Select Page

Pasir yang mengandung mercury (B3) atau yang mengadung radio active (NORM) memang harus di simpan dengan betul. lalu dikirim keperusahan yang punya licence untuk mengolah limbah B3. Di jakarta sudah ada beberapa perusahan yang mengolah limbah B3 (ada websitenya), itu pun tidak membuat liability si pengirim hilang. Setelah di process mereka akan mengeluarkan certificate bahwa bahan B3 itu sudah aman untuk di buang. Barulah liability si pengirim selesai.
Khusus limbah merkuri, biasanya dipisahkan dari pengotor/pasir dengan dipanaskan supaya merkury nya menguap, uapnya dikondensasi sehingga terpisah. pasir nya bisa di buang. Kalau banyak merkuri nya ada economic value nya. tapi kalau sedikit memang kurang sekali pasarnya.

Tanya – Suharyo Haryono

Rekan-rekan,

Pada beberapa reservoir, bisa dihasilkan pasir dalam production curve nya. Mungkin perusahaan minyak dan gas akan concern dengan oil content yang melekat pada pasir sehingga disediakanlah sand cleaning package atau apapun namanya untuk mengurangi kadar oil tersebut.

Bagaimana halnya dengan mercury yang melekat pada pasir? Sepanjang pengetahuan saya, belum ada regulasi di Indonesia yang mengatur akan hal ini. Barangkali ada yang bisa share bagaimana regulasi di area lain di dunia? ini untuk bahan pembanding. Atau barangkali ada yang mengetahui update regulasi akan hal ini?

Apakah ada yang mengetahui perusahaan-perusahaan yang bisa menyediakan teknologi unutuk meremove Hg dari pasir? Kalau tidak maka pasir tidak boleh dibuang ke laut, apakah ada yang mengetahui perusahaan yang bisa menyediakan service untuk mengambil pasirnya dan memisahkannya dari air supaya storage efficiency nya lebih maksimal?

Terima kasih sebelumnya.

Tanggapan 1 – roeddy setiawan

Pak Haryono,

Pasir yang mengandung mercury (B3) atau yang mengadung radio active (NORM) memang harus di simpan dengan betul. lalu dikirim keperusahan yang punya licence untuk mengolah limbah B3. saya kira di jakarta sudah ada beberapa perusahan yang mengolah limbah B3 (ada websitenya), itu pun tidak membuat liability si pengirim hilang. setelah di process mereka akan mengeluarkan certificate bahwa bahan B3 itu sudah aman untuk di buang. barulah liability si pengirim selesai.

Khusus limbah merkuri, biasanya dipisahkan dari pengotor/pasir dengan dipanaskan supaya merkury nya menguap, uapnya dikondensasi sehingga terpisah. pasir nya bisa di buang. Kalau banyak merkuri nya ada economic value nya. tapi kalau sedikit memang kurang sekali pasarnya
saya kira teman milis dari Arun berpengalaman sekali dengan mercury problem, pasti mau share.

Tanggapan 2 – Rachman Ardiansyah

Saya mau share pengalaman saya di Caltex Duri…..

CPI Duri mengalami masalah dengan tingginya kandungan pasir, sehingga fluid yang masuk ke CGS (Central Gathering Station) banyak mengandung pasir yang akan memenuhi tanki prosesnya (FWKO dan Wash Tank). Walaupun sudah memiliki sistem sand pan dan sand jetting untuk mengeluarkan pasir, jumlah pasir yang terdapat di dalam tanki tersebut masih relative tinggi, sehingga (seharusnya) tiap tahun dilakukan tank cleaning yang tentunya akan memakai cost yang tinggi.

Caltex kemudian membuat suatu fasilitas untuk mengeluarkan pasir dari tanki yang bernama SRF (Sand Removal Facility) di tiap CGS di Duri dan ini merupakan pilot projectnya ChevronTexaco.

Dengan adanya SRF ini, maka diharapkan jadwal tank cleaning di CGS Duri menjadi berkurang (bahkan seharusnya tidak pernah ada tank cleaning lagi), oily sand dari tanki proses dikeluarkan dan diproses di SRF sehingga terpisah menjadi oil, water dan sand. Oil-nya kemudian di-shipping dengan menggunakan pompa ke upstream dari CGS tersebut.

Sampai sekitar tahun 2004 (sampai saya resign dari CPI), SRF Duri dapat mengeluarkan pasir sampai sekitar 100m3 per month dari satu CGS saja (CGS-4). Pasir yang dihasilkan cukup bersih dari kandungan oil, dan oilnya bisa di-shipping ke Slop Oil Treating Plant atau ke upstream CGS (karena BS&W-nya masih terlalu tinggi untuk langsung di-shipping ke Shipping / Storage Tank, sehingga harus diolah dulu sebelum dikirim ke CPI Dumai).

Mungkin lesson learned yang dapat diambil adalah bahwa tidak selalu more steam injected get more oil (karena CPI Duri menggunakan steam flood), walaupun pada pada awalnya more steam injected get more oil, namun pada akhirnya more steam injected get more high solid content (mungkin karena formasi reservoir-nya jadi hancur)………

Jika pak Haryo berminat dengan sistem SRF untuk memisahkan solid content di tempat anda, mungkin anda dapat berguru kepada person in charge yang menghandle SRF porject saat ini di CPI Duri.

Mohon maaf jika ada yang keliru……

Share This