Select Page

Kandungan lokal industri telekomunikasi kurang dari 10 persen karena industri pendukung belum berkembang dengan baik.

Kandungan lokal industri telekomunikasi kurang dari 10
persen karena industri pendukung belum berkembang dengan baik. Akibatnya,
pengusaha lokal tidak mendapatkan nilai tambah dari belanja telekomunikasi.

Rendahnya kandungan lokal ini diutarakan Menteri Informasi dan Telekomunikasi
Sofyan Djalil ketika membuka Rakornas Telematika Kadin Indonesia, Senin (25/7)
di Jakarta. Menurut dia, kandungan lokal yang rendah menyebabkan nilai tambah
dalam negeri bagi perekonomian nasional menjadi relatif kurang.

Pembangunan telematika di Indonesia menghadapi persoalan berat karena penggunaan
perangkat pendukung hampir 90 persen merupakan produk impor. Hal ini menimbulkan
persoalan karena beban kebutuhan devisa menjadi sangat besar, ujar Sofyan.

Dirut PT Telkom Arwin Rasjid mengatakan, pendapatan operator telepon pada
tahun 2004 di luar penjualan handset mencapai Rp 48 triliun. Jumlah itu menunjukkan
bahwa industri telekomunikasi masih lebih tinggi dibandingkan dengan industri
otomotif yang sekitar Rp 40 triliun.

Dia menambahkan, industri telekomunikasi Indonesia pada tahun 2010 akan
berkembang pesat. Dalam lima tahun lagi, pendapatan operator naik menjadi
Rp 140 triliun.

Jumlah pendapatan tersebut akan lebih tinggi lagi jika ditambah dengan nilai
penjualan handset. Penjualan handset pada saat ini mencapai 10 juta unit per
tahun.

Sementara itu, Direktur Utama PT Indosat Hasnul Suhaimi juga mengatakan
prospek industri telekomunikasi di Indonesia akan berkembang pesat. Indosat
memperkirakan jumlah pelanggan akan meningkat tiga kali lipat pada tahun
2008 dibandingkan yang terdaftar pada saat ini.

Namun, menurutnya, pertumbuhan industri telekomunikasi yang pesat itu harus
didukung beberapa faktor, antara lain jumlah operator yang cukup, regulator
yang independen, dan konsistensi peraturan.

Terus meningkat

Data Komite Tetap Informatika Kadin menunjukkan bahwa pasar teknologi dan
informasi (TI) terus meningkat, baik peranti lunak, peranti keras, maupun
servis. Pasar TI di Indonesia diperkirakan akan meningkat dari 1,7 miliar
dollar AS pada tahun 2005 menjadi 2,5 miliar dollar AS pada tahun 2008.

Sementara pasar paket perangkat lunak Indonesia tercatat sebanyak 30 pengembang
papan atas menguasai 60 persen pasar di Indonesia. Pemain utama selama ini
memang terdiri dari vendor asing.

Kadin mencatat bahwa industri perbankan, manufaktur, dan telekomunikasi
mendominasi belanja TI. Ketiga kelompok tersebut mengambil porsi 50 persen
dari total belanja sebesar 1,7 miliar dollar AS yang disebabkan basis pelanggan
yang besar, lingkungan bisnis yang sangat kompetitif, dan keinginan untuk
memanfaatkan teknologi yang terbaru.

Pada kesempatan itu, Sofyan menantang pengusaha untuk meningkatkan kandungan
lokal dengan menumbuhkan industri penunjang sehingga pertumbuhan sektor telekomunikasi
bisa bermanfaat bagi pengusaha lokal. Dia juga berharap pengusaha memberikan
masukan mengenai bantuan apa yang bisa diberikan pemerintah agar kandungan
lokal tersebut bisa ditingkatkan.

Roadmap

Pemerintah saat ini sedang menyusun suatu rencana strategis untuk kebangkitan
industri penunjang. Rencana itu akan dituangkan dalam roadmap yang berisikan
perkiraan kebutuhan industri ke depan.

Bentuk perangkat penunjang industri yang dibutuhkan tak harus produk teknologi
tinggi, namun dapat dimulai dari industri komponen atau perangkat yang pasarnya
ada di dalam negeri.

Sementara itu, Ketua Komite Tetap Telematika Kadin Indonesia Anindya N Bakrie
mengimbau seluruh pelaku industri telematika untuk berpartisipasi secara aktif
untuk menyumbangkan pemikiran dalam rangka menumbuhkan industri penunjang
telekomunikasi. Dia mengakui industri telekomunikasi berkembang dengan pesat,
tetapi belum mengembangkan produk penunjang di dalam negeri.

Keberhasilan industri telepon seluler ternyata belum cukup signifikan untuk
mendorong sektor telematika secara keseluruhan. Kesenjangan digital yang merupakan
fenomena memprihatinkan di banyak negara berkembang masih kental mewarnai
industri telematika di Indonesia, ujar Anindya.

Data menunjukkan penetrasi telepon tetap masih berkisar pada angka empat
persen. Padahal, pemerintah memiliki komitmen untuk memenuhi target World
Summit on the Information Society (WSIS) di mana 50 persen dari penduduk Indonesia
harus mendapat akses informasi pada tahun 2015.

Kalangan pengusaha telematika, menurut Anindya, optimistis Indonesia mampu
meningkatkan teledensitas (kepadatan telepon per 100 penduduk, Red). Namun,
pemerintah masih harus memberikan kepastian hukum dalam industri telekomunikasi.

Source : www.kompas.com

Share This