Select Page

Jika kita menggunakan cairan aditif dalam fuel untuk mobil, apakah kita harus menunggu sampai cairan aditif tersebut habis untuk menambah fuel kembali?

Jika kita menggunakan cairan aditif dalam fuel untuk mobil yang sekarang banyak beredar di pasaran dengan tujuan menambah tenaga, mencegah akumulasi deposit/kerak, dll, apakah kita harus menunggu sampai cairan aditif tersebut habis/hampir habis untuk menambah fuel kembali agar tujuan menjadi efektif?

Sebenarnya bagaimana cara kerja aditif + fuel secara umum? Apakah efektifitas cara ini tergantung konsentrasi aditif dalam fuel (apakah ini berwujud campuran atau membentuk senyawa karena bereaksi?)

Apakah memang ada gunanya menambahkan aditif dalam fuel atau ini hanya cara pemasaran saja?

Sesuai namanya, aditif adalah suatu senyawa yang ditambahkan kedalam senyawa lain (dalam hal ini fuel) untuk menjalankan suatu fungsi spesifik, misalnya aditif penghilang endapan, aditif penghilang kerak/korosi, aditif peningkat angka oktana/setana, dll.

Fuel additive yang beredar di pasaran saat ini mempunyai berbagai fungsi, ada juga yang merupakan multipurpose addtive. Yang paling umum adalah octane booster, ini berfungsi untuk mengubah rantai karbon fuel menjadi lebih banyak cabang untuk menghasilkan nilai oktan yang tinggi.

Umumnya material yang digunakan adalah LOGAM, mangan, iron, dll. LOGAM ini bertujuan untuk membuat radikal bebas di rantai karbon fuel, dengan adanya radikal bebas, makin mudah rantai karbon itu untuk membuat cabang baru. Efeknya apa? Jelas nilai oktan naik dan nilai kalorinya naik pula.

Tetapi, harap berhati-hati, Logam sangat BERBAHAYA bagi otak manusia. Hal yang paling mudah adalah mencari aditif organik, walaupun jarang.

Dalam kemasan, aditif tidak pernah dicantumkan komposisi ataupun MSDS, sehingga kita tidak bisa memilah mana yang baik untuk mobil kita dan lingkungan kita. Dan satu lagi, Anda mungkin akan menemukan banyak deposit di saringan fuel Anda setelah baru pertama kali menggunakan aditif jenis ini. Jangan khawatir, itu cuma rust yang terkikis oleh salah satu agent dalam fuel additive itu (rust remover). Cara penanganannya cukup mudah, ganti saja saringan fuel dengan yang baru.

Selain octane booster, ada lagi dispersant dan surface barrier function. Zat ini berfungsi untuk mendispersi air dalam minyak (kebalikan dari reverse demulsifier), jadi efeknya adalah mengurangi korosi dan mengurangi kalor yang dibutuhkan untuk memanaskan air yang terdapat dalam fuel. Surface barrier lebih ke arah pelumasan. Sebenarnya dalam tiap pelumas yang (minimal) tersertifikasi nasional sudah terdapat surface barrier agent yang fungsinya untuk mengurangi friksi piston dengan dindingnya, sehingga memastikan pelumas tidak ikut terbakar.

Selain itu banyak juga fuel additive yang memakai corrosion inhibitor. Ini fungsinya jelas untuk menghambat korosi dalam fuel line di mesin (sama halnya yang terjadi dalam oil flow line atau gas flow line). Dan yang paling seru adalah penambahan biocides ke dalam fuel additive, untuk menghindari ‘bolong’ nya fuel container Anda akibat aktifitas mikrobiologis…(karena menghasilkan asam sulfat yang korosif sekali).

Disamping fungsinya yang spesifik, cara penggunaan dan treatmentnya pun spesifik. Salah satunya mengenai komposisi penambahan aditif tersebut dalam fuel.

Sebuah aditif tentunya sudah memiliki aturan perbandingan aditif terhadap fuel, jadi tidak perlu menunggu fuel habis baru diisi dengan fuel + aditif baru. Pada saat pengisian fuel baru yang tetap dipegang adalah komposisi perbandingan fuel : aditif

Sebuah aditif tentunya dihasilkan dari sebuah riset panjang yang untuk mendapatkan perbandingan campuran yang optimal. Efisiensi kerja dari aditif tersebut tentunya sangat bergantung dari komposisi tersebut.

Penambahan aditif tidak membentuk senyawa baru, hanya berupa campuran. Fungsi-fungsi aditif ini pertama kali diterapkan di operasi Minyak & Gas, baru ke masalah fuel.

Penggunaan aditif tentu telah diuji coba sebelum dijual secara komersil. Jadi kalau dikatakan aditif ini berhasil atau tidak atau cuma lip service penjualan saja, mungkin perlu dilihat record uji cobanya dan beberapa analisis lab terhadap karakter aditifnya.

Dengan penemuan teknologi baru (GTL, Biodiesel, dll) yang dapat menghasilkan diesel dengan angka setana yang cukup tinggi dan karakter lainnya yang lebih baik, seperti kadar aromatik, dll, apakah aditif akan tetap diperlukan di masa mendatang? Negara kita punya banyak batubara, apakah tidak ada planning ke depan untuk menyulap batubara kita menjadi diesel fuel? Pertanyaan besar yang harus dijawab.

Share This