yang di abandon di satu sisi, tapi ditemukan pula sumur yang masih bertekanan
HP, maka kanibal dari flowline-flowline yang ada dirasakan sangat bermanfaat.
Celakanya, masih ada yang menganggap si flowline-flowline tersebut punya spec
rating yang sama untuk semua tekanan, padahal khusus untuk pabrik yang satu
ini, berbeda. Bayangkan jika mereka langsung memotong pipa yang berdesain LP
dan langsung di tie-in ke sumur HP yang baru ?

Untuk gambar kedua dan seterusnya silakan menyimak sendiri dan membayangkan
resiko-resiko yang harus terjadi, tidak mesti di saat sekarang, dan juga kedepannya

Kembali ke focus, cuma sekedar mengingatkan, suatu perusahaan, oil company
misalnya, punya banyak pabrik/platform yang dirancang oleh kontraktor yang berbeda-beda
tanpa ada kontrol yang ketat, bisa-bisa akan kecolongan. Melenceng agak jauh
lagi, sebagai akibat terlalu beragamnya desainer pabrik/platform, terkadang
akan membawa ‘warna’ tersendiri yang bisa merugikan. Contoh simpel
adalah standard dari piping specs dan penamaannya. Jika spec pipa dan penamaan
berbeda, ini bukan masalah yang bisa dianggap remeh, apalagi jika ada rencana
integrasi proses dari beberapa platform yang punya nama pipa dan standard pipa
yang beda, wah… big job and big hidden danger. So saran dari saya yang
masih suka salah ini, make your piping and the name of your plant’s piping are
the same, identic. Ini bisa mengurangi satu masalah safety di plant.

Salah satu pekerjaan seorang process engineer ketika mendesain fasilitas baru
yang berhubungan dengan fasilitas lama, ataupun karena hasil inspeksi mechanical
integrity menunjukkan bahwa ketebalannya sudah tidak bisa menunjang fungsi operasinya,
adalah derating pipa. Maksudnya, rating yang terdesain sejak dulu, direndahkan.
Dari HP di derating ke MP, dst… Indahnya adalah, sisi ini terkadang bisa
menghemat ongkos lagi, terutama jika fasilitas baru yang akan di dibuat, secara
prinsipnya beroperasi pada tekanan yang lebih rendah dari yang sudah terpasang.
Hanya saja harus hati-hati, karena para operator setempat sudah terbiasa bahwa
pipa tersebut itu, katakanlah untuk HP sistem. Nah kalau mau di derating ke
LP, ngobrol-ngobrol lah ke operator. Karena terkadang, tulisan kecil ‘this
pipe has been derating to 150 class’ di P&ID terkadang tidak cukup.
Memang sih, kalau sudah diderating pasti akan ada pengamannya seperti PSV, ataupung
spectacle block plus lock-close valve. Tapi ada baiknya disosialisasikan ke
operator supaya lebih membumi, supaya dia tidak coba-coba membuka lock-close
valve karena ketidaktahuannya akan sistem yang baru.

Orang konstruksi sekalipun, terkadang bisa terkecoh dengan kecilnya tulisan
derating pipa ini. Misalnya, dia mau menyambungkan pipa LP header yang lama
dengan yang baru. Sudah koordinasi sana-sini untuk shutdown sekian jam ke departemen
produksi (yang saya tahu, tidak gampang menyetop produksi yang sudah jalan).
Oke, ketika dipotong,ternyata tebalnya berbeda. Karena yang satu sudah berdesain
LP, yang satu pipanya masih tebal, setebal ketika didesain untuk service HP
dulunya…. Persoalannya mungkin tidak terlalu ke safety, tapi downtime
yang dijanjikannya ke produksi akan molor karena sangat mungkin dia harus membuat
transition piece, baru bisa dilas…..

Terkadang, untuk specs break yang sama, design pressure ataupun MAWPnya bisa
beda, tergantung ketebalan pipa itu sendiri. Nah jika kita sudah terbiasa menggunakan
pipa yang ber-MAWP tertentu, sebaiknya gunakan itu terus, dan jika coba-coba
menawarnya karena tergiur akan reduce cost, harus ekstra hati-hati. Misalnya
di pasaran kita lihat ada nih pipa yang berketebalan lebih rendah tapi masih
masuk kategory spec break yang ada. Looks good memang, tetapi, kita harus perhatikan
secara cermat, case by case. Contoh misalnya kita ingin memasang pipa yang baru
untuk menggantikan yang lama (karena rusak) dengan rating pipa yang masih diterima
tapi berketebalan lebih rendah. Nah, yang paling gampang diteliti adalah, apakah
perlu kita merubah setting PSHH kita, karena ada kemungkinan setting PSHH kita
adalah fungsi dari MAWP pipa. Kalau ternyata dia harus direndahkan, coba cek-cek
apakah kita akan kehilangan kemampuan untuk mengalirkan gas yang lebih banyak
karena span operasi pipa kita jadi mengecil. Kalau ini terjadi, kita rugi besar.
Ingatlah pepatah, pay now or pay later…..

Bagaimana hal diatas dapat terjadi?

Apabila perusahaan tempat anda bekerja sudah menerapkan integrated data-base
(tidak perlu harus full computerized, tetapi harus traceable), terjadinya pemakaian
pipa berspesifikasi low-pressure menjadi medium/ high pressure timbul karena
kemungkinan ketidaktahuan orang yang mendisain modifikasi atau ketidakpahaman
dirinya terhadap bagaimana mechanical/inspection engineer bekerja dan mengup-date
sistem pekerjaannya. Apabila perusahaan bapak bekerja tidak menerapkan integrated
data-base, kemungkinan terjadinya kasus tersebut tentulah sangat besar, apalagi
kalau operation people yang menjalani modifikasi tersebut tidak tahu kondisi
peralatannya.

Dalam banyak prosedur, seorang inspector/mechanical engineer berpedoman bahwa
ia harus bertanggung-jawab atas integrasi-mechanis sesuai dengan disain operational
( MAWP ), bukan terhadap kekuatan beban material (yield strength/allowable ultimate
strength dibagi safety factor). Hal ini dikarenakan ia harus memperhatikan life-time
dari peralatan tersebut sesuai jadwal sistem pekerjaannya.

Demikian juga dengan
design life 20-30 tahun yang biasa dipergunakan pada waktu konstruksi awal,
umumnya tidak dapat dilakukan pada jaringan pipa existing, karena hasil maintenance
yang dilakukan berdasarkan kriteria tersebut akan membuat pemborosan yang cukup
besar pada saat major replacement/demolish. Hal ini kadangkala tidak dipahami
oleh process engineer/project engineer, dan kadangkala merupakan faktor dominant
pada waktu terjadi pecahnya sistim perpipaan karena modifikasi, walaupun perusahaan
tersebut sudah menerapkan integrated data-base system.

Tanggung jawab seorang process/project engineer akibat modifikasi terhadap existing
mechanical integrity umumnya tidak jelas. Inspector/mechanical engineer mengharapkan
pemahaman process/project engineer terhadap existing mechanical integrity untuk
tidak dirubah, perubahan hanya pada mechanical integrity modifikasi, kecuali
modifikasi tersebut lebih besar scopenya dibandingkan dengan existing. Banyak
pekerjaan yang harus dilakukan pada perubahan mechanical integrity, mulai dari
perubahan sertifikat ke Dirjen Migas, perubahan schedule dan methode inspeksi
dikarenakan perubahan setting trend, perubahan schedule maintenance, assesment
secara menyeluruh kembali, dsb.

Sumber Inspirasi :

  1. Badak Overpressure Protection Design Basis, Roy F. Huffington Inc, East
    Kalimantan.
  2. Recommended Practice for Design and Hazards Analysis for Offshore Production
    Facilities, API RP 14J, first edition, 1993.
  3. Anoa Gas Export (AGX) Project P&ID, PT Kvaerner Indonesia for Premier
    Oil Natuna Sea B.V, 2000.
  4. Semberah Gas Facilities Upgrade to 200 MMscfd, Vico Indonesia Project, Nanan
    Yanie, Cahyo Hardo, and Holland Simanjuntak, 1999.
  5. UPV Pertamina, Sulaeman.
Share This