Select Page

Selama ini yang tertanam di otak kita bahwa bahwa urusan memilih kontraktor terserah bagian Procurement atau Kontrak. Dengan kata lain Orang Procurement biasanya berpikir bahwa urusan Kontrak-mengontrak adalah urusanku, nanti kalau sudah dapat pemenangnya Giliran bagian HSE (baca:K3) yang mengontrolnya. Akhirnya Bagian HSE mulai Officer, Supervisor, Engineer dan Managernya menghadapi pekerjaan besar, detik-demi detik harus mereka lewati dengan berat memikirkan kinerja si Kontraktor.
Pernahkah kita berpikir bahwa hampir sebagian besar Procurement atau bagian kontrak di perusahaan dalam memilih kontraktor hanya menggunakan jurus SIAPA MURAH DIA MENANG…?

Ditulis oleh : Achmad Dahlan

MENGAPA KITA PERLU HSE MANAGEMENT KONTRAKTOR

(Bagian 1)

‘Bang…., celaka Bang…., Mill A meledak….,didalam 2 orang Kontraktor kita sedang mengelas, …tewas bang….tewas…!’

Seorang safety officer menelpon Safety Engineer jam 00:00 dini hari. ‘Wah bukankah gas didalam telah di Cek sebelum mereka masuk ke confined space itu?’ Tanya Safety Enggineer bingung sambil menggosok-gosok matanya. Disampingnya masih tidur anak dan Istri tercinta. ‘Iya tapi tiba-tiba meledak…., belum tahu apa penyebabnya….., Bos tadi telpon agar tidak dianggap sebagai kecelakaan kerja… karena kejadiannya pada Kontraktor!’ Mungkin bisa dibayangkan 2 orang harus meninggal di dalam Confined space saat memulai pengelasan. Bagaimana hal ini terjadi?

Pekerjaan di Mill A adalah memperbaiki Table Mill dan memerlukan pemotongan dengan menggunakan gas Acetylene. Seperti biasa gas test hanya dilakukan untuk mendapatkan ijin kerja dan access ke confined space. Saat si contractor mulai menginstall peralatan potongnya ternyata tubing acetylene bocor dan telah memenuhi confined Space tersebut. Tanpa berpikir panjang lagi si Kontraktor langsung menyalakan pemantik ajaibnya dan…BUUMMMM…!

Maka wafatlah 2 orang kontraktor tersebut dengan luka bakar di tubuhnya.

Harta dan Istri bisa diwariskan ke rekan kerjanya tapi bagaimana dengan anak-anak dan hutangnya oooh…berat…berat…?

Berapa nilai yang harus dibayar untuk kejadian seperti ini? Pemilik perusahan harus berurusan dengan Pemerintah, Polisi dan Keluarga korban, Mungkin 300jt bisa menyudahi perkara ini…., tapi apakah minggu depan akan keluar lagi 300jt untuk kasus serupa? Dan minggu depannya 300jt lagi untuk kejadian yang sama?
Dari hasil investigasi ternyata Kontraktor yang mengerjakan perbaikan Mill tersebut tidak memiliki peralatan yang standard (hose bocor), Kompetensi personalnya tidak jelas, dan tidak ada Procedure bekerja menghadle perkerjaan Hi-Risk seperti itu. Kecelakaan seperti diatas bisa saja terjadi sekalipun pada Perusahaan berskala International yang memiliki konsep-konsep safety yang mumpuni. Hal ini karena suatu ketika kita perlu melibatkan kontraktor dalam pekerjaan kita yang tentunya tidak setiap waktu bisa kita kontrol. Maka dari itu sebagai praktisi HSE perlu juga bagi kita untuk memikirkan bagaimana memasukkan unsur Safety dalam memilih kontraktor.

Selama ini yang tertanam di otak kita bahwa bahwa urusan memilih kontraktor terserah bagian Procurement atau Kontrak. Dengan kata lain Orang Procurement biasanya berpikir bahwa urusan Kontrak-mengontrak adalah urusanku…., nanti kalau sudah dapat pemenangnya Giliran bagian HSE (baca:K3) yang mengontrolnya. Akhirnya Bagian HSE mulai Officer, Supervisor, Engineer dan Managernya menghadapi pekerjaan besar, detik-demi detik harus mereka lewati dengan berat memikirkan kinerja si Kontraktor.
Pernahkah kita berpikir bahwa hampir sebagian besar Procurement atau bagian kontrak di perusahaan dalam memilih kontraktor hanya menggunakan jurus SIAPA MURAH DIA MENANG…?

Ada 2 alasan mengapa jurus ini masih ampuh dimainkan oleh kebanyakan Procurement:

1. Objective mereka saving sebanyak-banyaknya dari Proses Procurement.

2. Kalau Yang Murah dikalahkan biasanya Kontraktor Protes…,

Sebagai Illustrasi mari kita berpikir tentang dua Perusahaan kontraktor dibawah ini :
Contraktor A: adalah Perusahaan konstruksi dengan tenaga ahlinya yang Qualified dan Concern terhadap HSE, bahkan perusahaan ini mengeluarkan ribuan dollar untuk memenuhi kebutuhan HSE.

Contraktor B: adalah perusahaan konstruksi yang baru dengan tenaga yang serabutan,

Jangankan masalah safety, personelnya saja kebanyakan tidak tahu prosedur kerjanya, tidak tahu cara makai PPE dll. Pegang mesin Las saja baru pertamakali. Kedua Kontraktor ini ikut tender di Perusahaan C untuk Konstruksi Super Critical Boiler, Contraktor A memasang harga 120US$, Kontraktor B memasan harga 100US$, begitu buka amplop penawaran hampir bisa dipastikan Procurement akan memilih Kontraktor B sebagai pemenang karena mereka bisa saving 20US$ Cost is my first Concern…!
Jika seperti itu keadaannya maka Perusahaan C dalam masalah…., tinggal menunggu waktu saja kecelakaan akan terjadi. Atau minimal saat Boiler dijalankan pecah disana-sini.

1. Lalu dibagian mana HSE harus masuk dalam urusan kontrak begini?

2. Apakah kalau kita memaksakan HSE dalam proses Kontrak tidak mematikan pertumbuhan Kontraktor-kontraktor kecil yang baru bersemi?

3. Apakah orang Procurement tidak ngamuk kalau budayanya selama ini kita utakatik?

Marilah kita pikirkan bersama, bagaimanakah sebaiknya HSE masuk dalam proses Kontrak mengontrak?

(Bersambung bagian 2).

Untuk :HSE_Club_Indonesia@yahoogroups.com, Milis Migas dan Rekan Praktisi HSE

yang lain

Share This