Select Page

Resistivity test merupakan test yang mengukur tingkat corosive tanah atau untuk grounding dimana banyak parameter yang mempengaruhinya seperti tingkat saturasi dan lainnya. Tes ini bisa dilakukan di lapangan ataupun di laboratorium.

Tanya – ckaelan_milis

Rekan2,

Saya sedang membutuhkan pencerahan di bidang geoteknik. ada permintaan untuk melakukan soil lab analysis dalam bidang2 ini: ,

1. Penentuan soil resistivity,

2. Penentuan soil elastic seismic wave velocity,

3. Penentuan dengan soil lab analysis utk cone penetration test.

pertanyaan saya; ,

Untuk item 1 & 2, tipe pengetesan apakah ini ? ,

Untuk item 3, apa benar, CPT bisa di lakukan dengan soil lab analysis ? ,

Tanggapan 1 – Aleksander Poerba

Pak Chris (benar ya… panggilannya)

Saya coba jawab pertanyaannya (dan rekans lainnya tentu saja dapat menambahkan sehingga didapatkan pencerahan yang lebih sempurna… 🙂

No.1 : soil resistivity –

Saya sendiri belum pernah ada melakukan test ini, apalagi test lab. Bahkan seingat saya semasa kuliah, tidak (belum) pernah saya diajarkan test ini (CMIIW). Sepengetahuan saya, resistivity (untuk rock, soil dan fluid) ditemukan dalam hasil geophysical logs (dan ini adalah pengujian lapangan). Umumnya dari geophysical logs tersebut diperoleh Lythology yang menyajikan data rock/soil atau fluil resistivity, permability, porosity, moisture content etc.

No.2 : soil elastic seismic wave velocity

Saya artikan Seismic disini adalah berkaitan dengan geotechnical earthquake engineering, jadi saya mengasumsikan yang dimaksud adalah shear wave velocity, Vs. Di lab test ini dapat diperoleh dengan test Resonant Column, Cyclic Triaxial Test. Bisa juga dengan pemodelan Shaking Table atau Centrifuge Test. parameter ini sangat diperlukan untuk analysis dinamis tanah yang sangat erat kaitannya dengan Modulus Geser Tanah. Namun perlu diingat, test lab tersebut memerlukan biaya dan peralatan yang relatif lebih dari test lab biasanya. Test lapangannya jauh lebih murah dan mudah dilaksanakan seperti Seismic Refraction/Reflection test atau yg lebih umum Seismic down-hole/uphole test.

No.3 CPT apakah bisa dilakukan dengan soil lab analysis…?
Menurut pendapat CPT (cone penetration test) atau lebih dikenal dengan Sondir selalu dilakukan pada massa continuum dilapangan bukan pada sample (specimen atau element) tanah. Karena bacaan dari CPT ini adalah tahanan ujung konus per satuan luas, jadi test ini menggambarkan respons massa tanah ketika diberi beban. Pada akhirnya dengan korelasi empiris akan diperoleh jenis tanah dan kuat geser tanah.

Mudah-mudahan apa yang saya coba jelaskan sesuai dengan pertanyaan Bapak. Saya yakin banyak rekans yang punya pengalaman dengan pertanyaan yang dimaksud…. kan jadinya lebih hidup diskusi-nya… apalagi sudah lama tdk ada topic tentang geoteknik… hehehehehe

Tanggapan 2 –aang

Pak Cris

semua yang bapak tulis adalah tes lapangan pada umumnya. namun no 1 dan 2 itu agak special.

Resistivity test merupakan test yang mengukur tingkat corosive tanah atau untuk grounding dimana banyak parameter yang mempengaruhinya seperti tingkat saturasi dan lainnya. tes ini bisa dilakukan di lapangan ataupun di laboratorium
lihat web

www.hnd.usace.army.mil/techinfo/ UFC/UFC3-570-02A/TM58117/app-a.pdf

www.kilowattclassroom.com/Archive/GndTestArticle.pdf

www.udot.utah.gov/dl.php/

tid=1143/save/8_T%20288%20Laboratory.pdf

untuk tes seismic wave vaelocity, ini memberikan gambaran kecepatan rambat gelombang -ada 3 yang diukur (gel s, p dan ??(lupa)) menggunakan probe tertentu dengan sumber getar tertentu pula (bisa bentul pulse dengan penjatuhan beban atau blasting, bisa sinusoidal wave generator dengan beban tertentu). dari alat ini diperoleh kecepatan rambat gelombang yang kemudian bisa mendapatkan nilai G, Damping, Tp material dan lainnya. metodenya ada surface wave, ada down hole atau up hole.
lihat astm D4428/D4428M-00 Standard Test Methods for Crosshole Seismic Testing.

CPT atau sondir, biasanya digunakan untuk insitu test, walaupun ada CPT mini yang digunakan untuk laboratorium–>riset. CPT prinsipnya mencatat tekanan ujung dan tekanan selimut jadi metodenya dengan menggerakkan ujung cone (lalu dicatat tekanannya) kemudian menggerakan selubung (lalu dicatat tekanannya). Cara ideal untuk mensimulasikan tiang pancang. tapi ada kelemahannya, CPT tidak mampu menembus lensa pasir atau gravel, karena dapat merusak conenya.
Ada pocket penetrometer yang cara kerjanya seperti CPT tapi ini tidak dapat disamakan dengan CPT insitu karena tegangan keliling sangat mempengaruhi shear strengthnya, sedangkan untuk di lab, tidak ada tegangan keliling sehingga ada kemungkinan nilai CPTnya lebih kecil.