Select Page

Melamar pekerjaan juga merupakan seni dan juga mengandung peruntungan. Usaha yang keras dan doa yang kusyu’ akan membantu membuka jalan. Jangan bosan untuk selalu melamar meskipun untuk perusahaan yang sama, tentunya dengan trik-trik yang jitu. Belajar dari yang sudah berpengalaman akan sangat membantu. Selamat berjuang.

Tanya – don_kurnia

Dear all,

Melihat iklan lowongan di koran dan di internet, sepertinya lowongan berkarir di Industri Migas hanya untuk mereka yang sudah berpengalaman. Adakah kesempatan buat Fresh Graduate atau mereka yang punya pengalaman kerja diluar Industri migas? Bagaimana dan dimana kita harus memulai ?

Tanggapan 1 – Ilham@epeec

Setahu kami, beberapa perusahaan MIGAS sudah sejak lama melakukan sistem rekruitmen dengan memberikan peluang-peluang kerja yang besar kepada para sarjana-sarjana muda (fresh graduate). Hal ini mereka lakukan untuk mengembangkan sistem manpower mereka secara berkesinambungan dan profesional. Memang menjadi kenyataan bahwa perusahaan MIGAS seperti demikian mungkin baru sedikit yang melakukannya, dan tentunya mereka lakukan disesuaikan dengan strategy perusahaan bersangkutan. Kita juga tidak menutup mata bahwa beberapa perusahaan MIGAS memang mengutamakan orang2 yang sudah berpengalaman dalam proses penerimaan karyawannya, khususnya dalam bidang yang sama. Meskipun demikian bahwa orang-orang dari luar industri MIGAS belum tentu tidak dapat masuk bergabung dengan sebuah perusahaan MIGAS yang besar. Mudah-mudahan perusahaan MIGAS yang ada di Indonesia bisa mempertimbangkan proses rekruitmen karyawannya agar juga memberikan porsi yang seimbang guna dapat menjaring tenaga2 terdidik siap dipakai (fresh graduate) dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Tanggapan 2 – radiasi@singgar-mulia

Message Satu tip yang cukup jitu, mulailah dengan Kerja Praktek atau melamar untuk Kerga Magang di perusahaan MIGAS.

Tanggapan 3 – slamet.suryanto@t-lng

Mas Dony,

Dalam 3 tahun terakhir ini Pertamina merekrut fresh graduate sarjana di atas angka 100 per tahun dalam berbagai disiplin. Untuk tahun 2003, sekitar 200 orang akan menjalani pendidikan selama 1 tahun mulai Agustus 2003. Setidaknya, Mas Dony harus membangun jaringan dan rajin-rajin ‘nguping’. Mudah-mudahan menghibur, siapa tahu kesempatan berikutnya..

Tanggapan 4 – triono.rahardjo@akerkvaerner

Pak Donny,

Memang rasanya tidak ‘fair’ untuk para new-comer.
Kalau dilihat dari sisi penyedia jasa (konsultansi, engineering dsb), semua kembali kepada perusahaan kepada siapa kami menjual jasa kami. Banyak perusahaan (oil and gas) yang mensyaratkan pengalaman minimum 3-5 tahun untuk posisi Engineer dan minimum 10 tahun untuk posisi Senior Engineer. Ditambah lagi, kalau perusahaan tersebut bergerak di lepas pantai, para engineers (dalam hal ini saya bicara mengenai process engineer) ‘harus’ punya pengalaman minimal X tahun di offshore facilities. Tentunya para pengguna jasa tersebut punya argumentasi sendiri, walaupun kadang2 kita berfikir bahwa on-shore facilities biasanya lebih complicated dari off-shore facilities.

Mungkin ada rekan lain yang bisa memberikan komentar yang lebih mengena?

Tanggapan 5 – Palal@kpc

Untuk Mas Doni,

Setahu saya, Oil&Gas Comp. selalu rutin merekrut mahsiswa bahkan yang belum wisuda sekalipun, di Kampus. Yang selama ini sering saya lihat pengumumannya di kampus adalah : Schlumberger, Caltex Pasific Indonesia, Halliburton, YPF Maxuss, ARCO (sekarang BP Amoco?), PKT.

Selain itu, dalam 2 tahun terakhir, Total Fina Elf selalu memasang iklan lowongan di KOMPAS utk fresh graduate hampir dari segala jurusan keilmuan. Unocal dalam setahun ini sudah dua kali memasang iklan lowongan (juga di KOMPAS) utk fresh graduate dalam utk keperluan PED. Pertamina bahkan secara besar-besaran dan TERANG-TERANGAN membuka kesempatan utk fresh graduate, juga yang sudah berpengalaman. Saya nglamar 2 kali dan di panggil utk tes dua kali, tapi kebetulan sekali dua-duanya pas ada musibah jadi dg sangat menyesal tidak bisa hadir.

Bagi yang punya pengalaman di luar migas, ada juga kesempatan. Teman2 seangkatan saya ada 2 orang yg sekarang di Halliburton yang tadinya dari sebuah perusahaan non migas di Jakarta. Ada juga 2 orang yang di terima PED Unocal, yang juga pernah bekerja 1 tahun di perusahaan non migas.

Memang ada beberapa perusahaan minyak di bilangan KALTIM yang tidak pernah membuka lowongan secara terbuka di media nasional dan hanya merekrut secara informal melalu mekanisme non-standard. Tapi hanya 2 perusahaan yang saya tahu seperti itu. Masih banyak yang lain, jangan khawatir he he eh ..

Memang akan ada kemungkinan Anda tidak menemukan satupun lowongan utk fresh graduate dalam kurun waktu setengah tahun, tapi itu wajar. Ada faktor NASIB dalam mencari pekerjaan. Ada yang secara kebetulan pas lulus sedang banyak lowongan, ada juga yang harus menunggu setengah tahun baru ada lowongan, itupun belum tentu diterima.

So, BERSABARLAH dan rajin-rajin beli KOMPAS sabtu-minggu. Atau subscribe saja ke CDC ITB.

Tanggapan 6 – fjulisyah@qatar

memang ada beberapa perusahaan yang menginginkan, yang experience 3-5 tahun itu saya rasakan, waktu saya masih ingat, untuk test di Schlumberger di Rasuna Said… (ada pak Doddy Samperuru), yang menurut hemat saya… bahwa mereka benar-benar membutuhkan orang yang aktif dan sudah terbiasa Team Work seandainya waktu itu aku sedikit lebih aktif dalam berdiskusi mungkin sudah menjadi salah satu karyawan disana. Dan juga ada perusahaan yang membutuhkan ketepatan waktu, contohnya pada saat test belum dimulai kita sudah harus hadir, waktu itu saya di panggil di SedcoForex, yah cuma terlambat 15 menit… akhirnya disuruh pulang… lumayan perjalan dari Cilegon ke Rasuna Said… mana macet lagi di Kb Jeruk.

Tapi, aku kog gak pernah dipanggil oleh TotalFinaElf…. ???

Tanggapan 7 – deden.supriyatman@totalfinaelf

Mas Dony,

Rasanya tidak selamanya seperti itu, di TOTAL E&P Indonesie misalnya, tidak sedikit yang ‘fresh graduates’ melamar, lolos tes dan diterima.
Biasanya untuk ditempatkan di Kalimantan Timur, asal dengan nilai akademis yang bagus.

Yang berasal dari reputable universities, seingat saya biasanya diminta dengan IPK > 2.75.

Tanggapan 8 – patria_indrayana

Betul sekali Pak Deden,

Ketika baru mulai bekerja saya juga ‘fresh graduate’. Teman-teman lain yang bergabungnya belakangan juga banyak yang ‘fresh graduate’
Jadi tidak selamanya harus punya experience dulu.
Awalnya memang harus berani mengajukan application dan menemukan ‘nilai jual’ diri sendiri walaupun masih ‘fresh’ dan zero experience. Jangan lupa sebagai ‘fresh’ itu juga salah satu nilai tambahnya ….

Tanggapan 9 – deden.supriyatman@totalfinaelf

Patria,

Saya ingat, tahun-tahun heroik Patria sekitar tahun 1997 (?) itu – CMIIW – sebagai ‘fresh engineer’, begitu anda direcruit, selanjutnya ‘in a certain period’ di-monitor oleh seorang ‘god father’ sebagai mentor. Tentu, sebagai ‘god son’, maka reflex anda (ini salah satunya) dalam berfikir dan bertindak dalam kapasitas professional muda terlatih dibuatnya. Untuk itu so pasti tak sedikit efforts yang dikeluarkan,

ya….’knowledge’…ya..’skill’, …ya…’attitude’…termasuk kesabaran bekerja dengan nationals dan expatriates, dan di remote area lagi…seperti Kaltim.

Kemudian, ‘prove to the management’ bahwa di antara sekian engineers yang bergabung dalam kelompok YE alias ‘young engineers’ itu ‘you are one of high flyers’, makanya saya tidak heran sekarang berada di TOTAL Head office Paris….good luck young man !!.

Salam dari Jakarta yang kabarnya kemarin berulang tahun ke
476…he…he…

NB.

Kembali ke square one : ‘Adakah Kesempatan buat Fresh Graduate’. Jawabnya: …..silahkan isi sendiri…. Tak kalah penting (deskripsinya contekan dari Hay Group) adalah pertanyaan: What’s the best way to organize work ?: ‘Work is no longer about duties or tasks. The focus now is on enabling strategy, whatever it takes. And, whatever it takes, you can be sure it will take people. The best people work across divisional boundaries and negotiate resources and priorities. They think of work in terms of teams and as well as individual jobs. They flex with the business’. Bagaimana Pak Urip Sedyowidodo (moderator SDM), do you agree ?

Tanggapan 10 – marga.budiwijaya@tde.alstom

tur ceritanya bisa sampe di Qatar nih gimana pak?? boleh dong di share…..

Tanggapan 11 – aroon.pardede

Sekedar masukan, lowongan PERTAMINA itu tidak se’indah’ yang ditulisnya. Mengapa saya katakan demikian, karena saya menemui cukup banyak teman-teman saya (dan juga mungkin adik kelas) yang memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam proses seleksi awal pertamina, dan sudah mengeluarkan uang yang cukup besar untuk proses seleksi ‘paper selection’ dengan mengeluarkan biaya untuk tes bebas narkoba, yang kalau dilakukan di rumah sakit bisa mencapai biaya ratusan ribu, – akan tetapi, PERTAMINA (atau lembaga yang ditunjuknya) dengan ‘cuek’nya mengabaikan lamaran teman-teman saya tersebut tanpa memberitahukan alasannya. Sungguh disayangkan (mohon juga jadi perhatian untuk teman-teman PERTAMINA yang mengikuti milis ini), karena pengorbanan orang yang sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk memenuhi kriteria yang ditetapkan, tapi, entah atas sebab apa, PERTAMINA tidak memanggil orang-orang yang layak dipanggil. Kalau sudah begini, bukankah ‘cap’ PERTAMINA sebagai ‘perusahaan ke
luarga’ (maksudnya lowongan dibuka untuk anggota PERTAMINA dan keluarganya saja!) masih belum mengalami perubahan?

Memang PERTAMINA sudah membuka diri dengan membuka lowongan secara terbuka, akan tetapi, apabila proses pemilihan/pemanggilan peserta tes masih tidak transparan, apa boleh buat, cap PERTAMINA memang (masih) belum berubah!

Tanggapan 12 – slamet.suryanto@t-lng

Mas Aroon,

Mudah-mudahan keluhan Mas Aroon dapat menjadi perhatian pihak Pertamina khususnya dalam memperbaiki mekanisme recruitment.
Apa yang dikeluhkan Mas Aroon mungkin saja terjadi, karena saya bukan dalam ainstream proses tersebut sehingga tidak mempunyai bukti untuk mengiyakan atau menolaknya.

Saya masuk Pertamina 11 tahun lalu setelah menjalani beberapa serangkaian tes selama 6 bulan sejak tes pertama dan uang pribadi yang terpakai hanya perangko lamaran, beberapa copy dokumen dan ongkos kendaraan umum untuk mendatangi tempat tes. Semua biaya di luar yang disebutkan tadi ditanggung oleh perusahaan. Saya sendiri juga bukan dari keluarga Pertamina atau berhubungan dengannya, tetapi dengan niat dan doa tentunya, akhirnya menjadi pegawai Pertamina. Hal itu merupakan pengalaman pribadi sehingga saya bisa bercerita detil. Setahu saya pada saat itu ada sekitar 7000 orang dari seluruh Indonesia yang mengikuti tes pertama dan yang diterima sekitar 75 orang saja (ref. info dari penguji) sampai final. Setahu saya semua pelamar diundang untuk mengikuti tes sepanjang memenuhi kriteria awal yang ditetapkan perusahaan, sebagai contoh lowongan Telecommunication Engineer tidak mungkin memproses pelamar dari sarjana Teknik Kimia, dalam hal ini sarjana dari Teknik Elektro atau Teknik Fisika mempunyai peluang.

Bahwa kita harus menyadari setiap perusahaan mempunyai kriteria dalam proses recruitment dan kriterianya juga bersifat dinamis bergantung kepada kebutuhan. Umumnya Pertamina melibatkan tim psikolog dari UI dalam proses recruitment pegawai. Dalam hal ‘tidak diterima’ nya proses berikutnya, hampir semua perusahaan yang pernah saya lamar juga tidak pernah menyebutkan alasannya dan saya menyadarinya hal itu merupakan policy perusahaan tersebut. Coba bayangkan betapa repotnya perusahaan harus memberikan alas an untuk sekian ribu pelamar dan sekian ratus alasan, sedangkan si pelamar belum tentu akan menerimanya sebagai keniscayaan. Coba bayangkan bagaimana perasaan kita jika menerima pemberitahuan yang mengatakan ‘ kami tidak mengundang anda untuk proses selanjutnya karena anda mempunyai indikasi tidak bisa menjadi team player’. Apa kira-kira tanggapan kita? Bisa seribu macam, dan tentunya akan membuka ruang untuk mempersulit proses itu sendiri.

Informasi terakhir yang diterima dari nguping, ada sekitar 48.000 pelamar dan ‘hanya 23.000’ pelamar yang dipanggil untuk mengikuti tes pertama dan yang diterima hanya sekitar 200 orang sampai final untuk mengikuti pendidikan. Apakah anda bagian dari 25.000 pelamar tadi? Saya tidak tahu karena pada bagian mana anda telah memasuki tahap proses. Proses ini belum final sampai diwisuda karena beberapa rekan juga gugur karena melanggar aturan perusahaan selama pendidikan atau dinyatakan tidak mampu.

Mas Aroon dan rekan mailist yang lain, melamar pekerjaan juga merupakan seni dan juga mengandung peruntungan. Usaha yang keras dan doa yang kusyu’ akan membantu membuka jalan. Jangan bosan untuk selalu melamar meskipun untuk perusahaan yang sama, tentunya dengan trik-trik yang jitu. Belajar dari yang sudah berpengalaman akan sangat membantu.
Selamat berjuang.

Tanggapan 13 – Lif_Rahayu@cabot

Pak,

Sekedar masukan, and this is not PERTAMINA, tetapi salah seorang teman saya a few years ago, pernah melamar ke salah satu perusahaan, dengan basis pendidikan yang menurutnya sesuai dengan lowongan yang ada. He graduated from ITB with cum laude and GPA more than 3.3. Tetapi setelah itu mendapatkan surat penolakan berbunyi, garis besarnya ‘Maaf, IPK Anda belum memenuhi syarat’. Hehehehe……..:)

Entah apa maksudnya, mungkin memang jika back groundnya tak sesuai (yang dibutuhkan arus kuat tapi yang melamar elektronika atau control misalnya), they can say something like ‘Maaf, kualifikasi/keahlian Anda tidak sesuai’. What I am trying to say, lha mbok ya, jika membuat surat penolakan, di situ dimasukkan usul2 yang bisa membuat si pelamar meningkatkan apa yang dirasa kurang dari dirinya.

Tanggapan 14 – hwidyar

Dear:

Saya kira masalah rekrutmen adalah masalah yang sangat manusiawi, ada suka dan ada duka. Namun, bagaimanapun juga akan selalu ada pro dan kontra tentang cara penerimaan pegawai yang baik. Akan tetapi, seperti kata pak Indra Prasetyo, semakin professional perusahaan, semakin ketat kriteria penerimaannya, seperti kata beliau kombinasi IQ, EQ dan SQ.

Proses penerimaan yang berjenjang akan memberikan saringan sebaik mungkin, yang dimulai dari saringan administrasi, IPK, SKKB, KTP, Kartu kuning Depnaker dll, dll……Dari sini beranjak ke saringan akademis semacam test pengetahuan, ya ujian tertulislah. Proses yang dilewati pak Slamet Suryanto di Pertamina, MOHON JANGAN DILIHAT PRO-KONTRANYA, saya kira adalah salah satu proses rekrutmen yang paling ketat di industri MIGAS. Kalau lolos dari testing keilmuan, akan dilanjutkan ke psiko test, ini yang paling tricky, karena disini bisa terlihat apakah applicant cukup inovatif, banyak idekah, tahan banting, tahan stress, reasoningnya jalan apa ndak…. dll,dll….. Tes IQ.

Kalau toh lewat, proses selanjutnya adalah biasanya wawancara dengan HR dan user. Disini yang dinilai adalah kePDan, kemampuan untuk memecahkan masalah, kemampuan argumentasi, kemampuan presentasi, kemampuan komunikasi, bahasa, ekpresi diri, dll, dll……. Disini proses yang namanya ‘first impression is the lasting impression’ sangat berperan, termasuk cara berpakaian, cara bicara, yah… termasuk body language-lah yang dinilai. Tes EQ dan SQ.

Kalau Anda lewat, voila…….. ada sedikit harapan, karena nama Anda akan masuk dalam acara rapat PANTUKIR, panitia penentu akhir seperti di militer, disini disidanglah list nama applicant yang lolos proses di depan.

Tapi harus diingat, semua proses di depan adalah screening terhadap ‘your POTENTIALS’ – baru janji ni yee….. Belum menjamin Anda akan perform sesuai potensi khan????

Jadi, kadangkala ada perusahaan yang masih melakukan proses screening lanjutan untuk mencari ‘real performers’ dengan cara ‘probation period’ atau OJT, atau apalah…..dalam jangka waktu tertentu. Ini juga proses lagi yang kadang harus dilewati. Disini, yang discreen adalah ‘REAL work PERFORMANCE’ yakni kombinasi IQ, EQ dan SQ, yang dalam proses di depan2 tadi belum teruji di real world of work. Sehingga kalau Anda telah melewati proses2 ini, seperti Pak Slamet Suryanto, dimana terbukti beliau telah teruji sekaligus terasah…… ya congratulations buat Anda……. Ini baru FAKTA……bahwa Anda bias bekerja.

So, para fresh graduate, siapkah Anda melewati proses ini…….. karena Anda bisa saja ditolak/tidak lolos saat melewati salah satu proses tsb. Proses2 ini biasanya dilakukan oleh perusahaan besar yang telah mapan, semacam Pertamina, Oil Cos, MNCs, dll dalam upaya mencari the ‘most potential of best performers’. If you wanna work for the best company, do and show your best. The answer is yours……….

Bagi para fresh graduate yang datang dari pelosok Indonesia, dari universitas di kampung2, atau yang
masih kerja di perush kecil, jangan kecil hati….
Trik untuk diterima kerja di oil co yang MNC ya dengan
cara seperti di atas tadi. Anda dapat bersaing kok, dengan para lulusan top university dari kota2 besar. So, tetap semangat…… untuk bersaing……secara sehat……

Tanggapan 15 – slamet.suryanto@t-lng

Dear rekan mailist,

Nampaknya setelah membaca beberapa buku mengenai IES-Q, saya merasakan bahwa recruitment ala Pertamina yang pernah saya jalani telah menerapkan hal-hal tersebut secara lengkap. Proses recruitment sebelum pendidikannya sendiri telah melibatkan evaluasi administrasi (background keilmuan, IPK, SKKB, dsb), serangkaian tes yang meliputi tes IQ dan EQ secara tertulis, wawancara dengan tim seleksi (gabungan para psikolog UI, HR, user), tes kesehatan (pasif dan aktif) dan baru masuk pendidikan. Berikut sekedar berbagi pengalaman bagi yang berminat untuk bergabung dengan Pertamina:

Selama pendidikan, semua yang dipersyaratkan dalam IES-Q dimonitor oleh tim recruitment. Secara garis besar sebagai berikut: menjalani pendidikan militer selama 1 bulan (untuk pendidikan kedisiplinan, ketangguhan dan fisik); menjalani pendidikan classroom kurang lebih 7 bulan (ujian tiap minggu dan dimonitor IES-nya selama 24 jam sehari)dengan disiplin tinggi yang meliputi materi teknis, manajerial, praktis, bahasa inggris, pematuhan peraturan pendidikan/perusahaan, fisik, kehidupan sosial – interaksi dengan masyarakat sekitar dan sesama trainee; 4 bulan OJT dengan penugasan khusus serta membuat makalah untuk dipresentasikan di hadapan tim penguji. Sebagai tambahan, selama menjalani pendidikan status kita belum sebagai karyawan dan tidak menerima gaji, hanya uang saku untuk malam mingguan….. Berikutnya adalah wisuda dan pengumuman penempatan. Yang terakhir tsb juga tidak kalah deg-deg-annya, siapa tahu di tempatkan di hutan.

Mudah-mudahan ulasan tersebut memberikan wawasan kepada para anggota mailist.

Tanggapan 16 – a.paripurna@ptsofresid

Rumit ya?

Mendingan dipupuk jiwa wiraswasta adik-adik, untuk bisa jadi besar dan tidak perlu berlindung di kebesaran perusahaan orang lain.

Bebas merdekaaa

Tanggapan 17 – envirotechsmg

Mas Donny,

Semoga belum putus asa untuk selalu mencoba dan mencoba kirim lamaran ke Oil Companies yang ada di Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Saya pribadi sudah kirim semua lamaran ke Oil Companies dan hingga saat ini belum satupun yang menjadi rejeki saya. Kemarin saya sempat juga tes di salah satu OC di Balikpapan. Sekali lagi, namanya belum rejeki.

Jadi buat apa kita putus asa, kirim terus kalau perlu sampai Pak Pos hapal sama kita. Saya pribadi sudah hapal semua kru Argo Muria dan dijuluki sebagai ‘spesialis wawancara’. Karena bolak-balik ke Jakarta hanya untuk wawancara. Diterima pun belum pernah.

OK… kalo perlu kita ciptakan lapangan kerja sendiri, jadi boss sendiri. Idealis memang perlu. tapi opo yo arep ngoyo terus? kan yo enggak tho? Gimana?

Tanggapan 18 – hwidyar

Dear:

Bagi yang baru mulai melamar atawa juga cari kerja lain, mungkin perlu dipikirkan ikut kursus semacam John Roberts Powers. Karena bagi para pemilik usaha, bukan hanya otak saja yang dicari pada pegawai barunya, juga penampilan dan kredibilitas, sekarang kerennya kombinasi IQ, EQ dan yang terbaru SQ. Mangkanya test masuk ada berbagai jenjang, apalagi bagi Oil Co atau apapun perush yang sudah establish,
jenjangnya bisa 4 atau 5 tingkat. Bagi yang sudah masuk di tempat tersebut, artinya sudah lewat saringan.

Tetapi dimanapun Anda, wahai fresh graduate,…… sama seperti mottonya para Marinir di Amrik sono – Be all you can be – artinya jadi the best di tempat kita berkiprah. Nanti…….pasti ada saatnya, ilmu, skill dan pengetahuan yang kita dapat bisa membawa kita ke tempat yang kita inginkan.

Perjuangan menuju kesananyalah yang harus diusahakan. tapi seperti kata pepatah jua. ‘Yang di Atas sana’ juga yang pada akhirnya akan menentukan. Tetap semangat dan jangan putus asa.

Tanggapan 19 – IndraPrasetyo@EXSPAN

Di Exspan saat ini kita punya yg namanya GET (Graduate Engineer Training) Program. Sesuai dgn namanya, peserta program tsb rata-rata fresh graduate. Tahun lalu kita menerima sekitar 40 orang (phase I) dan tahun ini (phase II) rencananya kita akan menerima sekitar 40 orang lagi. Proses rekrutmennya selain lewat koran (ada di KOMPAS kalau saya tidak salah) juga langsung ke kampus-kampus, mis. UI, UGM, ITB, dsb.

Bicara soal IQ dan EQ serta SQ (atau juga ESQ), saya melihatnya masih banyak perush. (termasuk juga Oil & Gas Co.) yang masih mementingkan IQ daripada EQ dan SQ. Kalau kita baca di kolom-kolom lamaran di koran KOMPAS sabtu-minggu misalnya, masih banyak yg mencantumkan requirement IPK > 3.0 misalnya, padahal IPK menunjukan atau berkorelasi/berhubungan dengan IQ (aspek pendidikan/kognitif).

Kalau kita baca buku ESQ (karangannya Ari Ginanjar Agustian) disebutkan bahwa dimasa mendatang, perusahaan-2x yg maju adalah yg mengedepankan EQ / ESQ daripada IQ, dan di bagian lainnya disebutkan hasil suatu survey di AS yg menunjukan bahwa semakin tinggi IQ seseorang justru semakin rendah nilai EQ-nya. Kalau IQ berhubungan dengan aspek pendidikan/kognitif, maka EQ berhubungan dengan komitmen, integritas, kejujuran, dan berbagai aspek lainnya dari seseorang. Dengan EQ seseorang akan dapat memaknai pekerjaannya lebih dari sekadar menyelesaikan suatu tugas atau mencari uang, tetapi lebih luas lagi yaitu untuk mencapai suatu tujuan bersama (visi perusahaan) dan dengan SQ makna pekerjaan tersebut menjadi lebih luas lagi yaitu menjadi suatu ibadah kepada Allah SWT. Dengan demikian seseorang akan selalu memberikan yang terbaik yang dimilikinya, komitmen yg tinggi, kejujuran yg tinggi, integritas yg tinggi dan juga keikhlasan dalam bekerja yg tinggi.

Tanggapan 20 – marga.budiwijaya@tde.alstom

dear all,

saya mendapat info dari seorang teman yg bekerja di Gulf Resource, bahwa Conoco Philips sedang membuka intern vacancy untuk ditempatkan di belanak field. mohon info lebih lanjut untuk mengetahui kebenaran dari info tersebut.sebelum dan sesudahnya, saya ucapkan terimakasih.

Tanggapan 21 – tlaksana@ondeo-nalco

Ikut nimbrung nih….

Sejak di bangku kuliah kita selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan yang menyangkut benda mati, misalnya pompa, reaktor, kompressor dll yang notabene kelakuannya dapat dipelajari dan dapat dikarakterisasi. Setelah terjun ke dunia kerja, ternyata hanya 50% kita berhubungan dengan benda mati, sisanya mahluk hidup (baca: boss, customer, supplier, anak buah, rekan sekerja) yang kadang berpikir pakai kepala, Kadang bicara A padahal faktanya B dll. Belum lagi jika ada muatan politis. Sungguh menarik memantau diskusi teknis di milis ini. Tapi menarik untuk dikaji bahwa jarang sekali perusahaan mencantumkan persyaratan kemampuan untuk bersosialisasi, leadership, kemampuan untuk ‘membaca’ pikiran orang, mengontrol emosi (pake P, I atau PID ya?) yang semuanya sudah barang tentu tidak termuat dalam IQ seseorang. hanya EQ barangkali yang dapat dijadikan sebagai parameter.

Memang kadang terselip persyaratan: memiliki kepribadian yang menarik, wawasan yang luas, bla bla bla. Tapi sungguh sangat general persyaratan tersebut. Barangkali sebagai nilai tambah untuk para fresh graduate dalam melayangkan surat lamaran adalah kemampuan untuk mengemas sedemikian rupa sehingga surat tersebut menarik dan (mudah-mudahan) lolos kualifikasi awal yang biasanya dimulai dari screening IP atau prestasi akademik. Jika sudah sampai pada tahap wawancara, barangkali chance anda untuk diterima akan semakin besar.

Ini memang problema klasik pendidikan kita yang sejak SD selalu dijejali materi2 yang tidak perlu, tanpa dibiasakan untuk berdiskusi, berdebat, sehingga tidak melahirkan generasi penerus yang bukan cuma pinter, tapi pandai.

Share This