Select Page

Untuk fase commissioning yg menjadi scope owner, tidak jarang EPC contractor tetap berada pada posisi supervisi aktifitas commissioning tsb, dan performance warranty akan dinilai bersama-sama dengan owner. Lebih detail mengenai perfomance warranty, dan package warranty seperti apa, harusnya tertuang dalam Bid documents dan contract documents.
EPC project seperti ini biasanya dilakukan pada project2 yang dimana sudah ada existing plant, dan owner sudah berpengalaman untuk pengoperasiannya.

Tanya – samrah sinam

Dear Insan Migas Indonesia.

Dunia EPC Project, banyak sekali mengalami variasi dalam pelaksanaan eksekusinya.
Pada umumnya Scope of Work dari EPC Kontraktor, meliputi Engineering-Procurement-Construction hingga Pre-Commissioning dan Commissioning. (lumsump).
Namun perkembangannya adakalanya Client (pemilik proyek) mengambil alih dan melakukan fase Commissioning sendiri, atas pertimbangan efesiensi.

Yang ingin saya tanyakan:

‘Sejauh mana tanggung jawab si Kontraktor EPC apabila, fase Commissioning dilakukan oleh si Client, khususnya berkaitan dengan Performance Warranty dan Mechanical Warranty
mengingat suatu pekerjaan EPC adalah terintegrasi yang tanggung jawabnya berada di pihak Kontraktor’.

Mohon pencerahan dari rekan2 yang telah berpengalaman di dunia EPC.

Tanggapan 1 – Hariyanto, Peki

Pak Samrah,

Sependek pengetahuan yang saya miliki, pihak kontraktor harus punya bukti hitam di atas putih bahwa sebelum di serahkan ke commissioning equipmentnya dalam keadaan baik dan gak ada mechanical damage misalnya gak ada punch list selama FAT ataupun kalibrasi yang telah di tanda tanganin oleh pihak client jadi setelah phase commissioning apabila ada kesalahan dalam prosedur commissioning yang menyebabkan equipment tidak berfungsi sebagaimana mestinya ataupun mechanical damage maka tidak di bebankan kepada pihak kontraktor. Disini di tuntut kejelian pihak kontraktor dalam menggali informasi apabila di temukan adanya equipment yg tidak berfungsi atau mechanical damage selama proses commissioning. Biasanya dari pihak kontraktor akan akan mendampingi client selama proses commissioning berlangsung.

Tanggapan 2 – firdauzihata

Pak Samrah,

Mungkin kita harus berawal dari pengertian pre-commisioning (static test /mechanical completion) dan commissioning (dynamic test). Biasanya commisioning di handle oleh client terutama brown project. Untuk periode waranty memang berawal dari mechanical completion atau penerbitan ready for commissioning. Biasanya untuk peralatan tertentu seperti pompa atau compressor yang disupply oleh EPC, commissioning dilakukan bersama antara client dan EPC (Vendor representatives).

Hal yang mengatur batasan waranty atau performance waranty biasanya termasuk di exhibit contract, sangat clear batasan penyebab defect/ kerusakan maupun scope dari waranty.
Apabila kerusakan disebabkan oleh kesalahan commissioning contractualy menjadi tanggung jawab client sebab ready for commissioning certificate dan hand over certificate sudah diterbitkan client di mechanical completion, kecuali apabila defect termasuk scope dari waranty.
Ini adalah masalah klasik dalam dunia EPC, dimana dibutuhkan justifikasi teknis dan contractual yang komprehensif sebagai penyelesaian solusi. Semoga membantu.

Tanggapan 3 – waluya_priatna

Precommissionings. -Loop check untuk semua dicipline (Mechanical.E/I,HVAC,F/G) certificatenya PCDAC(precomm.disipl.accept.certf.). -untuk hdrotest is Mechanica comp.

Tanggapan 4 – Gusti

Biasanya, jika pihak owner mengambil alih comissioning, kontraktor tetap mendampingi. Karena apabila terjadi sesuatu pada fase ini, kontraktor masih bertanggungjawab, dan biasanya kontraktor akan diikutsertakan, apakah sebatas supervisi atau support.

Tanggapan 5 – Sketska Naratama

Dear pak Samrah

Ya memang relatif pekerjaan EPC lump sum spt itu. Jika memang terjadi seperti ini, coba lihat kedalam klausul kontrak yang mengatur perihal ini? Jikapun ada, biasanya commercial lump sum pekerjaan akan dapat diskon, dalam artian pengurangan nilai (Logika nya).

Pararel pula utk performance guarantee maka pihak vendor akan memberikan guarantee directly to user. Hal ini harus tercantum dalam surat resmi mrk.
Btw menjadi pertanyaan lagi, jika hal2 diatas terjadi pada paket equipment, bagaimana guarantee nya terhadap seluruh paket equipment yang di integrasi kan? I’ve no idea …

Tanggapan 6 – Miftahul Arif

Untuk fase commissioning yg menjadi scope owner, tidak jarang EPC contractor tetap berada pada posisi supervisi aktifitas commissioning tsb, dan performance warranty akan dinilai bersama-sama dengan owner. Lebih detail mengenai perfomance warranty, dan package warranty seperti apa, harusnya tertuang dalam Bid documents dan contract documents.
EPC project seperti ini biasanya dilakukan pada project2 yang dimana sudah ada existing plant, dan owner sudah berpengalaman untuk pengoperasiannya.
CMIIW.

Tanggapan 7 – Sketska Naratama

Seharus nya ia pak Miftah,

Tetapi jika kasus nya utk paket equipment owner akan commissioning sendiri, tetapi pd saat integrasi satu plant yg menggaransi adl EPC contractor, bagaimana?

Coba flash back contract2 yang ada sekarang ke EPC. Jika ada yg meng absorb case ini, berkenan jika di share.

Share This