Select Page

Kalangan produsen pipa baja Indonesia yang tergabung dalam Gapipa khawatir kehilangan pasar dalam negeri.

Kalangan produsen pipa baja Indonesia yang tergabung
dalam Gabungan Pabrik Pipa Baja Indonesia (Gapipa) khawatir kehilangan pasar
dalam negeri karena produk dari India yang akan masuk ke Indonesia diduga
menerapkan harga dumping. Padahal, pasar dalam negeri yang selama ini dibagi
oleh 15 anggota Gapipa hanya menyerap 30 persen dari total kapasitas produksi
yang mereka miliki.

Demikian diutarakan Ketua Gapipa Soesamto dan wakilnya Abas F Soeriawidjaya,
Sabtu (9/7) di Jakarta. Mereka mengatakan, produk India ingin masuk ke proyek
yang ada di Indonesia dengan harga 1.200 dollar AS per metrik ton, padahal
harga yang lazim berlaku dalam tender internasional sebesar 1.500 hingga 1.600
dollar AS per metrik ton.

Dugaan harga dumping pada pipa asal India muncul dalam tender pengadaan
pipa untuk proyek jaringan transmisi gas alam dari Sumatera bagian selatan
ke Jawa Barat (SSWJ) fase I yang diikuti oleh tiga perusahaan dari India.
Ketika dokumen peserta tender dibuka, ternyata tiga perusahaan tersebut menawarkan
harga yang sangat rendah.

Proses tender fase I yang terbagi tiga paket, Griissik-Pagardewa, Pagardewa-Labuan
Maringgai, dan Lampung-Bekasi, dimulai tanggal 6 Juni 2005. Tender diikuti
oleh produsen dari China, India, dan Indonesia. Pemenang tender yang akan
memasok pipa buat proyek tersebut akan diputuskan pada tanggal 6 Agustus 2005.

Harga yang ditawarkan oleh tiga perusahaan asal India tersebut sudah jelas
harga dumping. Kalau produk Indonesia kalah tender, tentu sangat menyakitkan
karena produk Indonesia sepertinya dikalahkan karena adanya konspirasi, ujar
Abas.

Apakah tidak menguntungkan bagi pemerintah jika harga pipa lebih murah?
Abas menjelaskan, bahwa harga yang murah belum tentu menguntungkan. Pengalaman
ketika pipa murah digunakan dalam proyek gas di Natuna, pipanya tidak bulat
sehingga butuh biaya dan waktu untuk melakukan penyambungan.

Soesamto mengimbau pemerintah agar dalam proyek nasional memberikan kesempatan
yang fair untuk produk lokal. Pemerintah harus memperhatikan industri nasional
yang memiliki kapasitas produksi 1,5 juta ton per tahun, tetapi yang terpakai
30 persen karena rendahnya pasar di dalam negeri.

Menurut Soesamto, proyek pembangunan jaringan pipa gas di dunia bisa dihitung
jari setiap tahun sehingga kalau ada tender di Indonesia harus berlangsung
adil bagi produsen lokal. Produsen lokal siap bersaing dengan produk asing,
tetapi tetap harus dengan harga yang wajar.

Source : www.kompas.com

Share This