Select Page

Seperti dokter menggunakan ultrasound untuk mencitrakan organ internal dan bayi yang belum lahir,

para peneliti dari MIT Earth Resources Laboratory mendengarkan bahasa gema batu untuk memetakan apa yang terjadi

dalam puluhan ribu kaki dibawah permukaan bumi.

Seperti dokter menggunakan ultrasound untuk mencitrakan organ internal dan bayi yang belum lahir,

para peneliti dari MIT Earth Resources Laboratory mendengarkan bahasa gema batu untuk memetakan apa yang terjadi

dalam puluhan ribu kaki dibawah permukaan bumi.

Dengan bantuan US Department of Energy (DOE) senilai $ 580.000, para ilmuwan kebumian akan menggunakan

kemampuannya untuk menginterpretasikan bunyi dari bawah tanah untuk mencari ‘titik manis’–kantung gas alam dan

minyak yang terkandung dalam retakan batuan berpori di lapangan minyak Wyoming. Jika metode ini terbukti efektif

dalam menentukan tempat pemboran sumur, hal ini akan bisa digunakan di lapangan migas.

Sumber gas alam domestik yang besar merupakan formasi gas dengan permeabilitas rendah atau ‘rapat’. Minyak

dan gas berasal dari materi organik yang telah dimasak selama berabad-abad dibawah tekanan dan panas yang tinggi

dalam kerak bumi. Beberapa reservoir bawah tanah mengandung volume minyak dan gas yang mengalir dengan lancar

melalui batuan permeabel, tapi kadang-kadang fluida terperangkap dalam batuan berpori kecil dan sulit diakses,

membentuk kantung menyebar secara terpisah. Hingga saat ini, tidak ada teknologi yang tersedia untuk memperoleh gas

rapat.

Gas rapat, saat ini merupakan yang terbesar dari tiga sumber gas non-konvensional, yang juga meliputi unggun

batubara dan shale. Produksi gas non-konvensional US merepresentasikan sekitar 40% dari output gas total pada

tahun 2004, menurut DOE, tapi bisa tumbuh menjadi 50% pada 2030 jika teknologi yang maju telah dikembangkan dan

diimplementasikan.

Salah satunya adalah gagasan Mark E. Willis dan Daniel R. Burns, ilmuwan peneliti di Department of Earth,

Atmospheric and Planetary Sciences (EAPS), dan M. Nafi Toksoz, profesor dari EAPS. Metode mereka meliputi

penggabungan dua data yang telah ada, yang sebelumnya tidak berhubungan, sebagai alat untuk mencari cadangan

migas.

Untuk membebaskan hidrokarbon yang menyebar di kantung-kantung kecil dari satu hingga tiga mil dibawah

tanah, perusahaan minyak menggunakan proses yang disebut patahan hidrolik, atau hydrofrac, yang memaksa air ke

dalam unggun batuan melalui sumur-sumur dalam untuk membuat retakan dan meningkatkan ukuran dan luas retakan

yang ada. Retakan membuka jalan untuk minyak dan gas untuk mengalir ke sumur-sumur.

Untuk mengawasi keefektifan peretakan dan untuk mendeteksi retakan alami yang mungkin merupakan titik manis

gas alam, para engineer mengumpulkan data akustik dari permukaan dan dari dalam sumur. ‘Metode seismik

permukaan seperti medical ultrasound. Merekan memberikan citra geologi sub-permukaan,’ kata Burns. Survey

seismik 3D meliputi pembuatan vibrasi di permukaan dan pengawasan hasil gema di bawah tanah. ‘Jika gema berubah,

maka ada retakan disana,’ kata Willis.

Sebuah metode yang disebut time-lapse vertical seismic profiling

(VSP) cenderung lebih akurat karena ia

mengumpulkan data akustik secara langsung dari bawah tanah melalui lubang bor. ‘Menyimpan penerima di dalam

sumur seperti membuat citra dengan sensor di dalam tubuh dalam dunia medis,’ kata Burns. ‘Hasilnya adalah

kemampuan untuk melihat detail yang lebih halus dan menghindari seluruh kekecauan yang berasal dari pengiriman

gelombang bunyi melalui jaringan kulit dan otot untuk memperoleh yang ingin kita lihat.’

Time-lapse VSP memang mahal dan tidak digunakan secara rutin dalam eksplorasi migas. Tim peneliti EAPS,

bekerja dengan data time-lapse VSP yang dikumpulkan oleh rekan industrinya, EnCana Corp., muncul dengan

cara yang unik untuk melihat data bersama dengan data mikroseismik dari gempa kecil yang dihasilkan saat batuan

retak. ‘Jika kami merekam dan menempatkan peristiwa ini seperti yang dilakukan US Geological Survey dengan gempa

di seluruh dunia, kami mendapatkan ide dimana hydrofrac ditempatkan. Lalu kami melihat data time-lapse VSP

di titik tersebut dan mencoba untuk memperoleh citra retakan yang lebih detail,’ kata Burns.

Tim MIT berharap untuk menunjukkan bahwa pedekatan baru ini adalah cara yang paling efektif untuk

menemukan titik manis. ‘Jika kami bisa mendemonstrasikan nilai time-lapse VSP, alat ini bisa digunakan dalam

fashion yang lebih luas di seluruh US dalam beberapa lapangan,’ kata Willis.

Sumber : www.sciencedaily.com