Select Page

Sistem kelistrikan Jawa-Bali riskan. Aliran listrik mati mendadak seperti terjadi Kamis (18/8) di sebagian besar Pulau Jawa sangat mungkin terulang.

Sistem kelistrikan Jawa-Bali riskan. Aliran listrik mati mendadak seperti terjadi Kamis (18/8) di sebagian besar Pulau Jawa sangat mungkin terulang. Pembangkit kritis, jaringan transmisi alternatif pun tak ada.

Akibat padamnya listrik sekitar tiga jam kemarin, kerugian sosial dan ekonomi masyarakat dipastikan cukup besar meskipun nominalnya belum terhitung. Kalangan pengusaha semakin mengkhawatirkan kondisi kelistrikan, khususnya di Jawa. Hal itu dikhawatirkan berdampak negatif terhadap perekonomian.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) DKI Jakarta menghitung kerugian dalam pemadaman listrik kemarin sedikitnya Rp 55 miliar. ”Itu pun belum termasuk kerugian berupa penalti dari buyer,” kata Ketua API Jakarta Irwandy MA Radjabasa.

Sebanyak 42 perjalanan kereta rel listrik (KRL) rute Jakarta-Bogor-Tanggerang-Bekasi dibatalkan. Sebanyak 26 KRL yang sedang beroperasi tertahan di beberapa perlintasan. Potensi kehilangan pendapatan mencapai Rp 200 juta.

Di Bandara Soekarno-Hatta gangguan listrik berlangsung sekitar empat jam dan menyebabkan 15 penerbangan tertunda.

PLN memperkirakan ada sekitar 3,2 juta pelanggan yang terkena pemadaman total, terutama di daerah Jakarta dan Banten.

Kepala Biro Komunikasi Bank Indonesia (BI) Rizal A Djaafara menjelaskan, black out tidak memengaruhi kinerja BI karena BI memiliki genset. Beberapa bank besar juga menyatakan aktivitas transaksi tak terganggu, tetapi sejumlah ATM tidak berfungsi.

Terkait dengan padamnya listrik di sebagian wilayah di Jawa dan Bali, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro berkoordinasi mengatasi gangguan tersebut sesegera mungkin. Presiden juga memerintahkan Kepala Kepolisian Negara RI Jenderal (Pol) Sutanto dan Kepala Badan Intelijen Negara Syamsir Siregar mencari penyebab nonteknis gangguan ini.

Dirut PLN Eddie Widiono mengatakan, black out kali ini mengingatkan ketergantungan yang sangat besar atas transmisi 500 KV di bagian utara Jawa yang merupakan satu-satunya jaringan penghubung daya dari PLTU Paiton di Jawa Timur ke Jawa Barat. Hal tersebut membuat pasokan listrik untuk interkoneksi Jawa dan Bali sangat rentan mengalami gangguan karena tak ada alternatif jaringan transmisi.

PLN membutuhkan jaringan bagian selatan Jawa yang saat ini sedang dibangun, tetapi terkendala masalah pembebasan lahan.

Menurut Eddie, PLN tidak bisa menjamin gangguan seperti kali ini tak akan terjadi lagi.

Ia juga mengakui, sistem interkoneksi Jawa-Bali memang tidak stabil karena dua pembangkit besar berada di ujung barat dan timur Pulau Jawa, yaitu Suralaya dan Paiton, tetapi hanya ada satu sistem transmisi. Sistem interkoneksi yang ada saat ini pun sudah tua, dibangun tahun 1984 bersamaan dengan beroperasinya PLTU Suralaya.

Source : www.kompas.com

Share This