Select Page

Fiberglass pipe bisa jenis FRP (Fiberglass-Reinforced Plastic) ? atau RTP (Reinforced Thermoplastic Pipe) ?

FRP merupakan sebuah bahan komposit (biasanya dari epoxy/polyester resin) yang dibentuk pipa. Spek standarnya sendiri ada di API Spec 15LR (Untuk Low Pressure) dan 15HR (Untuk High Pressure). Sedangkan RTP merupakan pipa plastik (Biasanya polietilen) yang dibalut dengan menggunakan Fiber. Speknya kalo nggak salah ada di API RP 15S.



Tanya – Agus Priya agus_priya@pusri


Mohon pencerahan tentang fiberglass pipe, keunggulan dan kekurangan jika disbanding yang umum…
Aplikasi yang tepat dengan menggunakan fiberglass pipe?? Ketahanan korosi???  (semua informasi tentang fiberglass pipe????)
thks sebelumnya


Tanggapan 1 – rudi daulay


Saya akan menaggapi pertanyaan bapak dan saya bisa mengasi masukan untuk fiblerglass pipe sebaiknya menggunakan dari jenis composite material karena lebih bagus kuat dan tahan terhadap korosi memang composite material ini adalah konstruksi masa depan yang tepat guna bisa untuk pesawat, kapal, konstruksi bangunan gedung dan alat transportasi lannya dan sudah terbukti perusahan2 eropa sudah mulai banyak dalam penggunaan composite material dan juga berdasarkan pengalaman yang saya alami memang sangat tepat penggunaan material ini terima kasih semoga bermamfaat informasi yang saya berikan ini kalo mau menanyakan yang banyak hubungi saja saya


Tanggapan 2 – Ovulandra Wisnu owisnu@chevron


Fiberglass pipe bisa jenis FRP (Fiberglass-Reinforced Plastic) ? atau RTP (Reinforced Thermoplastic Pipe) ?

FRP merupakan sebuah bahan komposit (biasanya dari epoxy/polyester resin) yang dibentuk pipa. Spek standarnya sendiri ada di API Spec 15LR (Untuk Low Pressure) dan 15HR (Untuk High Pressure). Sedangkan RTP merupakan pipa plastik (Biasanya polietilen) yang dibalut dengan menggunakan Fiber. Speknya kalo nggak salah ada di API RP 15S.

Dari pengalaman kami :

Kelebihan FRP dibanding CS Pipe :
> Lebih tahan terhadap korosi, akibatnya lifetime pipa lebih lama dan tidak perlu corrosion inhibitor, cathodic protection, dll
> Surface Roughnessnya lebih bagus, friksi lebih kecil, akibatnya Pressure drop bisa lebih kecil, kapasitas bisa bertambah, minimali
> Pemasangannya lebih cepat daripada CS, terutama untuk pipa jarak panjang
> Customizeable antara High Pressure (Sampai dengan 4000 psi) dan Low pressure, jadi kita bisa pilih yang sesuai kebutuhan
> Customizeable dalam pemasangan,bisa mechanical joint (pakai thread, flange) atau adhesive (pakai lock, taper)
> Operasional costnya lebih rendah, terutama untuk fluida korosif

Kekurangan FRP dibanding CS Pipe :
> Beberapa jenis FRP tidak tahan terhadap UV, well….yah nggak semua sih….
> Coating FRP lama-lama jadi putih kalo sering kena panas
> Pemasangan kudu pakai alat khusus/lem (untuk yang adhesive) dan orang yang masang kudu terlatih
> Kalau tertimpa benda berat cenderung fatique, malah bisa bocor
> Kalau bocor lebih susah nambalnya
> Lebih mahal untuk biaya investasinya
> Ada expiry date-nya
> Kurang tahan vibrasi
> Tebel
> Temperature Ratingnya terbatas

Pemakaian yang layak untuk FRP :
> Berdasarkan Fluidnya : Brine Line, Disposal line, Fluida korosif,
> Berdasarkan Lingkungan pipanya : Pemasangan pipa di kondisi lingkungan yang korosif (misalkan diatas brine pit, di laut, road crossing, dll)

Awas hati-hati, pemasangan yang melewati perkampungan penduduk sedianya jangan FRP, atau setidaknya pakai FRP yang high pressure lah…

Kalau RTP :
Kelebihannya :
> Lebih mudah (dan cepat) lagi dipasang daripada FRP, karena berupa gulungan, tinggal digelar…beres
> Bisa sampai 600-1000 an psi
> Tidak korosif
> Cenderung safe terhadap UV

Kekurangannya :
> Size terbatas
> Hanya bisa pada suhu rendah

Semoga bisa sedikit membantu

Thank You,


Tanggapan 3 – Arief Yudhanto


Yang dimaksud Pak Agus mungkin GFRP (glass-fiber reinforced-plastics). Ini salah satu jenis bahan komposit yang lumayan populer di berbagai industri, misal: pswt terbang, migas, otomotif, dll.

Keunggulan:
– kekuatan bisa diatur (tailorability)
– kekuatan lelah (fatigue) baik
– kekuatan jenis (strength/weight) tinggi
– tahan korosi.

Kekurangan:
– cukup mahal untuk diproduksi, sehingga hanya komponen atau bagian tertentu saja yang dibuat dari komposit
– sensitif terhadap higrotermal

Komposit yang terbuat dari serat gelas atau komposit hibrid biasanya digunakan untuk mengalirkan aqueous fluid dan natural gas.

Konfigurasi pipeline ada juga yang menggunakan steel strip laminates (SSL); SSL adalah komposit sandwich yang terdiri tiga lapisan: lapisan luar dan dalam terbuat dari komposit serat gelas, sedangkan lapisan tengah adalah baja. SSL diharapkan mampu menahan tekanan tinggi, namun tidak terlampau mahal ketika diproduksi. Bonding antara baja dan komposit diakomodasi dengan perekat yang dipakai untuk rocket motor casing.

Meski agak ribet dan fiber volume fraction yang dicapai paling-paling 50%, kita bisa membuat komposit serat gelas sendiri dengan metode hand lay-up. Jadi, komposit serat gelas ini bisa dikerjakan oleh home industri.

Semoga membantu.


Tanggapan 4 – Rofiudin rofi@sulfindo


Pak Agus.

FRP yang jelas non metal, jadi lebih tahan korosif dibanding carbon steel, keunggulan dan kekurangannya sudah banyak yang menjelaskan. Ada beberapa resin yang harus digunakan sesuai dengan chemical yang akan mengenainya (misal untuk Brine, water, Cl2 gas, etc), pemilihan resin juga sesuai fungsinya semisal untuk corrosion barrier bagian dalam (biasanya 2 mm) lalu bagian structurenya dipilih yang lebih tahan dan lebih murah harganya. Bisa juga di aplikasikan bersama C-PVC / U-PVC, dimana pipa PVC untuk melawan fluida corrosive lalu dilaminating denga FRP tadi untuk kekuatannya kemudian bagian atas di beri anti UV agar tahan dari UV, jangan lupa aplikasikan primer untuk bonding dengan PVC (lem roket motor casing?).
Reinforce (Glass matt) yang di aplikasikan juga ada beberapa macam (WR, CSM, etc) dan susunannya juga ada syaratnya(misal habis Woven Roving tidak boleh di Woven Roving lagi), untuk lebih jelas dan detailnya bisa hubungi saya via Japri dan akan saya berikan alamat yang bisa anda tanya sepuasnya.
Semoga bisa membantu………


Tanggapan 5 – Mico Siahaan


Pak Agus,

Keuntungan fiberglass/composite pipe:
1. Tahan korosi, baik bagian internal maupun eksternal pipa
2. Jauh lebih ringan dari carbon steel. Ini yang dikatakan Pak Roeddy sehingga cocok untuk digunakan di struktur yang mempertimbangkan bobot seperti offshore platform, FPSO. Density composite: 0.06 lb/cu.in
3. Tahanan/friksi yang kecil. Carbon steel roughness: 0.0015 ft, composite: 0.00017 ft
4. Bahan composite bukan tempat tumbuh yang ‘nyaman’ bagi organisme seperti ganggang, lumut
5. Tahan api, tidak memerlukan fire blanket
6. Composite adalah penghantar panas yang buruk sehingga temperatur fluida dalam sistem cenderung ‘stabil’

Kerugian:
1. Teknik desain sistem composite lebih sulit dibanding sistem carbon steel.
Desain yang tidak tepat dapat membuat sistem berfungsi tidak sesuai harapan.
2. Harga lebih mahal dibandingkan carbon steel. Namun jika mempertimbangkan lifetime cost, mungkin bisa lebih murah dibandingkan carbon steel. Karena jika didesain dengan baik, composite pipe dapat bertahan 30 tahun dengan ‘zero maintenance’ (tidak perlu dicoating, jarang perlu dilakukan pembersihan)
3. Operating pressure lebih rendah dibandingkan carbon steel.

Aplikasi composite pipe untuk industri chemical: Piping untuk brine, ClO2, Gas Klorin, HCl, H2O2, NaClO3, NaOH, H2SO4.


Tanggapan 6 – malik.ibrahim@singgar-mulia


Tapi apakah bila ada kerusakan, pipa tsb bisa dilas biasa? Atau mungkin lebih ke fusion welding ya? Kalau dilas pakai metoda fusion welding on site, bukannya lebih susah ya..?


Tanggapan 7 – Rofiudin rofi@sulfindo


Pak Malik,

Setahu saya FRP tidak bisa dilas, bila bocor ya di potong di bevel dan disambung dengan pipa baru secara laminating atau di thread atau di joint dengan flange dan diberi gasket dan dibaut…..


Tanggapan 8 – Agus Priya agus_priya@pusri


Nah lho, gimana jadinya kl saya pengen bikin tap point baru, dengan size yg le
bi kecil???

line drain??? vent???
gimana masangnya ya???//


Tanggapan 9 – essam amar


Pak Agus,
Untuk bikin tap point baru ada dua cara :
1. untuk pressure rendah, yang dipakai adalah sambungan saddle, yaitu sambungan yang menempel ke pipa utama.
2. untuk pressure tinggi, harus pakai tee reducer.
Koneksi yang dipakai adalah threaded dan flanges. Untuk nyambungnya biasanya ada lem khusus untuk nyambung FRP.


Tanggapan 10 – Anshori Budiono


Pak Agus Priya,

Kalau drain/vent, sebaiknya sudah dipertimbangkan di saat mendesign pipa, jangan pakai teknik tambal sulam.

Rekan-rekan sudah memberikan banyak input yang sangat baik sebagai best parctices dan lesson learnt. Intinya adalah sebelum mengambil keputusan menggunakan FRP, lakukan dulu tecnical dan economic assessment, risk assesment dan mitigation plan atau hazard analysis (hazan) untuk penggunaan FRP case per case.

Kalau kemudian FRP Pipe menjadi pilihan, jangan lupa untuk hal-hal berikut dibawah ini yang juga dimasukkan ke dalam mitigation plan.

1. Lakukan desain pipa dengan benar dan mempertimbangkan stress, vibration dan hammer dari sistem pemipaan secara keseluruhan. Kalau internal tim belum punya pengalaman untuk itu, sebaiknya menggunakan jasa konsultan atau engineering Company untuk melakukannya seperti Singgar Mulia, Amec, Worley Parson, Tripatra, dsb….

2. Mempertimbangkan rencana ke depan yang terkait dengan line yang mengggunakan FRP pipe tersebut. Jika ada kemungkinan akan melakukan tie in ke pipa FRP pipe pada masa yang akan datang, maka sediakan future tie in point berupa nozzel yang dilengkapi dengan valve yang di- blinded.

3. Meminta manufacture atau representativenya untuk melakukan training /work shop dan practical work kepada operator/maintenance team untuk cara-cara pemasangan dan repair FRP pipe tersebut sebelum FRP pipe di-install. Kalau perlu, paksakan tim maintenance agar ikut serta melakukan witness pada saat pemasangan pipa FRP tersebut.

4. Melakukan assesment terhadap spare part FRP pipe dan fitting yang harus di stock dan membeli nya, termasuk resin untuk penyambungannya. Resin mempunyai life time. Jadi jangan lupa untuk selalu mengganti stock resin yang sudah kadaluarsa dengan resin baru jika resin sudah kadaluarsa.


Tanggapan 11 – Arief Yudhanto


Sedikit menambahkan,

Ada baiknya kalo pak Agus membaca dokumen mengenai komposit, seperti DNV-OS-C501, dll. Karakteristik dan perilaku komposit lebih kompleks dari logam, apalagi ketika dia diberi beban hygro-thermal, bisa swelling. Damage pada komposit agak insidious (tersembunyi) jadi mesti berhati-hati ketika melakukan inspeksi. Menghitung kekuatan komposit ketika diberi beban termal atau statik bukan hal yang kompleks. Dalam DNV code yang saya sebutkan tadi, tidak diberikan detail perhitungannya, tapi ada beberapa buku atau dokumen lain yang bisa memberikan guidance dalam perhitungan matematiknya. Tidak kompleks kok, hanya 3D Hooke’s Law saja; tapi memang agak panjang. Perhitungan sederhana bisa dilakukan dengan tangan, lalu dibandingkan dengan pipa logam dari segi kekuatan, biaya, dll. Untuk perencanaan jangka panjang dan praktik lapangan, sepertinya memang memerlukan training dari vendor.


Tanggapan 12 – Anggit, Santia (Istech)


Rekans,

Sumbang saran dari practical view untuk melengkapi teoritical view :
dari pengalaman memakai GRP untuk main fire water line di onshore / offshore gas compression and production platform dapat saya tambahkan beberapa karakteristik yang kurang menguntungkan (jika dibandingkan dengan carbon steel): tidak tahan terhadap mechanical shock impact pada body (terbentur, terpukul) maupun sambungan (water hammer effect), sulit mencari tenaga ahli penyambungan (jauh lebih banyak welder 6GR) yang bersertifikat (semacam Migas Certified Welder), sulit mencari spare parts (mungkin karena volume pemakaian tidak banyak, disamping tiap
pabrik punya spesifikasi yang berbeda), metoda QA/QC belum baku (atau kurang familiar?).

Malah karena alasan-alasan praktis seperti diatas, pernah ada bagian GRP diganti dengan carbon steel.


Tanggapan 13 – Rofiudin rofi@sulfindo


Bapak Agus Priyo yth.

Bila menginginkan pasang drain, vent atau mau Tie in ke lebih kecil dlsb. Ya mudah saja, contoh mau membuat venting dia. 1″ dari Header pipe dia. 12″ excisting, dengan cara melubangi pipa header tersebut pada bagian atas dengan gerinda atau hole saw agar rapi lalu pipa vent (nozzle) yang sudah diberi flange (pokoknya sudah siap lah) dipasang di lubang tersebut dan dilaminating dgn FRP (buat campuran resin dan katalis 1000 : 5~10 tambah cobalt dua~tiga tetes, oles, pasang tissue matt(yang corrosion barier lho), CSM, ya laminating biasa lah) tunggu sampai kering. ingat jangan apply layer selanjutnya bila belum kering(disentuh tangan tidak lengket), bila terpaksa maka maximal adalah 3 layer, atau anda tidak akan pernah mendapatkan kering maximal layer yang ada didalam alias reject. curing time tergantung jumlah katalis, tapi normal adalah satu sampai satu setengah jam.

Jadi mau di sambung ke mana saja tidak masalah, seperti menambal genting yang bocor dengan resin di toko bangunan.
ada yang mungkin menambahkan atau mengoreksi?

Tanggapan 14 – Ikhsan@asc


Tambahan,
Installasi FRP pipe di site terkadang bisa tidak sempurna/kesulitan  terutama joint flange to flange sehingga harus di potong utk penyesuaian,  hal ini terkadang di laminating + resin dll sehingga tidak sama lagi dgn  fabrikasi FRP yg sebenarnya .

Pernah saya melihat pekerjaan joint flange to flange yg tidak pas  memasukkan bolt & nut sehingga di buat hole2 baru di sebelahnya & yang lama  cukup di tutup dgn laminating+resin….saya tdk terlalu paham apakah ini  cukup kuat.
Kendala lain dari FRP pipe adalah pengencangan flange to flange yg butuh  perasaan untuk menghindari crack & butuh perhatian khusus saat bongkar  pasang dgn chain block/crane dsb.

Jika terjadi kebocoran karena sesuatu hal , sangat sulit di repair/clamp  saat masih service.
Tetapi saya sangat setuju jika pemakaian FRP pipe untuk fluida/gas yg  corrosive, temp < 70 oC & non organic serta utk keinginan melihat/monitor  transparansi aliran.


Tanggapan 15 – Rofiudin rofi@sulfindo


Yth Bp Ikhsan.

Masalah yang pernah bapak lihat itu sebenarnya kesalahan dari pemasangan, bila semuanya sudah diperhitungkan tidak akan terjadi hal demikian.
Betul bila dalam pengencangan FRP perlu hati -hati, tapi kalau di ikuti instruksi pengencangan yang silang dan bertorsi tidak akan ada masalah, terus untuk penyambungan flange di lapangan (missal tambah valve butterfy)sebaiknya rangkai dulu satu flange terhadap pipa yang sudah dipotong setelah kuat rangkai gasket, valve dan flange lawan, lalu kencangkan yang kuat baut, baru disambung laminating dengan pipa satunya, cara ini tidak akan ada stress karena pengencangan baut atau tidak ketemunya lubang baut, semua itu kembali ke cara pengerjaan yang benar.
Yang dimaksud merangkai di site kadang menemui kesulitan itu bagaimana ya? karena FRP maupun CS walaupun baru pasti memerlukan “dirangkai di lapangan” karena panjang FRP 4 atau 6 meter.

Kecuali untuk FRP yang sudah parah karena sudah terkorosi oleh gas CL2, penyambungan harus menemukan FRP yang masih bagus dengan menggerindanya tebal sekali, baru kerjaan kita akan bagus. Untuk line gas Cl2 atau yang mengandung free Cl2 temp diatas 60 deg C yang sangat korosif tidak ada pilihan lain kecuali pipa FRP atau Hive pipe (semacam FRP tetapi ada kandungan asbes kalau gak salah), jadi pemilihan pipa benar-benar tergantung kimia yang melaluinya(juga press, temp dll tentunya).
Untuk FRP bila terjadi kebocoran dan masih service bisa di mainkan kok asal tahu caranya saja dan kami sering melakukannya (ya pastinya dengan susah payah). Pipa carbon steel juga susah kalau ada masalah tapi kalau tahu caranya ya bisa di akali juga. Sebagai contoh bila ada pipa carbon steel dia. 1″ korosif lalu tiba-tiba terpotong dan masih ber udara tekan 8 bar, pabrik tidak mau stop, bisa juga kok dihentikan, asal tahu caranya saja (dan ini pernah dilakukan).


Tanggapan 16 – roeddy setiawan


Pak Agus,

kalau untuk design yang convetional saya rasa sekarang ini belum bersaing dalam harga kalau dibanding dengan carbon steel. tapi untuk special application misalnya untuk water flood (polymer flooding) yang mensaratkan injected water tidak boleh bersentuhan dengan carbon steel barangkali cocok. keuntungan lain karena kita beli nya bisa gulungan/reel. installasinya lebih cepat. Jadi ngak perlu menyambung, terus Xray dll tiap 30 ft ???. Di Amrik pipa diameter kecil ini populer sekali buat menyalurkan Gas dr sub trunkline ke pemakai ahir(rumahan) yah karena proses nya cepat. dari segi proses, karena surface nya smooth delta p nya rendah sekali dibanding carbon steel (dengan ukuran yng sama), jadi anda bisa pakai size yang lebih kecil.

Di deep water, cocok dipakai buat fresh water line, seawater cooling line, karena ringan. jadi load terhadap say TLP pontoon ringan, at the end TLP nya makin kecil, steel yang dipakai makin sedikit, overall cost makin murah. tapi kalau di banding apple to apple composit ini yah ngak bisa menang.

Applikasi yang cocok lagi adalh untuk fire water line ke sprinkler di atas well head. kalau kita pakai CS untuk sprinkler ini, baru dipasang sudah hancur karena korosi. tapi yah bisa berantem seru dengan teman2 yang agak conventional. alasannya kalau compositnya terbakar, mana bisa sprinkler nya berfungsi dan lain lain (selamat berantem ha he kiding). saya yakin nanti rekan milis bisa menambah item diskusi ini.


Tanggapan 17 – Crootth Crootth


Mas Roeddy,

Saya kira terlalu dini mengatakan bahwa FRP atau GRP cocok untuk digunakan untuk deluge line, mengingat incompatibility material FRP/GRP terhadap Fire..
hanya butuh waktu 10 detik untuk FRP berbahan Vinyl Esther untuk ikutan terbakar, pada radiasi 80 kW/m2 (radiasi yang bisa dihasilkan oleh suatu jet fire hydrocarbon gas). Masalah lain adalah ketahanan puncture terhadap third party interference (excavator).

Tanpa mengurangi keunggulannya beberapa tipe FRP memiliki toxicity seperti Phenolic, dan Acrylic, dan factor ini perlu diperhitungkan untuk bagi penggunaan nya sebagai potable water line. Secara umum FRP telah dikembangkan sedemikian hingga memiliki Ultimate Yield Strength yang excellent.

Sekali lagi, perlu risk assessment sebelum benar benar ingin menggunakan FRP.


Tanggapan 18 – roeddy setiawan


Pak Croth,

Iya memang kasus ini di oil and gas debatable, yang engak habis habis nya. hampir seperti penggunaan sprinkler (bener ngak nih ejaan nya) di well head.

maksud saya begini. sprinkler issue di well head.

di tahun 80 – 90 an, semua platform di tempat saya, memakai CS untuk supply fire water ke sprinkler yang dipasang di well head. tapi applikasi model begini problematic, teman di FS dan platform manual mengharuskan sprinkler di test tiap 6 bulan. jadi sprinkler di jalankan, enam bulan lagi kita balik buat ngetest lanjutan.
waktu kita kembali, ternyata banyak sprinkler macet karena tersumbat karat, pipa bocor ka
rena korosi, (dibaca setelah di test pipa itu jadi kosong tapi sekarang humid plus bergaram) jadi teman2 di construction tak henti2 bawa barge mondar mandir cuman betulin fire water system.


tahun 90 -95. saya pakai Bonstrand dan, sekaligus fiber glas grating, excellent, kita pasang di 4 platform baru, construction happy, production juga happy, yang inspect ( lokal inspector untuk function test dan house keeping) selalu muji2 ngasih raport bagus. beberapa tahun kemudian kita adakan good-ops, maksud nya pik up the best brain dari area lain. e eh yang disorot yah itu fire water system, dan fiber glass grating.. issue nya yah ketahanan terhadap api seperti pak crooth bilang, circular email bertebangan kemana2 engak habis habis. platform sudah jadi, sudah operate, malah dibikin peer review lagi. banyak masalah. platform generasi selanjutnya pake cooper nickel very good tapi mahal banget.

nah itu yang saya bilang selamat berantem, tapi opini saya tentang sprinkler juga belum berubah, beberapa fire report termasuk yang di alami sendiri ternyata ngak jelas dimana membantu nya. barangkali teman milis yang di java sea atau malaka straight yang kebetulan punya post fire insident review bisa share tentang fire sprinkler issue ini. saya kira problem ini unique buat yang beroperasi di offshore

Untuk deep water banyak operator pakai composit pipe ini sekarang, karena in overall helping initial investment cukup significant dan risk nya di grade acceptable (ini opini saya subjective juga).


Tanggapan 19 – Crootth Crootth


Menurut saya yang paling berperanan adalah bagaimana memaintainnnya.
Bukan hanya pengetesan setiap enam bulan sekali, melainkan juga kualitas air (fire hydran) nya. Tidak ada cara ces-pleng memang untuk memaintain air dalam sistem deluge yang lebih banyak diem nya ini, tapi setidaknya mengurasnya lebih sering adalah hal yang lebih baik dibanding pengetesan hanya dalam 6 bulan sekali.

Beberapa laporan (dalam Journal of Loss Prevention in the Process Industries selama tahun 2004) juga menunjukkan efficacy penggunaan deluge ini, bahkan beberapa menyatakan ketidakefisienan penggunaan deluge water.

Laporan Prof Gibson dari University of Newcastle Upon Tyne menyatakan “Phenolic FRP seriously affected by seawater at above 100 degC”. Berat FRP dilaporkan meningkat hingga 2.2% berat pada rentang temperatur ini yang menyebabkan Phenolic FRP tidak hanya “grogi” dalam melawan api (di bagian luar dinding pipa) tapi juga menerima beban “mengandung” lebih banyak air (dari bagian dalam dinding pipa) pada saat terjadi kebakaran.

Saya pribadi tidak terlalu favorit menggunakan deluge sistem, karena beberapa kelemahannya kecuali memang maintenance nya bisa diandalkan.


Tanggapan 20 – roeddy setiawan


dear pak crooth,
sengaja dilewat baca nya ya, jadi pembicaraan nya ada terus he he e kidding. ini problem offshore, jadi ngak ada fresh water disini. ini yang membuat jadi ruwet. kalau onshore sih berbeda pakai CS saja piece of cake kata teman saja. yang paling sulit di header sprinkler sekali seawater masuk ke CS, terus ter drain via sprinkler. ruangan di header itu, sekarang humid, salty dan ada udara nya, enam bulan maximum satu tahun header itu sudah keropos, sprinkler nya banyak yang tidak jalan karena buntu.

sebetulnya yag saya ingin share nya bagai mana experience operator lain, dengan sprinkler di well head ini, beberapa investigative post fire incident ternyata opini yang terlibat langsung di incident ini, fire sprinkler kelihatan nya tidak bisa suppres fire (boleh dibilang ngak sesuai dengan harapan selain chilling effect terhadap equipment yang ada disitu) ini juga baru dugaan. 90 % fire incident ini di hentikan via chemical .


Tanggapan 21 – Indra Prasetyo@medcoenergi


Dear Pak Agus,
Saya coba bantu menjawab pertanyaan bapak mengenai pipa FRP (Fiberglass Reinforced Pipe);

Kekurangannya: harga material (pipa) nya lebih mahal daripada pipa Carbon Steel (CS)

Kelebihannya:
– Konstruksi (pemasangannya) relatif lebih cepat dan lebih murah daripada pipa CS (nggak perlu welding, X-Ray, dsb)
– Tahan terhadap korosi (external & internal) sehingga nggak perlu lagi chemical corrosion inhibitor, biocide, oxygen scavenger dsb untuk mengendalikan internal corrosion, dan nggak perlu juga coating, cathodic protection
– Internal pipe roughness-nya lebih kecil/rendah daripada pipa CS sehingga bisa pakai diameter yang lebih kecil (untuk sedikit mengkompensasi kekurangan diatas)
– Untuk desain jangka panjang (mis. lifetime 20 tahun) overall costnya lebih rendah daripada pipa CS. Investasinya memang lebih tinggi tapi maintenance free.

Kalo perlu info lebih lanjut boleh menghubungi saya via japri.


Tanggapan 22 – Agus Priya agus_priya@pusri


Salam P. Indra

Terimakasih atas infonya pak..
kl boleh tau di Medco sendiri apakah  sudah banyak digunakan??
Kl di plant ytempat saya bekerja, memang  belum ada yang menngunakan fibberglass pipe, karena mungkin FBR mash reletif baru?? (cmiiw)
trus yang jadi menarik gimana cara install fiting to fitingnya elbow, flange, valve…??
kl memang tidak ada pekerjaan welding  Apakah cocok juga untuk fluida tekanan tinggi (HP Steam, Syngass???) pembagian kelasnya sendiri apa juga menggunakan “Schedule”?? material properties, kl di indonesia apakah memang sudah byk digunakan??
Satu lagi pak.. gimana caranya ketika kita mau hot tap??? itu dulu pak pertanyaan saya,.. maaf banyak yg ditanyakan mumpung ada yg ngasih tau…:)


Tanggapan 23 – Indra Prasetyo@medcoenergi


Pak Agus,
saya coba jawab yah pertanyaan bapak;

Di Medco FRP kita gunakan untuk water injection dan water transfer lines. Saat ini kita sedang melakukan pemasangan FRP untuk WI line di lapangan Kaji Semoga. Untuk instalasi fittingnya (FRP to FRP) menggunakan threaded atau bonded joint (yang sedang kita pasang sekarang menggunakan threaded joint). Sedangkan untuk FRP to CS bisa menggunakan flange. Untuk tekanan (rated pressure) ada yang bisa sampai 3000 psig (static @150 F). Pembagian kelasnya biasanya menggunakan “series” misalnya 4″ series 500 mempunyai wall thickness 0.09 inch, ID 3.85 inch, rated pressure 500 psig (static @150 F), kalau 4″ series 2000 mempunyai WT 0.35 inch, ID 3.85 ich, rated pressure 2000 psig (static @150 F).

Mudah2an membantu.


Tanggapan 24 – haris kurnianto


Pak Indra,
Kalo boleh tahu, sudah selesai instalasinya??? dulu kami kesulitan instalasi, kr threaded. trus kalo series 2000 nich, hydrotest (pipeline) tekanan berapa??? sy lebih prefer dengan CS kr setelah dihitung-2 cost-nya lebih tinggi FRP.


Tanggapan 25 – Indra Prasetyo@medcoenergi


Dear Pak Haris,

Instalasi FRP di Kaji sudah mendekati selesai (sudah 80% lebih progressnya), kita pasang pipa FRP seri 1750 dan akan dihydrotest pada tekanan 2000 psig selama kurang lebih 4 jam (sesuai dengan rekomendasi dari vendornya).
Untuk handling dan installation kita minta kontraktornya yang melakukan, jadi kontraknya pengadaan sekaligus pemasangan sampai selesai. Untuk cost seperti yang sudah pernah saya sampaikan sebelumnya, untuk investasi atau pembelian material pipanya memang FRP lebih mahal daripada CS (tapi bisa diminimize dengan membeli p
ipa FRP dengan diameter yang lebih kecil) tetapi untuk long life design misalnya 10-20 tahun, costnya secara keseluruhan FRP akan lebih rendah daripada CS.



Tanggapan 26 – Wisnu owisnu@chevron


Kami banyak menggunakan FRP pipe untuk onshore facility kami, seperti Waste Brine Line, Water Injection Line, Fresh Brine Facility dan beberapa chemical facility. Memang secara investasi (material) sudah pasti harganya akan lebih murah CS. Tetapi untuk beberapa kondisi tertentu yang corrosion risk-nya tinggi, untuk mengurangi beban operational cost (Ganti pipa tiap tahun, penggunaan chemical,dll), kami tetap menggunakan FRP. Perhitungannya jadi harus jangka panjang dengan melibatkan perhitungan investasi+operasional cost.

Saya kira kesulitan pemasangan bisa diatasi dengan melakukan diskusi dan komunikasi terus menerus dengan vendor FRP yang bersangkutan. Mereka biasanya juga akan membantu kita untuk menentukan jenis sambungan yang baik, cara pemasangan, cara pengetesan dan teknis perlindungan / perawatan, dll. berdasarkan data yang kita miliki (Termasuk dalam hal ini posisi pipa, vibration, stress,dll). Kalau perlu panggil beberapa vendor untuk berdiskusi..

So, have fun aja pak….


Tanggapan 27 – Kajuputra Elpianto@Halliburton


Rekan2 Yth,

Bahan FRP ini juga dapat digunakan sebagai bahan perkuatan struktur beton yang disebut bonded steel plate.

FRP di sini bisa Fiber Reinforced Plastic atau Fiber Reinforced Polymer.

Metode pelaksanaan yang mudah serta cepat membuat metode ini semakin favorit bila dibandingkan dengan metode perkuatan struktur beton yang lainnya.

Pada tahun 1960-an di Switzerland dan Jerman, sebuah metode perkuatan struktur beton bertulang dengan aplikasi bonded steel plates dikembangkan berdasarkan hasil kerja dari L’Hermite dan Bresson. Prinsip dasar dari metode ini cukup sederhana, yaitu pelat baja atau elemen baja lainnya dilekatkan pada permukaan beton menggunakan dua komponen adhesive epoxy yang menghasilkan 3 lapisan beton-pelekat-baja sistim komposit. Perkembangan dari epoxy adhesive berkualitas tinggi dengan metoda pelaksanaan yang mudah dan cepat merupakan kunci sukses dari metode ini untuk diterima oleh para praktisi.

Bonded steel plates merupakan perkuatan tambahan dari tulangan utama pada struktur eksisting untuk mengurangi tegangan yang terjadi pada tulangan utama sampai pada level yang diijinkan. Pelaksanaan dari metode ini menuntut keahlian dari pekerjanya. Persiapan dari permukaan yang akan berhubungan dengan sistim komposit harus dilaksanakan dengan baik karena sangat mempengaruhi efektifitas dari metode ini dan juga ketahan-lamaannya.

Ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan metode ini :

1. Permukaan yang akan dilekatkan harus bersih.

2. Kuat lekat dari epoxy harus lebih besar atau sama dengan dengan kekuatan beton (kegagalan terjadi bukan pada sambungan tapi pada beton).

3. Pelat harus panjang dan tipis untuk menghindari terjadinya kegagalan brittle plate separation, walaupun tambahan angkur pada ujung dari pelat dapat digunakan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kegagalan semacam itu.

Ketika sebuah struktur beton diperkuat dengan externally bonded plate, hal terpenting adalah perilaku komposit harus dipastikan terjadi pada setiap tingkat pembebanan sampai terjadinya kegagalan. Perilaku ini bergantung pada efektifitas dari adhesive untuk mentransfer tegangan yang bekerja.


Tanggapan 28 – budi nainggolan


Pak Agus
Faiber glass Pipe
a. panjangnya 9 meter
b. system jointing : thread dan bounding
c. korosi pasti out 100 %
d. untuk Low Pressure = bonding / API 15LR = Max 300 Psi
e. untuk high pressure = thread / API 15HR = Max
20.000 Psi ( 2 inch ( 2000 PSI , Aplikasi Down Hole Tubing ) S/D 12 inch ( 1000 PSI )
f. Available Size 2 inch to 36 inch C/w Fittings
g. Kelemahan Temperature Max 200 Deg F ( Ketebalan Steel = X Corision x Lama Pakai / Faiber = X
temperature x Lama Pakai )
h. Ringan dan mudah pemasangan dan tidak membutuhkan X-ray ( hanya Hydrotest dan procedurenya mudah 1,25 x design pressure
i. Yang Perlu di perhatikan di Faiber Glass = Corrision Barier internal pipe , operating pressure thd range product , UV protection terhadap external pipe

Share This