Select Page

Comdev telah menjadi suatu pilihan yang menarik bagi perusahaan ? perusahaan, dimana hal ini dapat membantu mereka untuk membantu komunitas sekitarnya dan pada saat yang bersamaan juga mendapat pemberitaan yang baik yang dapat meningkatkan image perusahaan. Hal ini juga popular karena tidak memerlukan waktu yang berarti dari top menejemen.

Pembahasan – Steven.Brown@erm

Beyond Community Development

Community Development, atau comdev telah menjadi sebuah kalimat favorit diantara sektor perusahaan ?

Perusahaan swasta dan pejabat ? pejabat pemerintah di Indonesia. Hampir semua perusahaan extractive industries mempunyai program comdev, beberapa diantaranya bahkan mengalokasikan dana jutaan dollar untuk perbaikan komunitas sekitarnya. Tapi dalam keadaan Indonesia yang sedang berubah saat ini, apakah comdev saja telah cukup untuk mengelola berkembangnya resiko sosial yang dihadapi oleh perusahaan?

Comdev pada era suharto

Popularitas comdev meningkat pada era suharto, dimana pada waktu itu perusahaan ? perusahan tersebut relative aman dalam lingkungan sosialnya, tapi masih perlu untuk menunjukan suatu ‘kepedulian’ bagi komunitas setempat. Pada saat itu pemerintahan pusat dan militer memegang kontrol yang kuat terhadap para provokator setempat dan juga mereka yang disebut ‘perusuh’ yang telah mengakibatkan banyak permasalahan pada perusahaan ? perusahaan semenjak lengsernya Suharto.

Comdev telah menjadi suatu pilihan yang menarik bagi perusahaan ? perusahaan, dimana hal ini dapat membantu mereka untuk membantu komunitas sekitarnya dan pada saat yang bersamaan juga mendapat pemberitaan yang baik yang dapat meningkatkan image perusahaan. Hal ini juga popular karena tidak memerlukan waktu yang berarti dari top menejemen.

Pasca- Suharto

Pada saat keruntuhan kekuasaan Suharto dan melemahnya kekuatan militer, para provokator setempat mengambil kesembatan tersebut, untuk mulai untuk memprovokasi komunitas setempat dalam beraksi melawan perusahaan ? perusahaan besar. Setelah itu, kebanyakan dari perusahaan tersebut meningkatkan sistem keamanan mereka dalam usahanya untuk menghindari terpengaruh produksi akibat dari aksi para demonstran.

Kebanyakan perusahaan menemukan bahwa comdev itu sendiri tidak dapat mengelola resiko social yang mereka hadapi. Tetapi dari pada mengembangkan strategi social yang baru, perusahaan kembali kepada kekuatan security dan ‘pagar tinggi’. Comdev tetap ada, karena menghilangkanya berarti meningkatkan permasalahan yang telah ada terhadap komunitas sekitar, tetapi sayangnya top management masih belum memberikan waktu yang berarti bagi permasalahan komunitas masyarakat.

Comdev: What went wrong

Pada banyak kasus, petugas comdev disalahkan karena tidak melakukan kerjanya dengan cukup baik dalam membuat masyarakat local puas dengan perusahaan mereka. Banyak manager ? manager senior yang merasa bahwa program Comdev mereka telah gagal dalam memenangkan dukungan masyarakat.
Tetapi para manajer ini tidak sadar bahwa pada era pasca-Suharto di Indonesia, Comdev sendiri tidaklah cukup untuk meringankan seluruh persoalan resiko sosial.

Tanpa control pemerintahan dan militer yang ketat, perusahaan perlu untuk secara serius meperhatikan perkembangan program community relations yang benar, dimana Community Development hanya akan menjadi bagian dari hal tersebut. Apa yang sering tidak dilihat adalah bahwa Comdev hanyalah sebuah alat untuk community relations, dan tidak dapat menanggung seluruh beban resiko pengelolaan sosial.

Masalah utama dengan suatu program community relations yang tergantung pada comdev saja adalah tidak adanya perhatian yang cukup yang diberikan untuk berhubungan dan konsultasi dengan komunitas masyarakat.

The emergence of CSR

Trend terbaru baik secara global maupun di Indonesia sendiri adalah agar perusahaan dapat memfokuskan pada Corporate Social Responsibility atau CSR. Sayangnya peninggalan comdev justru merintangi usaha untuk mempromosikan prinsip CSR itu sendiri di Indonesia. Masih ada banyak perusahaan ? perusahaan yang tidak mengerti keterbatasan comdev, dan mencoba untuk menggantungkan program CSR mereka tersebut pada comdev.

Beberapa program lintas industri lambat laun mulai dapat membandingkan program ? program CSR mereka terhadap benchmark. Mungkin dengan cara benchmarking demikian maka perusahaan ? perusahaan yang masih belum dapat memahami keterbatasan comdev akan terbangun. Tapi sampai menejement senior mulai mendelegasikan waktu yang berarti bagi pengelolaan resiko sosial, CSR tidak akan dapat menjadi solusi bagi tantangan hubungan kemasyarakatan di Indonesia.