Select Page

Sesuai namanya, FPSO = Floating Production Storage Offloading, berarti kegiatannya di tengah laut dgn kapal terapung yg dijangkar di lokasi tertentu (biasanya jangkarnya tidak dipindahkan sampai puluhan tahun), yg fungsinya produksi/pemrosesan minyak mentah hasil penyaluran dari platform lain, penyimpanan hasil pemrosesan minyak olahan utk kemudian diangkut ke darat oleh kapal yg datang dlm jadwal tertentu. Pengeboran biasanya dilakukan di platform lain atau kapal drilling sebelum disalurkan ke FPSO.

Tanya – Deny Sidharta

Teman-teman, mohon pencerahan tentang Floating Production Storage and Offloading (FPSO). Pertanyaan saya adalah: Apakah dalam kegiatan FPSO yang menggunakan kapal, di dalamnya termasuk kegiatan pengeboran ataukah hanya pemrosesan saja, sementara pengeborannya dilakukan di offshore platform terdekat. Mohon pencerahannya.

Tanggapan 1 – Udin, Effendy@mcdermott

Sesuai namanya, FPSO = Floating Production Storage Offloading, berarti kegiatannya di tengah laut dgn kapal terapung yg dijangkar di lokasi tertentu (biasanya jangkarnya tidak dipindahkan sampai puluhan tahun), yg fungsinya produksi/pemrosesan minyak mentah hasil penyaluran dari platform lain, penyimpanan hasil pemrosesan minyak olahan utk kemudian diangkut ke darat oleh kapal yg datang dlm jadwal tertentu. Pengeboran biasanya dilakukan di platform lain atau kapal drilling sebelum disalurkan ke FPSO.

Selain FPSO, jg ada FSO = Floating Storage Offloading, yang fungsinya hanya utk menyimpan minyak olahan utk kemudian ditransfer ke darat lewat kapal pengangkut lain, tanpa bisa memproses.

Tanggapan 2 – Driaskoro@medcoenergi

Mas Deny,

Bisa baca di Offshore Engineer Magazine, Edisi bulan Juni lalu, diulas lengkap di http://www.oilonline.com/oe/ atau di website www.oilandgas.org.uk/issues/fpso/

Tanggapan 3 – JKTPET1@jkt.marubenicorp

Mas Deny,

Info berikut mungking bisa bermanfaat.

FPSO

From Wikipedia, the free encyclopedia. FPSO – Floating Production, Storage and Offloading Unit. A type of floating tank system used by the offshore oil and gas industry.

Oil produced from offshore production platforms can be transported to the mainland either by pipeline or by tanker. When a tanker solution is chosen, it is necessary to accumulate oil in some form of tank such that an oil tanker is not continuously occupied whilst sufficient oil is produced to fill the tanker. Often the solution is a de-commissioned oil tanker which has been stripped down and equipped with facilities to be connected to a mooring bouy. Oil is accumulated in the FPSO until there is sufficient to fill a transport tanker at which point the transport tanker connects to the stern of the floating storage unit and offloads the oil.

Some FPSO have the capability to carry out some form of oil separation process obviating the need for such facilities to be located on an oil platform.

http://www.ukooa.co.uk/issues/fpso/faq.htm

This technology-related article is a stub. You can help Wikipedia by expanding it. Retrieved from http://en.wikipedia.org/wiki/FPSO

Categories: Technology stubs | Petroleum

Tanggapan 4 – Habib Baehaki@unocal

Sepengatahuan saya FPSO tidak ada drilling-nya.
Ini biasanya digunakan untuk sumur subsea, kecuali ada beberapa yang dipakai untuk platform seperti Unocal West Seno. Jadi biasanya hanya untuk pemprosesan saja.

Tanggapan 5 – iwan aryawan

Sekedar tambahan info,

Sudah ada beberapa perusahaan yang mendesain FPSO dengan fasilitas Drilling-nya. Ada yang menamakan FDPSO, ada FPDSO (dimana D=Drilling). Tapi sepengetahuan saya saat ini masih sebatas desain saja. Mungkin ekonomisnya nanti kali kalau ladang2 minyak mulai abis. Tinggal ladang2 yang kecil aja dan jaraknya juga berjauhan. Jadi kaya Vini-Vidi-Vici: datang, ngedrill, nyedot terus pergi lagi.

Tanggapan 6 – ferry irawan

Saya akan menambahkan sedikit… dalam FPSO ini biasanya memakai kapal tanker (VLCC) dan diubah fungsi menjadi FPSO ato FSO…selain menghemat waktu dalam pengerjaan juga menghemat biaya… ada juga yg membangun baru mirip kapal (seperti ‘Belanak Natuna’).

Ditempat saya bekerja sekarang ini…sedang berjalan conversion Tanker to FPSO (FPSO Kikeh). sedang conversion yg sudah selesai ada FPSO ‘bunga kerta’, FSO Ross Sea dan FSO Yoho. yang kesemuanya itu memakai turret sebagai pelengkap.

Tanggapan 7 – Kunarta Djayaputra@petrosea

Mas Ferry dan teman2 semua,

Saya kok sedih melihat Malaysia boleh berjaya dalam bussines ini. Padahal sumber daya manusia, Indonesia lebih baik, lebih banyak. Yang belum ada hanya dukungan dari ‘Clean Government’ yang mau berpikir tanpa embel2 alias komisi. DPR nya Cuma mikirin gaji dan tunjangan untuk diri sendiri. Kasihan ya kita2 ini seperti anak ayam tak punya induk.

Tanggapan 8 – putra wisnawa

Mas Kur,

Kita tidaklah tertinggal dalam bussines ini,cuma kita memang masih sangat ‘pemalu’ malu untuk jujur dan bekerja keras untuk kaya.

Sebagian besar Engineer yg menyelesaikan Project FPSO mereka adalah orang asing yg separuhnya adalah orang kita juga, jadi yang tertinggal itu Engineer Malaysia.Coba Check berapa puluh orang Engineer kita masuk malaysia setiap ada Project besar dan mereka rata rata free Tax ( entah siapa yg bayar ) yg jelas Take Home Pay mereka tidak di ‘ gelitik ‘ sejumlah simbul % untuk pajak dan bla bla.

Tanggapan 9 – Kunarta Djayaputra@petrosea

Ya betul sekali. Experienced Engineer kita lebih dihargai diluar negeri daripada di dalam negeri. Sekarang persoalannya bagaimana menyampaikan fakta ini ke Bapak Presiden kita SBY (By SMS?). Supaya tidak seperti sekarang ini dimana charging rate local cuma dihargai 20% dari rate Expatriate.

Kita juga butuh management yang baik untuk me manage experienced engineers dan tenaga terlatih kita dan berbuat sesuatu seperti yang dilakukan Malaysia. Dan lebih baik lagi kalau di back-up dengan tax holiday atau apalah bentuknya. Ini diperlukan supaya ada pengusaha yang berminat dengan harapan bisa meng absorb tenaga kerja kita lebih banyak. Seharusnya PT PAL boleh melakukan ini ya. Sebenarnya waktu proyek FPSO CONOCO BELANAK, kita punya kesempatan tapi kok malah orang lain yang bikin?

Tanggapan 10 – Imam Dermawan

Yg FPSO belanak untuk topside (fasilitas pemrosesan migas) kan kita yg bikin atau konstruksinya di Batam kalau hullnya ada yg bilang karena gede pt pal belum bisa waktu itu jadi dikerjakan oleh kontraktor di cina. di bisnis kontruksi Malaysia kynya sekarang lagi berjaya keliatanya ya soalnya banyak proyek ky si mmhe dan sde johor bahru. sebagian proyek anjungan Indonesia sebenernya bisa dikerjakan di indonesia namun karena tidak ekonomis kali jadi banyak dikerjakan di luar negeri seperti di Hyundai korea,malaysia,china,dll. mungkin karena kalau di Indonesia kontraktornya PMA (penanaman modal asing) jadi mahal nilai proyeknya pdhl PMA juga gaji karywannya indonesianya kecil aja. Kalao dibandingkan engineer indonesia yg banyak kerja di mlaysia mungkin gajinya lebih besar dari PMA di indonesia , yg bikin heran kaya perusahaan malaysia itu gaji manhournya besar tapi menang tender krn nilai proyeknya lebih murah daripada kontraktor PMA di indonesia yg mana gaji manhournya lebih kecil.

Tanggapan 11 – John

PMA bukan hanya mbayar karyawan atau tukang yg dilapangan saja. Mereka juga harus menggaji beliau-beliau yang ‘ikut memenangkan tender’. Tentu PMA gak mau rugi dong, makanya dana yang mestinya untuk gaji tukang dilapangan disunat untuk ‘majikan siluman’ mereka……hehehe…

Lagi-lagi ….ujung-ungungnya pungli alias korupsi….

Tanggapan 12 – Imam Dermawan

Masa sih bukanya kalau yg murah nilai proyeknya yg menang tender kalo gitu harusnya proyeknya dikerjakan oleh PMA tsb yg di Indonesia kan bukannya di malaysia, kalau menurut sy salah satu faktornya yaitu manhours bule yg mahal soalnya di kontraktor malaysia ngga ada bule.

Tanggapan 13 – Deny Sidharta

Terima kasih atas keterangan dan pendapat Bapak-Bapak sehubungan dengan masalah FPSO.

Tanggapan 14 – ferry irawan

Rekan-rekan semua…

Di Malaysia kontraktornya memang kebanyakan dr Lokal…tapi untuk dibagian ato system tertentu mereka juga memakai kontraktor luar (India, Singapore bahkan Inggris ato Jerman).
Seperti yg saya katakan sebelumnya…untuk FPSO Kikeh ini MMHE lebih banyak mengambil Tenaga Ahli (Expactriate) dr Indonesia khususnya Batam dan Jakarta… begitu juga di SDE…
jadi benar…bagaimana cara kita untuk memberitakan ttg hal ini kepada Pak SBY….

Mohon dikoreksi kalo’ ada kesalahan…

Share This