Select Page

Kalau standard yang diacu untuk konstruksi adalah DNV OSF 101, maka batch testing MUTLAK harus dilaksanakan. Silahkan merefer ke paragraph lain yang jelas-jelas mempersyaratkan adanya batch testing untuk consumables yang tidak (ikut) ditest pada saat kualifikasi WPS. Hal ini (per DNV OSF 101) diperlukan untuk memastikan bahwa deposit weld metalnya akan setara properties-nya secara kimia dan mekanis dengan batch yang dipakai pada saat kualifikasi WPS. Sertifikat EN 3.1 (tepatnya EN 10204-3.1) harus dipandang sebagai hal yang terpisah dalam konteks keperluan batch testing. Sertifikat 3.1 ini adalah evidence dari pabrik yang menyatakan bahwa produk yang masuk dalam batch tersebut benar diproduksi in compliance dengan spesifikasi yang tertera, misalnya AWS, EN atau ISO. Informasi-informasi yang ada didalamnya adalah penjelasan technical delivery conditions dari produk tersebut. Sertifikat 3.1 ini BUKAN sebagai pengganti persyaratan diperlukannya batch testing.

Tanya – Sondang Manurung

Mohon bantuan dan advicenya,

Saat ini kontraktor kami sedang mengerjakan offshore pipeline 24 inch sepanjang 15 km. Standard yang digunakan adalah DNV-OS-F101.
Dalam salah satu WPS, kontraktor menggunakan batch number yang berbeda untuk filler dan capping. Filler menggunakan FCAW Bohler E9T1 Batch No. 4560 sedangkan capping menggunakan FCAW Bohler E9T1 Batch No. 4488.

Sesuai dengan DNV-OS-F101 Appendix C Table C-2 Poin 8 c dan d, apakah kontraktor harus melakukan batch testing apabila mereka menggunakan batch number tidak sesuai dengan WPS, Bohler E9T1 Batch No. 4488 untuk filler(di WPS batch number tersebut untuk capping) dan Bohler E9T1 Batch No 4560 untuk capping (di WPS batch number tersebut untuk filler). Atas bantuannya, terimakasih.

Tanggapan 1 – Arbie nor

Kenapa harus dilakukan Batch Testing Pak…apakah no.Batch nya berubah? Jika ‘iya’ silahkan dilakukan Test.(misalkan bukan yg Bapak pakai sesuai WPS yakni 4560 atau 4488 ).

Bukankah Electrode dgn Batch requirementnya Ada…,kenapa sequences tidak dirubah mengikuti WPS?

Bolak balik sequences malah jd bingung apa Ada kendala lain?

*Maaf jika saya salah interpretasi…

Tanggapan 2 – ribur tampubolon

urung rembug…

menurut saya batch number hanyalah membedakan production date dari electrode itu sendiri…

perlu diperhatikan, electrode brand name akan jadi essential variable bila disebutkan di PQR/WPS dan perlu PQR/WPS baru bila dirubah…

lanjut dari sini, apakah yang berbeda dari ke-2 batch tadi…diameterkah?jenis electrodenya kah…misal low hydrogenkah, etc….dan bila semua ini ter-state di PQR/WPS dan berubah sesuai kondisi dilapangan..semestinya harus PQR/WPS baru….

Tanggapan 3 – Jimmy Octavianus

Pak Sondang,

Sepengetahuan saya di proyek Bpk ini untuk kawat las harus memiliki sertifikat EN 3.1 di mana artinya semua kawat las yg disupply dan akan digunakan sudah memiliki hasil aktual pengujian untuk setiap batch number kwt las, aktual untuk komposisi kimia dan mekanikal properties. Jadi bukan nilai tipikal. Dan 3.1 ini biasanya dilakukan oleh pihak manufaktur kawat las.

Sehingga walaupun batch number yang digunakan tidak persis sama dengan batch number sewaktu Wps seharusnya tidak menjadi masalah, selama sertifikat kawat las dari batch number tersebut sudah memiliki sertifikasi EN3.1 (hasil uji aktual setiap batch numb kawat las yang tercantum di dalam sertifikat).
Demikian menurut hemat saya.

Tanggapan 3 – hadi muttaqien

Ikut nimbrung;

Sepengetahuan saya nomor Batch itu merupakan angka produksi, jadi untuk mengukur umur validitas kawat las. Mohon koreksi bila saya salah.

Tanggapan 4 – Jimmy Octavianus

Pak Hadi,

Memang benar nomor batch adalah urutan-urutan angka seperti :

Tgl, Bulan, tahun pembuatan, bahkan kode si operator mesin produksi.

Usia validitas kwt las yg Bpk maksud itu maksudnya usia expire kwt las? Kalau batch number bukanlah penentu validitas/ expire product, namun identifikasi tgl, bln dan tahun produksi kawat las. Untuk perihal expire / validitas kawat las biasanya untuk jenis Carbon steel kita batasi maksimum 2 tahun dari thn produksi, khususnya jenis low hydrogen electrode. Dan tentunya kita lihat kondisi fisik barang tersebut. Bila kondisi fisik kawat las ataupun packaging sudah rusak, sebaiknya brg tersebut direject.

Demikian sekelebat info dari saya.
Terima kasih

Tanggapan 5 – Dirman Artib Kayaknya belum ada yg menyentuh nih….

Sebenarnya si penanya ingin tahu interpretasi standard DNV-OS-F101 Appendix C Table C-2 Poin 8 c dan d.

Walaupun Pak Jimmy berargumen dgn standard kawat las menurut EN 3.1, tetapi standard DNV nya yg digunakan untuk ‘whole design/engineering’ tidak bisa dicuekin begitu saja. Jika terjadi konflik di antara 2 standard, maka diskusi melebar kepada ha-hal di bawah ini.

Selama di overseas project yg Shell approach, biasanya saya selalu ketemu pernyataan di dalam Project Quality Plan, atau dalam Specification for Design/Engineering, tentang hierarchy kriteria keberterimaan :

1. National Regulation,

2. Client’s Code of Practices (CP),

3. Client’s Procedure (PR),

4. Client’s Spcification (SP),

5. Shell DEPs,

6. Recognized International Standard/Codese.g. ASME, ASTM, API, BS EN ISO…etc.

Jika terjadi konflik antara standard atau codes maka standard yg lebih stringent akan diadopt.

Bagi rekan-rekan yang punya pengetahuan yg mumpuni dan pengalaman tajam antara EN 3.1 dan DNV DNV-OS-F10 tentu sangat pantas mengupas pertanyaan ini. Bagi yg sekedar mengelus-elus kulitnya pun tidak dilarang berkomentar (namanya juga sekedar komentar, ya boleh dong di delete cepat ha..ha..ha..).

Tanggapan 6 – Dirman Artib

(Diralat, maksud saya EN 3.1 bukan argumen Pak Jimmy, tapi argumen Pak Jimok)

Tanggapan 7 – ‘Doni Afrizal’

Mau coba comment dikit ah.

Kondisi yg ada hanya batch no. Welding consumble beda ama WPS.

Based on DNV-OS-F101 edisi 2010 table C-2 point 8c kalo batch testing diwajibkan client maka batch yg tidak sama dgn waktu bikin WPQR merupakan essential variable, maka wajib bikin WPQR ulang. Alias gakbisa pake WPS yg bpk punya skarang.

Tapi di point 8c, jika batch testing tidak wajib, selama tensile atau impact property consumable tidak turun > 10% dari batch WPQR,WPS tsb bisa digunakan,jika lebih wajib WPQR lagi. So,coba lihat lg batch certnya ada penurunan tidak.

Tanggapan 8 – ‘Hasanuddin’ hasanuddin_inspector

Menurut saya, kalo standard yang diacu untuk konstruksi adalah DNV OSF 101, maka batch testing MUTLAK harus dilaksanakan. Silahkan merefer ke paragraph lain yang jelas-jelas mempersyaratkan adanya batch testing untuk consumables yang tidak (ikut) ditest pada saat kualifikasi WPS. Hal ini (per DNV OSF 101) diperlukan untuk memastikan bahwa deposit weld metalnya akan setara properties-nya secara kimia dan mekanis dengan batch yang dipakai pada saat kualifikasi WPS.

Sertifikat EN 3.1 (tepatnya EN 10204-3.1) harus dipandang sebagai hal yang terpisah dalam konteks keperluan batch testing. Sertifikat 3.1 ini adalah evidence dari pabrik yang menyatakan bahwa produk yang masuk dalam batch tersebut benar diproduksi in compliance dengan spesifikasi yang tertera, misalnya AWS, EN atau ISO. Informasi-informasi yang ada didalamnya adalah penjelasan technical delivery conditions dari produk tersebut. Sertifikat 3.1 ini BUKAN sebagai pengganti persyaratan diperlukannya batch testing.

Lagian juga sudah jelas bahwa batch testing yang dimaksud oleh DNV OSF 101 harus dilakukan pada spesimen yang diambil dari as welded pipe pada beberapa posisi utk selanjutnya ditest dan dikomparasi dengan parameter2 saat WPQT. Batch testing bukan diambil dari electrode tersebut. Kasar kata, ini adalah tanggung jawab si contractor (pipeline installer) i/o vendor electrode.

Ya gitu deh kalo pake DNV…ketat banget requirement nya memang.

Tanggapan 9 – Dirman Artib Memang begini nih yang mantap, tajam setajam SILET….

Emang yang sudah berenang dan nyelam di lautan standard ‘Tjap Jangkar’ itu yg kudu ngomong yach, kalau masih ASME dan ISO, tiarap dulu dech hi…hi..hi…

Ilmu dan pengalaman harus dibagi, duit harus dijajanin (Jajan rokok is not recommended, …for non smoker :)).

Tanggapan 10 – Doni Afrizal

Pak Hasan,

Mohon informasi tambahan di bagian code manakah batch testing MUTLAK harus dilaksanakan?

Ini saya kutip Essensial Variable WPS pada point 8(d) tabel C-2 ‘Any use of a welding consumables batch with a reduction in tensile or impact properties of more than –10% from the batch used for WPQR when batch testing is not required’

Katanya WPS harus WPQR ulang lagi jika menggunakan welding consumables batch manapun yg ada penurunan tensile atau impact properties nya lebih dari 10% batch WPQR jika BATCH TESTING TIDAK DIWAJIBKAN.

Artinya boleh pake batch manapun jika batch testing tidak diwajibkan asal tensile & impact propertinya tidak turun lebih dari 10% batch yg digunakan waktu WPQR…

Apa saya salah mengartikan bahasa orang bule ni ya..

Tanggapan 11 – ‘Hasanuddin’ hasanuddin_inspector

Mas Doni,

Refer to OSF 101, batch testing tidak diperlukan apabila:

1. Pipeline tsb menggunakan basis material dengan SMYS < 450 MPa, dan

2. Tidak dilakukan ECA (engineering criticality assessment) utk weld structural integrity-nya

Jadi, ketentuan perlu/tidaknya batch testing bukan dispesifikasikan oleh klien, akan tetapi sudah dipersyaratkan oleh DNV.

Merunut ke pertanyaan awalnya, melihat dari email address dan general view pipeline project-nya, case yang ditanyakan di project ini setau saya (CMIIW yg terlibat di proyek ini) menggunakan basis material DNV L450 dan/ atau setara dengan API 5L Gr X65.
So, batch testing ya harus dilaksanakan.

Maaf kalo komen sy kemarin agak overlapping ya…

Tanggapan 12 – Sondang Manurung

Pak Hasan,

Material yang digunakan dalam project ini adalah DNV L450.

Pada saat ini, kontraktor menggunakan WPS 7 dengan deskripsi proses sbb:

Root : GMAW, ER70S-G Batch No 822330

Hot Pass : FCAW, E91T1 batch No 4560

Filler : FCAW, E91T1 batch No 4560

Capping : FCAW, E91T1 batch No 4488

Pada aktual pelaksanaan, kontraktor menggunakan FCAW, E9T1 Batch No. 4414 yang tidak digunakan pada saat kualifikasi WPS 7.

Pada saat kami meminta dilakukan Batch Testing sesuai dengan DNV, kontraktor keberatan dengan alasan kawat las FCAW,E9T1 Batch No. 4414 sudah dikualifikasi di WPS 1.

WPS 1 mempunyai deskripsi proses sbb:

Root : GMAW, ER70S-G Batch No 822330

Hot Pass : GMAW, ER70S-G Batch No 822330

Filler : FCAW, E91T1 batch No 4414

Capping : FCAW, E91T1 batch No 4414

Apa kami salah mengartikan Essensial Variable WPS pada point 8(c) tabel C-2 ‘Any use of non tested welding consumable batch when batch testing is required.’?

Menurut kami, kontraktor wajib melakukan batch testing untuk Batch No. 4414, karena Batch No tsb tidak dikualifikasi di WPS 7.

Mohon masukannya,Pak.

Tanggapan 13 – hasan uddin hasanuddin_inspector Kalau saya sebagai client, jawaban pertanyaan saya jelas di email sebelumnya bahwa batch testing harus dilakukan.

Sebagai client, anda punya pilihan dan pertimbangan untuk meminta kontraktor melakukan batch testing atau menyetujui waiver yang disampaikan dalam TQ tersendiri oleh mereka.

Tanggapan 14 – Sondang Manurung

Terimakasih Pak untuk masukannya.

Tanggapan 15 – Doni Afrizal

Pak Hasan,

Kebanyakan project ASME/AWS/API nih, so gak banyak tau cara baca DNV code.

Thanks banyak pak atas sharing code nya…

Keknya diambil di App. C, par 307 ya pak..

‘307 Batch testing is not required for steels with SMYS < 450 MPa and when ECA is not performed if the tensile or impact properties stated on the Inspection Certificates are not less than 90% of the batch used for welding procedure qualification. '

Kapan-kapan boleh share ya pak cara baca DNV code, hehehe.

Share This