Select Page

Bagaimana cara BP Migas mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan peraturan tender yg tidak membolehkan kontraktor fase FEED untuk ikut tender fase Detail/Design, karena pada tingkat pelaksanaan bisa saja si KPS tidak mentenderkan pekerjaan FEED-nya, tetapi memberikan pekerjaan kepada sebuah kontraktor tertentu dengan tidak dibolehkan mencantumkan logo perusahaannya di atas dokumen-dokumen yang diproduksi. Seolah-olah kontraktor FEED tersamar tersebut tidak terlibat dalam FEED. Pad saat tender fase Detail Design, si kontraktor nakal ikut kompetisi yang mungkin saja sudah main mata pula dengan si KPS yang dalam hal ini juga nakal. Apakah BP Migas punya tool untuk mengawasi hal seperti ini ? Apakah ada sangsi bagi ke 2 anak nakal tsb ?

Tanya – Dirman Artib

Rekan-rekan milis Yth.

Sebelum akhir pekan, saya punya pertanyaan yang sudah lama di benak saya, Mungkin rekan-rekan semua punya pengetahuan atau pengalaman, bahkan pernah terlibat sebelumnya, silahkan ‘share’.

*Bagaimana cara BP Migas mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan peraturan tender yg tidak membolehkan kontraktor fase FEED untuk ikut tender fase Detail/Design, karena pada tingkat pelaksanaan bisa saja si KPS tidak mentenderkan pekerjaan FEED-nya, tetapi memberikan pekerjaan kepada sebuah kontraktor tertentu dengan tidak dibolehkan mencantumkan logo perusahaannya di atas dokumen-dokumen yang diproduksi. Seolah-olah kontraktor FEED tersamar tersebut tidak terlibat dalam FEED. Pad saat tender fase Detail Design, si kontraktor nakal ikut kompetisi yang mungkin saja sudah main mata pula dengan si KPS yang dalam hal ini juga nakal. Apakah BP Migas punya tool untuk mengawasi hal seperti ini ? Apakah ada sangsi bagi ke 2 anak nakal tsb ?*

* *

*Kasus ke 2, bagaimana dengan si personnel Engineer sendiri yang mem’prepare’ dokumen-dokumen saat fase FEED, kemudian pada fase Detail Design pindah kerja menjadi karyawan kontraktor yg memenangkan tender pada fase Detail Design nya, berarti si Engineer tersebut melanjutkan hasil pekerjaannya yg dulu dalam mendetail kan Design-nya. Dalam perspective check and balance, maka ini tidak akan terjadi, karena dia akan meng’endorse’ dulu hasil pekerjaan lamanya tsb.*

**

Sangat diperlukan pencerahan nya, terutama dari rekan-rekan dari Departemen yg relevant di BP MIgas.

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Contoh kasus yang menarik…

Mungkin pertanyaannya bisa ditambah:

Bagaimana jika si Engineer yang dulu mengerjakan FEED atau detail design lalu pindah ke end user dan menangani proyek yang sama? atau sebaliknya dari end user pindah ke kontraktor untuk menangani proyek yang sama saat konstruksi?

Hehehehe

Kalau saya sih berpendapat selama sistemnya bagus, hal hal seperti ini tidak memiliki efek sama sekali, namun pertanyaan terbesarnya adalah:

Sebagus apa sih sistem yang bagus itu??

Tanggapan 2 – Donny Agustinus

Hm..kenapa nggak boleh ya perusahaan yang mengerjakan FEED kemudian dia juga yang mengerjakan EPC, bukannya lebih bagus karena dia lebih mengerti asal-usul serta seluk beluk permasalahan project nya?

Di kantor saya bekerja saat ini, lagi bikin Peru LNG, dulu semasa FEED dikerjakan sama Perusahaan ‘A’ (sebut saja begitu), kemudian, Clientnya minta si Perusahaan A ini mengajukan lagi harga untuk pekerjaan EPC nya, karena dia sudah percaya dengan si Perusahaan A tadi.

Artinya, sebenarnya kan nggak ada regulasi International yang melarang hal seperti itu bukan?

Seingat saya, ada project di Russia yang FEED nya di kerjakan di London, kemudian EPC nya juga bakal dikerjakan sama perusahaan itu.

Kalau Engineer nya pindah? seharusnya nggak masalah kan, karena nature pekerjaan antara Engineer di PMT dengan di Contractor adalah berbeda.
Kalau pandangan saya, justru Engineer di Client agak susah pindah ke Contractor karena ya itu tadi, nature kerja nya yang berbeda, tapi nggak begitu sebaliknya.

Hanya sekedar pandangan lho, kalau nggak setuju ya boleh saja…he..he.. jangan marah ya..

Tanggapan 3 – Awaluddin Berwanto

Sekedar menambahkan,

Kalau saya melihat peraturan yg melarang Company yg mengerjakan FEED juga mengerjakan detail engineering adalah yg perlu ditinjau kembali. Saya nggak tahu apakah peraturan model ini hanya berlaku di Indonesia saja atau juga ada dibelahan dunia lain. Kalau di Malaysia, kelihatannya nggak berlaku itu.

Dengan semakin meningkatnya harga minyak & gas, maka seluruh operator berlomba-lomba untuk memperoduksi minyak & gas secepat mungkin. Bukan saja itu, negara-negara yg memiliki blok-blok juga menginginkan agar para pemilik blok (PSC) segere berproduksi agar segera dapat memenuhi kebutuhan mereka thd energi.

Akibatnya trend proyek saat ini banyak dikerjakan secara ‘Fast Track Project’ atau malahan ‘Super Fast Track Project’ di mana kadang-kadang Feasibility Study dan FEED dikerjakan bersama-sama atau FEED dan Detail Engineering dikerjakan secara serentak. Kalau dulu, banyak yg menganggap praktek semacam ini tidak baik dan merendahkan mutu pekerjaan, tapi banyak juga yg berhasil. Dengan banyaknya sistem ‘Fast Track’, sangatlah menguntungkan apabila kontraktor yg mengerjakan FEED sekalian juga mengerjakan Detail Engineering, yg penting orang-orang yg mengerjakan atau yg memeriksa hasil pekerjaan kontraktor adalah yg memiliki kemampuan dan kompetensi yg baik.

Kalau untuk engineer yg sering pindah-pindah, itu mah biasa. Sebagai profesional, engineer tdk perlu loyal sama company yg menggajinya, tapi loyal terhadap profesinya. Di mana ada ‘gula’ disitulah engineer yg mumpuni akan berkumpul.

Dulu, mungkin lebih banyak engineer yg memilih masuk ke dalam operator company (misal: BP, Shell atau Petronas) sebagai karyawan tetap dgn menunggu uang pensiun dan bonus tahunan. Tapi trend belakangan ini menunjukkan banyak engineer yg keluar dari operator company terus masuk ke konsultan/engineering company dgn imbalan yang baik. Mungkin…kalau engineer yg dari operator agak susah kalau masuk ke engineering company karena sudah biasa bersikap sebagai ‘juragan’, tinggal perintah kontraktor, sehingga kalau berubah menjadi orang yg menerima perintah agak gimana gitu (…kikuk). Tapi kalau yg dari kontraktor, rasanya lebih mudah untuk masuk ke operator, tinggal menambah sedikit ilmu sperti teknik presentasi, teknik meeting yg lama (…soalnya kalau di operator banyak presentasi dan meeting, ke BP Migas misalnya…he-he.

Tanggapan 4 – roeddy setiawan

Dear Pak Dirman,

Menarik sekaligus baik untuk direnungkan oleh rekan yang kebetulan kutak kutik dibidang policy… umumnya kalau perusahaan amrik si employee itu disuruh baca dan mengerti yang diabaca tentang ‘corporate policy’ saya kurang faham terjemahan yag betul ituk istilah ini.. tapi ini menjalar ke contractor yang biasa dapat pekerjaan dr si perusahaan amrik tersebut..
misalnya saya mau melamar opening untuk suatu company yg world class di Tengiz
si contractor tahu kalau perusahaan ABAS di Tengiz itu punya non poaching employement…
dia tidak bisa terima saya sebelum saya dapat surat lolos butuh dr ‘ABAS indonesia’ contractor yg mau pake saya, tidak bisa megajukan saya ke ‘Abas tengiz’,,,, ada lobang sebetulnya,,,, misalnya saya well plan,,,enam bulan yang lalu saya keluar,,,, sekarang kalau saya minta dimajukan ke Abas Tengiz ngak ada masalah on paper,,, tentunya tergantung yg mereksa,,, kalau teman saya di Abas Tengiz, punya integritas pasti dia reject hhhe tapi yg namanya manusia usah terus ….

Dulu jaman orba dan dibawah pengawasan bppka, hal seperti ini cukup ketat pak, tidak bisa kita dari telogorejo SA pindah ke telogosary BV yang masih dalam satu rayon,boleh pindah (kalo diterima) ke bangku dengdek ltd di pulau lain saya kira sekaran katanya jaman kebebasan suka suka saja … jadi pusing nih mana yg baik nih pak Dirman padahal kan mau weekend istirahat.

Tanggapan 5 – roeddy setiawan

Wah, akhir minggu makin rame ikutan ah,,,

Saya kira di Amrik yang tidak memakai system cost recovery tidak ada sama sekali kekangan project harus say edg ato mustang buat feed atau inhouse resources yng bikin feed tergantung project director dan staf nya lah formulate kemana berapa lama siapa yg di jadi company interest untuk mengerjakan jadi sudah ada beberapa preferable engineering company kira kira paling cost effective…
tentunya untuk sampai kesana staff dr project director sudah bekerja jauh hari sehingga bisa formulate a good plan,, sr topside, offshore installation, flow assurance , project control,dst.

Sebelum ada project director, a cross funtional team inside the company evaluate bagaimana reserve ini di monetize,,,reservoir engineering geo scientis , drilling , dan facilities drafting the plan bg mana kapan target onstream nya yg paling baik sambil semua hard data diuji ulang,,, he he core di ct scan kalo perlu, carbon isotop , lead isotop di kaji ulang buat lihat mineralisasi dll buat memastikan project sanction tidak jeblok,,,

Sebelum ada sampai ke cross funtional team kerja,,sebelumnya drilling membuktikan mimpinya geoscientis, disini di drill dan disana juga mas sampai ke basement, resrvoir engineering, kasak kusuk bikin pre evaluation prospect, nogo, abandon, berdasarkan tools dan hard fact yg dia lihat…

Sebelum sampai ke drilling, geo scientis bulak balik presenting mimpinya ke cross funtional team sekalian kalau diaprove bikin master expenditure buat beli data kalo di amrik atau reprosesing yg sudah ada , atau bid area baru ,,,,,
jadi panjang buanget dr start mimpi bisa sampai 15 th an di local indonesia kalau dr discovery ke first oil in tank 10 tahun sudah bagus.

Nah yg kita lihat sebetulnya bagi facilities yng mengerjakan brang brong disana sini, minta steel , rebutan crane barge, rebutan steel, padahal kegiatan ini cuman bagian dr kegiatan besar sebelumnya, semua harga jadi irasional,, 110 $/bbl atau 5 x dr 2003.,, antara capital cost 2003 dg 2008 cuman lima tahun engak jelas juntrungan nya… he he he (mudah mudahan bpmigas ,kkks tiadak diburu tpk ha ha ha sudah capek disuruh menghadap nerangin ini itu ) average 10 kali lipat lah…..drilling cost ofshore dulu 800 rb buat grassroot well he he sekarang paling murah 8.5 million ditempat yng sama.. saya jangan dibilang steel cost, steel sudah di book , cari juga ngak ada..

Di lokal amrik juga sama project yg dulu di tulis cuman 800 -1000 sekarang muncul dg wajah baru jadi 7000 ha ha, kembali ke persoalan semula nurut aku sekarang ini kusut tumpang tindih antara geo politic dan energy dan amrik yg berusaha tidak stahll, di amrik kalo sudah tulis afe, suka suka mau belanja ke siapa,,, tapi njangan dikira bisa dapat cipratan , 100 % dijamin tidak akan ada ngak usah pake tender,,, pemerintah malah seneng kalao beli mahal,,, heat up economi,,,banyak orang kerja,,, stimulate bisnis lanjutan on and on and on semua nya accelerasi
seperti yg pak Dam bilang bagai mana sih yg baik, nurut saja amrik, ngak bisa dibantah system mereka work,,,makin maju, kalau kita lihat mereka keluar dr perang vietnam mereka keluar compang camping,,, di perang iraq jauh seperti main game , yg nembakin roket ke target di afgan -pakistan ada di colorado sambil sruput kopi predator nya on lepas rudal . dalam 20 mereka akselerate, disana sistemnya ngak bisa kolusi, gampang ketemu,, dan pake duitnya sendiri nah disini beda banget,,,, selama pendapatan dan pengeluaran seseorang tidak tercatat dg baik dan ada di publik domain,,, selama itu korup, penyalah gunaan dan teman teman nya pesta pora,,, selama itu pula kecurigaan akan membayangi setiap usulan,,, harus dipereksa bpmigas , dan seterusnya, karena uang nya pemerintah yg dipakai,, lihat swasta ngak perlu ke bpmigas ngak perlu ada auditor he he he karena uangnya sendiri yg dipakai..

Waktu kita uang nya dapat ngutang di pasar international,,,he he tiba tiba harus nerangkan ke inspector yg datang tentang co2 load, heat load ke body water, heat plume model, atmospheric emmision dan modelnya dan tetek bengek yg tadinya gak pernah ada,, eh usut punya usut si inspector itu phd suruhan nya bank anu yang corporate policy nya berwawasan lingkungan gitu infonya, sambil termangu mangu, gauk garuk kepala, sama saja lah cuman perhatian nya berlainan saja kalau di local kita paranoid,,, kalau ditempat yg lain apa sudah dipikir semua termasuk lingkungan sekitar, karena engak mau kena getahnya doang gitu kira kira,,, nurut saya kalau kita pake duit orang wajar saja kl yg punya duit punya sarat betul pak dam ??

Tanggapan 6 – Dirman Artib

Thank’s Bung Setiawan,

Tampaknya tak ada komen dari kolega yang kompeten nih, padahal banyak kaum relevan dan kompeten terdaftar di milis ini.

Jangan-jangan banyak juga yang terlibat skenario Mas DAM yg ngikutin jadi engineer dari mulai mimpi sampai selesai konstruksi juga…..ha…ha…ha…

Atau jangan-jangan sekarang lagi ada praktek FEED diam-diam yg berencana curang 🙂
(Dalam perspective Indonesian Regulation).

Btw

Kalau di Amrik itu kayaknya investasi di minyak harus bersaing dengan produksi film holywood yg dari informasi koran lebih besar dari nilai kerjaan EPSC platform ukuran sedang di Indonesia. Bayangkan biaya film spt. Titanic (Jadul ya ?)

Tanya – Dirman Artib

Rekan-rekan milis Yth.

Sebelum akhir pekan, saya punya pertanyaan yang sudah lama di benak saya, Mungkin rekan-rekan semua punya pengetahuan atau pengalaman, bahkan pernah terlibat sebelumnya, silahkan ‘share’.

*Bagaimana cara BP Migas mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan peraturan tender yg tidak membolehkan kontraktor fase FEED untuk ikut tender fase Detail/Design, karena pada tingkat pelaksanaan bisa saja si KPS tidak mentenderkan pekerjaan FEED-nya, tetapi memberikan pekerjaan kepada sebuah kontraktor tertentu dengan tidak dibolehkan mencantumkan logo perusahaannya di atas dokumen-dokumen yang diproduksi. Seolah-olah kontraktor FEED tersamar tersebut tidak terlibat dalam FEED. Pad saat tender fase Detail Design, si kontraktor nakal ikut kompetisi yang mungkin saja sudah main mata pula dengan si KPS yang dalam hal ini juga nakal. Apakah BP Migas punya tool untuk mengawasi hal seperti ini ? Apakah ada sangsi bagi ke 2 anak nakal tsb ?*

* *

*Kasus ke 2, bagaimana dengan si personnel Engineer sendiri yang mem’prepare’ dokumen-dokumen saat fase FEED, kemudian pada fase Detail Design pindah kerja menjadi karyawan kontraktor yg memenangkan tender pada fase Detail Design nya, berarti si Engineer tersebut melanjutkan hasil pekerjaannya yg dulu dalam mendetail kan Design-nya. Dalam perspective check and balance, maka ini tidak akan terjadi, karena dia akan meng’endorse’ dulu hasil pekerjaan lamanya tsb.*

**

Sangat diperlukan pencerahan nya, terutama dari rekan-rekan dari Departemen yg relevant di BP MIgas.

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Contoh kasus yang menarik…

Mungkin pertanyaannya bisa ditambah:

Bagaimana jika si Engineer yang dulu mengerjakan FEED atau detail design lalu pindah ke end user dan menangani proyek yang sama? atau sebaliknya dari end user pindah ke kontraktor untuk menangani proyek yang sama saat konstruksi?

Hehehehe

Kalau saya sih berpendapat selama sistemnya bagus, hal hal seperti ini tidak memiliki efek sama sekali, namun pertanyaan terbesarnya adalah:

Sebagus apa sih sistem yang bagus itu??

Tanggapan 2 – Donny Agustinus

Hm..kenapa nggak boleh ya perusahaan yang mengerjakan FEED kemudian dia juga yang mengerjakan EPC, bukannya lebih bagus karena dia lebih mengerti asal-usul serta seluk beluk permasalahan project nya?

Di kantor saya bekerja saat ini, lagi bikin Peru LNG, dulu semasa FEED dikerjakan sama Perusahaan ‘A’ (sebut saja begitu), kemudian, Clientnya minta si Perusahaan A ini mengajukan lagi harga untuk pekerjaan EPC nya, karena dia sudah percaya dengan si Perusahaan A tadi.

Artinya, sebenarnya kan nggak ada regulasi International yang melarang hal seperti itu bukan?

Seingat saya, ada project di Russia yang FEED nya di kerjakan di London, kemudian EPC nya juga bakal dikerjakan sama perusahaan itu.

Kalau Engineer nya pindah? seharusnya nggak masalah kan, karena nature pekerjaan antara Engineer di PMT dengan di Contractor adalah berbeda.
Kalau pandangan saya, justru Engineer di Client agak susah pindah ke Contractor karena ya itu tadi, nature kerja nya yang berbeda, tapi nggak begitu sebaliknya.

Hanya sekedar pandangan lho, kalau nggak setuju ya boleh saja…he..he.. jangan marah ya..

Tanggapan 3 – Awaluddin Berwanto

Sekedar menambahkan,

Kalau saya melihat peraturan yg melarang Company yg mengerjakan FEED juga mengerjakan detail engineering adalah yg perlu ditinjau kembali. Saya nggak tahu apakah peraturan model ini hanya berlaku di Indonesia saja atau juga ada dibelahan dunia lain. Kalau di Malaysia, kelihatannya nggak berlaku itu.

Dengan semakin meningkatnya harga minyak & gas, maka seluruh operator berlomba-lomba untuk memperoduksi minyak & gas secepat mungkin. Bukan saja itu, negara-negara yg memiliki blok-blok juga menginginkan agar para pemilik blok (PSC) segere berproduksi agar segera dapat memenuhi kebutuhan mereka thd energi.

Akibatnya trend proyek saat ini banyak dikerjakan secara ‘Fast Track Project’ atau malahan ‘Super Fast Track Project’ di mana kadang-kadang Feasibility Study dan FEED dikerjakan bersama-sama atau FEED dan Detail Engineering dikerjakan secara serentak. Kalau dulu, banyak yg menganggap praktek semacam ini tidak baik dan merendahkan mutu pekerjaan, tapi banyak juga yg berhasil. Dengan banyaknya sistem ‘Fast Track’, sangatlah menguntungkan apabila kontraktor yg mengerjakan FEED sekalian juga mengerjakan Detail Engineering, yg penting orang-orang yg mengerjakan atau yg memeriksa hasil pekerjaan kontraktor adalah yg memiliki kemampuan dan kompetensi yg baik.

Kalau untuk engineer yg sering pindah-pindah, itu mah biasa. Sebagai profesional, engineer tdk perlu loyal sama company yg menggajinya, tapi loyal terhadap profesinya. Di mana ada ‘gula’ disitulah engineer yg mumpuni akan berkumpul.

Dulu, mungkin lebih banyak engineer yg memilih masuk ke dalam operator company (misal: BP, Shell atau Petronas) sebagai karyawan tetap dgn menunggu uang pensiun dan bonus tahunan. Tapi trend belakangan ini menunjukkan banyak engineer yg keluar dari operator company terus masuk ke konsultan/engineering company dgn imbalan yang baik. Mungkin…kalau engineer yg dari operator agak susah kalau masuk ke engineering company karena sudah biasa bersikap sebagai ‘juragan’, tinggal perintah kontraktor, sehingga kalau berubah menjadi orang yg menerima perintah agak gimana gitu (…kikuk). Tapi kalau yg dari kontraktor, rasanya lebih mudah untuk masuk ke operator, tinggal menambah sedikit ilmu sperti teknik presentasi, teknik meeting yg lama (…soalnya kalau di operator banyak presentasi dan meeting, ke BP Migas misalnya…he-he.

Tanggapan 4 – roeddy setiawan

Dear Pak Dirman,

Menarik sekaligus baik untuk direnungkan oleh rekan yang kebetulan kutak kutik dibidang policy… umumnya kalau perusahaan amrik si employee itu disuruh baca dan mengerti yang diabaca tentang ‘corporate policy’ saya kurang faham terjemahan yag betul ituk istilah ini.. tapi ini menjalar ke contractor yang biasa dapat pekerjaan dr si perusahaan amrik tersebut..
misalnya saya mau melamar opening untuk suatu company yg world class di Tengiz
si contractor tahu kalau perusahaan ABAS di Tengiz itu punya non poaching employement…
dia tidak bisa terima saya sebelum saya dapat surat lolos butuh dr ‘ABAS indonesia’ contractor yg mau pake saya, tidak bisa megajukan saya ke ‘Abas tengiz’,,,, ada lobang sebetulnya,,,, misalnya saya well plan,,,enam bulan yang lalu saya keluar,,,, sekarang kalau saya minta dimajukan ke Abas Tengiz ngak ada masalah on paper,,, tentunya tergantung yg mereksa,,, kalau teman saya di Abas Tengiz, punya integritas pasti dia reject hhhe tapi yg namanya manusia usah terus ….

Dulu jaman orba dan dibawah pengawasan bppka, hal seperti ini cukup ketat pak, tidak bisa kita dari telogorejo SA pindah ke telogosary BV yang masih dalam satu rayon,boleh pindah (kalo diterima) ke bangku dengdek ltd di pulau lain saya kira sekaran katanya jaman kebebasan suka suka saja … jadi pusing nih mana yg baik nih pak Dirman padahal kan mau weekend istirahat.

Tanggapan 5 – roeddy setiawan

Wah, akhir minggu makin rame ikutan ah,,,

Saya kira di Amrik yang tidak memakai system cost recovery tidak ada sama sekali kekangan project harus say edg ato mustang buat feed atau inhouse resources yng bikin feed tergantung project director dan staf nya lah formulate kemana berapa lama siapa yg di jadi company interest untuk mengerjakan jadi sudah ada beberapa preferable engineering company kira kira paling cost effective…
tentunya untuk sampai kesana staff dr project director sudah bekerja jauh hari sehingga bisa formulate a good plan,, sr topside, offshore installation, flow assurance , project control,dst.

Sebelum ada project director, a cross funtional team inside the company evaluate bagaimana reserve ini di monetize,,,reservoir engineering geo scientis , drilling , dan facilities drafting the plan bg mana kapan target onstream nya yg paling baik sambil semua hard data diuji ulang,,, he he core di ct scan kalo perlu, carbon isotop , lead isotop di kaji ulang buat lihat mineralisasi dll buat memastikan project sanction tidak jeblok,,,

Sebelum ada sampai ke cross funtional team kerja,,sebelumnya drilling membuktikan mimpinya geoscientis, disini di drill dan disana juga mas sampai ke basement, resrvoir engineering, kasak kusuk bikin pre evaluation prospect, nogo, abandon, berdasarkan tools dan hard fact yg dia lihat…

Sebelum sampai ke drilling, geo scientis bulak balik presenting mimpinya ke cross funtional team sekalian kalau diaprove bikin master expenditure buat beli data kalo di amrik atau reprosesing yg sudah ada , atau bid area baru ,,,,,
jadi panjang buanget dr start mimpi bisa sampai 15 th an di local indonesia kalau dr discovery ke first oil in tank 10 tahun sudah bagus.

Nah yg kita lihat sebetulnya bagi facilities yng mengerjakan brang brong disana sini, minta steel , rebutan crane barge, rebutan steel, padahal kegiatan ini cuman bagian dr kegiatan besar sebelumnya, semua harga jadi irasional,, 110 $/bbl atau 5 x dr 2003.,, antara capital cost 2003 dg 2008 cuman lima tahun engak jelas juntrungan nya… he he he (mudah mudahan bpmigas ,kkks tiadak diburu tpk ha ha ha sudah capek disuruh menghadap nerangin ini itu ) average 10 kali lipat lah…..drilling cost ofshore dulu 800 rb buat grassroot well he he sekarang paling murah 8.5 million ditempat yng sama.. saya jangan dibilang steel cost, steel sudah di book , cari juga ngak ada..

Di lokal amrik juga sama project yg dulu di tulis cuman 800 -1000 sekarang muncul dg wajah baru jadi 7000 ha ha, kembali ke persoalan semula nurut aku sekarang ini kusut tumpang tindih antara geo politic dan energy dan amrik yg berusaha tidak stahll, di amrik kalo sudah tulis afe, suka suka mau belanja ke siapa,,, tapi njangan dikira bisa dapat cipratan , 100 % dijamin tidak akan ada ngak usah pake tender,,, pemerintah malah seneng kalao beli mahal,,, heat up economi,,,banyak orang kerja,,, stimulate bisnis lanjutan on and on and on semua nya accelerasi
seperti yg pak Dam bilang bagai mana sih yg baik, nurut saja amrik, ngak bisa dibantah system mereka work,,,makin maju, kalau kita lihat mereka keluar dr perang vietnam mereka keluar compang camping,,, di perang iraq jauh seperti main game , yg nembakin roket ke target di afgan -pakistan ada di colorado sambil sruput kopi predator nya on lepas rudal . dalam 20 mereka akselerate, disana sistemnya ngak bisa kolusi, gampang ketemu,, dan pake duitnya sendiri nah disini beda banget,,,, selama pendapatan dan pengeluaran seseorang tidak tercatat dg baik dan ada di publik domain,,, selama itu korup, penyalah gunaan dan teman teman nya pesta pora,,, selama itu pula kecurigaan akan membayangi setiap usulan,,, harus dipereksa bpmigas , dan seterusnya, karena uang nya pemerintah yg dipakai,, lihat swasta ngak perlu ke bpmigas ngak perlu ada auditor he he he karena uangnya sendiri yg dipakai..

Waktu kita uang nya dapat ngutang di pasar international,,,he he tiba tiba harus nerangkan ke inspector yg datang tentang co2 load, heat load ke body water, heat plume model, atmospheric emmision dan modelnya dan tetek bengek yg tadinya gak pernah ada,, eh usut punya usut si inspector itu phd suruhan nya bank anu yang corporate policy nya berwawasan lingkungan gitu infonya, sambil termangu mangu, gauk garuk kepala, sama saja lah cuman perhatian nya berlainan saja kalau di local kita paranoid,,, kalau ditempat yg lain apa sudah dipikir semua termasuk lingkungan sekitar, karena engak mau kena getahnya doang gitu kira kira,,, nurut saya kalau kita pake duit orang wajar saja kl yg punya duit punya sarat betul pak dam ??

Tanggapan 6 – Dirman Artib

Thank’s Bung Setiawan,

Tampaknya tak ada komen dari kolega yang kompeten nih, padahal banyak kaum relevan dan kompeten terdaftar di milis ini.

Jangan-jangan banyak juga yang terlibat skenario Mas DAM yg ngikutin jadi engineer dari mulai mimpi sampai selesai konstruksi juga…..ha…ha…ha…

Atau jangan-jangan sekarang lagi ada praktek FEED diam-diam yg berencana curang 🙂
(Dalam perspective Indonesian Regulation).

Btw

Kalau di Amrik itu kayaknya investasi di minyak harus bersaing dengan produksi film holywood yg dari informasi koran lebih besar dari nilai kerjaan EPSC platform ukuran sedang di Indonesia. Bayangkan biaya film spt. Titanic (Jadul ya ?)

Share This