Select Page

Saya merasa sah2 aja dibahas panjang kali lebar di milis ini, sesaat mendengar kebakaran di KRI Klewang yang di klaim produk nasional ada rasa ketersinggungan nasionalis saya, kenapa hal tsb bisa terjadi? Di industri kemiliteran, tentunya spesifikasi dan keandalan alat menjadi prioritas dan harusnya tidak berada dibawah oil and gas standard.

Standard industri apakah yang dipakai untuk development kapal perang ini? Selection bahan/ material, dan pengujian apa saja yg dilakukan untuk memastikan keandalan dan keselamatan dari crew2, yang membawa panji kebanggaan INDONESIA ini.
Saya tidak membayangkan kalau ada putera terbaik bangsa ini, gugur dalam tugasnya, bukan karena kena rudal, tetapi hanya karena short circuit di system kelistrikan? sangat ironi…!

Saya pikir praktisi2 dibidang kita masing masing dengan pengalaman lebih 15th, sekiranya diberi kesempatan ikut project nasional semacam ini tentu akan dengan senang hati memberikan kemampuan terbaik untuk kemajuan bangsa ini.

Harga 144 milliar rupiah, adalah harga yang pantas sebenarnya untuk mendapatkan first quality dari produk tsb, ini saya pikir hanya harga dasar kapal tanpa system persenjataan.

Sebagai praktisi listrik, saya melihat bahan non metal sebagai body kapal perlu pemikiran untuk selection grounding peralatan. Ini harus dipikirkan betul dalam design. Pemanfaatan bahan metal sebagai grounding grid mungkin menjadikan design ‘bisa tertangkap radar’, tetapi tentu harus memperhatikan safety factor dari peralatan listrik.

“Dalam hitungan menit” kapal habis terbakar, tentu pertanyaan akan mengarah ke bahan dasar pembuatan kapal yang “mungkin” mengabaikan faktor kebakaran, ini fakta…




Tanya – achmad zakky ridwan
Yth Bapak Moderator,
Mohon ijin, sekedar sharing informasi untuk nge-charge inspirasi & nasionalisme sebagai warga Indonesia…
 
Sumber informasi dari banyak source di Internet.. kapal terbaru TNI-AL (local build), KRI Klewang (625)… roll out …

KAPAL CEPAT RUDAL (KCR) Type 63M – KRI Klewang
PRODUKSI : PT Lundin Industry Invest, Banyuwangi – Jawa Timur, Indonesia 
DESIGN: STEALTH Wave Piercing Trimaran Hull design.
MATERIAL: Carbon composite dengan aplikasi radar absorption coating material
Kecepatan maximum 30 knots, mampu utk beroperasi dengan gelombang s/d 6 meter wave height
POWERPACK: 4 X 1800PK MAN engine
ARMANENT:
–          C-705 Missile
–          1 x 76 mm Cannon
–          1 x 30 mm CIWS
–          X2K RIB special force for infiltration mission
CREW: 23 person + 7 special operation.

Hari ini Jum’at 31 Augustus 2012 rencana launching.. semoga sukses



Tanggapan 1 – dian.yudistiro
 
Local build…it is…
Tp design siapa ya? Mgk ada informasi lebih lengkap.


Tanggapan 2 – prast_yuu

Coba baca ini ==> http://www.scandasia.com/viewNews.php?coun_code=id&news_id=6682
sedikit story ttg John Lundin yg jadi “main brain” project KRI Klewang, kabar2nya mayoritas team dia org lokal jg sih, fresh grad perkapalan ITS aja ada tuh yg ikut project ini;


Tanggapan 3 – Donny Gustian

Inikah kapal yg dimaksud???
 
Sumber Kompas (http://regional.kompas.com/read/2012/09/28/17141694/KRI.Klewang.Terbakar)
 
BANYUWANGI, KOMPAS.com — KRI Klewang-625 terbakar di Selat Bali, Jumat (28/9/2012) pukul 15.00. Kapal tersebut dipesan TNI AL dari PT PT Lundin Industry Invest, Banyuwangi, Jawa Timur, seharga Rp 114 miliar.

Kapal itu diluncurkan dari galangan kapal di PT Lundin pada 31 Agustus 2012. Selanjutnya, pengerjaan kapal akan dituntaskan oleh TNI. Kapal Cepat Rudal Trimaran ini rencananya akan ditempatkan di Armada Kawasan Timur, Surabaya, Jawa Timur.

Sampai saat ini belum ada pernyataan resmi dari TNI AL terkait peristiwa itu.


Tanggapan 4 – Riksha Lenggana

Sepertinya begitu pak, kalo baca beritanya.
Ikut prihatin..
Tunggu aja berita konfirmasi selanjutnya dari TNI AL dan fabrikatornya.


Tanggapan 5 – Wahyu Affandi


Mbok beli barang yang bener’lah en tunjuk yang bisa ngurus yang benerr (sekaraannggg ngomongnya begituu…kalo kemaren “inilah karya putra bangsa, kami buanggaaa” dgn TKDN 120%. Ditunggu info selanjutnya ttg sabab-musababnya Oom….


Tanggapan 6 – Dirman Artib

Janganlah pernah menyerah karena roket buatanmu tak jatuh pada sasaran yg tepat.
Buat lagi, dan tembakan lagi lebih tepat.
Long Live Indonesia !


Tanggapan 7 – akhmadkh

Setuju. Toyota dulu diawal2 buat mobil juga gak laku di US, dan diperbaiki terus.

Dan sbg sesama bangsa, jangan mudah menyerah utk mencintai produk bangsa sendiri. Ini juga termasuk yg mudah kita lakukan, makanan, buah2an, produk textil, dst.


Tanggapan 8 – Sugiri


Pagi ini sy lihat foto kapal tsb yg sedang terbakar di koran jakarta post smoga kejadian ini tidak menyurutkan semangat bangsa ini dalam berkarya !


Tanggapan 9 – amal ashardian

Semestinya untuk military begini menggunakan resin yang tidak bisa terbakar…..

Dugaanku ini salah material.


Tanggapan 10 – Bagus Rengga

Beberapa hari lalu sebelum kapal ini terbakar, saya pernah diskusi dengan dosen tentang kapal ini, dan jawaban dosen saya cukup singkat, “kapal militer kok dari fiber dan pakai trimaran, yo gak cocok”.
Dan ternyata, who knows, allohhualam.
🙂


Tanggapan 11 – achmadz_ridwan

Sebetulnya konsep kapal cepat multihull (catamaran atau trimaran) utk aplikasi kapal perang bukan konsep baru, china, inggris bahkan US pun sdh bermain dg design ini. Klo ingat bagaimana Australia (interfet) memobilisasi pasukan dg cepat dari darwin ke timor Leste pasca referendum dulu, itu jasa dari troop transport ship HMAS Jervis Bay, a wave piercing catamaran. Untuk bahan komposite juga bukan teknologi baru, kaya contoh missile boat Norwegia klas skjold, kapal-2 mine sweeper/ mine hunter klas tripartite NATO, dan bbrp patrol boat bahannya jg dari material komposite.
Pertimbangan design yg radikal & material komposite mestinya bukan masalah. Klo skg terjadi musibah yg fatal, rasanya mmg harus ada evaluasi ulang knp kok bisa kapal ini survivabilitinya rendah (yg jelas mmg kapal ini belum jadi.. Mgk fire fighting systemnya blm ada,dll.. ). Kita tunggu aja release resmi hasil investigasinya..
Btw, kabarnya pt lundin akan bikin lagi.. Utk memenuhi kontrak. mudah-2an byk pelajaran bisa diambil utk improvement kedepannya.

http://m.kompas.com/news/read/2012/09/29/13384848/PT.Lundin.Siap.Produksi


Tanggapan 12 – heru suprapto


Betul pak Achmad dan pak Dian, saran saya buat para komentator yang “askom” tanpa didukung kompetensi, pengalaman dan wawasan mohon tahan diri. Ini adalah tonggak sejarah yang sebenarnya teknologi lama yang baru diapplikasikan sekarang karena berbagai alasan (kurang dukungan pemerintah mulai dari riset dsb). Kapal cepat Fiber (siapapun usernya) sudah ada sejak tahun 70 an, dan barangkali yang komen belum lahir. Wassalam


Tanggapan 13 – iwan_g1980

Serba salah juga sebenarnya krn kapal perang tdk required SOLAS krn merupakan kapal non solas..


Tanggapan 14 – Dony Wibowo
Mungkin seperti percobaan Thomas Alva Edison, ini adalah percobaan yang
ke-999, siapa tahu percobaan yang ke-1000 adalah yang berhasil, terus mencoba dan terus kita dukung.


Tanggapan 15 – yusufnugrohomail


Ada yg punya info, saat ini kapal tersebut sedang masa uji prototipe atau sudah operasional ya?


Tanggapan 16 – jrisdianto


Mas2..Mbak2..bapak2 atau ibu2 sekalian…rasanya kok kurang pantas mendiskusikan hal yang sudah lewat dan memaparkan hal2 yang dianggap sebagai kekurangan KRI Klewang-625 di saat dia sudah hangus.

Well…KRI-Klewang memang sudah terbakar, namun perlu di-ingat dan dipahami…kebakaran KRI Klewang terjadi saat pengujian2 intensif di tempat di mana dia dibangun. Jadi mohon segala macam asumsi2 negatif mengenai design yang menyangkut bagian utama kapal (lambung) dan bahan yang digunakan dikesampingkan…sementara ini yang saya ketahui (dari sumber yang reliable)…kebakaran disebabkan karena salah penanganan system electric pada masa uji coba. Kita seharusnya bersyukur karena musibah terjadi saat masih tahap pengujian, dan belum diserah terimakan penggunaannya kepada TNI-AL.

Jadi, mau itu monohull, catamaran atau trimaran, pihak designer dan TNI-AL mestinya sudah mempertimbangkan lebih kurangnya yang dalam hal ini saya rasa kita semua tidak tahu ! Yang saya prihatinkan di sini adalah banyak-nya pendapat2 yang tidak relevan yang terkesan terlambat…kenapa pendapat2 teknis yang berkaitan dengan teknologi hanya disampaikan setelah si Klewang musnah ?? yang lebih membuat sedih karena pendapat2 muncul se-olah2 menyalahkan yang terlibat dalam pembangunan si Klewang.

Saya akan sependapat seandainya semua pendapat teknis diutarakan jauh sebelum Klewang terbakar…atau protes terang2an…
Tapi Pada saat kapal ini diluncurkan yang ada adalah pujian dan sanjungan saat pertama kali beritanya di blow-up…
Bila pendapat2 dan protes2 tersebut pernah disampaikan dengan elok namun tidak ditanggapi dan di kemudian hari kita mendapati kenyataan bahwa Klewang terbakar atau gagal setelah beroperasi…baru kita boleh mencela dan mencaci ini dan itu…

Jadi ada baiknya kita berpikir positif dan mengambil hikmah dari musibah ini sambil menunggu berita resmi tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Sedikit informasi mengenai KRI-Klewang pernah dirilis di website internasional setelah kapal tersebut diluncurkan dibawah ini :

http://www.defensemedianetwork.com/stories/indonesia-launches-new-class-of-large-trimaran-missile-boats/

Mohon maaf sekiranya pendapat saya di atas kurang berkenan di hati rekan2 semua.
Saya bukan ahli kapal perang, namun saya berkecimpung di dunia industri galangan kapal sejak tahun 1997. Saat ini saya bekerja di salah satu Classification Society member of IACS sejak 2004. Saya Pernah terlibat dalam pembangunan salah satu KRI berbahan Aluminium di Batam, sehingga kurang lebihnya ada sedikit pengalaman dan pemahaman bagaimana anak2 bangsa ini dalam bekerja dan berkarya.


Tanggapan 17 – faried mustawan

Saya merasa sah2 aja dibahas panjang kali lebar di milis ini, sesaat mendengar kebakaran di KRI Klewang yang di klaim produk nasional ada rasa ketersinggungan nasionalis saya, kenapa hal tsb bisa terjadi? Di industri kemiliteran, tentunya spesifikasi dan keandalan alat menjadi prioritas dan harusnya tidak berada dibawah oil and gas standard.
 
Standard industri apakah yang dipakai untuk development kapal perang ini? Selection bahan/ material, dan pengujian apa saja yg dilakukan untuk memastikan keandalan dan keselamatan dari crew2, yang membawa panji kebanggaan INDONESIA ini.
Saya tidak membayangkan kalau ada putera terbaik bangsa ini, gugur dalam tugasnya, bukan karena kena rudal, tetapi hanya karena short circuit di system kelistrikan? sangat ironi…!
 
Saya pikir praktisi2 dibidang kita masing masing dengan pengalaman lebih 15th, sekiranya diberi kesempatan ikut project nasional semacam ini tentu akan dengan senang hati memberikan kemampuan terbaik untuk kemajuan bangsa ini.
 
Harga 144 milliar rupiah, adalah harga yang pantas sebenarnya untuk mendapatkan first quality dari produk tsb, ini saya pikir hanya harga dasar kapal tanpa system persenjataan.
 
Sebagai praktisi listrik, saya melihat bahan non metal sebagai body kapal perlu pemikiran untuk selection grounding peralatan. Ini harus dipikirkan betul dalam design. Pemanfaatan bahan metal sebagai grounding grid mungkin menjadikan design ‘bisa tertangkap radar’, tetapi tentu harus memperhatikan safety factor dari peralatan listrik.
 
“Dalam hitungan menit” kapal habis terbakar, tentu pertanyaan akan mengarah ke bahan dasar pembuatan kapal yang “mungkin” mengabaikan faktor kebakaran, ini fakta…


Tanggapan 18 – endi siswanto


Mengutip Kata- kata Dirut Lundin barusan di televisi….
“Kapal memang terbakar dan 100% masih menjadi tanggung jawab Lundin,
dan akan duduk bersama bersama pihak AL/pemerintah untuk pembicaraan selanjutnya.
Yang terpenting adalah 60 orang pekerja didalam kapal bisa keluar dengan Selamat semuanya!!!!!”

Luar biasa Dirut Lundin ini
Salut saat beliau berkata bahwa “”kapal bisa dibuat lagi, tetapi yang terpenting 60 orang pekerja selamat semuanya””


Tanggapan 19 – ivan.faenza

Setuju Bung JR. Maju terus industri Indonesia!


Tanggapan 20 – Dirman Artib

Harga yg 114 milyar gak usah dipikirkan lagi. Duit sejumlah itu kan bukan hanya utk beli material, tetapi juga telah menghidupi kawan2 yg bekerja di project tersebut selama ini. Toh juga pengetahuan dan pengalaman yg berharga masih tersimpan di kepala. Kalaulah misalnya ada inisiatif gerakan pengumpulan dana spt. saat ada TKW yg mau dihukum mati, pastilah duit 114 milyar bisa dikumpulkan.
 
Kita sudah pada batas maksimum gak nyaman dianggap sebagai bangsa kelas 2, bangsa yg sangat menikmati diskusi2 lelucon spt. di forum Jakarta Lawyer Club, bangsa omdo, bangsa yg lebih bnyak bicara drpda berbuat. Profesi politikus dan artis sinetron lebih populer drpd Engineer. Keindahan laut di sekitar Sulut dikalahkan oleh ketakutan para turis thd Tsunami.
Kurang apa coba Batam dibanding S’pore atau Djohor? Apa upaya yg sudah dibuat utk misalnya hanya membuat pulau itu sejajar secara ekonomi dan keamanan industri berinvestasi? Kalaulah hanya sebatas lebih unggul investasi dibidang bisnis karaoke dibanding ke 2 pulau tsb….yaach capek deh.
 
(Capek = Cepat, kencang, laju – dalam Bhs Minang)


Tanggapan 21 – dian.yudistiro

Itu pake composite carbon bukannya memang krn alasan teknologi ?
Btw, gmn klo kita tunggu aja publikasi resmi dr hasil investigasi ?


Tanggapan 22 – hotna70


Smoga tdk ada yg disembunyikan dari kejadian tsb dgn alasan mejaga korps atw institusi tertentu sbgm yg sudah2 bhw kalau menyangkut TNI/POLRI.Shg seringkali kejadiannya berulang akibat tdk transparan siapa yg hrs bertanggung jwb dan seringkali pula sdh menjadi issue umum yg jadi korban slalu bawahan,ini yg mengundang ‘KARMA’ dlm ilmu theologi,smoga budaya ‘Kambing hitam’ tdk lagi melekat di pejabat2 bangsa Indonesia.


Tanggapan 23 – kwibowo75

Saya kok heran ya, kenapa pendapat2 seperti ini munculnya setelah kejadian? Kenapa tidak muncul sebelum kejadian sehingga bisa dijadikan masukan buat pihak terkait…
Yang jelas, kita tunggu saja final investigation dibalik kejadian ini, kita pelajari root causenya dan ambil pelajaran darinya…
Ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa KRI Klewang.


Tanggapan 24 – amal ashardian

Serat nya. .. carbon… filler/ resinnya… yang macam2…. semestinya pakai yang fire retardant.