Select Page

Potensi Blok Mahakam
Saat ini, kepemilikan blok Mahakam dikuasai masing-masing 50% oleh Total EP Indonesie (Prancis) dan Inpex Corp. (Jepang). Berdasarkan kajian berbagai sumber, termasuk BP Migas, Blok Mahakam diperkirakan masih menyimpan cadangan gas sekitar 14 triliun cubic feets (tcf), lebih besar dari cadangan gas Tangguh yang hanya berpotensi sekitar 8 tcf. Produksi gas dari Blok Mahakam mencapai 2,6 bcf per tahun dengan pangsa pasar terbesar diekspor ke Jepang. Sejak 1967 hingga 2009, total produksi gas dan minyak dari blok Mahakam masing-masing telah mencapai 13,7 triliun kaki kubik (tcf) dan 1.065,5 juta barel. Lebih dari 1.288 sumur telah dibor sepanjang aktivitas eksplorasi/eksploitasi di blok Mahakam. Sekitar USS 21 miliar telah diinvestasikan di Mahakam. Sementara itu, hingga akhir 2008, blok ini telah menghasilkan USS 99 miliar penerimaan kotor.
Dengan cadangan gas sebesar 14 tcf dan asumsi harga rata-rata minyak selama masa eksploitasi adalah 90 dolar AS per barel, 1 barrel oil equivalent, boe = 5.487 cf, dan kurs US$/Rp = 8500, maka potensi pendapatan kotor Blok Mahakam adalah = 14.1012  x 1/5.487 x 90 = US$  229. 63 miliar, atau sekitar Rp 1951,88 triliun. Potensi pendapatan yang sangat tinggi dari blok penghasil gas terbesar di Indonesia ini pasti mengundang minat banyak kontraktor untuk mengopersikannya. Karena itu pula Total sangat berkepentingan untuk memperoleh perpanjangan kontak. Apalagi Blok Mahakam berada pada lokasi offshore laut dangkal sehingga memudahkan kegiatan eksploitasi. Karena itu, kita yakin Pertamina pun akan mampu mengelola Mahakam karena telah berpengalaman mengelola blok ONWJ dan blok WMO.
 

Pembahasan – Akhmad Khaqim

Rekan2,
Makalah dari Pak Marwan Batubara tentang Blok Mahakam yg akan berakhir 2017, disampaikan lebih dari satu tahun lalu, tapi masih relevan sekarang ini. Kemana pemerintah akan memberikan hak pengoperasiannya? Apakah untuk anak negri? atau lainnya?

Semoga ada manfaatnya.

———————————–
Selamatkan Blok Gas Mahakam Demi Kemakmuran Bangsa[1]
Marwan Batubara, Indonesian Resources Studies, IRESS

Pada tanggal 31 Maret 2017 kontrak Blok Mahakam yang dikelola Total E&P Indonesia (Total) akan berakhir. Kontrak Kerja Sama (KKS)  Blok Mahakam ditandatangani oleh pemerintah dengan Total pertama kali pada tanggal 31 maret 1967, untuk jangka waktu 30 tahun, dan telah berakhir pada 31 Maret 1997. Kemudian KKS diperpanjang lagi selama 20 tahun, sampai 31 Maret 2017. Sesuai ayat 1 Pasal 28 PP No.35/2004, kontraktor dapat mengajukan kembali permohonan perpanjangan kontrak untuk masa waktu 20 tahun berikutnya. Sejalan dengan itu, ayat 4 dan 8 PP Pasal 28 No. 35/2004 pemerintah (Menteri ESDM) yang dapat pula menolak atau menyetujui permohonan tersebut.
Pada bulan Juni 2007, Executive Vice President Exploration & Production Total SA, Christophe de Margerie, telah mengajukan perpanjangan kontrak Blok Mahakam yang kedua kepada Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro. Pada saat itu Purnomo menyatakan terlalu dini untuk membahas perpanjangan kontrak. Selain itu, Purnomo merespon permintaan Total dengan menyampaikan keinginan pemerintah untuk meningkatkan pola bagi hasil dari kesepakatan sebelumnya, yakni 70 (pemerintah) : 30 (kontraktor), dan menyertakan saham pemerintah pada Blok Mahakam. Untuk itu  pemerintah memberi kesempatan kepada Pertamina atau perusahaan daerah memiliki participating interest (PI) di Blok Mahakam. Pada prinsipnya pemerintah belum memberikan jawaban spesifik, namun menyatakan siap memperpanjang kontrak sepanjang blok tersebut dikelola bersama dengan pihak Indonesia.
Sesuai ayat 9 Pasal 28 PP No.35/2004, Pertamina dapat pula mengajukan permohonan kepada pemerintah (Menteri ESDM) untuk mengelola Wilayah Kerja yang habis masa kontraknya. Sedangkan ayat 10 Pasal 28 PP No.35/2004 menyatakan bahwa Menteri ESDM dapat menyetujui atau menolak permohonan Pertamina tersebut sepanjang saham Pertamina 100% masih dimiliki oleh negara dan hal-hal lain yang berkaitan dengan KKS yang bersangkutan. Berdasarkan ketentuan PP ini, Pertamina-pun telah menyatakan minatnya untuk kelak dapat menjadi pengelola Blok Mahakam. Bahkan tahun 2010 yang lalu Pertamina telah mengungkapkan minat untuk membeli 15% saham Blok Mahakam melalui mekanisme business to business.
Hingga saat ini pemerintah belum mengambil keputusan atas permohonan perpanjangan oleh Total, maupun permintaan pengelolaan oleh Pertamina. Dirjen Migas, Evita Lgowo, pernah mengatakan (23/3/2011) bahwa karena waktunya masih lama, keputusan belum diambil. “Masih lama, paling lambat kita putuskan 2015. Sekarang kan baru 2011,” ungkap Dirjen Migas. Apakah akhirnya keinginan kita agar BUMN Pertamina kelak berhasil menguasai Blok Mahakam, atau justru pemerintah kembali menyerahkan kepada asing, masih belum diketahui. Itulah sebabnya mengapa IRESS perlu mengangkat masalah Mahakam ini, agar masyarakat dapat memantau dan mengadvokasi secara serius dan kontinu sehingga kelak Blok Mahakam dapat dikelola oleh Pertamina.

Potensi Blok Mahakam
Saat ini, kepemilikan blok Mahakam dikuasai masing-masing 50% oleh Total EP Indonesie (Prancis) dan Inpex Corp. (Jepang). Berdasarkan kajian berbagai sumber, termasuk BP Migas, Blok Mahakam diperkirakan masih menyimpan cadangan gas sekitar 14 triliun cubic feets (tcf), lebih besar dari cadangan gas Tangguh yang hanya berpotensi sekitar 8 tcf. Produksi gas dari Blok Mahakam mencapai 2,6 bcf per tahun dengan pangsa pasar terbesar diekspor ke Jepang. Sejak 1967 hingga 2009, total produksi gas dan minyak dari blok Mahakam masing-masing telah mencapai 13,7 triliun kaki kubik (tcf) dan 1.065,5 juta barel. Lebih dari 1.288 sumur telah dibor sepanjang aktivitas eksplorasi/eksploitasi di blok Mahakam. Sekitar USS 21 miliar telah diinvestasikan di Mahakam. Sementara itu, hingga akhir 2008, blok ini telah menghasilkan USS 99 miliar penerimaan kotor.
Dengan cadangan gas sebesar 14 tcf dan asumsi harga rata-rata minyak selama masa eksploitasi adalah 90 dolar AS per barel, 1 barrel oil equivalent, boe = 5.487 cf, dan kurs US$/Rp = 8500, maka potensi pendapatan kotor Blok Mahakam adalah = 14.1012  x 1/5.487 x 90 = US$  229. 63 miliar, atau sekitar Rp 1951,88 triliun. Potensi pendapatan yang sangat tinggi dari blok penghasil gas terbesar di Indonesia ini pasti mengundang minat banyak kontraktor untuk mengopersikannya. Karena itu pula Total sangat berkepentingan untuk memperoleh perpanjangan kontak. Apalagi Blok Mahakam berada pada lokasi offshore laut dangkal sehingga memudahkan kegiatan eksploitasi. Karena itu, kita yakin Pertamina pun akan mampu mengelola Mahakam karena telah berpengalaman mengelola blok ONWJ dan blok WMO.

Tantangan
Untuk tetap dapat menguasai Blok Mahakam, Total telah melakukan berbagai upaya antara lain pernyataan akan melakukan investasi baru miliaran dolar AS, melaksanakan kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan baru, menandatangani kontrak penjualan gas domestik dan melakukan pendekatan dengan sejumlah pejabat pemerintah. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan/atau perusahaan Prancis cukup aktif memberikan beasiswa kepada sejumlah mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia untuk mengikuti program S1, S2 dan S3 di Prancis.
Kita sangat khawatir kontraktor juga memberi dukungan finansial dan/atau politik  kepada oknum pengambil keputusan agar memperoleh perpanjangan kontrak. Selain itu, kita mengkhawatirkan adanya intervensi kepada sejumlah pejabat agar memperlambat pengambilan keputusan, sambil terus melakukan lobi tingkat tinggi. Intervensi dapat pula dilakukan oknum diiringi dengan ancaman pembatalan kerja sama atau komitmen di sektor lain. Penyebaran informasi tentang prestasi/keberhasilan kontraktor yang
telah memproduksi gas hingga 13 tcf dapat pula menjadi senjata untuk mempengaruhi pengambilan keputusan. Padahal sebenarnya justru mereka pun sudah mendapat hasil yang sangat banyak.
Segala upaya yang dilakukan Total untuk tetap menguasai Blok Mahakam merupakan hal yang wajar secara binis. Namun, merujuk kepada konstitusi dan maksimalisasi aset negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, maka tidak ada alternatif lain bahwa sejak 2017 Blok Mahakam harus dikuasai negara/Pertamina. Bukan hanya oleh Total, tetapi Pertamina pun dapat melakukan investasi dan eksploitasi cadangan baru. Penjualan gas untuk domestik bukan pula prestasi khusus milik Total, karena hal tersebut merupakan kewajiban bagi seluruh kontraktor migas. Kita pun harus cerdas dan waspada untuk tidak terpengaruh oleh berbagai program “gula-gula” beasiswa atau CSR, sehingga terhindar dari kehilangan aset Mahakam yang sangat berharga.
Pada kuliah umum tanggal 1 Juli 2011 di Universitas Indonesia, Perdana Menteri  Perancis, Francois Fillon, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi bangsa Indonesia yang memiliki sumber daya alam melimpah, tetapi justru banyak dimanfaatkan  untuk menjalankan pembangkit listrik, industri dan bisnis oleh negara lain seperti Jepang, China, Amerika, dsb. Karena itu Fillon menganjurkan agar ke depan ekonomi Indoensia dikembangkan berbasis teknologi tinggi seperti pembuatan suku cadang pesawat. Perkembangan ekonomi harus digunakan untuk  kepentingan mengentaskan kemiskinan, sebab saat ini ada jutaan warga Indonesia hidup dalam kemiskinan. Fillon menjajikan bahwa Prancis akan mendukung proyek-proyek infrastrukur dan teknologi tinggi di Indonesia, bekerjasama dengan otoritas publik dan mitra industri Eropa.
Keprihatinan Fillon atas kondisi Indonesia dan komitmennya untuk mendukung pembangunan ekonomi kita, patut dihargai dan sambut dengan baik. Namun pada saat yang bersamaan, kita pun harus tetap waspada karena di sisi lain, beredar pula informasi bahwa PM Fillon sangat berkepentingan agar perpanjangan kontrak Blok Mahakam diberikan kepada Total. Tampaknya sikap seperti ini tidak jauh berbeda dengan sikap sejumlah negara penjajah. Lalu bagaimana sikap pemerintah kita?

Tuntutan
Kita sering mendengar keinginan para pemimpin untuk menjalankan konstitusi secara konsisten guna mewujudkan kemadirian dan kemakmuran bangsa melalui peningkatan peran BUMN di berbagai sektor strategis. Namun keinginan tersebut sering tidak diiringi dengan komitmen dan langkah-langkah praktis yang serius. Sebaliknya, praktek perburuan rente dan KKN oknum-oknum pejabat dengan investor lokal dan asing justru terkesan semakin meluas. Kondisi seperti ini harus dihentikan. Oleh sebab itu, dalam konteks Mahakam, pemerintah dituntut untuk melakukan langkah-langkah sbb:

•        Meminta agar pemerintah tidak tersandera oleh tekanan asing, target lifting dan komitmen pengembangan dan investasi migas, maupun kerja sama ekonomi yang ditawarkan oleh kontraktor dalam upaya memperoleh perpanjangan kontrak;
•        Sejak 2017 Blok Mahakam harus dikembalikan kepada negara untuk kemudian diserahkan pengelolaannya kepada Pertamina. Pertamina harus menjadi operator Blok Mahakam sejak 2017;
•        Pertamina dapat/perlu mengundang (farm-out) kontraktor migas lain untuk ikut memiliki saham di Blok Mahakam melalui proses tender. Hal ini akan dapat memaksimalisasi pemasukan modal  miliaran dolar AS bagi negara dan Pertamina;
•        Pemilikan saham Blok Mahakam oleh Total setelah 2017, tanpa melalui tender, hanya dapat terjadi jika Pertamina diberi kesempatan memiliki saham di Blok Mahakam, secara business to business, sejak saat ini (2011) atau paling lambat tahun 2012;
•        Deal atau kesepakatan bisnis masuknya Pertamina ke Mahakam sebelum 2017 sangat tidak tepat jika dikaitkan dengan pemberian kesempatan kepada Total untuk memiliki saham di Blok Natuna Timur;
•         Keputusan atas deal bisnis di atas harus diambil tahun ini atau paling lambat tahun 2012, untuk menjamin adanya kepastian investasi dan lancarnya produksi gas Mahakam selama menjelang tahun 2017;
•        Seluruh oknum partai atau oknum pemerintah harus membebaskan keputusan tentang Blok Mahakam dari perburuan rente dan/atau kepentingan untuk mendapat dukungan politik asing dalam rangka pemenangan pemilu/pilpres 2014. Jangan ada lagi penyerahan aset-aset negara kepada asing demi kekuasaan dan dukungan politik, seperti terjadi pada tambang Freeport atau Blok Cepu!
•        Partisipasi daerah-daerah terkait untuk memiliki saham Blok Mahakam harus diakomodasi dan dikordinasikan oleh pemerintah pusat dengan Pertamina, terutama dalam upaya mencari dana untuk membiayai kebutuhan saham/modal. Pemerintah harus memberi jaminan atas kebutuhan kredit oleh daerah tanpa melibatkan pihak swasta yang berpotensi mengurangi keuntungan daerah;
•        Seluruh proses penetapan kelanjutan pengelolaan Blok Mahakam harus dijalankan secara seksama, transparan, mengutamakan kepentingan rakyat dan bebas dari oknum-oknum pemburu rente, agar terhindar dari praktek KKN seperti terjadi pada  Blok West Madura Offshore (yang kemudian direvisi);
•        Keputusan final tentang blok ini perlu dituangkan dalam sebuah PP atau Kepres/Pepres, setelah dikonsultasikan dan mendapat persetujuan DPR, pada akhir tahun 2011 atau awal tahun 2012.

Penutup
IRESS meminta SBY mewariskan kebijakan Blok Mahakam yang visioner, konstitusional, bermartabat dan pro-rakyat. Bukan mewariskan ironi seperti pada KK Freeport atau KK Inco. KK Freeport, berupa jatuhnya tambang emas dan tembaga Eastberg dan Grasberg di Timika kepada Freeport McMoran, ditandatangani saat terjadinya krisis pergantian kekuasaan pada 1967. Kontrak pertama Blok Mahakam juga dibuat pada 1967. Perpanjangan kontrak Blok Mahakam pada 1997 juga terjadi pada saat krisis moneter 1997/1998 – menjelang terjadinya pengalihan kekuasaan. Pada kontrak pertama maupun saat perpanjangan KKS ini Pertamina tidak diberikan kesempatan untuk memiliki saham, meskipun hanya 1%!
Masa transisi bukan saat yang tepat untuk mengambil keputusan penting. Di sisi lain, kita mencurigai telah terjadi pemanfaatan situasi krisis 1967 dan 1997 oleh para kontraktor. Hal ini harus dikoreksi. Saat ini Indonesia tidak berada dalam kondisi krisis. Oleh sebab itu, jika pemerintahan SBY dan DPR, berniat melakukan koreksi, membesarkan Pertamina sebagai national oil company, mengutamakan kepentingan bangsa dan konsisten antara ucapan dengan perbuatan, maka sekaranglah saatnya untuk menetapkan bahwa Blok Mahakam hanya akan dikelola oleh perusahaan negara demi  kemakmuran bangsa. []

[1] Disampaikan pada Seminar Blok Mahakam tanggal 28 Juli 2011 di Nusantara V, MPR, Senayan, Jakarta

Tanggapan 26 – akhmadkh

Mas Dirman,
Saya hanya meringkas dari apa yg tertulis di email sebelumnya. Dan sayapun tidak mamanipulasi data, karena semua tanggapan yang ada saya lampirkan di bagian Lampiran sehingga anggota milis bisa memverifikasi sendiri. Silahkan di kaji ulang Lampiran tersebut dari awal sampai akhir.

Ada yg meragukan memang tetapi dari sisi apakah Pertamina bisa lepas dari moral hazard spt KKN, dan ini sy rangkum di No.4.

Dan saya secara pribadi tidak punya kepentingan apapun atas Pertamina, krn sy tdk bekerja di Pertamina. Sepanjang karir saya 14 tahun semuanya saya habiskan di perusahaan asing baik di Indonesia maupun luar negri. Dan sekarangpun sy masih kerja di IOC yg masuk kategori the big 5.

Mas Dirman, untuk memberi masukan yang konstruktif, bisa dijelaskan alasan kenapa Anda tidak percaya pada Pertamina dalam hal Teknologi, Manage
ment, Permodalan dan ” Clean Governance”. Apakah ada kajian yg empiris atas fakta yg dijadikan acuan. Jika ini bisa dijelaskan dengan argumentatif , sy kira akan menjadi diskusi yang sangat bermanfaat.
Dan saya yakin di milis ini banyak rekan2 Pertamina yg bisa berbagi informasi tentang 4 hal yg diragukan Mas Dirman tsb.

Jika ada tanggapan yg mungkin saya terlewat melampirkannya di bagian Lampiran dari email saya sebelumnya dengan segala kerendahan hati sy mohon maaf, sama sekali tidak ada unsur kesengajaan. Mungkin ini krn sy kerjakan ditengah2 kesibukan pekerjaan sy di negri singa. Sekali lagi mohon maaf.

Sekali lagi, kita tunggu penjelasan Mas Dirman atas 4 hal yg diragukan diatas. Dan saat yg bersamaan silahkan rekan2 lain yg tahu tentang kemampuan Pertamina dalam 4 hal diatas untuk mengemukakan pendapatnya, shg menjadi diskusi yg bermanfaat.

Tanggapan 27 – yusuf_asad

Bravo buat Mr Khaqim.
Anda bisa menjawab dengan baik sekali email dari saudara d’Art.

Tanggapan 28 – Joko Sosiawan Trikukh

Saya tidak setuju dengan pernyataan pak Dirman yang ini cenderung tak percaya tentang kemampuan Pertamina dari penguasaan teknologi, saya yakin kawan2 saya di geoscience yang di Pertamina, berani di adu dengan siapa pun dalam masalah kemampuan & skill.

Tanggapan 29 – Ginting Rasidin

Dear Rekan2 semuanya,
Semakin seru aja jadinya Blok Mahakam ini, semua akan jadi lebih baik jika tdk Emosional, Pak Khaqim, ternyata juga bekerja di LN dan di perusahaan dengan Category the big 5 lagi,dan ada Uda Dirman yg juga sudah melanglang buana di Gurun dan teman teman lainnya, mari satukan Visi untuk mendukung pemerintah agar berani mengoperasikan Blok Mahakam dgn harapan mulai sekarang sudah mempersiapkannya dengan baik agar berhasil, Bravoo Indonesiaku, majulah bangsaku, berkibarlah benderaku

Tanggapan 30 – Dirman Artib

Pak Akhmadkh,
Daripada kita memulai sesuatu dengan kajian empiris dan fakta negative yg harus digali, saya usulkan kepada yg menaruh kepercayaan kepada Pertamina untuk membuat saya peracya atas 4 hal yg diringkas oleh Pak Akhmadkh :
1. Penguasaan Teknologi –> Ditunjang dgn pengalaman, peralatan, diukur dgn prestasi dalam pencapaian kinerja utk menghadapi tantangan yang sama di area lain
2.  Manajemen –> Kompetensi para manajer-manajer (pengetahuan, keahlian, pengalaman di kerja di luar Pertamina, attitude, keorganisasian), yg diukur kesuksesannya dalam penerapan strategy untuk menegakkan policy dan pencapaian target utk menghadapi tantangan yang sama di area lain
3. Permodalan –> Institusi keuangan apa yg mau membiayai Pertamina selain kementerian keuangan RI?

4. Clean Governance –> (Tunda dulu diskusi yg ini)

Tanggapan 31 – Sketska N. sketska

Pak Diirman two thumbs up …

Tanggapan 32 – radja_minyak_tg04

Pak Dirman,

Dengan hormat, sepertinya apa yang Anda kemukakan tentang Pertamina terutama yg berkaitan dengan Blok Mahakam sangatlah argumentatif. Anda berbicara tanpa didukung fakta yang jelas. Ketika diminta Pak Akhmad menjelaskan fakta atas pernyataan Anda, malah hal tersebut Anda lempar kembali ke forum untuk dijawab.
Anda malah melarikan diri. Kemudian, Anda malah berusaha untuk diyakinkan oleh forum, memang Anda ini siapa? Hanya sekedar komentar untuk Anda.

Tanggapan 33 – Thomas Yanuar

Pak YFY,

Saya rasa kok kurang bijak membawa pernyataan “memang Anda ini siapa?”
Kita berdiskusi tentang suatu topik yang jelas, sebaiknya tidak memasukkan unsur personal/pribadi.

Tanggapan 34 – H. Haerudin h

Saya juga jadi penasaran dan coba cari info. Hasil dari Mbah Google ….

Kelihatannya sih …. Pertamina “boljug” …. (boleh juga) 🙂

Tanggapan 35 – Yahoo lindra_shr

Dukung kemajuan bangsa dengan bangga thdp pertamina

Tanggapan 36 – topik_jbi

Pak Diirman,

Agree..!
2 thumbs up …

Tanggapan 37 – desma_rd

Uda Dirman,

Sepertinya anda sudah terlalu lama di luar negri sampai lupa bahwa semua anak bangsa menggeliat untuk mencapai kemajuan.

Point no.1
Penguasaan teknologi. Kenapa masih perlu mempertanyakan itu ? Teknolgi sudah ada di blok mahakam itu beserta segala sumber dayanya. Justru menjadi pertanyaan, teknologi apalagi yang diperlukan. Saya rasa tidak ada yang spesial dengan blok gas di mahakam. Sama seperti beberapa lapangan gas di ONWJ, yg merupakan mature field dengan posisi sumur yg berdekatan satu sama lain. Sekalian menjawab komentar dari pak Elwin Rahmat. Dari pendapat bbrp teman, bahkan tipe komplesi di delta mahakam tidak serumit di ONWJ.

Beberapa lapangan gas yang dimiliki pertamina bahkan memiliki tingkat hazard yg lebih mengerikan daripada yg di delta mahakam. Seperti di matindok dan lap. Jawa timur.

2. Manajemen.
Justru sdm di delta mahakam akan dapat menjadi manager-manager yg akan memiliki keleluasaan utk berkreativitas untuk membuat program dan mencapai target produksi.

3. Permodalan.
Wow. Pendapat anda sungguh under estimate. Dengan aset, market dan penguasaan downstream yang luas, produksi yg tidak bs dibilang sedikit, pinjaman modal bukan hal yang sulit buat pertamina. Alih-alih memberikan pinjaman, pemerintah mungkin malah masih berhutang ke pertamina dalam hal dana subsidi bbm.

4. Clean Governance.
Better not talk about this. Krn pembicaraan akan jd bola liar, ttg perusahaan mana sj yg benar benar memiliki hal ini.

Demikian saja pendapat saya. Banyak cerita tidak sedap yg beredar ttg pertamina, tapi lebih banyak lagi berita bagus yg dimiliki pertamina namun tidak banyak diketahui publik.

Pertamina memang masih harus banyak berbenah. Dan itu memang terus dilakukan. Dan bila delta mahakam bergabung dgn pertamina, maka sdm-nya akan menjadi kontributor penting bagi pertamina.

Tanggapan 38 – Dirman Artib

Kawan2 migas,
Saya tidak meragukan kemampuan anak bangsa ini dalam mengelola SDA migas Republik Indonesia. Di Qatar, para anak bangsa ini menempati peranan penting di Qatar Gas, RafGas, Qatar Petroleum, dan Petrochemical spt. Q-Chem. Di Malaysia, tak kalah pentingnya para Geologiest, Petroleum dan Facility Engineer, Sub-sea Engineer berperan di Petronas. Di sini negeri Sultanate of Oman, kawan2 Medco membuat iri para Engineer2 PDO karena pengelolaan “rancak” sumur-sumur tua “Kareem Small’, semakin tua semakin berminyak ha…ha..ha
Seberapa besar sebenarnya pede Pertamina merasa mewakili anak Bangsa Indonesia?
Apakah sebesar iklan di TV “Pertamina untung Bangsapun untung?”

Sebagai anak bangsa yang juga stakeholder Pertamina, saya juga punya hak untuk meragukan kemampuan perusahaan yang dibiayai oleh uang negara tersebut. Kenapa stakeholder (baca:seorang boss) tidak harus sibuk mencari dan mengungkap fakta untuk meredam ketidakpercayaan dan keraguannya terhadap perusahaan yang jauh lebih tua daripada perusahaan Jiran tsb?
Saya hanya mengingatkan kita semua untuk tidak menerima logika salah selama ini di mana yg yang harus membuktikan terjadinya tindak kriminal korupsi haruslah Jaksa, padahalseharusnya si tersangka koruptor yang harus bersusah payah untuk mengumpulkan bukti bahwa duit dan hartanya adalah hasil dari usaha ini dan itu yang halal dan legal. Toh setiap transaksi bisnis ada pembukuan keuangannya.

Nah, tinggal Pertamina yang membuktikan “kemana aja ente selama ini, kok sekolahnya nggak tamat2, sementara Petrobras, Petronas sudah tamat S3, padahal sewaktu Pertamina mau tamat S1, Tan Sri Petronas sering minta diajarkan Al-Jabar persamaan kuadrat kepada Mas Petra”.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada kawan2 yg bekerja di Pertamina, saya hanya mengingatkan bahwa tidak hanya perusahaan anda yang
punya hak mewakili lambang Garuda dalam bisnis perminyakan, jadi jika menyangkut kepentingan minyak Indonesia maka tidak harus otomatis diwakili Pertamina.

Tapi fakta yang juga membuat saya bangga terhadap Pertamina adalah penyebaran SPBU sepanjang jalan lintas Sumatera tengah, nah………ini faktanya saya lihat dan alami sendiri, selain bensin tersedia toiletnya pun sangat penting buat kebutuhan biologis. Saya kasih 2 jempol buat Pertamina, tetaplah fokus di bisnis ini he..he..he..

Tanggapan 39 – Andry Arianto

Makanya om Dirman, supaya Pertamina utk bisa sejajar dgn petronas atau petrobas jadi S3. Om dirman dan teman2nya yang ada di luar sana. Bisa kembali ke indonesia. Jd Harapan om dirman bisa tercapai……ok

Tanggapan 40 – Zaki Zulqornain

Sebenarnya engineer2 kita yg melalang buana alias berdiaspora itu bukan berarti mereka jadi pinter setelah kerja di luar negeri. malah sebetulnya mereka ini bisa jadi sdh pinter dulu sejak masih kerja di sini (logikanya apakah perusahaan2 asing di luar mau merekrut engineer kita sbg expat kalau masih berkualitas rendahan?). jadi urusan kemajuan bangsa (dan bumn seperti pertamina) jawabannya tidak selalu dg pulang kampungnya engineer2 kita, melainkan juga tugas org2 yg masih di sini utk meningkatkan kualitas diri dan organisasinya utk bisa memajukan bangsa ini.

Tanggapan 41 – berlian syako

Setuju dengan mas Zaki,
Saya dapat banyak ilmu dan pengalaman berharga justru waktu kerja di Indonesia, kerjanya berat, underpressure, bahkan mendapat marah dan bentakan dari atasan, sementara gaji kecil. full stress tapi hikmahnya bisa cepat jadi pintar.

Sementara kerja di luar negeri, kerja nyantai, baca email, cuma mereview kerjaan orang, cuap2 di meeting jual kecap ikutan gaya orang india, dan gajinya gede. Tapi sebenarnya tidak banyak mendapat pengalaman teknis seperti kerja di Indonesia.

Saya pernah kerja di Nigeria ngerjain proyek brownfield scope nya cuma pasang lighting, kerjaan mudah gaji sangat gede, sementara di Indonesia ngerjain proyek skala besar processing plant kerjanya lebih berat, dibentak2 tapi gajinya kecil.

Karena saya punya kemampuan untuk memilih tentu saya pilih kerja di luar negeri dari satu negara ke negara lain sekalian sambil berwisata, mumpung masih ada company di luar yg masih mau pakai.

Tanggapan 42 – imel_rori

Bapak2 yth,

Kalau kita adakan kontes antara Pertamina Hulu dengan Medco, Tbk dan/atau NOC lainnya. Mana yg lebih bagus?

Dari hasil kontes ini, mgkin bisa ada alternatif NOC lain selain pertamina. Atau kolaborasi antara pertamina+NOC, misal Medco sbg perusahaan Tbk bisa mengisi kekurangan yg dimiliki pertamina.

Tanggapan 43 – Putranto Manuhoro

kok yang di ributin cuma mahakam ya ? padahal taun 2017 dan deket2nya banyak juga kontrak dari ioc ioc yang mau expire.
apakah karena potensi yang paling besar dibandingkan yang lain2 kah ?

pada akhirnya semua tentang bisnis…. kalau saya jadi pemerintah tinggal minta siapa yang bisa kasih setoran paling tinggi ke kas negara, sekali lagi setoran ke kas negara. ada gak yang berani profit sharing 90-95% buat pemerintah ? saya berprasangka baik bahwa para pemimpin ini sudah mulai sadar akan dosa korupsi jadi mereka milih dengan akal sehat.

sebetulnya kalau masalah teknologi, siapa sih yang gak bisa….. wong semua kerjaan di kerjain kontraktor, gak punya teknologi ya tinggal beli lisensinya atau gak gandeng dan kasih saham…. contohnya aja lapangan abadi, inpex tidak punya teknologi buat bikin FLNG ya digandeng deh shell.

kalau masalah personnel, udah pada tau kan kalau orang indonesia di akui di dunia oil and gas, kalaupun gak ada lagi, kumpeni manapun yang pegang juga bisa cari konsultan, dolar man, dan atau bajakin orang orang yang nyangkul di qatar, malaysia, australia, uae, etc

Tanggapan 44 – Dirman Artib

Setuju dgn Bapak Putranto Manuhoro, siapapun yg penting plg banyak buat setoran ke kas negara, tidak hrs ada perbedaan pelat merah dg pelat hitam.

Setuju dg Pak Zaki, bahwa kerja di LN bukan bikin kita tambah pintar, bahkan bikin kita jauh dr informasi terkini, terutama jauh dari infotaintment artis Indonesia:)

Pak Berlian, ada lowongan nggak, khususnya gaji nigeria tp kerja yg nyante kayak gitu, mngkn saya kebetulan kebagian sialnya, hrs jungkir balik mengikuti irama 1059 workers yg ngerjain project/contract saya ini, jd belum bisa nyante kayak Pak Berlian he..he..he..

Kepada Pak Thomas saya sarankan jgn pulang, tapi usahakanlah lebih banyak para NKRI kerja di LN, Indonesia butuh devisa, bukan kekurangan orang2 kayak kita, kawan2 yg lebih pintar dari saya buanyaak, semua anggota milis ini huebat (tapi hrs kritis dgn politisi berkedok profesional migas yg jual kecap atas nama bangsa).

Buat Pak YFY, “memang anda ini siapa?”.
Saya sering dengar pertanyaan spt ini sewaktu kerja di Indonesia, biasanya ini ucapan Direktur atau Manager-manager yg pamer kekuasaan. Tahun 1998 saya juga pernah dengar pertanyaan begini sewaktu ngerjain project Pertamina Cilacap. Tahun 2002 saya juga pernah dengar dari ucapan seorang petinggi IOC operasi di Natuna sewaktu menginterview saya, dan langsung saya tinggal pergi sembari berucap “maaf, saya kira anda sudah baca CV saya sebelum interview, kalau begitu tolong baca dulu CV saya”. Lalu thn 2003 saya juga menerima pertanyaan ini dr pekerja IOC ONWJ karena saya melaporkan WC di platform yg nggak proper flush di STOP CARD. Rasanya bbrp tahun lalu saya dengar di TV Indonesia ada pengacara populer yg juga menggunakan kata-kata ini. Tapi saya belum pernah ada yg bertanya spt. itu selama di LN “What the hell are you?”.
Rupanya ada situasi, lingkungan, dan social yg membuat mereka teredukasi seragam dalam mengexpresikan diri mereka sendiri dgn pertanyaan kepada orang lain”memang anda ini siapa?”, padahal sebenarnya dia ingin memberitahu bahwa “loe nggak kenal gue ya, jangan macam-macam loe ama gue, ntar gue silet loe baru tahu rasa” he…he…he..

Btw.
Pak YFY, saya ini adalah anak dari ayah saya yg menikahi ibu saya. Sayapun sekarang hanya seorang ayah dari anak-anak saya, cuma saya numpang cari makan di negeri “Sultan Qobus” Oman, saya ke LN karena saya di Indonesia takut dengan pertanyaan orang-orang kayak Pak YFY ini (ampun pak…ampun pak)

Tanggapan 45 – Hilfus Syabab

Uda Dirman,

Kalo banyak yang bilang hal itu ke Uda Dirman, mungkin ada hubungan dengan karakter atau sifat yang kurang diterima oleh orang lain pada umumnya. 🙂
Ada baiknya juga lho mendengar kritikan tentang diri sendiri jadi bisa terus memperbaiki diri, tanpa perlu defensif.
Apa yang kita panen adalah hasil dari yang kita tanam bukan.. Hehehe..

Pak Berlian,
Senada dengan Uda Dirman, bolehlah dishare kalo ada kerjaan yang seperti itu santai tapi di appresiasi tinggi oleh company 🙂

Tanggapan 46 – Dirman Artib

Terima kasih Pak Hilfus atas nasehatnya, anda semakin membuat saya takut pulang, takut mendengar pernyataan yg menggelikan itu……… hiiii….”memang anda ini siapa?”

Ampuuun pak, saya rakyat biasa

Tanggapan 47 – Ginting Rasidin

Mari kita semua introspeksi diri, utk perbaikan kedepan, khususnya buat diri kita, dan janganlah sombong dgn apa yg kita peroleh saat ini, karena semua itu karunia Allah semata, kita tidak tau apa yang akan terjadi besok, skrg kita bisa bicara apa saja tapi kalau ALLAH memulangkan kita ke Indonesia skrg ini juga kita akan pulang. semoga kita semua dapat mengambil hikmahnya.

Saya dukung Pemerintah dapat mengambil alih Blok Mahakam dgn baik.
Indonesia Aku bangga jadi salah sat
u Warganegaramu.

Tanggapan 48 – insyi74

Dukungan yang sangat mudah bagi kita yang masih mau melihat Indonesia sebagai tuan dirumah sendiri, adalah mendukung kepemilikan blok mahakam full oleh pertamina. Semampu apapun pertamina, itulah bangsa indonesia, bangsa atau negara indonesia adalah tempat kita dilahirkan, tempat kita berlindung dikala tumbuh dewasa, dan tempat berlindung dikala menjelang senja..
Saat kita sudah tidk lagi mampu memberikan sumbangsi kepada sesama manusia, maka bangsa sendirilah yang mau dan ingat jasa jasa kita, peduli kewarga negaraan kita, dan selalu membuka pintu apabila kita membutuhkannya. Bangsa indonesia bagaikan seorang ibu yang selalu mau menerima anaknya dalam kondisi apapun, sejahat apapun.
Ancaman dan serangan yang datang sekarang ini bukan lagi tugas pendahulu kita, soekarno, hatta, atau pejuang2 yang sudah membuktikan kesetiaannya mengorbankan jiwa dan raga demi tegknya bangsa indonesia….
Sekarang ini giliran kita…kita sebagi pelindung negara, pelindung kekayaan alam kita, pelindung tumpah darah kita, pelindung generasi muda kita dan pelindung masa depan anak cucu kita…..
Merdeka!

Tanggapan 49 – oksihartiko

Ya sudah lah pak….gak usah plg. Ngapain plg kenegeri yg udah ga bekualitas. Dikelilingin org2 yg ga kompeten….kalo kata org melayu “kito nih apolah…tak ado apo2”. Pokoknya bapaklah yg paling berkontribusi buat negeri ini.

Tanggapan 50 – RH Daulay rahmat

Setuju pak, lanjutkan pengibaran merah putih disano. Bukan hanya olah raga aja yang perlu ditingkatkan. Kalau bisa tenaga professional juga. Masa kita kalah sama philipina dan india. Mereka besar dimana2, padahal cuma cuap2 aja kerjanya. Sorri jika gak nyambung.

Bersambung : Blok Mahakam – what next after 2017? – Bagian 3
Share This