Select Page

Beberapa keunggulan microturbine dibandingkan gas engine genset:
1. Smaller footprint; alias nggak makan tempat. Selain ukurannya lebih kecil, juga tidak memerlukan equipment tambahan spt external radiator, dsb; 2. Air lubrication and cooling system; sistem lubrikasi dan pendinginnya tidak menggunakan oli dan/atau coolant spt gas engine shg tidak memerlukan cost dan manpower serta downtime untuk routine maintenance (ganti oli, tambah coolant, dsb); 3. Light weight; beratnya rata2 hanya 2,000 lbs.

Tanya – moh. tasfin

Rekan-rekan..

mohon bantuan dan informasinya.. mungkin ada yang punya referensi…

keandalan dan kekurangan (perbandingan) antara Gas Engine Generator dan Micro Turbine Generator untuk pemasangaan di unmanned remote wellhead platform dilihat dari sisi:

– maintenance

– running hours experience untuk unmanned platform

– remote start-up

– reliability

terima kasih

Tanggapan 1 – Indra Prasetyo

Beberapa keunggulan microturbine dibandingkan gas engine genset:

1. Smaller footprint; alias nggak makan tempat. Selain ukurannya lebih kecil, juga tidak memerlukan equipment tambahan spt external radiator, dsb.

2. Air lubrication and cooling system; sistem lubrikasi dan pendinginnya tidak menggunakan oli dan/atau coolant spt gas engine shg tidak memerlukan cost dan manpower serta downtime untuk routine maintenance (ganti oli, tambah coolant, dsb)

3. Light weight; beratnya rata2 hanya 2,000 lbs.

Yg lain mungkin ada yg bisa menambahkan?

Tanggapan 2 – moh. tasfin

terima kasih masukannya pak Indra..

ya dari sisi maintenance.. micro turbine lebih unggul…

ada yang ingin saya tambahkan..walaupun tidak banyak cost untuk maintenance rutin..tapi MTG perlu diganti Turbine engine-nya (konfirmasi dari salah satu vendor). rata-rata setelah 3 tahun operasi..jadi dari sisi cost mungkin perlu dihitung lagi.

Maaf..mohon bila ada rekan2 yang punya data running hours dari MTG di offshore platform yang ada di Indonesia?

Tanggapan 3 -roeddy setiawan

dear pak tasfin,

pengalaman saya micro turbine ini dependable sekali asal pr nya sudah selesaikan.
maksud saya fuel systemnya dibuat sesuai dengan spec dr microturbine, terlalu rich akan menyebabkan combuster nya jadi keripik. other than that micro turbine ini maintenance nya cuman mengganti air filter. karena turbine ini pake udara sebagai lubricant nya.

kalau company policy mengijinkan, (maksud saya operator tidak harus secara fisik datang ke turbine, walk in inspection sebelum start, make sure semuanya okay) juga bisa dibuat autostart. ini di adopt di GOM.

untuk gas engine.

fuel gas juga tidak boleh terlalu rich, ( kalau terlalu rich, kalau ada transient load misalnya big pump start, bisa menjebabkan high temp shut down kena triger). gas engine punya lebih banyak item item yang harus dimaintain misalnya :

anda punya 1500 hr mandatory oil change, jadi harus dimatikan untuk ganti oli.
anda punya 5000 hr ganti spark plug perlu engine offline
air filter change perlu engine offline
10000 hr untuk minor maintenace on cylinder head engine offline
20000 hr major maintenace engine offline.

kalau operasi anda tidak terpengaruh dengan offline gas engine tentunya tidak ada perbedaan. tapi kalau operasinya dependant dengan harus ada power terus ya economic evaluation nya harus diperhatikan.

untuk facilities yang flatout, say misalnya produksi 5000 bbl/hari, kalau kita shutdown. yang 5000 bbl itu meskipun masih ada didalam reservoir, sebetulnya tidak bisa direcover dalam waktu yang lama sekali jadi net present value nya zero. biasanya production membukukan sebagai losses tapi kalau facilities anda bisa catch up, say besok produksi 7500, lalu besoknya lagi 7500 lalu balik lagi ke 5000. shutdown untuk maintenance ngak jadi persoalan yang harus di perhitungkan lagi, kalau major maintenance buat offshore, make sure platform crane match dengan berat gas engine tersebut, kalau tidak bisa berabe.

Tanggapan 4 – moh. tasfin

terima kasih pak Roeddy..

kalo boleh tanya lebih lanjut.:

– possibility remote starting Gas Engine Generator bila dikaitkan dengan beberapa aspek maintenance

Tanggapan 5 – roeddy setiawan

dear pak Taslin,

technically bisa sekali, banyak packager yang menawarkan gas engine generator remote start up maupun auto start up. sebagai contoh seharai hari autostart backup genset di rumah sakit, umum sekali dilakukan. tapi kadang kadang (malah kebanyakan) company policy, environment, decision maker di linkungan oil and gas tidak begitu mendukung.

misalnya saja, kalau untuk gas engine ada membuat area yang unclasified kan ( ingat spark plug, high voltage coil, terlibat disini, agak beda dengan diesel). ruang unclasified ini jadi ruwet karena harus ada gas detector, uv sensor, belum lagi kalau sudah lama, tumpahan lubricant, grease , rag bekas maintenance yang penuh oli, merupakan resep bahwa disitu sudah bukan unclasified lagi.

misalnya lagi kalau unman barangkali pilihan buat starter nya gas drive karena kalau electric drive, ngeri2 spark nya. tapi gas drive juga bukan tanpa resiko, bagamana kalau turbine nya bocor, misalnya. atau bagaimana kalau hasil expansinya di starter jadi dua phase, jadi gerimis di low pressure side. terus jatuh ke exhaust, fire hazard ???

untuk menjaga atau memberikan safe guard nya, ahirnya sistem nya jadi complicated sekali, belum perawatan sensornya. nah disini biasanya decision maker man, ngetok palu. kirim sensor yang autonomous, ngak perlu dipiara, ngak perlu dikalibrasi dan lain lain keuntungan, lho kok ada sensor kaya gitu. ya $ 1,000/bulan mencakup ratusan sensor, dari gas detector, tidyness,uV sensor, pressure swich, video streaming dan lain lain. padahal satu foxboro atau honewell ex prof barngakali ngak kuarng dr $2,500. belum logic circuit, wiring dll.

hal yang dikemukakan diatas merupakan obstacle di oil and gas, agak lain dg standby gen set dr hotel facilities atau rumah sakit misalnya. tapi kalau obstacle nya bisa directify, why not ???, go ahead, make the point ke mgmnt.

Tanggapan 6 – moh. tasfin

oke.. pak..

maksud saya.. bagaimana aplikasi remote start (misal dari CPP yang berjarak 50km dari remote WHP),, sementara Gas Engine Generatornya adanya di WHP..

untuk saluran komunikasinya bisa melalui satelit or microwave.

mohon dijelaskan yang saya pertanyakan disini adalah:

– reliabilitas si gas engine tadi bila ditempatkan di remote WHP..kemungkinan remote start dari CPP versus rutinitas yang diperlukan untuk memastikan keamanan start seperti yang bapak bilang bila2 ada kebocoran dll… secara mendasar gas engine dengan diesel engine mirip ya pak? (hanya bahan bakar saja yang beda?)

sementara yang seperti bapak bilang..kalo untuk MTG cukup andal dan low maintenance… berarti mudah aplikasi remote starting.

begitu pak?

Tanggapan 7 – roeddy setiawan

pak tasfin,

wah menarik pak, ini opini pribadi, mungkin rekan lain akan berbeda.

pertama bapak bilang mau ditaruh di wellhead area, ini jelas ngak bisa langsung. yang harus pak tasfin lakukan membagi area wellhead dengan utility yang non hazardous. baru yang non hazardous ini dipakai sbg tempat power house.
diesel/gas engine.

kalau gas engine in prinsip hampir sama dengan petrol engine jadi ada high voltage cable. high voltage coil, ada distributor dan lain lain nya yang susah di buat sparkless

kalau diesel, high voltage cable&coil dll ngak ada, jadi lebih sedikit yang anda harus buat safe guard nya. mungkin safe guardnya hanya memasukan breather vapor dr engine atau tempat ngisi oli ke flame arester itu saja

remote operation, remote shutdown umum dikerjakan misalnya kalau di GoM, musim huricane, orang nya pulang semua, tapi facilities tetep jalan. sampai sensor bilang harus di shutdown.

tapi kalau startup(ini tempat saya) meskipun diagnostic indikator okay semua, kita tetap kirim orang untuk walk thru just in case, tentunya ini kan policy perusahaan.

Tanggapan 8 – moh. tasfin

terima kasih pak Roeddy…

iya pak.. .

rencananya di remote WHP dialokasikan ‘safe area’ location untuk pembangkitan:

– gas engine generator or micro turbine sebagai main power gen during unmanned

– diesel engine generator during manning

yang jadi curiosity saya adalah pemilihan antara gas engine dengan micro turbine dengan pertimbangan sbb:

– gas engine sudah terbukti reliable dari ‘running hours’ experience yang ada..masalahnya gas engine (seperti halnya diesel engine) tidak di design untuk unmanned.. karena perlunya maintenance. seperti yang bapak bilang..perlu di check oleh operator sebelum starting.. jadi untuk remote start-up (katakanlah setelah unit trip) dari Central Processing Platform yang berjarak 50km memungkinkan atau tidak?

– micro turbine.. di design untuk unmanned.. minim maintenance.. cuma proven data ‘running hours’ yang belum banyak..karena teknologi micro turbine terbilang baru (less than 5 years).. terutama untuk pemakaian di offshore. Kelebihannya untuk remote start-up mudah dilakukan..dan mungkin tidak diperlukan re-check visual oleh operator (tidak perlu datang ke remote WHP.

Mohon bantuannya pak..bila punya data-data pemakaian..or running hours dari kedua unit pembangkitan tadi buat bahan perbandingan.

Sekali lagi.. terima kasih banyak atas bantuannya…

Tanggapan 9 – roeddy setiawan

Dear Pak Tasfin,

Wah interesting discussion ini pak didalam membuat strategy the best facilities.
tetapi dari apa yang saya duga dari email2 sebelumnya sepertinya facilities ini transisi dari old design ke new approach.

maksud saya begini, anda memilih micro turbine untuk electrical support dari facility ini, saya kira cuman 60 kw yang paling besar. di sisi lain anda mau taruh diesel,( barangkali cummins diesel yang kecil 180 KW ??, kalau perkins mungkin ada yng 70 kw) interesting concept.

maksud saya kenapa tidak 2 kali MT 60kw + 60 Kw atau 2 kali MT, 30 Kw + 60 dengan demikian pak taslin freeing the mechanic yng harus rutine datang ke facilities untuk mengerjakan other old facilities yang saya yakin ageing, jadi perlu lebih banyak support.

diesel unman ??,

umumnya mengoperasikan diesel unman, on case by case basis di GoM, maksud saya begini. tiap hari , biasanya pagi senior mechanic akan tour ke remote unmanned dengan diesel powered, membuat assesment (lihat kebocoran lubricant, breather crancase, dll) apakah masih layak, kalau dia ragu, si sr mechanic akan ajak pak Superindent untuk verifikasi. kalau dirasa tidak fit maka engine ini kembalikan lagi supaya layak. tapi case saya barangkali agak berbeda jarak nya cuman 5 mile saja dari CPP sedangkan pak Tasfin 50 km jadi munkin jarak jadi hambatan.

setelah trip autostart,

pro

technically feasible pak, saran saya begini. buat hazzard assesment nya, ajak group hess anda membuat hazop, hazan. paparkan diagnostic (remote) indicator yang sudah dirancang (semua diagnostic facilities, bukan MT saja).
kalau di approve oleh team baru jalankan. sudah begini kan aman, bukan decision anda lagi. kalau ditengah jalan ada yang salah bukan pak tasfin yang di gadem gadem.

cons.

tiap trip ini pasti ada sebabnya yang provoke unacceptable condition, walk thru facilities ini dilakukan oleh senior operator tidak hanya melihat leak dll, tapi melakukan detail assesment terhadap seluruh facilities, say tubing pressure, level di pressure vesel, ada nelayan jangkaran di facility dan banyak lagi.

Pak senior operator itu sudah meng akumulasi kan say 20 tahun operation scenario, hazard assesment database tidak bisa dibandingkan dengan hanya beberapa step diagnostic tools yang kita taruh di memory logic proccessor.

barangkali bisa dimisalkan begini, dinegara maju pun kereta api masih wajib pakai masinis, padahal technicaly bisa sekali autonom, seperti rudal pershing, GPS ada, predetermined route, predetermined station. tapi tidak dilaksanakan.
umumnya ada unsur liability dan insurance.

kalau saya sarankan, pak tasfin tidak terpaku pada usaha bagai mana remote startup, tapi reliability dari facilities secara keseluruhan, misalnya proses elemination dari titik2 yang akan menyebabkan trip tersebut. dibuat assesment bagai mana operating envelope dari facilities ini match dengan operating envelop e power plan anda regardles MT atau Diesel. kalau ini okay otomatis need untuk remote start up hilang sendiri.

operation data,

saya coba usahakan minta teman yang ngurusin di north slope.

kasus pak tasfin ini mirip dengan development di offshore australia,( saya lupa lapangan nya) 220 km dr control room di darat. subsea, instead umbilical control sepanjang 220 km mereka memakai buoy complete dengan power plant, gas engine (belum musim MT), semua data transmited via microwave.ingat saya petrosea yang jadi contractornya, barangkali bisa tanya teman2 di petrosea tentang detail what they have done.

Tanggapan 10 – moh. Tasfin

Pak Roeddy..

Terima kasih inputnya pak..

Iya pak.. memang harus dilihat secara keseluhan dari aspek teknis dan non teknis (misal cost).. kendalanya betul yang bapak bilang ‘jarak’..dan operator tidak tiap hari kesana..schedulenya max. 2x/bulan..

Saya pribadi cenderung menggunakan Micro Turbine..tapi saya butuh data untuk meyakinkan team di project.. and buat saya juga gak masalah Pak..kalo digadem-gadem (istilah bapak.. ;p ).. karena yang penting adalah technical achievement yang bisa dipertanggung jawabkan… he.he.he..and wajarlah Pak kalo ada kekurangan dikemudian hari (baik itu Micro Turbine or Gas Engine)..and digadem-gadem..he.he. tapi paling tidak punya data untuk dipertanggung jawabkan dalam study pemilihannya..

Oh ya mengenai Micro Turbine ada satu vendor yang ratingnya 100kW (ISO rating)..average 80kW at 40degree C.

Sekali lagi..terima kasih Pak..

Tanggapan 11 – roeddy setiawan

pak Tasfin,

I think overall MCT sudah running about 12 million running hours and counting, yang dipasang di alaska ingat saya sudah lebih dr 22,000 still running strong(this onshore remote) .

I guess the secret was to oversize the air filter, and locate that in such a way the engine not ingesting fog/particulate , umumnya garam.

I guess the iso was for the country that have advantage winter. but di sini biasanya saya pake 95 F is good number to calculate the output. and the humidity is much higher, so you got a little bit HP from slightly higher massflow.
so good luck.

Tanggapan 12 – moh. Tasfin

Noted pak.. thanks atas info2-nya…

Tanggapan 13 – Budhi S.

Mas Tasfin,

Saya coba ramaikan diskusi dengan dokumen ‘Microturbine Generator Testing Program’ yang dilakukan oleh Southern California Edison. Bagus juga sih isinya karena bertujuan untuk ‘determine the performance, reliability, operability, availability, maintainability, and overall characteristics of commercially available MTGs’. Apalagi MTG yang di test sudah komersial diantaranya : Capstone, Bowman, dan Parallon dengan range dari 30 – 80 kW.

Kelihatannya OK juga nih diterapkan di unmanned platform melihat kesederhanaan dan dimensinya yang kecil. Dengan output 80 kW, sudah nggak pusing lagi mengenai kebutuhan daya untuk sebuah wellhead platform. Bagi anggota milis yang sudah menggunakan MTG, mohon sharingnya.

Attachment : Microtubine Testing Program.pdf

Tanggapan 14 – moh. tasfin

Mas Budhi..

Thanks banget buat attachmentnya…sangat membantu neh…

memang bener Mas.. study pemilhan yang tepat power generation untuk unmanned platform memang crucial… untuk kebutuhan daya yang kecil… sampai dengan 5kW.. dah pasti pilihan akan jatuh ke CCVT (Closed Cycle Vapour Turbine generator).. terbukti andal dan punya running hours yang cukup…

tapi untuk daya yang lebih besar perlu dicomparative antara MTG dengan GE generator

Tanggapan 15 – kusumowd

Pak Tasfin,

Kebetulan saya pernah mengerjakan sebuah project FEED untuk Unocal Indonesia, dan setelah kami pelajari antara CCVT, Diesel generator dan Micro turbine Generator, dilihat dari benefit dan featurenya kami dan client memutuskan menggunakan MTG. mengingat power yang dihasilkan, maintenance dan gas yg dihasilkan oleh platform tersebut.
Kalau tidak salah PETRONAS pernah menggunakan MTG ini.

jadi bener kata pak roodhy gas yang dihasilkan oleh platform tersebut dapat dipakai langsung oleh micro turbine. kita sebagai orang electrical perlu mengambil keputusan berdasar study dari temen process juga mengenai gas tersebut.memang sich secara electrical, maintanance dll semua dapat dilakukan dan effiience.

setahu saya MTG belum banyak atau mungkin belum pernah ada diapplikasikan/dipasang di indonesia (CMIIW). untuk Unocal sendiri saya belum tahu kelanjutannya dari project tersebut, mungkin pak roodhy lebih tahu akan hal tersebut.

mungkin attachment dari CAPSTONE ini bisa sedikit membantu untuk dipelajarinya. maaf ini bukan berarti iklan produk dari salah satu manufacturer loh.

pak budhi, maaf ada attachmentnya nich.

Tanggapan 16 – moh. tasfin

Ya.. thanks Pak..

kalo dari segi keandalaan dan running hours.. CCVT dah banyak dipakai dan setau saya (info dari temen2).. memang cukup andal. ya cuma sayang power outputnya tidak besar.. max. cuma 4 or 5kW (kalo gak salah)..

untuk kebutuhan beban yang cukup besar..(kasus saya sekitar 70kW) gak mungkin menggunakan CCVT..(butuh lebih dari 15 unit karena space di platform yang terbatas).

Iya pak..saya butuh data dari rekan2 yang mungkin sudah menggunakan MTG di wellhead platform..untuk bukti unjuk kerjanya.. (kalo onshore application memang banyak seperti yang pak roeddy bilang)

Betul yang bapak bilang.. koordinasi dengan discipline lain (process, mechanical and instrument) sangat dibutuhkan dari sisi Design secara keseluruhan..

Umumnya untuk unmanned remote wellhead platform.. ‘kebutuhan daya listrik’ harus ditekan seminimum mungkin..seperti misalnya penggunaan ‘instrument gas’ daripada ‘instrument air’..(berarti tidak perlu air compressor).

Cuma kadang ada kondisi2 yang menyebabkan konsumsi elektrik power menjadi besar, misalnya:

– penggunaan instrument gas menjadi kendala, karena adanya gas2 beracun seperti H2S yang tinggi (kendala teknis yang mungkin bisa di solve dengan menggunakan H2S removal..tapi konsekuensi-nya dimensi platform menjadi bertambah).

– komposisi gas mungkin terlalu ‘basah’.. sehingga dibutuhkan fuel gas heater untuk membuat gas lebih kering (even Micro Turbine membutuhkan spesifikasi gas tertentu walau teorinya gas dari wellhead bisa dipakai langsung sebagai bahan bakar)

Share This