Select Page

Sobat2 yang sudah bekerja di engineering consultan migas, tampaknya memiliki probabilitas yg cukup tinggi, untuk selangkah lagi pindah ke perusahaan minyak (oil company). Pertanyaannya: benarkah demikian? Jawabannya, RELATIF. Seperti diketahui, posisi di perusahaan minyak, untuk engineer dengan background pendidikan dan experience kerja di surface engineering adalah menjadi project engineer atau facility engineer atau operation engineer. Lazimnya, salah satu requirementnya adalah, memiliki PENGALAMAN pada fase ENGINEERING (minimum requirement), PROCUREMENT (nilai tambah), CONSTRUCTION (mandatory) dan OPERATION (preferable). Anyway, untuk memiliki experience di atas, bagaimana caranya?

Pembahasan – Mohammed Asyrofi

Berbagi Tips Menembus Perusahaan Minyak (untuk yang sudah kerja di EPC) berikut beberapa tips setelah kongkow2 di salah satu kafe kawasaan Orchad: Sobat2 yg sudah bekerja di engineering consultan migas, tampaknya memiliki probabilitas yg cukup tinggi, untuk selangkah lagi pindah ke perusahaan minyak (oil company).

Pertanyaannya: benarkah demikian?

Jawabannya, RELATIF.

Seperti diketahui, posisi di perusahaan minyak, untuk engineer dengan background pendidikan dan experience kerja di surface engineering adalah menjadi project engineer atau facility engineer atau operation engineer. Lazimnya, salah satu requirementnya adalah, memiliki PENGALAMAN pada fase ENGINEERING (minimum requirement), PROCUREMENT (nilai tambah), CONSTRUCTION (mandatory) dan OPERATION (preferable).

anyway, untuk memiliki experience di atas, bagaimana caranya?

sobat senior saya memberikan tips sederhana:

sedapat mungkin bekerja pada perusahaan yang memberikan service, mulai dari Engineering, Procurement, Construction, syukur2 sampai Commissioning & Plant Start Up. dengan kata lain, bekerja di EPC company.

atau bisa juga, sobat2 muda, mulai start bekerja di Engineering Consultant, cukup 1-2 tahun, pindah ke Contractor Company (yang scope of worknya ke pekerjaan2 field construction), atau Fabrication Yard (rancang bangun platform).

Seorang engineer desain yang hanya berkutat di belakang meja saja (detail engineering), tentu nilainya masih di bawah dengan engineer yang punya pengalaman mulai dari start up project (site survey, conceptual study, FEED, dan Engineering). Apalagi bila ada engineer lain yang pernah engineering desain, juga pengalaman fabrication, hingga instalasi dan konstruksi di field.

ibarat Anda ingin beli handphone, jika kebutuhan Anda, sebuah gadget dengan kemampuan: voice, message, internet, kamera, video, maka, tentu Anda akan memilih gadget dengan kualifikasi kemampuan di atas, apalagi jika dapat tambahan fungsi2 lain, misalnya berkirim email, facebook, dll.

begitu juga dunia oil & gas, sebagai user, tentu akan memilih pegawai dengan kemampuan beragam, sesuai atau lebih banyak daripada minimum qualification.

demikian lah.

Tanggapan 1 – DiAN Pe-A

nice share pak.

jadi kalau untuk yang pengalaman inhouse EPC mining (biasanya mining melakukan EPC nya sendiri), akan tetap sulit menembus Oil and Gas ya?

Tanggapan 2 – patra putra

Saya banget tuh pak, hehehehe.

tapi Menurut saya tidak jaminan,

karena EPC Company, tidak bergerak di bidang migas saja.

contoh kasus di tempat saya, dulu tender yang diikuti, Oil and Gas Facilities (Tanks terminal, Pipeline dll)

Sekarang core bisnisnya lebih Fokus ke Power Plant, yang jauh dari dunia perminyakan. karena code and standartnya pun beda…bukan API…dan factor safety tidak seketat di dunia Migas.

otomatis… bukan semakin dekat dengan core bisnis Owner migas, malah menjauh.

apa mungkin ini yang dicari owner migas? meski basicnya tetap sama.

Tanggapan 3 – harry baharudin

Mantab Pak Asyrofi tips-nya.

Tapi kalau menurut pribadi saya, seorang engineer akan lebih matang jika dimulai dulu dari fabrikasi/construction dulu baru ke engineering consultant baru ke owner/client terus ENTREPRENEUR (kalau bisa langsung jadi entrepreneur).

Sekarang banyak kita temukan hasil design engineering consultant kurang ada constructability-nya, mungkin rekan-rekan di fabrikasi/construction pernah mengalaminya.

Mungkin banyak fresh graduate di engineering consultant yang langsung disuruh incharge langsung ke project tanpa didampingi senior-nya.

Jadi dengan kita mempunya pengalaman di lapangan akan lebih realistis dalam mendesign sesuatu dan constructability-nya ada dan bisa dipertanggungjawabkan.

Dan tambahan lagi, tidak selamanya di Owner/Client itu nyaman, itu semua relatif.

Kalau saya lebih memilih mana yang bisa mengahasilkan lebih besar pemasukannya, bukannya kita kerja untuk cari duit, lain cerita kalau kerja cari status saja, secara sudah berlimpah duit.

Sekian dari saya, jika ada kata-kata yang tidak berkenan/benar saya mohon maaf itu semua datangya dari saya, jika ada kata-kata yang berkenan/benar datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa. (seperti ceramah di mushola…….).

Tanggapan 4 – Pandu Winarno

Flow process yang sistematik dan logis Pak Harry.

1. Fabrikasi/Construction – ngerti detail cara menginstalasi di lapangan, basic: kemampuan membaca dan memahami drawing engineering & document

2. Engineering Consultant – setelah cukup matang di lapangan, sekarang terlibat sbg perancang (barangnya sudah ngerti duluan), beda apabila baru lulus kuliah, nyemplung jadi desain engineer, banyak yg ngga tau barang aslinya, istilahnya catalogue engineer, atau PC engineer

3. Owner/Client – sudah matang dari hulu sampai hilir

4. Entrepeneur – kalo nyang satu ini, mbah gurunya, Ir. Arifin Panigoro dkk.

Tanggapan 5 – yose ma ruf

Tiap-tiap wilayah kerja ada plus minus nya (dalam hal teknikal). Dengan kondisi ini maka di dunia usaha kelas besar (bukan sekedar jualan warteg atau warung tenda) diharapkan ada kerjasama untuk mrncapai hasil yang optimal, dengan saling mengkoreksi pekerjaan.

Tetapi seiring dengan nilai bisnis (baca: caru untung besar), bentuk kerjasama tersebut menjadi kotor dan terciptalah sikap dari hirarki tanggung jawab hasil produk. Mulailah para ‘pemain’ di migas saling tuding dan menganggap pihak lain bodoh atau banyak kurang nya. Dan ini biasanya tanpa parameter kecuali berdasarkan pengalaman pribadi (padahal yang menuding bisa jadi pihak yang dianggap lebih bodoh).

Inilah kekurangan bangsa melayu (saya tidak bicara Indonesia saja) yang cepat memberi cap tanpa dasar dan parameter yang jelas sehingga tidak pernah bisa maju secara berkelompok (kalau sendiri-sendiri, saya yakin Indonesians jauh lebih unggul).

Jika kita berfikir ‘good teamwork’, pastilah kita bisa lebih mengerti batasan-batasan di pihak lain dan team kita atau bahkan dengan diri kita sendiri. Tak perlu menuding, tapi bisa menuntut sesuai batasan masing-masing.

Tujuannya sama bukan, tercipta hasil yang optimal

Kecuali jika didasarkan pada ‘kekuasaan’ dan penghasilan saja, silakan saling tuding menuding yang sama hal nya seperti perang sikap antara enterpreneur dan pegawai.

Tanggapan 6 – Ijeff fend

Intinya adalah ‘Nasib ‘ ikut berperan penting.

Tanggapan 7 – yusufnugrohomail

Sharing pengalaman yang baik sekali bapak2, namun tanpa bermaksud mendebat atau menyanggah, apakah fenomena orientasi karir ke oil n gas company memang merata di benak hampir seluruh engineer muda Indonesia? Tak adakah yang menambatkan jiwanya di karir Epc (maaf saya tak bermaksud mewakili golongan yang barusan disebut ini), bagaimana dengan engineer2 muda di negara2 jiran di kawasan asean? Asia? Dan belahan bumi lain? Apakah mereka yang sedang bekerja di epc juga memiliki pandangan yang sama tentang oil n gas company?

Bila iya maka merupakan kewajaran bagi saya dan bila ternyata tidak, maka saya penasaran mungkin saja kerja di epc di negara lain memiliki perbedaan dengan epc di Indonesia sehingga para engineernya cenderung lebih mantap dalam berkarir di epc (maklum belum merasakan kerja di epc negara orang :))

Saya tunggu sharingnya, karena seingat saya pertanyaan ini pernah saya ajukan dan belum ada yang menanggapi, hehe.

Tanggapan 8 – ‘rez_pt’

mungkin karena paradigma standar gaji oil n gas company di indonesia yang masih diatas rata-rata kalau dibandingkan industri lainnya. like it or not, sometimes it’s all about money..

dibandingkan dengan diluar (pengalaman saya, masih di asean), standar gaji epc dengan oil n gas tidak terlalu jauh, jadi tidak ada mindset untuk harus masuk oil n gas company dari para fresh graduate.

Tanggapan 9 – roni sartika

sy pernah tanya engineer jepang yang bidang nya industri manufacturing. mereka bilang standar penggajian di jepang sudah ter-standarisai, jadi bidang manapun relatif tidak ada gap gaji untuk suatu level posisi kerja, jadi tidak ada istilah nya mereka harus pindah ke yang lebih gede gajinya, seperti di negara kita bidang oil gas lebih besar gajinya, jadi disana mereka tetap konsisten menekuni bidang masing2. (seperti nya kembali lagi kepada yang membuat sistem).

Tanggapan 10 – Rania Indrianingsih

sektor migas adalah sektor yg padat modal (dan teknologi), namun less human resources.

itulah mengapa Chevron dalam iklannya, menyebutkan Human Energy.

kalau meminjam istilah dalam bukunya BJ Habibie, orang2 minyak itu sedikit, tapi isinya OTAK semua.

Tanggapan 11 – rccb suwandi

Selamat Siang Bapak Herry Putrato dan Rekan-rekan Milis Migas Indonesia.

Mewakili segenap Panitia Seminar Korosi Metallurgy and Material’s Week 2011, kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Komunitas Migas Indonesia dan juga Bapak Herry Putranto atas bantuannya sebagai pendukung dalam acara kami. Panitia juga ingin memohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan semenjak persiapan hingga pelaksanaan seminar tsb. Oleh karena itu, kami meminta dibukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya. Semoga seminar yang diadakan Ikatan Mahasiswa Metalurgi dan Material FTUI dapat bermanfaat khususnya bagi dunia akademik maupun industri yang berkecimpung dalam bidang pengendalian korosi.

Berikut saya lampirkan kesimpulan Seminar Korosi Metallurgy and Material’s Week 2011.

1. Keluaran seminar ini diharapkan dapat berupa informasi prioritas kegiatan riset untuk pemilihan material dan teknologi pencegahan korosi, dan membuka kesempatan untuk bekerjasama antar institusi , untuk mengatasi permasalahan korosi dan menekan kerugian atau biaya yang ditimbulkan oleh adanya proses korosi. (Prof. Dr. Ing. Ir. Bambang Suharno –Kepala Departemen Metalurgi dan Material FTUI )

2. Fakultas Teknik Universitas Indonesia, melalui Departemen Metalurgi dan Material akan terus meningkatkan kualitas lulusannya yang memiliki kemampuan dalam mengembangkan teknologi pencegahan dan penanggulangan korosi. (Prof. Dr. Ir. Bambang Sugiarto, M. Eng. – Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia )

3. Terdapat beberapa isu nasional dalam industri migas di Indonesia, antara lain pencegahan korosi untuk mengurangi shutdown fasilitas produksi yang berakibat tidak tercapainya produksi nasional. Oleh karena itu diperlukan kerjasama yang kuat antara industri ( dalam hal ini industri migas), perguruan tinggi, serta instansi pendidikan, dan penelitian di Indonesia. Dan juga, diperlukan survey, impact terhadap cost terhadap korosi danmaintenance di Indonesia. (Prof Dr. Ing Rudi Rubiandini RS).

4. Permasalahan korosi di industri migas di Indonesia tidak terlepas dari kesalahan dalam mendesain material yang digunakan. Kemungkinan faktor utama dalam mendesain material adalah pemilihan material yang tepat untuk aplikasi tertentu. Parameter yang digunakan pada material selection dapat berupa mechanical properties, cost production, dan ketahanan korosi. Sebuah info penting bahwa, saat ini Indonesia sudah dapat membuat pipa baja tahan korosi untuk lingkungan sour service (H2S) dimana bahan bakunya berasal dari dalam negeri.

5. Kegagalan dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori, diantaranya dependent failure, non-critical failure, random failure, dan lain lain. Kebanyakan kegagalan komponen disebabkan oleh faktor desain, operasional, material, dan lingkungan. Apabila kegagalan telah terjadi, yang diperlukan adalah suatu analisis yang jitu untuk mengatasi masalah tersebut dan cara untuk menanganinya.

6. Corrosion never sleeps, but it is controllable. Hal ini dikarenakan material baja masih diandalkan dalam industri migas. Kerusakan korosi dapat berdampak pada kehandalan, biaya dan lingkungan. Managemen korosi adalah isu penting untuk meminimalkan dampakSafety Health & Environment (SHE) yang disebabkan oleh kegagalan korosi, meminimalkan kehilangan produksi, mengurangi biaya operasi, dan memastikan integritas dari fasilitas produksi (Bapak Syamsu Alam, Bapak Mashudi, Bapak Ranto Manullang).

7. Pipeline Integrity Management diperlukan untuk security of supply, production sustainibility, low cost high revenue, dan SHE dapat tercapai. Tidak lupa pula koordinasi menjadi bagian penting dari pengendalian korosi (Bapak Ridwan Amir, Bapak Yoga Trihono).

8. Berbagai permasalahan korosi pada industri migas, diantaranya adalah Top of Line Corrosion, SCC, Corrosion Under Insulation, dan Korosi pada lingkungan CO2 temperatur tinggi yang dibahas pada seminar ini. Studi menyimpulkan (paradox) bahwa penambahan inhibitor tidak selalu mengurangi laju korosi, akan tetapi dapat saja meningkatkan laju korosi dikarenakan inhibitor korosi dapat mengurangi kemampu-adhesive lapisan pasif tersebut.

9. Berbagai metode penanganan korosi seperti kombinasi inhibitor dengan regular spray pigging, penggunaan material yang tepat seperti pipa baja, pipa fleksibel polimer komposit, dan inovasi cathodic protection perlu terus dikembangkan.

10. Metode Non Destructive Test (NDT) memegang peranan penting dalam asset integrity untuk mengetahui kondisi aset dan dalam membuat perawatan/perbaikan sesuai dengan kebutuhan. Masing-masing metode memiliki keterbatasan sehingga pemilihan metode harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi objek yang akan dimonitor. Dengan menggunakan metode NDT yang tepat, diharapkan kegagalan pada aset dapat dihindarkan dan shutdown fasilitas produksi tidak terjadi.

11. Teknologi pencegahan korosi saat ini sedang sangat berkembang baik untuk menangani internal corrosion maupun external corrosion. Pada industri migas, pencegahan korosi dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya Rustwrapp RP System, aplikasi greeninhibitor, Cathodic Protection Retrofit, dan protective coating system.

12. Teknologi Deepwater Offshore merupakan salah satu tantangan untuk meningkatkan produksi dalam industri migas saat ini, dikarenakan sumber migas di onshore maupunoffshore pada kedalaman yang relatif dangkal sudah memasuki titik jenuh.

13. Dibutuhkanlah peran yang sinergis antara pemerintah, pelaku industri, dan institusi pendidikan dan penelitian dengan membuka kurikulum baru mengenai teknologi deep water. Bagi generasi muda, penguasaan teknologi deepwater maupun subsea harus menjadi perhatian untuk dikuasai dan dikembangkan di masa depan.

Demikian kesimpulan dari seminar korosi ini, semoga kedepannya masing-masing pihak dapat berkontribusi semaksimal mungkin sesuai dengan perannya masing-masing untuk memajukan bangsa ini dalam hal penanganan korosi pada industri migas.

Tanggapan 12 – yose ma ruf

Di negara tetangga, kalau tidal masuk oil&gas company, apalagi milik pemerintah, bisa tidak cepat nikah dan masa depan ‘belum jelas’. 🙂 jadi ya tetap ‘it’s all about money’, untuk kawasan asean. Bukan karena masalah teknik atau edukasi.

Tanggapan 13 – yusufnugrohomail

Pak Yose, Pak Rez,

Terimaksih untuk tanggapannya. Menarik juga apabila std gaji bisa terpaut sedikit seperti pengalaman Pak Rez 🙂 dan secara pribadi inilah yang menjadi harapan saya, maksudnya agar ada keinginan dari teman2 engineer Indonesia untuk lebih mendalami kemampuan desain dan konstruksi, sehingga bisa mengimbangi kemampuan dan kegigihan teman2 di negara lain terutama etnis china dan india (saya menyebut etnis ini semata karena kagum dengan pencapaian mereka).

Tanggapan 14 – Pandu Winarno

to the point,

kita tuntut pemerintah c.q disnaker, penyesuaian standard salary untuk EPC company,

let’s say:

1. Fresh Graduate, upah minimum IDR 5 juta

2. Jr. Engineer, 1-3 tahun experience, upah minimum IDR 7 – 10 juta

3. Middle Engineer, 3-8 tahun experience, upah minimum IDR 11 – 20 juta

4. Sr. Engineer, 8-15 tahun experience, upah minimum IDR 21 – 35 juta

kalo hal ini bisa dipenuhi, mungkin aja cak Imin bisa jadi dpt award tahun 2012…xixixi

Tanggapan 15 – ‘rez_pt’

Sebenernya bekerja di epc itu lebih stressfull dibanding di oil company (pengalaman saya, di tetangga kuli epc balik kampung alhamdulillah bisa jadi kuli minyak). Dan kalo bicara masalah ilmu, ilmu yang didapat jauh lebih banyak di epc ketimbang di oil company (tergantung project yang dikerjain juga, kalo major project mantap opportunitynya). saya tidak tahu pasti standar gaji epc di indonesia, tapi kalo kontraktor besar seperti worley dkk, seharusnya on par dengan oil company..cmiiw

tapi di pandangan orang awam gengsi kerja oil company lebih besar. seperti di tempat saya sekarang, banyak orang daerah yang memandang kalo kerja di perusahaan xxx itu lebih mantap, gengsinya lebih besar daripada jadi juragan sawit (padahal kalo saya sih lebih milih jadi juragan sawit wkwkwkwk)

mungkin faktor stress juga membuat engineer2 malas ke epc?

Miliki Sekarang!

You have Successfully Subscribed!