Select Page

Secara tradisionil, pemakaian RBI juga bermula dari stationary equipment.
Beberapa pakar RBI mengklaim bahwa RBI dapat juga digunakan untuk peralatan lain seperti instrumentasi, listrik dan rotating equipment. namun sejauh saya ketahui, memang masih jarang merambah sampai ke Rotating Equipment yang banyak jenis dan komponennya.

RCM, dimulai dengan analisis (penjabaran) dari functions peralatan ybs. Lalu Functional Failures dan kemudian Failure Modes. Karena itu cocok untuk peralatan dengan banyak komponen dan banyak failure modes. Sebuah pompa dengan motor 3.5 MW bisa mempunyai banyak sekali fungsi (termasuk fungsi-fungsi proteksi nya). Masing masing fungsi bisa gagal dalam lebih dari satu cara. Dan masing-masing cara bisa mempunyai banyak penyebab. Masing-masing penyebab (failure modes) bisa memberikan dampak dan resiko yang berbeda.

Masing-masing failure modes tsb. di analisis resiko nya sehingga dapat ditentukan metoda pencegahannya (PM/ PdM) atau dibiarkan (Run To Failure) atau di modifikasi (design/operation/procedures/executor skills dll).

Resiko nya dapat juga dihitung dengan rumus seperti pada RBI di atas. Tetapi lebih sering dilihat secara terpisah: Berapa besar kemungkinan terjadi nya failure tsb. dan berapa besar bahayanya/kerugian nya bila terjadi failures. Kemudian angka-angka ini ditimbang secara consensus dalam team RCM (yang seharusnya terdiri dari org-org terbaik di perusahaan ybs. dari pihak operation, Mtce dan Engineering untuk alat yg dianalisis), dibandingkan dengan solusi PM/PdM yang terbuka / feasible.

PdM dengan peralatan yang mahal seperti misalnya On Line Vibration / Condition Monitoring atau Continuous Infra Red Scanner baru bisa dpilih sebagai solusi bila investasinya lebih kecil dibandingkan dengan resiko yang harus di tanggung bila kegagalan terjadi.



Tanya – Syahrizal Mustafa
Dir ol,
 Plis buat sapa aja yang tau, terutama para pakar  reliabiity atau maintenance.
Nanya, apa dasar dalam menentukan suatu sistem lebih  cocok pakai RCM dan yang lain pakai RBI. Saya pernah dengar RCM cocok untuk Rotating Equipment sedangkan  RBI untuk Stationer Equipment. Apa iya? Apa  jastifikasinya? Monggo Mas, Mbak …….
Terakhir RCM, dari namanya aja ada unsure reliability.
Tapi kenapa dalam konsepnya (ups jangan2 saya yang salah, sorry) gak ada perhitungan reliabilty yang rada njlimet itu? Apa sepenuhnya kualitatif dan berdasarkan kemampuan expert saja yang diterjemahkan dalam FMEA.


Tanggapan 1 – Bambang S. Santoso BSSantoso

Mas Syahrizal,

Saya belum pernah mengikuti analisis RBI secara mendetail. Tetapi dari reports mengenai RBI yang pernah saya temui, kelihatannya RBI banyak digunakan untuk peralatan-peralatan dengan jumlah komponen yang tidak terlalu banyak. Sehingga failure modes nya juga sedikit. RBI tidak dimulai dengan analisis (penjabaran) mengenai functions dari peralatan tsb. Untuk maasing-masing alat yang dianalisis dihitung risknya, dengan formula: Risk = Probability x Consequence atau Likelihood X Severity. Nah angka-angka probability  untuk static equipment ini biasanya cukup banyak available (juga secara generik).

Secara tradisionil, pemakaian RBI juga bermula dari stationary equipment.
Beberapa pakar RBI mengklaim bahwa RBI dapat juga digunakan untuk peralatan lain seperti instrumentasi, listrik dan rotating equipment. namun sejauh saya ketahui, memang masih jarang merambah sampai ke Rotating Equipment yang banyak jenis dan komponennya.

RCM, dimulai dengan analisis (penjabaran) dari functions peralatan ybs. Lalu Functional Failures dan kemudian Failure Modes. Karena itu cocok untuk peralatan dengan banyak komponen dan banyak failure modes. Sebuah pompa dengan motor 3.5 MW bisa mempunyai banyak sekali fungsi (termasuk fungsi-fungsi proteksi nya). Masing masing fungsi bisa gagal dalam lebih dari satu cara. Dan masing-masing cara bisa mempunyai banyak penyebab. Masing-masing penyebab (failure modes) bisa memberikan dampak dan resiko yang berbeda.

Masing-masing failure modes tsb. di analisis resiko nya sehingga dapat ditentukan metoda pencegahannya (PM/ PdM) atau dibiarkan (Run To Failure) atau di modifikasi (design/operation/procedures/executor skills dll).

Resiko nya dapat juga dihitung dengan rumus seperti pada RBI di atas. Tetapi lebih sering dilihat secara terpisah: Berapa besar kemungkinan terjadi nya failure tsb. dan berapa besar bahayanya/kerugian nya bila terjadi failures. Kemudian angka-angka ini ditimbang secara consensus dalam team RCM (yang seharusnya terdiri dari org-org terbaik di perusahaan ybs. dari pihak operation, Mtce dan Engineering untuk alat yg dianalisis), dibandingkan dengan solusi PM/PdM yang terbuka / feasible.

PdM dengan peralatan yang mahal seperti misalnya On Line Vibration / Condition Monitoring atau Continuous Infra Red Scanner baru bisa dpilih sebagai solusi bila investasinya lebih kecil dibandingkan dengan resiko yang harus di tanggung bila kegagalan terjadi.

Itu kalau pertimbangan teknis nya diutamakan lho ….
Kalau pertimbangan politik bisnis yang di utamakan, ya keputusannya bisa berbeda. Paling-paling setelah yang memutuskan pembelian alat-alat yang mahal pensiun, pangsa pasar produk merosot terus, karena biaya operasi/pemeliharaan dan harga jual produk jadi tinggi.

Demikian Mas Syahrizal. Mudah-mudahan bocoran ini cukup besar ya ….
 Mungkin ada yang ingin menambahkan ?


Tanggapan 2 – Ramzy SA ramzy@radiant-utama

Tambahan,
Memang benar RBI itu hanya untuk all pressurized containing equipment, refer to API RP 580 par. 6.3.5 yang menyebutkan a. piping system; 2. Pressure vessels; 3. Reactors; 4. Heat exchanger; 5. Furnaces; 6. Tanks; 7. Pumps
(pressure boundary); 8. Compressors (pressure boundary) Pressure relief devices dan 9. Control valves (pressure boundary).

Juga RBI dimulai dari menghitung Risk tapi tidak simple2 amat, sebab probability of failure itu ada 15 elemen dan concequency of failure itu dilihat dari 4 aspek yaitu health, safety, environment dan economic stand point. Nah kalau mau lebih ruwet lagi setiap propability of failure itu dihitung lagi dengan consequences of failure dari masing2 aspek tadi. Tapi dari pengalaman banyak pengguna yang kesulitan hingga jumlah tadi dibawa dalam meeting bersama user untuk menentukan “rule” nya. Karena setelah ketemu tingkat risk tadi ada satu hal lagi yaitu confident level. Dari pengalaman boleh saja nilai resiko nya rendah tapi confident level nya nol. Ini sering terjadi tidak hanya di dalam negeri saja. confident level rendah karena tidak ada/ kurangnya informasi tentang peralatan tesebut, bahkan yang paling sering tidak adanya as build drawing terutama setelah modifikasi atau repair juga hystorical card negga ada dsb.

Kemudian untuk memonitor corrosion rate itu dengan ultrasonic thickness meter pada tempat yang dicurigai atau berdasarkan pengalaman akan terjadi penipisan paling awal dan lokasi pengambilannya tidak boleh bergeser sedikitpun. Oleh karenanya API 510 menyebutkan lokasi tersebut harus dipasang TML-labels (thickness measuring location), yang high adhesive dan high temperature. ( BP dan COPI sebagian sudah menggunakan). Selanjutnya yang juga sering tidak atau kurang diperhatikan adalah alat UTnya. Kalau yang zaman dulu setiap jenis material velocitynya harus di adjust, nah yang kerap terjadi kalau inspectornya kurang sabar atau engga tahu dia asal ukur dengan velocity sekali saja.

Oleh karenanya pada soft ware RBI brand tertentu menggunakan authority review, yang biasanya ini berupa hierarki siapa hanya bisa enter data saja, siap bisa review saja dan siapa yang juga melakukan revisi (kaya cashier di supermarket) nah kalau data yang dienter oleh inspector itu tidak sesuai dengan data sebelumnya, maka akan ada alert (biasanya berkedip2 dan merah) dan siinspector tidak bisa mengganti data tersebut, data tersebut kalau mau di revisi harus sepengetahuan / dilakukan oleh yang berhak misalkan atasnnya atau supervisor


Tanggapan 3 – Nur,Zikrin Zikrin
Pak bisa kasih contoh yang lebih detail nggak pak untuk RCM-nya, please !!! (kelihatannya sangat menarik)