Select Page

Untuk mengetahui kisaran (range) biaya pengoperasian pembangkit listrik, sangat tergantung efisiensi alat konversi energi-nya; Diesel low speed ~50%; Diesel Med speed ~40%; Diesel high speed ~38%; Gas engine (otto cycle) ~35%; Gas turbine (non cogen) ~30%; Steam turbine (non cogen) 20%; Naik sepeda ~2%. Tinggal dihitung aja SFC (specific fuel consumptions) vs output electric. Cost terbesar dari fuel itu sendiri (+50%), trus Operasi & Maintenance, etc.

Tanya – Anshori Budiono

Rekan-rekan,

Apakah ada yang mengetahui kisaran (range) biaya pengoperasian pembangkit listrik….? Kalau ada, mohon kiranya bisa dibantu dengan informasinya.

Terima kasih sebelumnya,

Tanggapan 1 – Andhie

Numpang lewat…

Sangat tergantung efisiensi alat konversi energi-nya;

Diesel low speed ~50%

Diesel Med speed ~40%

Diesel high speed ~38%

Gas engine (otto cycle) ~35%

Gas turbine (non cogen) ~30%

Steam turbine (non cogen) 20%

Naik sepeda ~2%

Tinggal dihitung aja SFC (specific fuel consumptions) vs output electric.

Cost terbesar ya dari fuel itu sendiri (+50%), trus Operasi & Maintenance, etc

Jadi menghemat ‘fuel’ dan ‘mendaur ulang waste energy’ cara yang paling tepat dari pada pake oli abalabal…parts recondisi, copy parts & nunda2 perawatan alat…dsb.

contoh CAT3516 harga barunya $xyz …. operasi 8000 jam/tahun…. kalo anda itung2 cost BBMnya rumusnya:

Cost BBM/tahun = $xyz X (+10) jadi di awal taun kedua sama saja anda punya kira2 10 s/d 15 unit CAT3516 baru

Tanggapan 2 – Muchlis Nugroho

(pak Anshori),

Kalau konsumsi energi mungkin bisa pakai 2860 kcal(lhv)/kwh jika pakai gas alam untuk combined cycle (gasturbin+steamturbin).
Dari lhv lalu diconvert sesuai dengan harga gas alamnya.

Tanggapan 3 – Anshori Budiono

Terima kasih Pak Muchlis….

Saya sebetulnya ingin mendapatkan operating cost (tentunya dalam range) dari suatu pembangkit dari perspektif keseluruhan. Dalam hal ini operating cost itu meliputi cost of fuel + cost of labor + cost of maintenance + cost of overhead + cost etc…. dalam satu paket ‘operating cost’ untuk setiap kWH yag dihasilkan.

Tentunya … cost ini akan berbeda untuk setiap tipe pembangkit, kapasitas dan bisa jadi untuk setiap perusahaan.

Barangkali ada di antara teman di milist ini yang sudah biasa bermain di pembangkit dan mengetahuinya…..dan bersedia menshare-nya. Kalau memang data itu rahasia perusahaan…. mohon bisa lewat Japri dan sembunyikan identitas perusahaan tersebut.

Catatan:

Data ini semata-mata untuk keperluan analisa investasi dan tidak akan dipublikasikan atau disebarkan ke media masa atau perseorangan.

Tanggapan 4 – budi nainggolan

Mas Anshori , kemana aja ????

Maaf Sekedar Share Saja ..

Udah pindah yach ,, sekarang ngurusin listrik

Mas yach udah datang ke kantor ku aja , kebetulan aku juga handle yang sama , stock gas turbine generator ku-banyak Aeroderavative turbine ( bekas pesawat terbang dan choper ) di rubah ke Light Industrial Turbine ).

oh yach mengenai harga listrik itu tergantung dari yang nyedian fuel siapa ???
yang sekarang kita lakukan adalah per KWH = sekitar 3,5 s/d 3,9 Sen … gasfuel tidak termasuk scope kami.

Nah mengenai biaya operation terbagi 4 sih yang kita buat ( turbine gas generator )

a. Operation cost fuel …. ( fuel gas per mmbtu )

b. operation cost fixed … ( gaji , dan consumable … )

c. Operation cost maintenance ( over haul per run hours )

d. Operation cost untuk Up grade ( Retrofit turbine control panel )

Mas coba contact aja teman2 di Indo turbine ,, mereka lebih duluan di bisnis ini .

Tanggapan 5 – Muchlis Nugroho

Yup, mungkin harganya sekitar segitu (3.5-3.9 cent).

Dari yang saya tahu ada yang jual 6 cent/kwh untuk komplek industri. Mungkin angka ini sudah termasuk biaya jaringan dan depresiasi.

Tanggapan 6 – Rama Usvika

Mengacu kepada pertanyaan pak Anshori Budiono ttg electricity generation cost.

Terlampir saya kirimkan satu hasil studi yang dapat dishare ke milis ttg perbandingan teknologi & cost untuk beberapa jenis cara pembangkitan listrik (terutama coal-fired based dan natural gas-based).

Studi ini dibuat di Kanada jadi tentunya harus diadjust di sana sini utk dapat dterapkan di Indonesia. This is just a perspective, we shouldn’t swallow it as it is.

Tanggapan 7 – budi nainggolan

Sekedar menambahkan saja ,,,, Pak Anshori

Bedakan antara cost Gas turbine generator dengan biaya cost fuel seperti yang dulu pernah saya sampaikan.

Cost Gas Turbine per KWH = 3 s/d 3,8 sen USD sedangkan Cost Fuel dari PGN = per MMBTU = USD 5 maka kalau kita gabungkan per Kwh = 8 – 9 sen USD

Dan jangan dong di bandingkan dengan Grid / PLN ( statusnya akan jadi berubah ke subsidi

Idealnya memang PLN jual 9 Sen USD per KWH

Maka PLN akan untung …. Namun Pasti akan banyak Demo ,,,, he he he .

Namun Pemerintah juga membuat regulasi bahwa yang boleh menjual power hanya PLN , kecuali untuk digunakan sendiri …

Nah ,,, jangan lagi dibandingkan atara cost turbine generator dengan Gas Engine , maka investasi yang paling besar pastilah gas turbine begitu juga cost fuel .

Namun kalau kita hitung total + OM per 5 tahun maka cost gas engine dan gas turbine sama

Intinya = untuk short investement = gas engine the answer tapi kalau long investment = gas turbine yang paling ekonomis .

Thanks ,, Mohon ditambahkan rekan rekan

Tanggapan 8 – Rama

Sebetulnya belum tentu juga untuk long investment Gas Turbine yg paling ekonomis, tergantung kapasitas pembangkit juga.

Kita bicara pembangkit skala kecil, menengah atau besar. Pilihan model Gas Turbine lebih banyak tersedia utk pembangkit menengah & besar .

Untuk pembangkit skala kecil (< 2 MW), lebih banyak pilihan model Gas Engine yang tersedia di market daripada Gas Turbine. Efisiensi Gas Engine Generator secara head-to-head lebih baik dari Gas Turbine, yang berarti lebih hemat bahan bakar. Jenis 'Gas' juga dapat mempengaruhi keekonomisan, apakah natural gas, bio gas, landfill gas, coke oven gas, dlsb

Jadi ya harus dianalisis case-by-case dimulai dari berapa besar kapasitas pembangkit yg mau dibuat.

Tanggapan 9 – roeddy setiawan

pak Rama,

setuju pak. untuk powerplant yang ngak terlalu besar saya kira gas engine mempunya thermal effisiensi yg secara significant lebih besar di banding tubine.
di gulf of mexico, karena water depth nya dangkal, jarang banget power plant turbine. mereka lebih senang gas engine 2 MW di paralel. tapi kalu di water depth yang lebih dari 100 Ft keatas sih soal struktur yang jadi hambatan.

kadang kadang juga delivery time yang jadi penghambat antara pemilihan antara turbine vs gas engine meskipun buat project di onshoret, biasa nya analis project selalu menekan short project duration, biar maximize NPV, ahirnya yah sering kalah deh gas engine besar, delivery nya jauh di banding turbine.

kemudahan services juga agak repot buat gas engine besar, kalau turbine tinggal pretelin kirim air freight bisa, seminggu kemudian, atau kadang kadang kita dapat loaner engine. jadi tiga hari lagi power plant bisa on.

tapi kalau gas engine di daerah terpencil suseh banget ane itu kata temen saja head maintenance.

Jadi memang harus di evaluasi case by case basis setuju pak.

Tanggapan 10 – Anshori Budiono

Thank God… Lai gak jadi Dirut PLN.

Lai Budi cukuplah jadi Dirut yang sekarang aja deh.

Tadinya saya mau propose ke mas Budhi agar Lai jadi Moderator KBK Business and Investasi… Tapi karena Lai propose 9 sen per kwH… terpaksa dukungan saya tarik demi stabilitas politik di MILIST kita ini. Hehehehe…..

BTW… saya mau mengucapkan terima kasih banyak atas input yang sudah rekan-rekan berikan. Thank a lot, falk.

Share This