Select Page

Saya mendengar kabar bahwa ada peraturan dari government (saya kurang tahu dalam bentuk apa), yg menyatakan bahwa design peralatan elektrikal di lingkungan Migas Indonesia, seperti Electrical Power Generators, Pump, dsb., diharuskan menggunakan frekuensi 50 Hz. Pertanyaan saya : apakah benar demikian? Apabila ada dokumen atau refensi yg bisa dijadikan acuan mohon sharing. Terima kasih sebelumnya.

Tanya – Machmud Riyadh

All,

Saya mendengar kabar bahwa ada peraturan dari government (saya kurang tahu dalam bentuk apa), yg menyatakan bahwa design peralatan elektrikal di lingkungan Migas Indonesia, seperti Electrical Power Generators, Pump, dsb., diharuskan menggunakan frekuensi 50 Hz.

Pertanyaan saya : apakah benar demikian? Apabila ada dokumen atau refensi yg bisa dijadikan acuan mohon sharing. Terima kasih sebelumnya.

Tanggapan 1 – Rizqy Fajar Arifianto

Seingat saya generator Petrochina di Jambi Merang pake 60Hz.

Tanggapan 2 – Triez

Klo tidak salah di PUIL memang ada seingat saya,pak,mengharuskan ato tidak saya kurang tao ada undang2 resminya ato tidak..Tapi saya liat juga msh ada beberapa yang pake,mungkin harus di liat kepentingannya dulu kali,pak..Karena ada beberapa yang punya pembangkit sendiri maupun spesifikasi alat sendiri,klo dipaksakan toh tidak akan baik efeknya,mungkin ke noise klo instrument untuk frekuensi tuning adjustment ato lainnya,lah,pak..

Tanggapan 3 – Bus Duct

Kalo Petrochina di Tanjung Jabung (Jambi Merang projectnya Amerada Hess) emang pakai 60Hz. Untuk Indonesia, baik itu PLN maupun di Pertamina pakai 50Hz…di PUIL semua saya lihat mengadopsi IEC standard….. Kalo di lihat harga2 equipment.. standard IEC lebih murah di bandingkan dgn ANSI standard( meski kata Vendor jg belom tentu…) kembali lagi ke 50Hz, ini jg bisa di lihat dari pemilik modalnya…kalo di Pertamina atau PLN pakai 50Hz…
kalo di perusahaan asing kayak Petrochina(awalnya Santa Fe terus Devon) pakai 60Hz..nggak tahu kalo Petrochina di Tuban karena statusnya JOB sama Pertamina..
JOB Amerada Hess dan Pertamina di Jambi Merang juga pakai 50Hz….

Tanggapan 4 – Erwin Firyadi

Bukannya pemilihan frekwensi tersebut dipengaruhi oleh peralatan yang digunakan termasuk pembangkit listriknya pak?seingat saya kalau alat tersebut produk dari US tentu berbeda dengan yang dari jepang atau eropa. Kalau di indonesia kebanyakan pakai 50 Hz mungkin agar bisa menyamakan dengan frekwensi PLN yang memang 50 Hz. Karena kebanyakan industri berbasis PLN.
Atau rekan yang lain bis menambahkan perbedaan penggunaan frekwensi ini baik kelebihan maupun kelamahannya.

Tanggapan 5 – Triez

Saya pikir begitu,pak,tapi mungkin untuk beban non linier,karena bila tidak akan timbul harmonic yang dapat menyebabkan distorsi gelombang arus dan tegangan yang efeknya akan berpengaruh pada energi quality.Tapi mungkin akan ada forum tersendiri untuk itu secara detail karena kaitannya mungkin juga tidak hanya pada power tapi pada dunia telekomunikasi.

O,iya ,pak,untuk pertanyaan bapak diawal mungkin yang bapak maksud Keputusan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor : 05 K/30/Mem/2003 Tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia 04-1922-2002 Mengenai Frekuensi Standar Khusus Untuk Frekuensi Sistem Arus Bolak Balik Fase Tunggal Dan Fase Tiga 50 Hertz Sebagai Standar Wajib.

Saya kurang tao itu ato bukan yang bapak maksud. Berikut saya attach filenya,pak.Mungkin berguna untuk referensi.

Tanggapan 6 – Machmud Riyadh

Weit… saking banyaknya e-mail sampai kelewatan yg ini…
Terima kasih banyak Pak Trisworo… Peraturan yg Bapak sebut di e-mail di bawah adalah yg saya cari2. Jadi benar kalo ada enforcement dari Pemerintah Indonesia untuk menyeragamkan electrical equipment menggunakan 50 Hz standard. Dan apabila ada existing equipment yg masih menggunakan 60 Hz sebelum peraturan ini dibuat, pemiliknya dberi kesempatan untuk menggunakannya dan menggantinya paling lambat sampai 2020.

Attachment : Kepmen ESDM 05K30MEM2003.pdf

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan Oktober 2007 dapat dilihat dalam file berikut:

Share This