Select Page

Di luar dari hal teknis teknologi PDMS, secara umum ini adalah salah satu tantangan bagi Organisasi manapun dalam mengembangkan dan meningkatkan Sistem Manajemen (Quality, HSE & dll.), khususnya merancang sebuah sistem yg mampu ‘plug and play’ dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi spt. contohnya kasus PDMS ini. Tentu saja para sales engineer dari produk-produk hasil kemajuan pengetahuan & teknologi akan sangat percaya diri mengatakan bahwa sistem mereka kompatibel diterapkan dalam organisasi yg mengadop International Recognised standard for Management System spt. ISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001, dan standard sistem manajemen lainnya.

Tanya – Elvis Jasir

Salam kenal untuk semua.

Pada project yang pak Budhi tanyakan tersebut ternyata setelah di investigasi singkat, sebenarnya di model (PDMS) originalnya sudah terlihat clash dan bukan saja instrument trey dengan riser pipe tapi juga line pipe lainnya juga nabrak2 dengan structure/instrument/dll pokoknya amburadul. Pada waktu engineering di tengah jalan memang ada perubahan vendor data dll, kemudian mereka revisi modelnya. Nah setelah itu mungkin terdapat clash.
Waktu itu modeling PDMS nya lama sekali sampai sudah masuk schedule Fabrikasi PDMSnya belum kelar2. Menurut laporan untuk project tsb operatornya cuma satu orang saja.

Nah yang jadi pertanyaan sekarang:

1.mengapa operator/designer PDMS tsb tidak merevisi atau memberitahukan kepada clientnya?

2.Apakah memang diperlukan waktu yang lama bagi PDMS designer/operator untuk merevisi jika ada clash?

Tanggapan 1 – Dirman Artib

Rekan-rekan milister,

Sebenarnya agak risi juga untuk memabahas kasus yg spesifik ini dan untuk lebih jauh mendiskusikannya, karena ada ‘merek produk’ dan tempat di mana kasus ini terjadi. Kurang etis lah…..tapi untuk cari momen lain ntar kelewatan ya….jadi mohon dimaafkan dan dimengerti demi ‘free sharing knowledge’ 🙂

Anyway,

Di luar dari hal teknis teknologi PDMS, secara umum ini adalah salah satu tantangan bagi Organisasi manapun dalam mengembangkan dan meningkatkan Sistem Manajemen (Quality, HSE & dll.), khususnya merancang sebuah sistem yg mampu ‘plug and play’ dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi spt. contohnya kasus PDMS ini. Tentu saja para sales engineer dari produk-produk hasil kemajuan pengetahuan & teknologi akan sangat percaya diri mengatakan bahwa sistem mereka kompatibel diterapkan dalam organisasi yg mengadop International Recognised standard for Management System spt. ISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001, dan standard sistem manajemen lainnya. Tapi jaminan kompatibel itu, akan sanga tergantung juga dari sejauh mana ‘flexibility, easy for tailoring’ dari sistem yang akan menerima pada pada organisasi di mana teknologi itu akan diterapkan. Jadi kemampuan beradaptasi antara sistem manajemen vs sistem produk akan berbeda dgn. kemampuan beradaptasinya produk vs produk. Ada orang bilang, bahwa mereka yg punya stereo dg format VCD, akan dengan mudah datang ke Glodok agar di upgrade menjadi DVD dan MP3 (katanya begitu, tp belum nyoba sich…).

Jadi membangun sebuah sistem manajemen, tentu harus mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang spt. future market, future technology, future resources, future standard, dll. Seperti kita membeli sebuah rumah tipe 45 untuk ‘mampu dikembangkan’ sesuai kondisi keuangan kita, tetapi jelas konsep, arsitektur dan visinya harus sudah ada, sehingga bias direncanakan, dicicil membangunnya. Persoalan pada organisasi yang pendekatannya ‘Project Management’ dalam membangun sistemnya, waktu dan resource yg tersedia tentulah kecil dan singkat, ‘project 2 project’ , jelas terbatas juga jangkauan prediksi thd. future market, future XXX, dsb. Tapi paling tidak, kalau arah untuk 2 s/d 3 tahun (kira-kira umur siklus project) harus bisa direncanakan, kalaupun terjadi perobahan significant spt. munculnya revolusi teknologi baru yang spektakuler dan yg mendapatkan ‘rush’ kepecayaaan dari market untuk diterapkan, maka Top Management dituntut untuk bisa bermanuver menghadapi tantangan tersebut, apakah akan mentraining resources agar bisa menguasai new technology, ataukah mengeluarkan biaya untuk menahan deras lajunya new market image thd. kehadiran new stuff tsb., atau membajak resources yang sudah jadi dari organisasi lain yang telah lebih dulu mengendus keperkasaan new technology tsb. ?

Solusi, yang paling mudah adalah membuat sistem manajemen tersebut tidak terlalu spesifik, alias sangat-sangat generic agar mudah di ‘klop’ kan dengan perubahan-perubahan alias ‘welcome-able’ dengan sesuatu yang baru yg akan datang, tetapi sistem yg terlalu generic sangat beresiko atas keberagaman interpretasi yang akan membuat dispute ditingkat pelaksanaan prosedural. Misalnya, perbedaan penterjemahan thd. sebuah prosedur beresiko terjadinya kecelakaan yang membuat kerugian materi maupun non materi.

Lantas, bagaimana mendesign sistem manajemen yang mampu kembang dan efektif dalam menghadapi tantangan? Itu lah rasa berkesenian yang harus tumbuh dan dipunyai oleh team manajemen sebuah organisasi. Dan itu lah keunggulan orang local dalam mengapresiasi rasa ‘berkesenian’ dalam ‘local culture’ mereka sendiri, agar bisa mengerti kesenian wayang kulit. So, that way the expat need the local expert.

Tanggapan 2 – Eky Sukardi

Sebetulnya clash itu adalah bagian yg tidak bisa dihindari dari suatu pemodelan tapi setahu saya di PDMS itu ada yang namanya AutoClash option yang mana harus di pake terus untuk memonitor clash secara online sehingga dapat mendeteksi clash secara dini.

Tanggapan 3 – Supriyanto Ariq

Betul pak, pada waktu kita me-routing pipa apabila auto clash di aktifkan maka segala sesuatu yg berbenturan akan terdeteksi. Oleh sebab itu bagi designer setiap pagi 1/2 s/d 1 jam diwajibkan untuk mereview kembali dengan menggunakan clash manager (ini mendeteksi clash secara global).

Share This