Select Page

Konsep beton kedap air (mix design) juga selayaknya memperhitungkan kandungan semen dan w/c ratio dan disarankan mengandung admixture jenis High Range Water Reducing Agent (HRWRA) dalam perbandingan berdasarkan ASTM C 494 dan ASTM C 1017. Untuk beton kedap air yang mempunyai kontak langsung dengan air laut secara kontinyu, capping beam di quaywall, piles, pre stress, marine structures, minimal kuat tekan beton adalah 40 MPa.
Aplikasi lapisan kedap air (waterproofing material) baik membrane maupun coating diatas beton sebaiknya diasumsikan sebagai penahan sekunder. Karena sesungguhnya, lapisan tersebut tidak dapat berfungsi sebagai penahan tekanan air khususnya di water/liquid retaining structure. Justru beton yang dilapisilah yang mempunyai peran utama.

Tanya – Didit Hariyanto

Mohon bantuannya untuk sharing standart beton kedap air yang biasa dipakai untuk struktur.
Terima kasih bantuannya.

Tanggapan 1 – Cahyo Laksono Hadinoto

Salam kenal Pak Didit,

Kalau boleh tau, structure apa yg Bpk maksud itu?
bisa diberi penjelasan lebih spesific pak?

Tanggapan 2 – Didit Hariyanto

Terima kasih dan salam kenal juga Pak Cahyo,

Structure yang dimaksud seperti ‘ground reservoir’, underground cable trench dan structure bawah tanah lain (basement etc). Ada beberapa rekan menggunakan water proofing (membrane or coating) untuk pelapisan kedap airnya, ada juga yang menggunakan/menambahkan ‘Integral water proofing’ (yang dicampur langsung ke beton basah). Nah saya lagi mencari data berapa standard penetrasi, absorbsi dll untuk beton yang bisa dikategorikan ‘beton kedap air’ ?

Terima kasih tanggapannya pak ?

Tanggapan 3 – Thomas Yanuar

Halo Pak Didit,

Sebelum menuju aplikasi beton kedap air, silahkan dilihat-lihat dulu standard dan code yang relevan seperti:

1. ACI 318 dan 318/R (commentary)

2. ASTM C 94

3. ASTM C 191

4. ASTM C 494

5. DIN 1048

6. RILEM CPC 11.3

7. BS 8007

Kerapatan massa beton yang berkorelasi dengan karakterisktik kuat tekan beton jelas mempengaruhi kekedapan terhadap air. Jika meninjau dari standard penetrasi, absorsi dan lain-lainnya seperti yang Pak Didit maksudkan, kiranya percobaan dilaboratorium beton berdasarkan mix design dan trial mix baik yang dilakukan di Lab maupun di lapangan, dapat menjadi jawaban. Beberapa hal kunci yang dapat menjadi panduan awal berdasarkan standar dan code adalah:

a. Water Penetration maximum 10 mm berdasarkan DIN 1048.

b. Porosity maximum 10 % berdasarkan RILEM CPC 11.3

c. Water Absorption maximum 2 % berdasarkan ASTM C 642

Konsep beton kedap air (mix design) juga selayaknya memperhitungkan kandungan semen dan w/c ratio dan disarankan mengandung admixture jenis High Range Water Reducing Agent (HRWRA) dalam perbandingan berdasarkan ASTM C 494 dan ASTM C 1017.
Dalam beberapa pengalaman saya, beton dengan kuat beton K 250/ 30 MPa (minimal) sudah dapat digolongkan dalam kondisi beton kedap air dan minimum ketebalan beton tertentu, tergantung dari fungsi struktur tersebut. Katakan untuk potable water pit (baik storm water, manhole/catch basin, secara praktis angka ketebalan beton 20 cm bisa dipakai. Sedangkan untuk underground water pit structures yang lebih berukuran besar, diperlukan perhitungan yang lebih detail. Untuk yang berfungsi hanya sebagai penyalur, seperti trench yang bertulangan tunggal, ketebalan dinding minimal diangka 12 cm namun dasarnya disarankan diangka 15 cm.

Untuk beton kedap air yang mempunyai kontak langsung dengan air laut secara kontinyu, capping beam di quaywall, piles, pre stress, marine structures, minimal kuat tekan beton adalah 40 MPa.
Aplikasi lapisan kedap air (waterproofing material) baik membrane maupun coating diatas beton sebaiknya diasumsikan sebagai penahan sekunder. Karena sesungguhnya, lapisan tersebut tidak dapat berfungsi sebagai penahan tekanan air khususnya di water/liquid retaining structure. Justru beton yang dilapisilah yang mempunyai peran utama.
Demikian sedikit masukan dari saya.

Share This