Select Page

Kawan – kawan marilah kita tidak memberikan penilaian yang sebenarnya kita tidak tahu pasti. Jangan under-estimate menilai BUMN kita yang telah sedikit banyak telah berperan menunjang kehidupan negara ini, termasuk anda – anda semua.
Jangan sepenggal pengalaman buruk dijadikan penilaian umum (men generalisasi) kinerja sebuah perusahaan. Sangat setuju dengan Pak Anas H, saya kira Total pun tidak men-drill sumur sendiri begitu juga PEP. Saya juga melihat sendiri PDSI (Pertamina Drilling Service ) anak perusahaan Pertamina (Persero) bisa melakukan pengeboran sampai 2000 m baik vertical maupun directional dengan hasil yang baik. Dan beberapa field PEP juga bahkan ada yang bisa meningkatkan produksinya sampai lebih dari 200%. Saya yakin tidak ada oil company yang bisa manju sendiri tanpa dukungan Oil Service Company.

Tanggapan 28 – desma_rd

Mas Ayub,

Cuma bingung aja, sumur eksplorasi apa yang bisa menghabiskan 100 juta dollar per sumur ? Pakai rig apa ? Dengan jack-up, 50 juta dollar sudah dapat dipastikan sangat mewah. .Mau ngebor deepwater ? Di Mahakam kan tidak ada (tolong saya dikoreksi kalau memang di mahakam ada deepwater).

Soal pekerja 1 orang ekspat diganti dengan 1 orang indonesia yg jadi ekspat, perlu diteliti dulu tuh skema penggajiannya. Kalau 1 ekspat yg masuk ke indonesia digaji ekspat (masuk cost recovery ?) vs 1 orang indonesia jd ekspat dgn gaji indonesia (masuk cost recovery ?) dan hanya ditambahkan biaya hidup dari total, masih untung siapa ? Soal ini mungkin teman teman dr hrd dan finance yg lebih tahu.

Soal reserve. Apakah yg anda sebut tinggal 25 persen itu dari existing reserve krn tidak adanya sumur-sumur eksplorasi baru ? Karena sangat dipahami dengan status yg tidak jelas, sangat riskan bagi Total utk melakukan eksplorasi baru. Yg dilakukan adalah memaksimalkan pengurasan reservoir dengan melakukan pengeboran horizontal. Itupun kalau tidak dilakukan hati-hati justru akan merusak reservoir yg ada spt yg terjadi di salah satu lapangan milik kps lain.

Oh iya, kalau Mahakam tidak menguntungkan, kira-kira kenapa PM Prancis perlu repot-repot datang ke Indonesia untuk melobi soal ini ?


Sekitar awal Maret kemarin, TEPI mengadakan tendering untuk project PECIKO & SISI NUBI dengan lead time delivery sangat pendek untuk ukuran/type yang diminta. Termasuk ukuran big tender untuk splitter wellhead & X-tree, namun sayang technical requirementnya cenderung merujuk ke salah satu brand sehingga saya rasa susah untuk mendapatkan tender tsb. Cukup wajar memang kalau TEPI menginginkan pemenangnya brand yang sama dg brand wellhead yg telah terpasang sebelumnya di field mereka.


Tanggapan 29 – Rania Indrianingsih


Oh iya, kalau Mahakam tidak menguntungkan, kira-kira kenapa PM Prancis perlu repot-repot datang ke Indonesia untuk melobi soal ini ?

quote: kucing mana pun akan datang mengendus, jika ada ikan asin nganggur ….


Tanggapan 30 – rio.hendiga@akersolutions

 
Sekitar awal Maret kemarin, TEPI mengadakan tendering untuk project PECIKO & SISI NUBI dengan lead time delivery sangat pendek untuk ukuran/type yang
diminta. Termasuk ukuran big tender untuk splitter wellhead & X-tree, namun sayang technical requirementnya cenderung merujuk ke salah satu brand sehingga saya rasa susah untuk mendapatkan tender tsb. Cukup wajar memang kalau TEPI menginginkan pemenangnya brand yang sama dg brand wellhead yg telah terpasang sebelumnya di field mereka.

Mungkin benar yang dikemukakan pak Desma, kalau Mahakam tidak menguntungkan kok PM Prancis dtg ke Indonesia untuk melobi . Namun seperti yang kita ketahui memang terlalu banyak conflict of interest di jajaran petinggi kita apalagi kalau menyangkut SDA kita. Mulai dari process tendering sampai sudah keluar minyak/gas, selalu ada aja jalan menuju ke Roma.



Tanggapan 31 – Karina karce1706


*jadi gatel pengen komentar*

Saya pernah kerja jadi kontraktor buat sumur eksplorasi di Pertamina, dan buat sumur vertikal aja, dangkal 900m di Cepu (onshore) saja harus menggunakan integrated project management karena pertamina ep tidak punya karyawan yg cukup berpengalaman maupun kapasitas yg cukup utk membor sumur dangkal dikawasan cepu (yg notabene udah banyak data-nya)

Sekarang saya jd kuli drilling di tepi utk field barunya di south mahakam. Harus ngebor 4500m diplatform super mungil, angle yg sulit. Di field lain seperti TTH dan peciko yg sudah mature lebih sulit lagi. Lubangnya sudah seperti akar serabut kalo diliat dr bird view, inclination gila2an sampai horizontal, anti collision risk besar bgt, kita bahkan pakai teknologi splitter well (1 slot 2 sumur) dengan beribu company rules supaya bisa tetap ngebor sementara platform bisa tetap berproduksi dan well intervention (klo produksi berkurang) bisa dilakukan.

Hmm sorry ya buat yg kerja dipertamina, tp apa sampeyan bisa kaya gt? Kalo ada yg tersinggung mahap de. Masi pagi belom ngopi


Tanggapan 32 – Anas H


Bagi oil company, ngebor hingga lubangnya sampai sudah seperti akar serabut pun, biasa saja….tinggal cari services directional yg handal. Memangnya total ngerjain sendiri itu sumur2nya….? Palingan anadrill, or backer jg yg ngerjainnya, bukan total scr lgsg.

Nggak baik ah, nganggep enteng/ngeremehin company lain…. Bisa marah tuh suhu2 drilling dr pertamina-ep, yg dibilang gak ada yg mampu ngebor sampai 900m vertikal.


Tanggapan 33 -karce1706

Wah…sorry mas, salah satu yg membedakan tepi dibandingin oil co lainnya adalah sistem anti collision-nya, dan teknologi splitter well-nya. Directional driller-nya memang contractor, rig-nya jg contractor, tp tetep aj kita ngga hanya 100% QC mereka, tp juga desain sendiri.

Kali ini saya ngomong pake fakta. Kenapa pertamina ep sampai skrg pakai ipm project buat ngebor dicepu dan pondok tengah? Hayoooo

*kayanya saatnya mas anaazzz salto deh*


Tanggapan 34 – Anas H
Karina:
Wah…sorry mas, salah satu yg membedakan tepi dibandingin oil co lainnya adalah sistem anti collision-nya, dan teknologi splitter well-nya. Directional driller-nya memang contractor, rig-nya jg contractor, tp tetep aj kita ngga hanya 100% QC mereka, tp juga desain sendiri.

Me:
Serrrrrius, desain total sendiri…?? Hak cipta/ paten-nya, nomer berapa? Sistem collision dah common, bukan teknologi aneh lagi. Splitter well,  Baker Oil Tools punya produk namanya ‘Downhole Splitter’. Kok, saya jd ragu total ni oil company or service company ya? Atau dua2nya, bisa juga?  😛


Karina:
Kali ini saya ngomong pake fakta. Kenapa pertamina ep sampai skrg pakai ipm project buat ngebor dicepu dan pondok tengah? Hayoooo

Me:
Nah ini dia….dibilang fakta, tp kok ngelantur ya. Pengeboran pertamina-ep yg di IPM-kan, bisa dihitung dg jari. Sisanya, dilakukan terpusat oleh drilling departement (DD) di seluruh wilayahnya se-Indonesia Raya. DD ini dept organik, yg berada langsung di bawah presdir. Per hari ini saja (detik sekarang), seingat saya ada 41 rig, yg sedang ngebor-dioperasikan oleh DD-PEP. Kedalamannya bervariasi, dr 2500ft s/d 12000ft. Dari yg vertikal, sampai yg akar serabut. Dari Aceh, sanga2, bunyu, sulawesi/matindok, sampai dg papua….termasuk di Cepu. Itu tidak termasuk pengeboran yg di KSO/TAC-nya pertamina. Tidak termasuk juga rig2 yg mengerjakan WoWs/workover-wellservice. Dan ini baru Pertamina-EP. Jika disebutkan juga dg yg dilakukan oleh PHE, PGE, tentu akan lebih banyak lagi.

Tapi ah, buat apa sih gaya2an, berbangga2an. Di dunia ini tidak ada yang sempurna….yg sempurna hanyalah Allah YangMahakuasa.


Karina:
*kayanya saatnya mas anaazzz salto deh*

Me:
Monggo….mbak/mas mau koprol boleh….salto boleh….jungkir balik juga boleh, gak ada yg larang.


Tanggapan 35 – Layangkulo hadisutrisno


Kawan – kawan marilah kita tidak memberikan penilaian yang sebenarnya kita tidak tahu pasti. Jangan under-estimate menilai BUMN kita yang telah sedikit banyak telah berperan menunjang kehidupan negara ini, termasuk anda – anda semua.
Jangan sepenggal pengalaman buruk dijadikan penilaian umum (men generalisasi) kinerja sebuah perusahaan. Sangat setuju dengan Pak Anas H, saya kira Total pun tidak men-drill sumur sendiri begitu juga PEP. Saya juga melihat sendiri PDSI (Pertamina Drilling Service ) anak perusahaan Pertamina (Persero) bisa melakukan pengeboran sampai 2000 m baik vertical maupun directional dengan hasil yang baik. Dan beberapa field PEP juga bahkan ada yang bisa meningkatkan produksinya sampai lebih dari 200%. Saya yakin tidak ada oil company yang bisa manju sendiri tanpa dukungan Oil Service Company.

Memang masih banyak yang harus dibenahi oleh PEP atau PHE tetapi sangat menyakitkan jika generasi – generasi bangsa Indonesia dikerdilkan oleh bangsanya sendiri. Seharusnya rekan – rekan yang telah duduk di Oil company asing dan merasa expert dibidangnya bisa memberikan sumbangsih pengalamannya lewat forum ini. Rekan – rekan yang sudah merasa mempunyai expertise selangit seharusnya bisa lebih percaya diri, toh nantinya kalaupun, sekali lagi kalaupun blok mahakam ditangan BUMN kita, saya yakin para expert yang sekarang bekerja di situ tidak akan dibuang begitu saja. Tidak mungkin sehebat apaun PEP atau PHE bisa mengelolanya dari nol tanpa melibatkan karyawan yg sudah bekerja puluhan tahun
disitu. Pada saat itulah seharusnya rekan – rekan semuanya bisa memberikan kontribusi yang lebih untuk negara ini menuju kemandirian bangsa. Kecuali jika sekarang teman – teman yang di Total, Maa’aaf tidak PD atau ilmunya di umpetin ama Total, heeeheeheee.

Sekali lagi kalau tidak tahu lebih baik kita diam dan berdo’a mudah – mudahan negera ini lebih maju dengan kemandirian seutuhnya. Tengoklah Iran yang walaupun diembargo sedimikian rupa tetap bisa menggulirkan keputusan politiknya sendiri dan tetap bisa mengelola negaranya sendiri. Amiiiin untuk Indonesia yang lebih mandiri.

Tanggapan 36 – hotna70


Pertanyaannya apakah tenaga kerja profesional di Milis ini plus tenaga profesional di company lain yg masih peduli Indonesia tdk ada yg mampu mengelola Blok Mahakam dan Blok lainnya ketika Indonesia/Pertamina yg jadi operatornya?
Atau bila perlu kita belajar dgn Presiden Venezuela ketika dia dgn tegas bersikap manakala perusahaan asing ingin mendominasi asset yg menjadi hajat hidup Rakyatnya.Ingat kawan2 ketika hajat hidup rakyat dikuasai asing maka ketergantungan ekonomi kita ada dibawah telapak kaki mereka,maka kita akan slamanya tunduk dgn kemauan mereka! Tdk mau? Wong si Soros aja bergerak kita sdh kelimpungan?! Apalagi kalau produksi Migas yg stop??? Issue harga BBM aja naik Rakyat sdh resah!!! Oleh krn itulah negara2 maju tdk akan melepaskan kebutuhan hajat hidup rakyatnya dikuasai pihak asing! Soal korupsi,politik, itu hal lain lagi krn terlalu melebar,jgn ini jadi alasan krn kenikmatan sekelompok orang terganggu lantas bilang Pertamina blm sanggup! Mari kita siapkan masa depan generasi penerus kita shg tdk terus menerus”dijajah” asing! Kita hrs mandiri kawan… :)kita tentu tak ingin bagai ayam mati dilumbung padi.
Salam prihatin. Hot.Na70

Tanggapan 37 – b_yudistira b


Maaf pak,

Untuk Venezuela kebetulan saya Dan rekan2 process jugs sempat terlibat salah satu development lapangan di sana dgn lokal (petrocedeno). Lapangannya namanya yucal placer Dan kebetulan total partner. Ternyata setiap Ada development ataupun modifikasi mereka sekali meminta bantuan total Untuk melakukan study Dan memiliki teknologi yg terbaik.

Jadi walaupun sesumbarnya mereka nasionalisasi tapi ujung2nya minta bantuan juga karena belum mampu.

Selain itu contoh lain adalah Myanmar yg sangat tertutup saat itu tapi toh
beberapa perusahaan asing termasuk total beroperasi di sana Dan perekonomian mereka terbantu.

Teman2 di TEPI sangatlah nasionalis, bisa bapak coba tilik kalau mereka Bahkan kerja di Sabtu minggu (bukan pekerja lapangan tapi di office bpn) karena mereka memegang amanah Untuk menjaga produksi. Apa keuntungan mereka kerja di hari Libur Tanpa dibayar lembur? Jawabannya adalah dedikasi karena amanah mengelola sda Untuk negara2. Beda dgn perusahaan di sampingnya yg tiap hari jam 4 atau 4.30 sudah pulang karena memang jam kerjanya segitu.

Maaf kalau tersinggung, saya hanya meningkatkan fakta.
Yang jelas pak Wanen sudah menegaskan Untuk memberikan pengelolaan blok mahakam kepada yg menguntungkan negara. Jadi kalau memang penilaiannya transparan Tanpa Ada tunggapan, saya sangat setuju siapa pun nanti yg mendapatkan Hak pengelolaannya. Dan kita semua juga hrs berjiwa besar menerimanya asalkan pure business Untuk kepentingan negara Tanpa Ada muatan2 politicking di belakangnya.

Tanggapan 38 – Anas H


Lagi-lagi miss info bagaimana pertamina berkiprah. Please, jika baru tau info sepotong2, don’t judge everything bout that. Itulah beban masa lalu, yg rasa2nya nggak adil jika ditimpakan ke generasi skrg.

Coba sesekali site visit deh ke lapangan ptmn, bisa disaksikan mereka kerja mati2an 24jam mempertahankan decline produksi. Ada field base, ada office based…. Jangan sinis begitu deh, sm perusahaan ini. Boleh bapak b_yudistira hopeless sm politisi or penyelenggara negara yg korup, tp tetep be objective…jgn di-‘gebyah uyah’/digeneralisir kayak begitu.

Nasionalisasi bukan berarti semuanya pribumi yg kelola, dan yg bau2 asing terus disingkirkan. Kita sama sekali tidak alergi dg mereka…cm mempertanykan sj, kok bisa mereka ambil 1000 dr kita dg 100 utk pejabat kita, ada 900 berarti rakyat sudah dirugikan, terus enjoy berpuluh2 taun dibegitukan.
Mulailah diubah maindsetnya, bagaimana jika mereka diperankan sebagai ‘kuli’ yang kita bayar sesuai dg keahliannya. Sedangkan harta karun migas, batubara, emas dll, tetap 100% milik republik ini.

Memang tidak bs serta merta sim salabim. Butuh pemimpin yg cerdik. Mengapa kita tidak belajar dr sejarahnya Aramco dulu, yg awal pengelolaan explorasi migasnya oleh asing (Aramco= arabian american oil company), lalu kemudian setelah dirasa waktunya, diambilalih oleh raja faisal bagi sebesar2nya kemakmuran rakjat saudi. Demikian pula sesungguhnya term kontrak PSC kita yg saat ini sedang jalan. Termasuk mahakam ini, yg thn 1968 pertamina membuat kontrak bagi hasil dg prtamina. Kalau kontrak sdh habis, dan pertamina menyatakan kesanggupannya, ya silahkan dilanjutkan oleh pertamina. Nah, ini ada apa? Kok diperpanjang terus2an sampai mau 2x perpanjangan. Kita seolah2 gak punya kedaulatan utk sekedar bertindak sesuai dg perjanjian. Masih banyak kok blok lain yg bs ditawarkan ke total…

Baca komentarnya RR di detik (terlepas jikalau dipelintir sm wartawan), kok serasa lebay gitu ya…kita bs pakai pakaian bagus, bisa gaji guru, polisi, TNI, dsb krn sebab investor asing. Yang bener aja….emangnya para investor itu CSR doank yg tidak mencari untung? janganlah gelap mata seolah2 spt anak kecil yg dikasi gopek aja biar diam, terus berpuas diri.
Sedih deh. Para profesional migas Indonesia kok dibilang tidak mampu kelola sendiri sektor migas oleh (wakil) menterinya sendiri.



Tanggapan 39 – Doni Afrizal


Mas/Mbak Dqs,

Numpang tanya, pertamina itu bukan BUMN ya? Sehingga bukan dimodali negara?



Tanggapan 40 – haditomo_irawan
Rekan Uda Dirman,

Saya salut dengan komentar2 rekan ttg Pertamina, well okay katakanlah Pertamina kurang dpt diandalkan utk mengelola blok Mahakam.
Jadi menurut pendapat Uda Dirman sendiri siapakah yg pantas? Apakah Total EP? Petronas Carigali? Chevron? Exxon mobil? Premier oil? Vico? Petrochina?.
Saya membayangkan bahwa Uda Dirman saat ini sbg tokoh kunci di BP Migas, lalu saya sbg rakyat Indonesia yg berharap SDA yg ada porsinya utk lebih besar utk kepentingan rakyat.Kira2 Uda Dirman akan memutuskan siapa? Anggaplah Pertamina EP dkk sdh “mati angin” dan pilihan cuma ada di Medco dan starenergy sbg pemain lokalnya.
Menurut usulan uda Dirman sbg BP Migas,siapakah yg paling tepat utk mengelola blok Mahakam tsb?
Ada baiknya juga perlu diusulkan petisi tandingan utk mendukung non-Pertamina utk mengelola blok Mahakam tsb?


Note:
Indonesia tetap membuktikn bhw dgn modal bambu runcing maka kita skrg dpt menikmati kehidupan merdeka dan berdaulat



Tanggapan 41 – arief rachman


Setuju dgn Uda Dirman,

Saya lahir & besar di Balikpapan, tapi saya tidak pernah merasakan manfaat perusahaan besar seperti Chevron, Total, Pertamina, Badak LNG, Vico, PKT, Eni, yang semua beroperasi di Balikpapan. dan saya rasa sebagian besar masyarakat kaltim tidak juga merasakan faedah adanya perusahaan besar tadi.

Handil masih saja sepi dan terbelakang di samping Total
Kebun sayur masih saja banjir & kumuh di samping Pertamina.
Sanga-sanga masih jauh dari tingkat “kota” disamping Vico & Badak & PKT
belum terlihat apakah jangkriknya Eni bisa bermanfaat.

dari sekian besar PDRB kaltim yang mencapai 110T
http://kaltim.bps.go.id/web/brs/2012/PDRB/20120507%20PDRB%20T1/
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_provinsi_Indonesia_menurut_PDRB_per_kapita

porsi yang di terima masyarakat sangatlah tidak berimbang dengan angka APBD Kaltim yang hanya 15% dari PDRB.

Tanggapan 40 – Oksi H Permadi

Ya anda tanya ke pemda anda…demo ke dprd. Kemna uang dari hasil SDA daerah anda. Masa oil company ngurusin pembangunan didarah. Terus fungsinya walikota sama gubernur apa?

Tanggapan 42 – Elwin Rachmat


Saya tidak tahu pak Arief lahir tahun berapa.
Saya pertama kali menginjakkan kaki di Balikpapan awal tahun 1982. Pada saat itu bandara lamanya masih semi permanen beratapkan seng, sekarang bandaranya megah dengan frekwensi penerbangan yang hanya kalah dengan Cengkareng dan Surabaya. Bangunan dan pertokoan masih banyak sekali yang semi permanen, sekarang sudah berganti menjadi gedung yang cantik. Jalan jalan masih sempit, sekarang walaupun diperbesar tetapi malah macet karena banyaknya kendaraan. Pasar dan tokonya masih becek, sekarang sudah banyak mall dan tempat kulinernya. Dulu tidak ada real estate, sekarang tanah harganya tidak kalah dengan Jakarta karena real estate tersebar dimana mana. Dulu lewat jam 8 malam sudah sepi, sekarang hidup 24 jam.
Hotel Blue Sky masih tergenang lumpur, sekarang hotel berbintang saya tidak tahu berapa banyak. Bisa dikatakan Balikpapan adalah kota yang termasuk tercepat perkembangannya di Indonesia.

Bukan hanya Balikpapan, Tenggarongpun sangat berkembang. Bontang sudah menjadi Kota Madya. Walaupun demikian saya tidak ingin mengatakan hanya migaslah yang merubah wajah Kaltim. Kayu dan kemudian batu bara sedikit banyaknya turut andil.

Bila Indonesia menjadi negara federasi seperti yang diinginkan oleh Amin Rais pada awal reformasi, maka sekarang kemungkinan besar saya masih akan berdomisili di Balikpapan yang termasuk kota yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia. Anak anak saya senang sekali bila ada kesempatan bisa berkunujung ke Balikpapan.

Masalah APBD saya kurang tahu. Semoga tidak ada lagi bupati di Kaltim yang masuk penjara atau pejabat lainnya terlibat dalam kasus korupsi.


Tanggapan 43 – Dion diondesalva


Saya tidak tahu Pak Elwin Rachmat dapat data dari mana tetapi berdasarkan wikipedia, pada tahun 2011, bandara sepinggan balikpapan bukan hanya kalah dari cengkareng dan juanda, tetapi juga kalah dari bandara Ngurah Rai Bali, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dan Bandara Polonia Medan.

Tanggapan 44 – eddy.bachr

Yg pak Rachmat ceritakan adalah. Tahun 1982 sedangkan pak Dion sampaikan tahun 2011. Klop ngak ya? He..he…. Salam.

Tanggapan 45 – Dion diondesalva

Menurut statement pak Rachmat “Pada saat itu (1982) bandara lamanya masih semi permanen beratapkan seng, SEKARANG bandaranya megah dengan frekwensi penerbangan yang hanya kalah dengan Cengkareng dan Surabaya”

Tentunya yang dimaksudkan dengan “SEKARANG” oleh pak rachmat adalah saat ini yaitu tahun 2012 bukan tahun 1982, bukan begitu?


Tanggapan 46 – Elwin Rachmat


Mungkin saja pengetahuan saya perlu di up date. Tetapi yang saya maksudkan dengan frekuensi penerbangan adalah jumlah take off dan landing fix Wings dan rotary wing. Jadi bukan hanya
Jumlah penumpang yang tiba atau pergi. Jadi kesibukan yang terjadi pada menara pengawasnya juga.

Saya berdomisili di Balikpapan pada tahun 1982 sampai 2002. Tetapi dalam setahun saya beberapa kali ke Balikpapan sampai sekarang, walaupun sudah pensiun dari TOTAL dan tidak ada ikatan apapun dengan Total lagi.

Catatan tambahan tentang Handil. Dulu Handil hanyalah sebuah desa kecil. Sekarang sudah menjadi kecamatan. Para kontraktor Total memiliki fasilitas berupa wisma, workshop atau gudang di Handil. Pada saat pengembangan di lapangan Tunu saya mewajibkan para kontraktor Total memiliki fasilitas seperti di Handil sejauh maksimal 30 menit perjalanan dari Tunu. Saya  merancang kamp Total hanya untuk pegawai tetapi tidak menyediakan fasilitas apapun bagi kontraktor agar pedesaan sekitar Tunu dapat juga berkembang melalui aktivitas logistik yang dilaksanakan oleh para kontraktor seperti yang terjadi di Handil.


Tanggapan 47 – Rania Indrianingsih


masih banyak rakyat di Kaltim yg miskin, itu FAKTA.
saya menyebutnya rakyat di Kaltim, bukan rakyat kaltim.
mengapa?
sudah lama saya ikuti statemen2 petinggi Kaltim, kemiskinan di Kaltim bukan krn warga asli, namun warga pendatang dari luar Kaltim, yg laju nya sangat tinggi, terlebih setelah 1998.
rekan2 pasti tau, siapa2 saja perusak hutan bakau di sepanjang pesisir Kaltim, yg membuka tambak, dll – bukan warga asli Kaltim.

jadi saya ngga sepakat, pemerintah Kaltim disalahkan.
sama kayak gubernur Jakarta:
“ngapain gue harus bersusah-susah ngurusin warga daerah lain, wong warga yg merupakan tanggungjawab kami, masih banyak yg susah & harus dibantu”

hidup Kaltim


Tanggapan 48 – Oksi H Permadi


Kl ada rakyat yg tidak sejahtera didaerah kaya dan pemerintahnya hanya membuat statment menyalahkan org lain,suruh mundur aja…jd rt aja.

Dia punya kekuasaan dan power utk membuat kebi
jakan yg pro kepada rakyat nya. Dia bisa bertindak utk membersihkan perusak2 hutan bakau melalui aparatnya. Kok ga ditindak?Jgn2 dia dpt bagian juga tuh…


Hidup indonesia raya…

Tanggapan 49 – Kgs Ismail Hamzah bin Mahbor

Mengenai kesejahteraan rakyat di daerah kaya, saya sering bertanya-tanya kepada diri sendiri: Kaltim adalah provinsi terkaya no. 2 di Indonesia sedangkan Sumsel adalah no. 5, mengapa rakyat sumsel lebih sejahtera dibanding rakyat kaltim?
Ada yg tahu? Please sharing

Tanggapan 50 – arief rachman


Pak Oksi,

bukankah ada kewajiban CSR, bagaimana implementasi CSR mereka sampai2 tetangganya aja kagak dapet.

kalo mau demo, panjang ceritanya pak, haruskah sampai seperti Aceh dgn Exxon & Irian dgn Freeportnya yang harus beradu dengan Militer untuk
mendapatkan 70%.



Tanggapan 51 – Bang Daulay rahmat_dlyr2g


Wah kalau masalah aceh koq disamakan dengan blok mahakam? Saya pikir gak gitu pak arief, masalah dikaltim itu tidak bisa digeneralisir ke total, chevron, maupun vico. Semua perusahaan tersebut pasti sudah melaksanakan CSRnya, hanya yang jadi masalah bantuan yang diberikan di pergunakan tidak?. Jika kita jalan2 ke sepatin sono (dekat spu site) kita akan lihat model fly over disungai. itu digunakan masyarakan dan anak2 untuk menyeberang. Dan disitu jua ada masjid dan sekolah, saya sempat baca juga dijembatan itu ada tulisan total dan bpmigas. Jadi kalau bapak bertanya tidak sejahtera itu dimana,ya coba tanya kepak gubernur.

Kita ribut2 masalah blok mahakam, tapi kita gak ada singgung mobil oil yang diloksumawe. Apa benar 2013 ini all area exxon mau diakusisi sama medco energy?emang kapasitasnya LNG berapa banyak lagi ya?


Tanggapan 52 – firdauzihata

Dear All,
Hal2 yang disebutkan dibawah bukannya tanggung jawab pemerintah? Total, Chevron, Vico, dsb bisnis utamanya minyak dan gas bukan pembangunan infrastruktur.
Kita jangan naif dan menutup mata juga terhadap kontribusi IOC terhadap kalimantan timur secara ekonomi. Berapa banyak masyarakat Kaltim yang bekerja disana dan mendapatkan gaji yang jauh lebih besar dari rekan 2 yg dijawa. Tidak usah berbicara orang teknik, di Balikpapan gaji pembantu antara 1-2 jt, gaji supir pribadi bisa sampai 3.5 jt. Silahkan bandingkan Handil, samboja atau Balikpapan 20 tahun yang lalu dengan sekarang, kalo dibilang ngak ada perubahan secara ekonomi makro saya kira statemennya kurang objectives.
Saya sepakat dengan beberapa rekan saya yang mengkritisi isi petisi M.Batubara cs. Bahwa data yang disajikan terlalu membuai, indah dan jauh dari kenyataan. Padahal kita yang ada di Total tahu percis posisi mahakam dan betapa susahnya mempertahankan angka produksi.
Buat kami yang bekerja di Total, siapapun yang ada di Mahakam setelah 2017 tidak menjadi masalah. Pemerintah seharusnya memutuskan sejak May tahun lalu bila kita merujuk ke kontrak PSC. Sebab masa transisi tidak akan mudah dan perlu disiapkan dengan matang. Kita berbicara ttg manajemen lebih dari 1000 sumur, 3000 intervention works/tahun, lebih dari 3000 maintenance works/tahun, hampir 1500 kontrak aktif dan lebih dari 4000 pekerja.
Suara hati kecil berharap pemerintah segera memberikan keputusan atas permasalahan ini. Saya sepakat dengan konsep ketahanan energi nasional seperti dulu pernah dikampanyakean Pak Wid almarhum. Semoga keputusan tentang Blok Mahakam nanti menjadi yang terbaik bagi bangsa Indonesia.

Share This