Select Page

Kecuali Tender untuk barang, yang mana harus memberikan seritifkat TKDN dari Third Party Inspector yang telah ditunjuk (SI / Sucofindo). TKDN untuk tender Jasa (Service /ie: Engineering) & juga tender Gabungan Barang dan Jasa (EPC) , sampai dengan saat ini masih berdasarkan ‘Self Assesment’, artinya pihak bidder sendiri yang memeberikan penilaian berapa besarnya TKDN. Hal ini yang mengakibatkan contoh kasus di bawah kemungkinan terjadi besarnya TKDN (local content) bisa lebih besar walaupun nilai value penawarannya rendah, dst..
Hal ini bis aterjadi , karena memang belum di verifikasi, dan verifikasi biasanya akan dilakukan pada akhir proyek. Karena, setelah semua pekerjaan telah selesai dan bukti2 dan evidence dapat di verifikasi oleh auditor / surveyor.

Tanggapan 1 – ary_mt05

Berdasarkan harga,tripatra yang paling rendah.tapi kalau berdasarkan local content,ikpt yang paling tinggi.
Saya jadi ingin tahu bagaimana mengkonversi local content ke dalam price sehingga bisa membandingkan harga dari para bidder.mohon petunjukknya.

Tanggapan 2 – tjak adi

Gampang mas ngitung local content – – – ikutan PTK-007

Tanggapan 3 – m zahirsyah

setahu saya local content gak bisa dikonversi ke harga. memang benar ngitung local content dg PTK-007 rev 1 dan persyaratan minimum local content jg ada disitu. kalo boleh tahu mas nugroho, angka 7.5% itu dari mana ya?

apakah the lowest (price) selalu menang? atau apakah the higest (local content) yg akan menang? mungkin jawabannya dikembalikan kepada client yg memberi tender. (tentunya dengan pertimbangan2 yg lain). karena bisa juga walopun the lowest, tp dalam perjalan project nanti akan memaksimalkan ‘change’ order.

Tanggapan 4 – Alex Iskandar

Dear all rekan milis Migas Indonesia dan rekan Project Control Indonesia

Hanya sekedar share untuk pengetahuan bersama..
dan (bagi saya) untuk mengingat kembali training TKDN beberapa bulan yang lalu, dan pengalaman bekerja di Surveyor Indonesia 10 tahun yang lalu.

Mohon koreksi kalau mungkin ada update dari peraturan TKDN / PTK OO7 revisi yang terbaru , yang mungkin saja terlewati…

Beberapa point yang dapat menjadi referensi:

1. Kecuali Tender untuk barang, yang mana harus memberikan seritifkat TKDN dari Third Party Inspector yang telah ditunjuk (SI / Sucofindo).

TKDN untuk tender Jasa (Service /ie: Engineering) & juga tender Gabungan Barang dan Jasa (EPC) , sampai dengan saat ini masih berdasarkan ‘Self Assesment’, artinya pihak bidder sendiri yang memeberikan penilaian berapa besarnya TKDN.
Hal ini yang mengakibatkan contoh kasus di bawah kemungkinan terjadi besarnya TKDN (local content) bisa lebih besar walaupun nilai value penawarannya rendah, dst..
Hal ini bis aterjadi , karena memang belum di verifikasi, dan verifikasi biasanya akan dilakukan pada akhir proyek. Karena, setelah semua pekerjaan telah selesai dan bukti2 dan evidence dapat di verifikasi oleh auditor / surveyor.

Namun bisa saja dalam kasus2 tertentu, dalam hal keberatan pihak bidder yang lain ,atau juga menurut analisa dari owner, sehingga mengajukan keberatan/keraguan terhadap nilai TKDN dari bidder berdasarkan self assesment ini, biasanya owner (atau bisa jadi dengan third party surveyor) akan melakukan verifikasi kebenaran perhitungan self assesment ini.

2. Metode perhitungan didasarkan pada break down biaya , cost structure, sesuai dengan standard accounting,
Spesifik kalau untuk Tender Gabungan barang dan jasa / (EPC) adalah sebagai berikut:

A. Barang (Goods)

I. Material Terpakai (Material Used)

II. Peralatan Terpasang (Installed Equipment)

B. Jasa (Services)

I. Personil/Konsultan (Personnel)

II. Alat Kerja/Peralatan (Equipment)

III. Konstruksi/Fabrikasi (Construction/Fabrication)

IV. Jasa Umum, dll (Other Services)

PERHITUNGAN HANYA DIDASARKAN PADA KOMPONEN biaya utama, dan tidak termasuk biaya:

* Company Overhead (Indirect Cost)

: +

* Service Cost before Margin and Tax (HARGA POKOK PENJUALAN JASA)

* Profit & Tax (KEUNTUNGAN DAN PAJAK)

:

Dasar2 perhitungan berdasarkan:

– Untuk Orang berlaku sistem Kewarganegaraan, WNI = 100%, WNA = 0%

– Mesin/Equipment yg dugunakan dlm konstruksi , tergantung kepemilikan / modal.

– Barang, seharusnya perlu disertai sertifikat TKDN, namun bila tidak ada bisa disebutkan asal negara, dari luar maka=0% local content.

Dan kalau disebut local contentnya maka mungkin akan ditelusuri (lagi oleh verifikator ) sampai dengan level ke 4 apabila biayanya lebih besar dari 3% dari total EPC cost.

3. TKDN = (Biaya Total Jasa) – (Biaya Jasa LN ) / (Biaya Total Jasa ) X 100 %

4. Dalam TKDN yang baru ada namanya : preferensi perusahaan:

Untuk konsorsium, akan dihitung penyertaan modal / kepemilikan.
(Nama saya gunakan hanya sebagai iliustrasi untuk memudahkan: misal IKPT – Chiyoda) penyertaan modal/kepemilikan misal IKPT 25% / Chiyoda 75 % .. maka lokal konten hanyalah 25%.

Dan untuk kepemilikan Lokal 100% maka akan mendapatkan preferensi 7,5% dari total perhitungan HEA.
bila diatas 50% dan menjadi lead maka preferensi nya adalah hanya 5%, dibawah 50% adalah 0%

Preferensi = Psp (Presferensi Perusahaan)

5. Untuk Harga Evaluasi Akhir adalah berlauk rumus:

HEA of Construction = (HEA of goods)+(HEA of Services) x (100%/ (100% + Psp))

Menurut PTK 007, Harga Evaluasi Akhir (HEA) ini lah yang akan menjadi penentu pemenang dalam tender. (Hanya untuk keperluan Evaluasi, bukan nilai kontrak)

Lowes Price tidak akan selalu menang, karena adanya HEA ini , dan bukan semata ditentukan oleh owner…

Untuk lebih jelasnya memang lebih bagus mengikuti PTK 007 dan juga Training TKDN yang juga diadakan juga oleh KMI

Untuk memaksimalkan ‘Change Order’ ini mungkin perlu di bahas lebih lanjut pada kesempatan yang lain …

Demikian beberapa catatan saya .. semoga bermanfaat..

Share This

Miliki Sekarang!

You have Successfully Subscribed!