Mobil Terbakar di SPBU

Share...Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest
Mobil Xenia bernopol B 1601 SZL yang terbakar di dekat pom bensin Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat. Ternyata penyebabnya adalah percikan api dari sepeda motor yang sedang mengisi BBM bersubsidi dan tidak mematikan mesin.



Pembahasan – Ahmad Mujib
 
 
FYI
Sebagai bahan diskusi
 

Kutip tempel dari detik.com :

min-height:0px
Kamis, 25/10/2012 11:11 WIB
Percikan Api Motor Picu Xenia Terbakar di Pom Bensin Pangeran Jayakarta
Salmah Muslimah – detikNews
Jakarta Mobil Xenia bernopol B 1601 SZL yang terbakar di dekat pom bensin Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat. Ternyata penyebabnya adalah percikan api dari sepeda motor yang sedang mengisi BBM bersubsidi dan tidak mematikan mesin.

“Sumber apinya dari motor, mungkin businya tidak dimatikan. Mesin motor masih nyala saat isi lalu ada percikan api,” kata pegawai SPBU yang menyaksikan kejadian tersebut bernama Eri di lokasi, Kamis (25/10/2012).

Pemilik motor yang belum diketahui identitasnya langsung kabur ketika api membakar tangki bensin. Akibatnya, motor tersebut jatuh dan bensin keluar menyambar mobil Xenia yang berada di sebelahnya.

“Yang punya motor langsung lari, motor jatuh, bensin tumpah dan samber Xenia yang mengisi bensin. Api langsung besar,” ujar Eri.

Melihat api menyala ditengah SPBU tersebut, sejumlah pegawai dan calon pembeli langsung kabur berhamburan menyalamatkan diri. Namun, beberapa petugas SPBU dibantu sejumlah calon pembeli sempat mendorong mobil terbakar tersebut keluar area pom bensin.

“Semua langsung pada kabur, tapi sempat ada orang-orang yang dorong mobil keluar area,” ujar Eri.

Di lokasi yang sama, Kapolsek Sawah Besar, Kompol JR Sitinjak, menyebutkan identitas pemilik motor tersebut belum diketahui. Namun, kebakaran dua kendaraan ini memakan satu korban luka bakar yang diduga pemilik motor.

“Korban satu orang kena luka bakar dilarikan ke rumah sakit, kita masih mencari, identitasnya juga masih diperiksa,” ujar Sitinjak.

Pantauan detikcom di lokasi pukul 11.00 WIB, pom bensin tersebut telah dipasang garis polisi dan operasional SPBU tersebut dihentikan. Puluhan warga sekitar pom bensin masih bertahan untuk melihat-lihat bangkai mobil dan motor yang telah dilalap api tersebut. Kondisi lalu lintas di jalan Pangeran Jayakarta depan pom bensin tersebut masih padat merayap.



Tanya – amal ashardian

Petugas SPBU nya juga salah…..tidak menegakkan aturan yang sudah baku..isi bbm wajib mematikan mesin. Tidak boleh juga berponsel ria.


Tanggapan 1 – haditomo_irawan


Rekan Ahmad,

Saya melihat suatu fenomena bangsa Indonesia yaitu kurang perduli ttg keselamatan. Apa yg disampaikan oleh rekan Ahmad merupakan sederetan dari sikap arogan dan kurang tanggap dari petugas SPBU tsb
Saya juga mempunyai pengalaman ketika menegur seorang pelanggan saat tengah mengisi BBM yaitu menerima ‎​☎.
Anehnya ketika saya tegur ybs justru sebaliknya bukan meminta maaf kpd saya jusru sikapnya arogan,jawabannya :”saudara tdk usah ikut campur, ini ‎​☎ penting”.
Dapat dibayangkan bahwa seorang elit atau esekutif sebuah perusahaan (sya meniai dari jenis kendaraan yg dia gunakan), Tidak memperdulikan keselamatan dirinya sendiri, apalagi org lain?”
Selain itu juga dpt kita lihat sikap masa bodoh ketika menyeberang jalan, jarang sekali mempergunakan “marka zebra cross”.
Namun ada fenomena aneh lainnya yaitu ketika seseorang menggunakan fasilitas zebra cross namun banyak juga pengendara yg tdk perduli ketika melintas di jalan yg mempunyai fasum zebra cross tsb.
Hukum di negeri ini sangat rancu dan banci. Kenapa takut meghukum pesakitan bagi yg bersalah.
Hukum di negeri ini hanya sebatas tulisan dalam buku tebal KUHP etc
Saya pernah mempergunakan fasilitas penyebrangn zebra cross, namun justru saya dimaki oleh pengndara spd motor yg hampir menabrak saya.anehnya ada UU Lalin yg melindungi pengguna zebra cross namun banyak juga pengendara kend bermotor yg tdk perduli
Juga sistem penggunaan trotoar bgi pejalan kki jg bernasib sama.jd hukum adl tempat sarana org2 tertentu yg tdk perduli dgn seenaknya bhkn menginjk norma2 kehidpan bernegara.
Marilah kita sama2 menyadari hal ini shg hukum dpt ditegakkan serta kepedulian akan K3 dpt terlaksna dgn baik shg kondisi aman menyertai kehidupan ini.


Tanggapan 2 – Riksha Lenggana

Gimana mau menegakkan peraturan pak. Lha wong pelanggannya juga banyak yang kurang ajar.
Di suruh matiin mesin Mobil, eeh malah tangan yg nongol ngasih duit sambil lantang berucap “Premium Full”. Trus ngadem lg di dalem, daripada keluar. Yg bermotor pasti matiin mesin (logikanya) karena kunci motor sekaligus kunci tangki. Apalagi motor bebek.
Kalo urusan ber-ponsel ria sih, entah petugas atau pembeli pun sama-sama bersalah. Lha dua-duanya gak saling peduli.
Saya membayangkan setiap masuk SPBU, handphone langsung gak dapet sinyal karena penggunaan perangkat JAMMER Dan jelas-jelas di tulis di banner 10meter sebelum sampe ke dispenser terdekat.
#sekedar mengadopsi teknologi yg di pakai di Control Room yang sensitif dengan gelombang micro.

#iri melihat peraturan negara lain yg begitu dihormati walau pecundang masih saja oportunis melanggarnya.


Tanggapan 3 – ronny_yanni mulyanto


Betul….yang mengisi bensin sm petugas seharus saling mengingatkan satu sama lain dan jangan saling cuek.


Tanggapan 4 – Ranggi Ragatha

Saya pernah menemukan di beberapa SPBU Plat merah di daerah yang jauh dari kontrol pusat, banyak pengemudi mengisi bahan bakar sambil merokok. Saya pernah menegur mereka, alasannya, “sayang rokok mahal (di daerah itu rokok bisa 25000/bungkus) kalau dimatikan, dan selama ini Saya merokok aman-aman saja kok”

Saya salut sama safety culture di salah satu SPBU milik asing yang logonya kerang, setiap Saya isi BBM Motor (kebetulan motor Saya motor besar yang tangkinya di depan) pasti selalu diingatkan untuk turun dari kendaraan, karena ada kemungkinan listrik statis dari badan manusia memicu bahan bakar yang sedng ditransfer ke kendaraan. Dan setiap isi BBM Mobil, si petugas tidak akan mengisi BBM ke tangki sebelum kita mematikan mesin dan melepas seat bealt.

Di beberapa SPBU kerang malah Saya menemukan Firex and mobile firex CRIK Merk Ansul terinstal serta tersedia fire blanket. Wuihh sangat berani berinvestasi untuk meningkatkan safety factor ya.


Tanggapan 5 – baihaqi.yussal

Saya setuju tuh dgn safety culture pengalaman mas rangga.

Harusnya seluruh spbu menjalankan safety culture tsb utk keamanan kedua belah pihak.

Harus dimulai kebiasaan yg baik tsb.


Tanggapan 6 – Kgs Ismail Hamzah

Apakah salah kalau kita lebih memilih mengisi petrol di SPBU asing drpd di SPBU plat merah kerana safety culture, akurasi jumlah liter dan kebersihan lebih baik?


Tanggapan 7 – Bang Daulay rahmat

Budaya aman itu sebenarnya gak perlu harus di SPBU kerang atau SPBU tiga warna. Harusnya sudah ada didalam diri kita sendiri, hanya kebetulan lagi lalai saja operator SPBU setempat memberikan pengarahan. Terkadang sioperator sering koq memberikan saran agar mesin dimatikan,sampai kadang ditunggu mesin motor atau mobil itu mati baru sioperator angkat gun pompanya. Hanya terkadang masyarakat kita terkadang menganggap sepele yang namanya safety.


Tanggapan 8 – taufiq

Padahal yg mengoperasikan kedua pom bensin tersebut sama2 orang Indonesia ya?

Apakah karena ada kultur safety yang berbeda?

   
Tanggapan 9 – sugeng.hariyadi

Sebetulnya itu semua kembali habbit di tempat spbu itu sendiri. Di tempat kulit kerang, si pemilik tak mau ambil resiko investasinya hilang percuma gara – gara kelalaian dari pada operator spbunya. Jadi dia menerapkan policy yg agak ketat dg berbagai sanksi terhadap pekerjanya.
Untuk masalah safety, sebaiknya no exception lah…, tapi klo buat si pemilik spbu mau ambil resiko Dg tidak menerapkan safety secara ketat ya saya pikir kembali ke habbit si pemilik spbu-nya…


Tanggapan 10 – Anthony Malem Ukur gurukinayan


Ikut urun rembuk.

Kenapa selalu yg tersalahkan adalah mereka yg tidak mempunyai kekuasaan.
Bila di ukur dengan harga, tentu saja harga para pengisi bahan bakar yg paling mahal, meneken kontrak sekali gus meneken menggadaikan nyawa.

Secara pribadi saya tidak akan menyalahkan para operator pengisi bahan bakar, yang paling harus menanggung beban kesalahan adalah pada level supervisor hingga ke pemilik SPBU.
Hukum dan peraturan tiada berarti apa2 bila tanpa pengawasan, pembimbingan
hingga hukuman bagi yg harus melaksanakannya sesuai dengan jenjang jabatannya.

Tak terbayangkan bila operator SPBU menolak mengisi bahan bakar.


Tanggapan 11 – Taufiq Firmansyah


Walaupun SPBU tersebut bukan COCO (Company-owned, Company-operated), selama SPBU tersebut menerima pasokan BBM dari si oil company dan memasang label si oil company  (mis. cap kerang, tiga-daun, dll) sudah seharusnyalah pemilik SPBU itu menerapkan safety standard yang sesuai standard dengan pemilik label. SPBU-lah ujung tombak citra dari oil company tersebut.
Baik-buruknya wajah SPBU akan tercermin ke (meskipun tidak harus mencerminkan) si oil company.

Kalau SPBU tersebut tidak bisa menjaga reputasi oil co dengan mengikuti safety-nya, kenapa masih juga dipasok BBM? Pemilik SPBU sudah memperoleh penghasilan yang lumayan dari penjualan BBM, sudah seharusnyalah mereka ikut menjaga keselamatan karyawannya dan publik.


Tanggapan 12 – Cahyo Hardo

Saya dengar malah margin keuntungan spbu itu minim, sehingga membuat saya gentar menjadikannya sbg salah satu mimpi utk masa depan.

Kalau marginnya besar, harusnya utk menegakkan safety itu tdk berat sih, kecuali marginnya pas-pasan.


Tanggapan 13 – Ranggi Ragatha

Sebenarnya tidak semua SPBU plat merah itu jelek safety culture-nya, di beberapa SPBU sepanjang ruas  arteri di Jakarta, budaya keselamatan sangat kental. Mulai dari petugas yang menggunakan safety vest / reflektor, sampai dengan pembagian handbook defensive driving untuk mengedukasi konsumen. Tapi ya itu tadi, walaupun SPBU tersebut statusnya COCO tapi ketika terletak di daerah (tidak semuanya loh) ditambah minimnya kontrol dari pusat, banyak pelanggaran keselamatan terjadi (pengalaman pribadi ya). Sepertinya selain dari supervisi internal SPBU tersebut, lemahnya kontrol dari pusat terkait dengan standar keselamatan juga menyumbang hal ini.

Saya juga kurang tahu, apakah dalam pendirian sebuah SPBU dilakukan safety study dalam bentuk risk assesment, dll. Sebagai masukan bagi operator dalam menyediakan safety equipment dan orang yang pas untuk mengoperasikan SPBU tersebut. Karena seperti kita tahu, tentunya karakter konsumen di tiap daerah akan berbeda tergantung dari latar belakang pendidikan dan tingkat ekonomi.

Share...Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest
Posted in

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


8 − = 4

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>