Select Page

Apapun status employment kita – permanent atau kontrak waktu tertentu – setiap saat bias saja diputus. Jangan beranggapan bahwa anda yang permanent akan bias bertahan ‘lebih lama’ dari yang kontrak. Begitu juga yang kontrak, jangan beranggapan pula bahwa anda akan bekerja sesuai waktu dalam perjanjian, apalagi akan diperpanjang kontrak anda.

Tanya – Nurul Hidayat

Rekan-rekan migas yang terhormat, saya sedikit ada kisah yang perlu diketahui agar tidak terulang pada anda-anda semua. Ceritanya begini, beberapa waktu yang lalu saya bekerja pada sebuah Engineering Company yang cukup ternama di Jakarta. Pada saat awal masuk mereka cukup welcome ditandai dengan agar saya segera masuk walaupun tanpa tandantangan kontrak terlebih dahulu. Awalnya saya cukup senang karena mereka akan segera mengurus kontrak saya. Pernah mereka menyodori kontrak, kemudian karena ada kesalahan ketik saya kembalikan untuk direvisi. Bagaikan membumbuhi burung terbang kontrak tsb tak kunjung datang. Pernah saya tanyakan kpd salah seorang diantara mereka, mereka bilang : yang penting comitment perusahaan dan gaji saya lancar. Memang gaji lancar, dasar saya percaya aja karena perusahaan tsb cukup besar. Tapi apa yang terjadi, pada awal April saya dipanggil oleh Personalia bahwa Akhir April (5 bulan kerja)masa kerja saya habis. Sungguh saya tidak menyangka perusahaan sebesar itu bekerja tidak profesional dan kampungan.

Demikian sekedar informasi dengan harapan tidak terjadi pada diri rekan-rekan semua.

NB : Saya berumur 43 th, seorang process engineer bisa Hysys, Pernah bekerja di Unit Pengolahan Pertamina dan perusahaan Minyak Swasta. Terahir bekerja di Engineering Company tsb diatas.

Tanggapan 2 – triono.rahardjo@akerkvaerner

NOTE: Saya ganti title-nya dengan mengganti [Umum] menjadi [HKM].

Pak Nurul,

Pengalaman anda sangat menarik. Yang perlu kita diketahui adalah sbb:

– Anda mulai kerja berdasarkan apa?

– Apakah ada surat tawaran (offer) dari perusahaan tersebut?

– Kalau ya, apa isinya? Offer yang baik harus mencantumkan role and responsibility dari posisi yang ditawarkan (supaya anda tahu kira2 tanggung jawab apa yang akan diletakkan dipundak anda dan tahu masa depan anda dalam posisi tersebut), remunerasi yang ditawarkan (gaji, medical-coverage dan benefits yang lain), apakah posisi tersebut permanent atau non-permanent, dan kalau non-permanent harus jelas jangka waktu perikatannya.

– Dengan anda mulai kerja, secara hukum anda sudah menerima tawaran tersebut (accept) dan adanya ‘offer and acceptance’ sudah merupakan kesepakatan dengan kekuatan hukum, walaupun tidak tertulis.

– Dari cerita anda, saya melihat tidak ada masalah dengan pembayaran gaji anda (tepat waktu, sesuai dengan penawaran dsb). Rasanya perlakuan tersebut adalah perlakuan semena-mena dari perusahaan terhadap pegawai (dari sisi manusia). Tetapi perlu diingat bahwa, walaupun anda punya kontrak yang ditandatangani oleh perusahaan dan anda sendiri, hal2 berikut dapat secara sah terjadi:

– Misal anda sebagai pegawai non-permanent dengan jangka waktu tertentu – anytime kontrak bisa diputus dengan pemberitahuan didepan 1 bulan sebelum tanggal pemutusan (bahkan bisa tidak perlu pemberitahuan (??), walaupun rasanya tidak etis untuk tidak memberitahukan kepada pegawai non-permanent bahwa kontraknya tidak akan diperpanjang).

– Misal anda sebagai pegawai permanen – (juga) anytime kepegawaian anda bias diputus dengan pemberitahuan didepan 1 bulan sebelumnya. Bedanya, sesuai dengan aturan depnaker yang ada, anda harus diberi uang pesangon (pemutusan hubungan kerja pegawai permanen ada aturan mainnya sendiri, tapi basically kita bisa di lay-off anytime).

Ulasan saya belum tentu tepat karena saya hanyalah orang yang senang mengamati hal-hal dari sisi hukum dan bukan ahli hukum. Mungkin teman2 yang ahli hukum (perburuhan) lebih bisa memberikan ulasan yang lebih ‘berdasar hukum’.

Pelajaran yang dapat kita ambil:

Dalam hubungan business sebaiknya dilakukan secara tertulis dan resmi. Jangan mudah percaya begitu saja, apalagi kalau menyangkut masalah ‘dapur’ dan ‘masa depan anak-anak kita’. Jangan pernah terkecoh dengan nama besar suatu perusahaan atau reputasi seseorang.

Tanggapan 3 – rusydiu@technip-coflexip

Saya hanya ingin menambahkan, menurut saya anda terlampau berani untuk mengambil resiko bekerja tanpa ada perjanjian kerja hitam di atas putih. Sebenarnya persoalan phk itu bisa kapan saja terjadi pada kita, yang terpenting apa yang menjadi hak kita sesuai peraturan ketenakerjaan dipenuhi oleh perusahaan. Sesuai uu tenakga kerja, bila anda bekerja tanpa adanya perjajian kerja maka anda dianggap karyawan tetap (permanen). Dan bila di PHK maka anda berhak atas pesangon, dll sesuai masa kerja anda. Semoga perusahaan tsb memenuhi semua hak anda sesuai aturan, kalau tidak sangat keterlaluan dan anda bisa melaporkannya ke depnaker.

Tanggapan 4 – Sutrisno sutrisno@ptsofresid

Saya setuju dengan Pak Triono, apa pun status employement kita – permanent atau kontrak waktu tertentu – setiap saat bisa saja diputus. Jangan beranggapan bahwa anda yang permanent akan bisa bertahan ‘lebih lama’ dari yang kontrak. Begitu juga yang kontrak, jangan beranggapan pula bahwa anda akan bekerja sesuai waktu dalam perjanjian, apalagi akan diperpanjang kontrak anda.

Sebutan ‘permanent employee’ atau ‘contract employee’ hanya sekedar tulisan dalam kertas perjanjian. Kasus yang dialami Pak Nurul Hidayat, sudah pernah terjadi menimpa rekan-rekan yang lain sekitar tahun 2000 (PHK massal). Ujung dari perselisihan ini, selama Company memenuhi aturan/norma dari Peraturan Depnaker/UU Tenaga Kerja, semua selesai. Itu yang pernah saya konfirmasikan dengan Pihak Depnaker yang mengurusi masalah PHK. Semoga Pak Nurul mendapatkan semua haknya sesuai aturan normatif yang berlaku. Saya punya pengalaman ‘membatalkan’ penawaran kontrak dengan sebuah EPC company karena ada unsur ‘tricky’ dalam draft-nya. Ada klausul yang tidak berkenan yang menurut saya kurang ‘secure’ pada posisi saya yang kurang lebih bunyinya:

1. ‘Apabila telah melewati masa percobaan 3 bulan, maka karyawan dapat diangkat sebagai karyawan permanent’.

– Interpretasi saya, setelah masa percobaan tidak otomatis saya menjadi karyawan permanent, karena ada unsur kata ‘dapat diangkat’…..

2. ‘Apabila ada perselisihan yang terjadi di kemudian dari, maka akan diselesaikan dengan cara kekeluargaan’.

– Interpretasi saya, dalam penyelesaian kekeluargaan ini, karyawan selalu dalam posisi lemah…

3. ‘Perjanjian kerja dibuat tanpa meterai’

– Interpretasi saya: tidak ada kekuatan hukum bisa tanpa segel meterai yang memadai..

Rasanya, kita harus hati-hati dalam menerima setiap tawaran. Masing-masing kita perlu melindungi diri dengan pemahaman setiap klausul dalam perjanjian.

Share This