Select Page

WPS AWS, ASME dan API mempunyai fungsi sediri-sendiri yang tidak bisa saling digantikan karena berbeda tujuan dan scope penggunaannya seperti AWS D1.1 untuk pekerjaan structural dan ASME IX untuk pekerjaan pressure retaining parts dalam lingkup ASME VIII Div. 1/2/3 dan ASME B 31.1/3 dan API 1104 adalah untuk pekerjaan pipeline. Masing2 mempunyai essential variablenya sendiri2, dimana apabila suatu pekerjaan melebihi essential variable yang tertulis dalam WPS harus mempunyai PQR yang baru yang harus memenuhi essential variable yang baru. Hanya untuk pekerjaan tertentu seperti AWS bisa tergantung dari User, dalam hal2 tertentu berdasarkan pengalaman PQR ASME dapat dikonversi ke dalam WPS AWS D1.1 tetapi tentunya harus dengan persetujuan User dan 3rd party apabila dilibatkan.

Tanya – lukman hakim

Dear all friend milist,

Mohon pencerahan mengenai WPS. Apakah bedanya WPS ASME IX, API, AWS? kapan kita bisa menerapkannya?? Apakah API (hanya untuk pipeline??) ASME (boiler & pressure vessel aja?) AWA (untuk structure aja)?? dan jika di WPS disebutkan menggunakan electrode dia 2.5 tapi kita gunakan 3.2 gimana efecnya? apakah masih diperbolehkan dengan alasan bisa lebih cepat & efisien? Mohon maaf kalau pertannyaannya agak pemula banget. Thanks sebelumnya atas pencerahaannya.

Tanggapan 1 – Decky Antoni

Pak Lukman,

WPS AWS, ASME dan API mempunyai fungsi sediri-sendiri yang tidak bisa saling digantikan karena berbeda tujuan dan scope penggunaannya seperti yang anda katakan AWS D1.1 untuk pekerjaan structural dan ASME IX untuk pekerjaan pressure retaining parts dalam lingkup ASME VIII Div. 1/2/3 dan ASME B 31.1/3 dan API 1104 adalah untuk pekerjaan pipeline. Masing2 mempunyai essential variablenya sendiri2, dimana apabila suatu pekerjaan melebihi essential variable yang tertulis dalam WPS harus mempunyai PQR yang baru yang harus memenuhi essential variable yang baru. Hanya untuk pekerjaan tertentu seperti AWS bisa tergantung dari User, dalam hal2 tertentu berdasarkan pengalaman saya PQR ASME dapat dikonversi ke dalam WPS AWS D1.1 tetapi tentunya harus dengan persetujuan User dan 3rd party apabila dilibatkan.

Mengenai penggunaan electrode dengan diameter yang berbeda dalam WPS tergantung lagi apakah WPS itu ASME/AWS atau API, yang saya ingat kalau di AWS D1.1 perubahan diatas 0.8 mm harus kualifikasi lagi, jadi kalau ada perubahan di bawah itu masih diperbolehkan.

Tanggapan 2 – supriyatno_gatot

1. Bedanya WPS ASME IX, API, AWS :

ASME IX utk pressurize equipment dan piping system (ASME & ANSI) API utk pipeline (umumnya onshore) AWS utk steel structure, platform

2. Perubahan electrode dari 2.5mm ke 3.2mm

Efeknya adalah perubahan heat input (ampere naik, heat input naik)

3. Apakah diijinkan

Lihat pada acuan standard (ASME, API, AWS)pada paragraf essential variable

Note : format WPS & PQR sebaiknya mengikuti format acuan standard (ASME, AWS, API), sehingga mudah untuk mengidentifikasi variable yang diijinkan. Memang ada kemungkinan PQR ASME bisa mendukung WPS AWS atau sebaiknya.

Tanggapan 3 – lukman hakim

Terimakasih sebelumnya atas penjelasan Pak Gatot, saat ini saya memakai WPS ASME, dan setau saya di WPS ASME size of electrode bukan termasuk essential variable (QW 253) so gak perlu di requalifikasi dong. tapi yang jadi kebingungan saya Volt, Ampere dan Heat input sangat depend dengan size electrode. Makin besar size, makin besar heat requirednya. Kurangnya heat bisa affect ke porosity. Jadi apakah masih diperkenankan merubah size electrode tanpa requalifikasi? Ataukah kita harus merubah dulu parameternya?? thanks before.

Tanggapan 4 – supriyatno_gatot

Pak Lukman,

ASME mengijinkan perubahan diameter (size) electrode yang secara otomatis akan berubah aplikasinya untuk volt dan amper nya, tapi tidak perlu merubahnya dalam WPS. langsung ikuti saja petunjuk pabriknya.
Untuk porosity, tidak diakibatkan oleh heat input, tapi karena gas terperangkap, yang umumnya disebabkan oleh electrode basah atau jarak electrode dgn benda kerja terlalu jauh, shg fungsi shielding gas pd electrode tidak efektif.
Kita harus concern dengan heat input, jika pada WPS disyaratkan pengujian impact (charpy). Biasanya untuk service low temperature.

Tanggapan 5 – rahmat ardiansyah

Ini pengalaman saya buat temen-temen yang ingin mendalami WPS dan semua pengetahuan yang menyertainya:

1. Tidak perlu risau dengan teori, standard, code, normung an so on, an so on. Langsung saja buat WPS sendiri, uji dan parktekkan. Tentu anda harus sudah bekerja, atau sedang kerja paraktek atau kalau ada sodara, bapak, ataupun tulang kita punya workshop numpanglah dulu. Kalau tidak, dari mana kita dapat welding equipmen, sample plate, welder dll.

2. Kemudian sekolah welding, boleh welding inspektur, D3 welding, welding engineer dll (lagi-lagi menurut pengalaman saya, yang paling baik adalah ikut kursus welding inspektur).

3. Setelah langkah 1 dan 2, barulah anda membuat wps dari berbagai macam code, standar; asme ix, aws, api, din en dll.

4. Jadi samalah dengan orang berumah tangga, manalah mungkin kita praktekkan teori itu dengan yang lain, praktekkanlah teori itu dengan istri kita langsung……..baru mantaaaap. Setelah itu waktulah yang menjadikan kita pengalaman kayak Pak Gatot itu.

Pak Gatot itu pengalamannya memanglah seperti gatot, sudah kejemur, kujanan lama pula. Ya pak Gatot……….makanya kalau masalah welding mewelding sudah entenglah…..ya jadinya tidak teoritis kali.

Tanggapan 6 – Decky Antoni

Rekan-rekan,

Sebenarnya kalau kita melihat formula Heat input = (AxVx0.06)/TS

A= Ampere

V=Voltage

TS=Travel Speed

Saya kira untuk me-maintain Heat Input apabila Ampere dan Voltage tinggi maka kita dapat memperbesar Travel Speed artinya kecepatan lasnya menjadi lebih cepat, tapi memang harus dicheck juga rekomendasi dari electrode manufacturer.

Juga kalau tidak salah Heat Input range dalam ASME/AWS itu sendiri mempunyai toleransi (+/- 10%).

Tanggapan 7 – andryansyah rivai

Awalnya saya tidak dengan cermat membaca topik ini, sehingga apa yang ingin saya utarakan mungkin tidak mengena ke pertanyaan awalnya, maaf.

Perlu atau tidaknya suatu rekualifikasi, saya pikir tidak seharusnya hanya didasarlan pada aturan yang kita acu. Kecurigaan kita selaku desainer ataupun inspektor, seharusnya menjadi sesuatu yang sangat perlu dipertimbangkan. Dalam topik ini, bila kita mengetahui ada standar yang mengharuskan kualifikasi ulang dengan pengantian ukuran atau diameter elektroda, maka kita perlu curiga bahwa kalaupun acuan yang kita pakai tidak mensyaratkannya, kita perlu mempertimbangkan untuk melakukan rekualifikasi.

Benar bahwa dengan mengganti ukuran elektroda ke ukuran yang lebih besar, arus harus ditambah bila kecepatan pengelasn ingin dibuat konstan. Dan benar juga dengan menggunakan arus yang tinggi, masukan panas bisa dikurangi dengan menaikkan kecepaan pengelasan. Tetapi yang perlu diingat, bahwa bukan hanya masukan panas (heat input) yang merupakan batasan logam boleh di las, tetapi penggunaan kecepatan pengelasan yang ditingkatkan akan menguragi penetrasi dan kemampuan difusi antara logam las dan logam induknya.

Untuk itu bila kita yakin dalam acuan yang kita gunakan tidak menghendaki rekualifikasi WPS yang kita punya, tetapi kecurigaan kita seharusnya ditindaklanjuti dengan pengamatan yang lebih sewaktu pengujian NDT. Khususnya yang berkaitan dengan penetrasi, fusi yang kurang sempurna, porositi, slag, dan pengujian kekerasan dengan portable hardness tester. Bila dari beberapa kali pengujian didapat ketidaksempurnaan, maka sebaiknya dilakukan rekualifikasi.

Share This