Select Page

Pepatah yang menyebut bahwa air adalah sumber kehidupan tak perlu diragukan lagi. Salah satu buktinya adalah sebuah inovasi karya tiga mahasiswa Teknik Kimia ITS berupa Oxyhidro Water Stove. Karya tersebut tak lain adalah kompor berbahan bakar air berhasil lolos dalam kompetisi Intensive-Student Technopreneurship Program (i-Step) 2010.
Kampus ITS, ITS Online – Bahan bakar alternatif memang tengah menjadi isu hangat di masyarakat. Jika selama ini masyarakat lebih familiar dengan bahan bakar fosil alias minyak bumi maka lain halnya dengan yang dilakukan ketiga mahasiswa Teknik Kimia ITS. Ketiganya adalah Cita Indah P W, Annie Mufyda R, dan M Fahmi ingin mengubah sedikit paradigma yang berlaku di masyarakat tersebut.

Pembahasan – Filipus Aron

Pepatah yang menyebut bahwa air adalah sumber kehidupan tak perlu diragukan lagi. Salah satu buktinya adalah sebuah inovasi karya tiga mahasiswa Teknik Kimia ITS berupa Oxyhidro Water Stove. Karya tersebut tak lain adalah kompor berbahan bakar air berhasil lolos dalam kompetisi Intensive-Student Technopreneurship Program (i-Step) 2010.

Kampus ITS, ITS Online – Bahan bakar alternatif memang tengah menjadi isu hangat di masyarakat. Jika selama ini masyarakat lebih familiar dengan bahan bakar fosil alias minyak bumi maka lain halnya dengan yang dilakukan ketiga mahasiswa Teknik Kimia ITS. Ketiganya adalah Cita Indah P W, Annie Mufyda R, dan M Fahmi ingin mengubah sedikit paradigma yang berlaku di masyarakat tersebut.

Karya yang mereka ajukan untuk kompetisi i-Step tersebut ternyata berhasil lolos dan menjadi satu-satunya tim yang maju mewakili ITS. “Syukurlah, kami bisa menjadi salah satu bagian dari 22 tim terpilih lainnya dan berkesempatan mendapat pelatihan di Bogor akhir Juli mendatang,” ujar Fahmi.

Menurut Cita, ide untuk menggagas inovasi timnya berawal dari keprihatinan mereka melihat angka ketergantungan Indonesia di bidang energi kebanyakan ditopang oleh bahan bakar fosil. “Bahan bakar fosil suatu saat akan habis jika kita tidak beralih ke bahan bakar alternatif,” ujar Cita. Sadar bahwa tidak selamanya energi tersebut bisa mencukupi seluruh kebutuhan manusia dalam jangka waktu panjang, Cita bersama dua temannya pun terpikir untuk mencetuskan ide membuat Oxyhidro Water Stove.

“Oxyhidro adalah kompor berbahan bakar air. Pada dasarnya, kompor ini memanfaatkan elektrolisis air yang menghasilkan H2 dan O2,” terang Annie. Hidrogen yang dihasilkan dari elektrolisa tersebut lah yang digunakan sebagai bahan bakar Oxyhidro-Water Stove karena hidrogen adalah gas yang mudah terbakar.

Menurut Annie, hidrogen lebih menguntungkan daripada gas alam karena nyalanya lebih panas sehingga penggunaan hidrogen tiga kali lebih efisien dibandingkan gas alam. Oleh karena itu, memasak menggunakan Oxyhidro Water Stove tiga kali lebih cepat dan efisien dibandingakan menggunakan LPG. “Kami juga menggunakan katalis untuk memaksimalkan kerja dari pengelektrolisisan pada oxyhidro ini,” imbuh Cita.

Diakui Cita bahwa pemanfaatan air sebagai bahan bakar bukan hal yang asing. Salah satu energi alternatif yang sekarang mulai banyak diteliti ialah pengembangan sumber energi yang berasal dari hasil elektrolisis air yang dikenal sebagai brown gas. Penelitian dan pengembangan sistem brown gas dari elektrolisis air telah dilakukan oleh beberapa pihak.

Di Jepang, air telah digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dan karena bersifat dinamis maka variable control-nya lebih kompleks. Sedangkan yang diterapkan dalam Oxyhidro Water Stove sistemnya bersifat statis, variable control-nya lebih sederhana dan belum pernah dijumpai. Ketika ditanya mengenai efisiensi kompor milik timnya dibanding kompor lainnya, Cita memilih membandingkannya dengan kompor gas. “Lebih hemat Rp 6000/hari atau 96 % lebih hemat dari kompor gas,” terangnya. (fi/nrf)

sumber:

http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=7201

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Alles,

Apakah sudah yakin aspek technological risk nya lebih kecil dari kompor LPG?
Bukankah H2 – in term of reactivitity, LEL to UEL area – lebih prone to technological risk dibanding LPG (yang notabene banyak mengandung C3H8 dan C4H10)?

Kalau hitungannya hemat hematan kompor nuklir mungkin paling jauh lebih hemat??

Anyway, jika idea technological risk ini dikesampingkan (dengan menihilkan kematian manusia, misalnya saja) maka idea kompor air ini sungguh brilian, salut buat adik adik mahasiswa!

Tanggapan 2 – roeddy setiawan

Dear Millis,

Pak Crooth2,

whoa kalau benar tentunya teknology karya mahasiswa/wi ITS patut mendapatkan hadiah /penghargaan dari pemerintah setidaknya.

tapi saya sendiri skeptis sekali , setahu saya effeisiensi electrolisa air biasanya sekitar 4-8 percent saya bagai mana ceritanya bisa menghemat 6000 rp/hari apakah sudah dihitung ahir bulan bayar listrik nya berapa ???? I think we can’t get something from nothing.

Tanggapan selengkapnya dari pembahasan yang terjadi di Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan Juli 2010 dapat dilihat dalam file berikut:

Share This