Select Page

Permasalahan gas shut off ini memang tidak bisa dihindari, baik oleh pelanggan maupun PGN. Hal ini semata-mata karena pasokan yang diterima oleh PGN masih terbatas, bukan karena PGN tidak profesional atau ada ‘main’ oleh PGN. Sekali lagi, saya rasa hal tersebut tidak dilakukan oleh PGN. Pelanggan sih pasti inginnya gas mengalir 24 jam sehari, 7 hari seminggu agar operasional lancar. PGN pun juga demikian, karena dengan gas online ngalir terus, tentunya keuntungan juga ngalir ke kas PGN. Tapi, jika shut off gas ini harus terjadi, pelanggan bisa menyiasati dengan menggunakan back up fuel. Setahu saya, biasanya burner didesain untuk dual fuel, misalnya gas dengan solar. Jadi, saat shut off gas terjadi, pelanggan bisa beralih ke solar sementara, sampai gas bisa mengalir kembali.

Tanya – ‘M. Komaruddin’

Dear all,

Mengingat dalam waktu dekat di Distribusi Wilayah 2 PGN akan melakukan gas off sesuai surat edaran dari PGN as attachment, maka akan sangat berdampak pada industri industri yang terkena impact Gas off tersebut. Mohon kiranya dari rekan2x milis yang expert apakah ada solusi lain sourcing Natural Gas selain dari PGN mengingat di Plant kami sangat membutuhkan supply natural gas utk aplikasi furnace.

Tanggapan 1 – ‘SONI’

Pak Komar, lokasi plantnya ada dimana pak?

Tanggapan 2 – buddy cahyono

Pak Komaruddin,

Plant bapak ada dimana?

di plant kami (gresik) juga terkena dampaknya pak, kami mengantipasinya dengan membeli product CNG (compressed Nat-Gas).

Tanggapan 3 – haditomo_irawan

Pak Komaruddin,

Mungkin bapak dapat menghubungi PT Java Energy dgn contact person Bapak Fabekyus pak atau pak Andang Gunawan.

Tanggapan 4 – Triez

Mungkin maksud pak Irawan pak adalah pak Fabek dan Pak andang D.H.
Setahu saya memang Java Energy Semesta sedang mengembangkan CNG disana.

Dari dulu setahu saya memang pasokan gas gresik rada seret. Demand yang ada disana sangat tinggi, pasokan gas untuk industri kecil masih kurang makanya diambilkan additional supply dari Lengowangi 1 dan 2.

Tanggapan 5 – haditomo_irawan

Pak Komaruddin,

fabek@indosat.net.I’d utk alamat email pak Fabek Java energy

Tanggapan 6 – hadiwinoto_soedar

Saya coba share, bisa sementara pakai fuel dari CNG atau LPG. Dihitung dulu untung dan rugi masing2, termasuk kesediaan bahan bakar tsb. Semoga membantu.

Tanggapan 7 – prajudi71

Pak Komarudin

Mungkin saya bisa bantu untuk masalah CNG, silahkan ke alamat email saya
prajudi71@yahoo.com.

Tanggapan 8 – didin afandi

Selamat siang pak Komar,

Permasalahan gas shut off ini memang tidak bisa dihindari, baik oleh pelanggan maupun PGN. Hal ini semata-mata karena pasokan yang diterima oleh PGN masih terbatas, bukan karena PGN tidak profesional atau ada ‘main’ oleh PGN. Sekali lagi, saya rasa hal tersebut tidak dilakukan oleh PGN.

Pelanggan sih pasti inginnya gas mengalir 24 jam sehari, 7 hari seminggu agar operasional lancar. PGN pun juga demikian, karena dengan gas online ngalir terus, tentunya keuntungan juga ngalir ke kas PGN.

Tapi, jika shut off gas ini harus terjadi, pelanggan bisa menyiasati dengan menggunakan back up fuel. Setahu saya, biasanya burner didesain untuk dual fuel, misalnya gas dengan solar. Jadi, saat shut off gas terjadi, pelanggan bisa beralih ke solar sementara, sampai gas bisa mengalir kembali.

Mungkin ada saran dari rekan yang lain ?

Tanggapan 9 – ‘M. Komaruddin’ Dear Pak Didin,

Terima kasih atas sumbang sarannya. Memang secara teknik kita bisa pakai CNG atap LPG sebagai alternative. Tapi ini hanya short term dan secara business sangatlah tidak menguntungkan dikarenakan harganya sangat mahal dibanding supply Natural Gas dari PGN. Saya pribadi berpendapat sangatlah tidak nyaman ketika pemerintah tidak bisa memberikan solusi bagi industri yang sangat membutuhkan supply Natural gas dari PGN untuk process produksinya, apalagi rencananya shutt off selama 15 hari. Sebagai pemilik modal atau stakeholder di perusahaan kami secara helikopter view pastilah akan tidak happy apalagi customer kami juga pasti akan merasa seperti itu. Dampaknya pasti jika ada investasi mereka akan berpikir ulang untuk menempatkan di Indonesia, Surabaya pada khususnya dan customer akan mencari order dari tempat laen. Yang dirugikan pasti karyawannya secara langsung maupun tidak langsung. karena bisa jadi demand nya drop yang berakibat pengurangan karyawan dan PHK.

Tanggapan 10 – didin afandi

Pagi Pak Komar…..

Memang benar, jika pelanggan memakai alternatif fuel, pasti akan berdampak sangat besar terhadap proses produksinya, karena setahu saya harga gas PGN sangatlah murah dibanding jenis fuel yang lain.

Tetapi pelanggan dapat menghitung kembali kondisi produksinya berkaitan dengan adanya kenaikan biaya operasional ini, misalnya mengurangi jumlah produksi, atau meminta DP kepada konsumen, dll (silahkan rekan yang lain menambahkan untuk solusi pak komar).

Bagaimanapun juga, shut off ini pasti terjadi. Daripada pabrik kita mati total, lebih baik kan dapur masih bisa ngebul meskipun biasanya kita goreng ayam, sekarang cuman goreng tahu…..

Tanggapan 11 – Prajudi S

To. Pak M. Komaruddin

Saya memahami dan cukup merasakan kegelisahan serta kesulitan yang akan dihadapi oleh kawan-kawan di Jawa Timur dengan adanya perbaikan sumur Santos (Maleo) dimana PGN wilayah 2 mendapatkan pasokan gas dari santos yang kemudian dijual melalui jaringan pipa PGN.

Kalau waktunya masih memungkinkan mungkin saran saya Bapak bisa mencoba mencari alternatif menggunakan CNG atau LPG, karena bahan bakar tersebut pembakarannya relatif baik dibanding dengan solar dan menggingat pipa existing saat ini di manufacture bapak sudah menggunakan gas dari PGN jadi penggunaan CNG atau LPG relatif conectingnya tidak terlalu sulit.

Dan untuk ke depan saya sarankan Bapak mempunyai double fuel jangan single fuel ibarat kita bermain diInvestasi faktor resiko harus kita sebar Pak.

Demikian informasi yang dapat saya berikan kepada Pak Komaruddin semoga dapat membantu.

Tanggapan 12 – Teguh Santoso

Pak,

kalau gak salah bukan sumurnya yang perlu perbaikan, tapi kaki jack up yang di starboard yang perlu diperbaiki karena terjadi retak. isue akan adanya gas off dari maleo sudah ada sekitar satu tahun yang lalu, kalau gak salah pak hatta rajasa pernah bicara masalah ini, CMIIW. Jadi konsumen diharapkan sudah menyiapkan solusi sementara akan ada gas off.

Tanggapan 13 – ‘Arif SD [LOG-DCP/SBY]’

Ikutan nimbrung,

Rencana Gas Off dari PGN karena ada perbaikan sumur Santos (Maleo) dimana PGN wilayah 2 bukannya sudah diberitahukan ke seluruh customer pengguna LNG yang mendapatkan pasokkan dari PGN. Selaku konsumen, kita harusnya mengantisipasi hal-hal semacam ini seperti terhentinya pasokan energi tersebut dengan yang lainnya, CNG atau LPG.

Kami sendiri juga pelanggan PGN untuk keperluan unit galvanize kami, dimana kelancaran supply Gas PGN sangat diharapkan. Antisipasi yang saat ini memungkinkan adalah LPG dan CNG, dimana penggunaan kedua alternatif tersebut tidak perlu mengubah instalasi burner dan jaringan pipa yang sudah ada.

Tanggapan 14 – gurukinayan

Kalau beli yg double fuel suply apa masih bisa menjaga margin provit????

Saya yakin penanya memahami alternatif yg hrs di gunakan bila terjadi shut off fuel supply dan punya team technical yg menangani itu.

Namun apa mau di kata, single supplier…no choice…..

Pertanyaan lanjutan yg mendasar……di mana jaminan supply dr supplier terhadap konsumen…apakah telah ada dlm perjanjian schedule shut off etc, semua technical reason dpt diterima…bgm mn dgn kompensasi…..bisa2 ujung2 nya high cost n untouchable and mission invicible.

Tanggapan 15 – And Riawan

dalam bisnis gas di tingkat lokal indonesia: dapat di katakan penjual adalah raja, jadi penjual seperti nya bisa semau nya sendiri seperti kasus tersebut di bawah . . .

PGN ya harus bertanggungjawab sesuai kontrak yang sudah di sepakati: jika hanya beralasan di matikan dari sumur nya (shut off), apa beda nya PGN dengan perusahaan transport lain nya? yang hanya menyalurkan gas dari pemilik gas (KPS) ke konsumen. setau saya PGN membeli dan mendistribusikan gas(sbg pemilik dan distributor).

pembeli di surabaya & gresik spt nya tdk mau tahu mgkn krn ada jaminan ketersediaan dari PGN nya. ini yg membuat PGN menjadi sasaran tembak, bukan KPS nya.

mohon komentar yg lain

Tanggapan 16 – Teguh Santoso

Sedikit koreksi, penjual gas tidak bisa semau sendiri karena jauh hari sebelum lapangan gas dikembangkan sudah ada GSA ( gas sale agreement) yang menyangkut harga gas, besaran yang harus disupply penjual, besaran yang harus dibeli, dll.

Yang terjadi adalah kondisi platform yang tidak aman diluar perhitungan yang ada. saya kira PGN sangat optimis bisa menyelesaikan perbaikan kaki platform yang retak dalam 15 hari. Pekerjaan bawah air sangat tergantung cuaca. apalagi ada pekerjaan yang melibatkan alat angkat berat dalam pemasang penguat struktur (X-brace), ada hidrokarbon yang masih tersisa di dalam export line, JSA dan prosedur yang harus selalu diupdate selama pekerjaan berlangsung bila ternyata prosedur yang dibuat tidak bisa diaplikasikan dan harus dicari prosedur lain. dll. Pekerjaan yang perlu ekstra hati hati, mungkin bisa lebih 15 hari… CMIIW

Tanggapan 17 – And Riawan

Terimakasih tambahannya:

Pertanyaan:

1. Platform yang rusak apakah memang punya PGN ?

2. Export Line yang rusak milik PGN?

3. di dlm GSA tersebut apakah ada klausul take or pay atau minimum order? Setau saya dari dulu kalau mati gas selalu alasannya: dari sumbernya di matikan.

4. apakah di daerah Gresik hanya PGN saja sebagai distributor gas? masa tdk ada yg lain?

5. pembeli jika tidak dapat menyerap gas sesuai GSA, apakah di kenakan pinalti/ take orpay?

6. PGN jika tidak dapat menyuplai sesuai GSA, apakah di kenakan pinalti?

Mohon penjelasan…

Share This