Select Page

Analisa biaya produk dibagi menjadi dua : 1. process product manufacturing – Plant beroperasi continuous, seperti power plant, oil refinery plant, mining plant, dsb ; 2. discrete product manufacturing – pabrik memproduksi berbagai product, seringkali dalam jumlah terbatas, menggunakan peralatan yang bisa di set up sesuai kebutuhan. Produksi piping dan fittings termasuk kategori ini.

Tanya – ali topan

Dear Rekan-rekan Milis Migas

Mohon pencerahannya mengenai Cost Analysis, terutama analisa biaya suatu produk.

Faktor apa sajakah yg berpengaruh terhadap harga satu buah produk?

Misal : Pipe & Fitting, Electrical part, Instrument Part, etc.

Apakah ada tolok ukur yang menjelaskan berapa prosentase pengaruh masing2 faktor tersebut?

Misal :

1. raw material : 5%

2. labour cost : 7%, etc

Jika ada referensi yg bisa dijadikan acuan mohon bantuannya untuk di sharingkan
terimakasih atas perhatiannya.

Tanggapan 1 – Alex Iskandar

Pak Ali Topan,

Mungkin sedikit menyimpang, tapi masih sedikit berhubungan …. untuk cost analysis ini, saya teringat dengan pengalaman saya bekerja pada perusahaan Survey, sebagai inspektur penilai lokal konten suatu produk, betul dugaan bapak , memang komponen biaya tidak hanya raw material dan Labour ..
ada juga komponen biaya yang dihitung sebagaimana form Lokal Konten seperti yang yang masih berlaku sampai kini.

Sebagai catatan, dalam pembuatan barang juga diperlukan Jasa/ Services untuk menghasilkan suatu produk, dan seluruh komponen utk menghasilkan produk diformulasikan menjadi satu unsur biaya …

Mungkin pendekatan ini bisa digunakan.

*FORMULIR PERHITUNGAN TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI *

A. BARANG/GOODS

I. Material Terpakai (Used Materials)

II. Peralatan (Equipment)

B. JASA/SERVICES

III. Personil/Konsultan (Personnel/Consultant)

IV. Alat Kerja/Peralatan (Tools/Equipment)

V. Konstruksi/Fabrikasi (Construction/Fabrication)

VI. Jasa Umum dll. (Other Services)

*Personil/Konsultan* : *Rekayasa, survey perencanaan, pengawasan, manajemen, tenaga kerja, dll.*

Personnel/Consultant Engineering, research design, supervision, management, personnel etc.

*Alat Kerja/Peralatan* : *Sewa rig, sewa kendaraan, sewa kapal, sewa pompa, dll.*

Tools/Equipment Rental of rig, vehicle, barge, pump, etc.

*Konstruksi/Fabrikasi* : *Konstruksi sipil, mesin, listrik, dll.*

Construction/Fabrication Civil, mechanical, electrical construction, etc.

*Jasa Umum dll.* : *Pengurusan, asuransi, sewa rumah, dll.*

Other Services etc. Management handling, insurance, house rent, etc.

*Material Terpakai* : *Pipa, Semen, Chemical, dll.*

Material Used Pipe, Cement, Chemical, etc

*Peralatan * : *Pompa Kompresor, Generator dll*

Equipment Pump, Compressor, Generator, etc

Tanggapan 2 – kristiawan

Mau melanjutkan diskusi tentang analisa biaya produk, maaf telat reply-nya.

Setahu saya, analisa biaya produk dibagi menjadi 2 :

– process product manufacturing

Plant beroperasi continuous, seperti power plant, oil refinery plant, mining plant, dsb

– discrete product manufacturing

Pabrik memproduksi berbagai product, seringkali dalam jumlah terbatas, menggunakan peralatan yang bisa di set up sesuai kebutuhan. Produksi piping dan fittings termasuk kategori ini.

Untuk discrete product manufacturing, komponen dan tahapan biaya dari direct cost sampai dengan selling price secara sederhana disajikan sebagai berikut :

1. Direct material + direct labor + direct engineering + direct expenses = prime cost.

2. Prime cost + factory expenses = manufacturing cost

3. Manufacturing cost + administrative expenses = production cost

4. Production cost + selling/distributing expenses = total cost

5. Total cost + mark up = selling price

Pertanyaan Pak Ali tentang persentase dari masing-2 komponen biaya sulit untuk dijawab, karena akan berbeda untuk setiap pekerjaan. Tetapi secara umum, raw material dan labor cost adalah komponen biaya terbesar dari suatu produk.

Pertimbangan lain, seringkali suatu plant harus beroperasi dibawah design capacity-nya. Atau pabrik menerima order barang dalam jumlah yang terlalu sedikit. Untuk menentukan ke-ekonomisan suatu pekerjaan, para cost engineers akan membuat breakeven analysis untuk menentukan :

a. Shutdown point ( operation/manufacturing cost = revenues)

Jika quantity barang yang dipesan lebih kecil dari shutdown point, maka lebih baik pesanan ditolak, atau jika plant beroperasi pada capacity lebih kecil dari shutdown point, maka lebih baik plant di shutdown

b. Breakeven point ( total cost = revenues )

pada point ini, pabrik / plant beroperasi tanpa mendapat keuntungan

c. Minimum return point ( total cost+required return = revenues )

pada production rate ini, return of investment akan tercapai.

Demikian sepintas tentang product manufacturing. Semoga menjawab pertanyaan Pak Ali Topan.

Tanggapan 3 – donny rico m

Mas Topan,

Mungkin saya akan jawab simple saja, sesederhana pertanyaan anda.

Aturan tidak tertulis tidak ada untuk membagi berapa persentase (antara raw material dan jasa) atas nilai suatu produk yang akan digunakan.

Namun jika diperuntukkan untuk analisa cost ala sederhana (kepentingannya pun untuk pekerjaan sederhana) bisa disimpulkan kalau persentase antara raw material dan jasa ada dikisaran 80-85% untuk raw material dan 15-20% untuk jasa. jasa disini sudah termasuk fabrikasi, instalasi, mobilisasi, ataupun akomodasi.

Ketika pekerjaan yang dibutuhkan tersebut untuk suatu turn key project/mega project, apa yang disampaikan pa kristiawan dan mas alex, sudah demikian lengkap.

Semoga membantu.

Share This