Select Page

Memenuhi persyaratan pelanggan (Customer requirements fulfillment) adalah muara dari sebuah project quality management system yang dipersiapkan dan didesain serta dituliskan di dalam lembaran-lembaran terdokumentasi yang biasa disebut Project Quality Plan (PQP), atau ada juga beberapa organisasi yang mengkombinasikan nya dengan aspek HSE sehingga menjadi Project Quality and HSE Plan (Project QHSE Plan), boleh lagi ditambah dengan Security sehingga menjadi Project QHSSE Plan), mau tambah lagi? Silahkan masih ada alphabet dari A-Z tersedia untuk jadi Project QHSSEA, B,C…Z Plan. Sebuah PQP yang baik tentu saja mampu menginterpretasikan semua harapan dan persyaratan-persyaratan Customer/Client (selanjutnya kita sebut Customer saja) serta mentransformasikan nya menjadi sebuah rencana atau management program dalam bentuk yang terstruktur dan sistematis sehingga mampu menjadi panduan bagi semua stakeholders dari project tersebut, yaitu Customer langsung, internal Customer seperti shareholders, management dan pekerja, pemerintah dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Mungkin di lain waktu kita akan diskusikan bagaimana mempersiapkan sebuah PQP, hanya kali ini kita akan diskuskan anak turunan dari PQP yaitu ITP (Inspection and Test Plan).

Pembahasan – Dirman Artib

Daripada penasaran dengan rekaman pembicaraan orang lain, dan sembari menunggu waktu berbuka, dan dilanjutkan menunggu Taraweh, saya sempat tak-tik-tuk di atas key board

I. Pengantar

Memenuhi persyaratan pelanggan (Customer requirements fulfillment) adalah muara dari sebuah project quality management system yang dipersiapkan dan didesain serta dituliskan di dalam lembaran-lembaran terdokumentasi yang biasa disebut Project Quality Plan (PQP), atau ada juga beberapa organisasi yang mengkombinasikan nya dengan aspek HSE sehingga menjadi Project Quality and HSE Plan (Project QHSE Plan), boleh lagi ditambah dengan Security sehingga menjadi Project QHSSE Plan), mau tambah lagi? Silahkan masih ada alphabet dari A-Z tersedia untuk jadi Project QHSSEA, B,C…Z Plan.

Sebuah PQP yang baik tentu saja mampu menginterpretasikan semua harapan dan persyaratan-persyaratan Customer/Client (selanjutnya kita sebut Customer saja) serta mentransformasikan nya menjadi sebuah rencana atau management program dalam bentuk yang terstruktur dan sistematis sehingga mampu menjadi panduan bagi semua stakeholders dari project tersebut, yaitu Customer langsung, internal Customer seperti shareholders, management dan pekerja, pemerintah dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Mungkin di lain waktu kita akan diskusikan bagaimana mempersiapkan sebuah PQP, hanya kali ini kita akan diskuskan anak turunan dari PQP yaitu ITP (Inspection and Test Plan).

II. Inspection and Test Plan (ITP)

Dalam sebuah project, pemastian quality of product tidak hanya dilakukan saat penyerahan final produk kepada pelanggan di akhir project, tetapi juga perlu diverifikasi apakah produk tersebut dibuat sesuai dengan persyaratan saat proses-proses pembuatan produk tersebut berlangsung. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan resiko pada akhir produk yaitu saat penyerahan. Jika ada hal-hal yang menyimpang, maka diharapkan dapat dideteksi secara dini. Ini lah yang disebut dengan aktivitas inspeksi, uji dan ukur. Dalam ISO 9001 hal ini dipersyaratkan di dalam caluse 8.2.4.

Biasanya dalam sebuah project, aktivitas inspeksi, uji dan ukur ini direncanakan dan ditetapkan di dalam sebuah dokumen yang disebut ITP.

ITP adalah sebuah rencana terdokumentasi dan sebagai panduan sistematis untuk memenuhi persyaratan pelanggan fokus kepada produk yang akan diserahkan (delivery) kepada pelanggan saat waktunya tiba. ITP mengandung informasi yang essential yaitu paling tidak :

1. Tahap-tahap atau aktivitas-aktivitas yang penting dalam proses pembuatan produk;

2. Inspeksi, uji dan pengukuran (serta kombinasinya) yang harus dilakukan pada tahap-tahap tertentu dalam proses pembuatan produk tersebut;

3. Tipe inspeksi, uji dan ukur yang biasanya dikategorikan kepada H (Hold), W (Witness), S (Survey) atau ada yg memakai I (Inspect);

4. Referensi untuk criteria keberterimaan sebuah produk dalam inspeksi, uji dan ukur

Karena sifatnya yang khas ini, maka ITP menjadi dokumen yang penting dalam penyelenggaraan program Quality Control (QC) sebagai bahagian dari keseluruhan program Quality Assurance (QA).

Pada umumnya aktivitas dalam ITP dimulai dari aktivitas untuk memverifikasi semua Technical Submittal (Deliverables) apakah telah komplit atau belum yaitu specification, detail drawings & shop drawings, method statements dan procedur-prosedur yang menjadi panduan bekerja. Termasuk jika misalnya untuk pekerjaan pengelasan adalah verifikasi terhadap ketersediaan WPS/PQR, bukti uji kompetensi juru las (welder certificate) atau hal sejenisnya untuk pekerjaan bukan welding. Jika belum siap tentunya aktivitas verifikasi berikutnya belum dapat dilakukan.

Kemudian diikuti dengan aktivitas untuk memverifikasi material yang akan digunakan, yaitu apakah material sudah sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh specification, ini biasa disebut dengan aktivitas “material receiving inspection”. Termasuk misalnya sample material, mock-up atau model produk jika dipersyaratkan oleh specification.

Barulah kemudian aktivitas untuk memverifikasi hasil produk pada tahap-tahap tertentu yang dianggap penting untuk diinspeksi, uji dan ukur.

Aktivitas verifikasi biasanya diakhiri dengan final inspection atau uji akhir. Termasuk dalam hal ini misalnya untuk pekerjaan piping atau PV adalah hydrotest, pada pekerjaan cabling yaitu HiPot test, pada pekerjaan rotating equipment adalah coupling alignment. Biasanya aktivitas akhir ini adalah area inter-phase antara construction dengan commissioning, terkadang banyak item-item yang dilakukan bersama antara ke 2 grups ini.

ITP adalah dokumen yang memberikan informasi tahapan-tahapan inspeksi, uji dan ukur pada sebuah produk, dan pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas tersebut sesuai dengan definisi kategorinya, misalnya pelaksana/kontraktor harus menunggu kehadiran dan kesaksian pihak ketiga (3rd party) dan/atau perwakilan Customer untuk kategori inspeksi Hold (Hold inspection). Bagaimanapun, ITP tidak menerangkan secara detail bagaimana inspeksi, uji dan ukur tersebut dilakukan. Maka informasi tambahan akan dituangkan di dalam prosedur-prosedur ataupun instruksi kerja atau dokumen setingkatny agar detail dari inspeksi, uji dan ukur dapat direncanakan termasuk persiapan, teknis inspeksi/uji, alat yang dipakai, besaran-besaran pengukuran, bahkan standard kompetensi teknisi/operator yang bertanggung jawab dalam hal tersebut. Kalau perlu prosedur akan dilengkapi dengan schematic/diagram, skets dan formulir isian yang memudahkan pencatatan hasil uji dan ukur.

Kriteria keberterimaan akan merujuk kepada specification yang spesifik untuk produk tersebut, makanya ITP hanya memuat referensi dokumen yang akan dijadikan acuan dalam hal keberterimaan sebuah produk seperti specification yang di dalamnya memuat informasi standard yang diacu, contohnya standard dari asosiasi seperti ASME, API, NACE atau dari institusi standard seperti ISO, SNI, AISC, dll.

Bagaimanakah cara untuk merencanakan dan mengidentifikasi ITP-ITP apa saja yang perlu untuk dipersiapkan dan dibuat agar semua aktivitas inspeksi, uji dan ukur di sebuah project dapat memberikan jaminan kepada pemenuhan persyaratan Customer, terutama persyaratan produk yang dibuat dan akan diserahkan kepada Customer tersebut ? Bagaimana hubungan ITP dan Specification dalam menentukan keefektifan quality in project ? Insya Allah kita lanjutkan pada diskusi sambungan berikutnya, mudah-mudahan belum keburu lebaran

Yang mau menambahkan, mengurangi, membantah, melengkapi, bertanya dan berkomentar, bahkan mendelete dipersilahkan.

Tanggapan selengkapnya dari pembahasan di Migas Indonesia Online pembahasan bulan Agustus 2010 ini dapat dilihat dalam file berikut: