Select Page

Mohon bantuannya apakah ada referensi (baik standard atau best practice) yang menyatakan bahwa remote kontrol (biasanya dari DCS) bisa dilakukan ke local control (PLC) menggunakan serial komunikasi ? Misalnya saja di PLC ada Pressure control katakanlah PIC-1000 lengkap dgn mode (auto, cas, man), PV, SP, dan output. Kemudian parameter2 ini kita bisa konfigure sebagai remote value yg bisa di overwrite oleh DCS via serial komunikasi. Sehingga DCS bisa sewaktu2 mengubah setpoint, mode, bahkan output dari kontrol tersebut. Tujuan dari remote kontrol ini salah satunya adalah memaksimalkan fungsi DCS operator utk mengendalikan kontrol di lokal (package) ketika ada emergency case. Apakah hal ini diperbolehkan ? Bagaimana mengantisipasi fail komunikasi atau delay komunikasi terhadap lokal kontrol ?

Tanya – febri wardana

Dear All,

Mohon bantuannya apakah ada referensi (baik standard atau best practice) yg menyatakan bahwa remote kontrol (biasanya dari DCS) bisa dilakukan ke local control (PLC) menggunakan serial komunikasi ? Misalnya saja di PLC ada Pressure control katakanlah PIC-1000 lengkap dgn mode (auto, cas, man), PV, SP, dan output. Kemudian parameter2 ini kita bisa konfigure sebagai remote value yg bisa di overwrite oleh DCS via serial komunikasi. Sehingga DCS bisa sewaktu2 mengubah setpoint, mode, bahkan output dari kontrol tersebut. Tujuan dari remote kontrol ini salah satunya adalah memaksimalkan fungsi DCS operator utk mengendalikan kontrol di lokal (package) ketika ada emergency case. Apakah hal ini diperbolehkan ? Bagaimana mengantisipasi fail komunikasi atau delay komunikasi terhadap lokal kontrol ? dll
Setahu saya dan sudah ada beberapa package yg memang sudah disetup berkomunikasi dgn DCS, hanya remote setpoint saja yg bisa di overwrite oleh DCS, dan tentunya lokal kontrol harus diubah dulu ke mode Remote Cascade atau DCS remote. Jadi bisa saja ada mekanisme ketika komunikasi fail, maka mode akan berganti ke Auto atau Man dgn setpoint tracking sewaktu mode Rcas di aktifkan (bumpless transfer).
Mohon bantuannya.Terima kasih.

Tanggapan 1 – Fitri Ade Gunawan

Anda bisa pake modbus serial, tapi DCS anda juga harus suport modbus serial interface. Saya pernah pake untuk komunikasi antara DCS honeywell dengan PLC telemecanic dari Schneider. terjadi komunikasi 2 arah antara DCS dan PLC meskipun dengan half duplex. memang agak lambat jika banyak memory register dan internal flag yang mesti diambil dari PLC.
Jadi pastikan dulu apakah DCS anda support serial dalam hal ini modbus yg open dan pastikan PLC anda juga support modbus. untuk fail safe bisa dikonfigurasi di sisi PLC, jika internal flag tertentu tidak diupdate dalam sekain menit/detik maka goto fail safe mode.
Moga membantu.

Tanggapan 2 – m_sahlaa

Dear Febri,

Setahu saya itu diperbolehkan dan bisa, tergantung dari topologi PLC (PLC yang support utk komunikasi) dan DCS nya. Kalau misalkan ada emergency state, maka kontrol akan dilakukan secara lokal, itu setahu saya, boleh saja asalkan kondisi emergency state ini tidak membahayakan. Sebaiknya anda menggunakan Redundance System saja, alias mengkoneksikan 2 buah PLC, 1 sebagai master dan 1 sebagai backup, dan keduanya saling terinterkoneksi. Tergantung dari brand PLC apa yang saudara pakai. Kalau saya pernah menggunakan PLC Modicon Quantum (Schneider) untuk Hot Redundance w/ Distributed I/O system untuk WHCP.
Sehingga apa bila ada kondisi fail di salah satu komunikasinya, maka masih ada control yang membackup proses yang sedang berlangsung, in bad case, tidak sampai harus shutdown dan menggunakan manual state yang kemungkinan ada bahaya disana.

Semoga membantu….

Tanggapan 3 – febri wardana

Pak Sahlaa,

PLC saya sudah redundant controller menggunakan AB Controllogix. Hanya saja utk redundant serial card-nya tidak seperti redundant pada umumnya. Secara fisik terpasang pada rack yg sama dan tidak bisa di set sbg kongiurasi redundant. Tidak seperti DCS dimana kita bisa konfigure misal slot 1 dan 2 sbg redundancy, shg ketika ada satu fail maka akan di switchover ke standby-nya. Kalau ada failure di sisi rack tersebut (misal : controlnet problem) maka komunikasinya akan fail juga.
Fungsi PID kontrol tetap dilakukan oleh lokal PLC, hanya saja parameter tersebut bisa diset oleh DCS menggunakan serial komunikasi. Emergency case yg dimaksud adalah, ketika terjadi abnormal process/control, DCS bisa langsung ambil tindakan misalnya fully opening valve/PID output (dgn mengubahnya ke Man mode dahulu, abru set PID.Out ke 100% open).

Tanggapan 4 – Endi Sugandi

Dear Febri,

Saya pernah meng handle system seperti yang Pak Febri jelaskan. Untuk mengecek integrity dari komunikasi antara PLC dan DCS digunakan watchdog. Salah satu register dari komunikasi di gunakan untuk keperluan itu. Biasanya diawali dari PLC, bisa saja kita buat toggle system (on – off) atau ramp tergantung selera. PLC mengirimkan signal on ke DCS setelah itu DCS merespon signal on dan mengirim balik ke PLC signal on pula, setelah menerima signal on, PLC akan mengirimkan signal off ke DCS dan seterusnya. Baik di PLC dan DCS dipasang timer, apabila tidak menerima perubahan signal selama 2 detik/ sekian detik tergantung design maka dapat dikatakan komunikasi trouble, dan akan mentrigger controller ke local position. Demikian pak semoga membantu.

Tanggapan 5 – Enung Nurmalia

Pak Febri,

Secara teori dan practical bisa dilakukan.

Simple saja,

Jika Bapak ada di sisi remote, tentu saja Bapak tinggal masukkan variable2 tersebut ke mapping address (read/write tags).
Kalau Bapak berada di sisi local, selain assign variable2 tsb ke modbus address, Bapak bisa pakai selection dan multiplexer logic untuk pemilihan value yang akan diproceed ke PID block untuk tiap2 case nya. yang agak2 ribet paling membuat block untuk memaintain value saat terjadi transisi mode agar bumpless.

Tanggapan 6 – febri wardana

Saya cukup paham kekhawatiran pak Febri dan juga paham kemudahan2 yg disampaikan bpk2 yg lain hal komunikasi ini. memang utk uji coba sebelum connect ke field nampaknya OK2 saja. saran saya

1. coba kembali dilakukan what if analysis, dan temukan kendalanya serta cari alternatif penyelesaiaannya.

2. kalau bisa seminimum mungkin korelasi antara PLC dgn DCS (hanya point2 tag tertentu saja). lebih baik pakai hubungan inpiu-ouput secara wiring saja.
Semoga sukses

Tanggapan 7 – adi harjono

Bapak Febri,

Di plant saya awalnya ada rencana untuk membuat PLC-DCS dalam satu hirarki tetapi hal itu ternyata sulit di applikasikan dan ribet dalam hirarkinya. akhirnya di putuskan untuk membuat sistem yang kembali ke main nya yaitu PLC di terapkan dalam emergency sistem dan startup/shutdown sedangkan DCS sebagai pengendali I/O.

Pada dasarnya hubungan antara PLC dan DCS digunakan hubungan serial dengan menggunakan serial modbus (seperti modbusRTU), tetapi kelemahan nya adalah delay yang di claim oleh PLC sekitar 2 detik, delay ini akan semakin membesar berdasarkan banyak nya data yang dikirim dari dan oleh PLC – DCS.

Setau saya hal ini gak bagus untuk pengendalian oleh karena itu di putuskan agar PLC dan DCS berada dalam level yang sama. selama ini keterbatasan PLC adalah tempatnya yang berada dilocal area (untuk packaging unit), seiring dengan kemajuan PLC sendiri sekarang di PLC pun dapat di terapkan remote I/O. jadi untuk package tiap unit yang dikendalikan oleh PLC di lapangan dapat di remote dari ruangan DCS menyerupai DCS. jadi operator DCS sekarang punya dua layar yaitu DCS dan PLC semeja dan sekinerja. beberapa data penting yang harus saling berhubungan nanti sifatnya hanya indication saja untuk memudahkan dalam pengoperasian dilayar masing masing ataupun untuk kepentingan yang lain seperti untuk data manager (seperti prexion data manager yang dihubungkan dengan database axapta atau SAP).

Tanggapan 8 – febri wardana

Dear All,

Terima kasih atas input2nya dari PAk Endi, Adi, Enung, Maison, dll. Saya coba resume dan comment saya :

1. Menambah fungsi watchdog antara DCS dan PLC. Comment : apakah memang tidak ada internal flag dari AB PLC (MVI56-MCM) yg mengindikasikan failure atau not communicate. Kalau memang tidak ada kita bisa pakai sistem watchdog ini, hanya saja saya juga musti concern action apa yg musti dilakukan ketika fail.

2. Selection atau multiplexer logic. Comment : kalau ada contohnya boleh deh buat referensi. Untuk AB sistem saya masih bingung redundansinya, karena utk read di DCS, musti menulis ke kedua MCM card utk setiap value di PLC. Sehingga ketika error di satu MCM, DCS masih bisa baca di MCM yg lain. Hal ini musti kita lakukan di secondary MCM utk fungsi Read di PLC/Write di DCS. Masalahnya tidaklah mudah utk membuatnya, namanya saja ladder….heheheh.

3. Meminimal mungkin fungsi write DCS ke PLC. Comment : saya setuju hal ini, yg namanya serial komunikasi tetap tidak sehandal hardwire. Jadi yg sudah saya propose adalah cuman remote setpoint PID saja, namun tetap management inginnya bisa overwrite semua parameter PID. JAdi saya mau cari standard reference utk hal ini. Remote setpoint ini akan putus (Rcas mode) jika komunikasi masternya loss atau pindah ke secondary MCM, mode akan balik ke Auto dgn setpoint diambil dari last SP Rcas.
Mungkin ada yg punya pengalaman dgn menggunakan MCM tipe MVI56 dan memakai metode pass-through. Di manual metode ini memungkinkan utk tidak perlu mengeset atau menulis ke kedua MCM, artinya data langsung diterima tanpa melalui mapping address lagi. Sehingga value yg diterima atau ditulis akan langsung diteruskan ke kedua MCM tanpa menulis ladder ke kedua MCM. Hal ini akan meminimalisasi banyaknya ladder yg dibuat dan logic yg rumit. Mohon share-nya.

Tanggapan 9 – febri wardana

Dear All,

Apakah rekan2 ada yg punya experien di AB PLC MVI56-MCM utk kasus redundancy ? Mungkin bisa share, khususnya cara membuat ladder utk antisipasi jika komunikasi fail dan referensi standard utk remote kontrol PLC dari DCS.
Makasih….

Share This