Select Page

Kalau dilihat dari sisi Quality system, fungsi QC adalah melakukan fungsi verifikasi atau inspeksi dari apa yang telah disepakati antara buyer dengan vendor yang tertuang dalam dokumen kotrak. Untuk menghindari konflict of interest, di dalam requisition sudah dan telah di sebutkan batasan-batasan yang harus diikuti oleh kedua belah pihak termasuk code/standard yang digunakan beserta status revisinya. Jadi intinya fungsi QC di sini adalah membantu fungsi Procurement dan Engineering untuk memastikan bahwa semua aspek kualitas yang disepakati sudah sesuai. Tetapi pengalaman di lapangan terkadang fungsi QC disalah artikan dan bahkan diposisikan tidak pada tempatnya oleh team-nya sendiri (maaf pengalaman pribadi).
Oleh karena itu peranan ‘quality assurance’ menjadi sangat vital untuk melindungi fungsi ‘quality contol’ dan juga project team, stake holder dan share holder.

Tanya – ali topan

Dear all rekan milis

Mohon bantuannnya apabila punya softcopy atau artikel mengenasi standard marking, dll untuk steel material (pipe, fitting, valve), bisa di sharing
terimakasih atas bantuannya.

Tanggapan 1 – Gatot Supriyatno

Pak Topan,

Coba datang ke BSN di Gedung Manggala Wana Bakti.
Saya lihat cukup lengkap koleksi ASTM nya.

Tanggapan 2 – ali topan

Dear Rekan Migas Indonesia,

Sekali lagi… dan lagi… saya sangat terbantu dengan komunitas milis migas tercinta ini mengenai standard ASTM yang saya tanyakan sebelumnya, saya dibantu oleh Pak Prasetyo dengan memberikan beberapa regulasi ASTM yang saya perlukan sebagai orang Procurement, kami merasa perlu untuk mengetahui detail regulasi tersebut hal ini sangat berguna karena kita sering dihadapkan pada sudut pandang yang berbeda antara tim QC dengan vendor dengan memahami regulasi tersebut minimal kita sebagai mediator bisa mencoba untuk meng cross check mana yang benar karena tak selamanya QC benar, seperti kasus yang pernah saya alami dimana QC masih mengacu pada regulasi lama (yang ternyata pada edisi terbarunya, ada aturan yang sudah dirubah) selain itu, dengan memiliki regulasi tersebut bisa kita gunakan sebagai referensi saat kita akan meng-audit vendor saat pre kualifikasi sekali lagi TERIMAKASIH KMI… khususnya Pak Prasetyo.

Tanggapan 3 – Dirman Artib

(Meminjam kasus Pak Ali Topan, yg jarang kelihatan lagi ngebut di jalan).

Memang sangat penting untuk selalu memberikan pengetahuan dan informasi terkini kepada people. Biasanya gerbang informasi terkini di ‘beep’ oleh professional associated. Sayang di Indonesia professional associated kurang tumbuh dan berkembang. Untuk kasus Pak Ali Topan ini terindikasi bahwa Professional Associated dari profesi inspector/QC sangat-sangat diperlukan sehingga misalnya si QC/Inspector diingatkan bahwa misalnya standard API RP 14C sudah ada edisi 2006. (sudah adakah ? Untuk welding IWA/API kah ?).

Selain itu prosedur dan fungsi pengendalian dokumen informasi yang berasal dari luar organisasi (External Generated Document) perlu dibuat lebih efektif. Jadi tidak hanya menjadi ‘pemuas nafsu’ sang auditor ISO 9001 dalam hal memenuhi persyaratan clause 4.2.3.f Control of document, tetapi benar-benar organisasi memiliki mekanisme yg efektif dan handal dalam mengawal versi standard/kode terkini. Kendalanya memang ada sedikit biaya yg harus dikeluarkan.

Satu lagi, itu lah sebabnya organisasi harus mempunyai rencana peningkatan yang berkesinambungan terhadap resource-nya termasuk lewat program pelatihan, sehingga si Inspector yang tamat kursus tahun 1995 terus mengikuti pengetahuan dan informasi terkini, misalnya teknologi terbaru interpretasi film radiography yang dilakukan oleh program komputer, mungkin belum diajarkan kepada NDT/NDE inspector yang tamat kursus tahun 1990, padahal sekarang teknologi ini sudah biasa walaupun belum bisa dikatakan mewabah seperti SWINE Flue.

Tanggapan 4 – I Made Sudarta I Made Sudarta

Menanggapi pernyataan dari Pak Topan bahwa QC tidak selalu benar. Itu benar. Kalau dilihat dari sisi Quality system, fungsi QC adalah melakukan fungsi verifikasi atau inspeksi dari apa yang telah disepakati antara buyer dengan vendor yang tertuang dalam dokumen kotrak. Untuk menghindari konflict of interest, di dalam requisition sudah dan telah di sebutkan batasan-batasan yang harus diikuti oleh kedua belah pihak termasuk code/standard yang digunakan beserta status revisinya. Jadi intinya fungsi QC di sini adalah membantu fungsi Procurement dan Engineering untuk memastikan bahwa semua aspek kualitas yang disepakati sudah sesuai. Tetapi pengalaman di lapangan terkadang fungsi QC disalah artikan dan bahkan diposisikan tidak pada tempatnya oleh team-nya sendiri (maaf pengalaman pribadi).
Oleh karena itu peranan ‘quality assurance’ menjadi sangat vital untuk melindungi fungsi ‘quality contol’ dan juga project team, stake holder dan share holder.

Terima kasih.

Tanggapan 5 – Didik Pramono

Ikut nimbrung juga…

Bukannya codes/standards adalah hanya sebatas rujukan saja, yang digunakan sebagai ‘recommended practice’ dari conceptual design sampai dengan operation dan maintenance. Jika ada Company yang menggunakan codes/standards versi lama sebagai rujukan, padahal sudah ada version yang lebih baru, saya pikir tidak menjadi masalah sepanjang safety requirements tetap terpenuhi.
Setuju dengan yang disampaikan Pak Made, point utamanya adalah telah ada kesepakatan antara buyer dengan vendor yang tertuang dalam dokumen kontrak, termasuk codes/standards mana yang digunakan beserta status revisinya. Dari sinilah QC akan melakukan fungsi inspeksi/verifikasi berdasarkan dokumen kontrak yang telah disepakati, termasuk dalam penggunaan codes/standards beserta status revisinya.

Share This