Shutdown System

Share...Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest
Apa yang membedakan antara PSD dan ESD? Secara umum keduanya berfungsi “membawa” sistem pemroses ke “keadaan yang lebih aman”. Namun secara spesifik PSD lebih ditujukan kepada sebab sebab Process Specific seperti: Overpressure di bagian hilir kompressor, temperatur tinggi di heater untuk fuel gas, level yang terlau rendah di slug catcher, dst. Sementara ESD lebih ditujukan untuk menanggulangi dampak dari suatu kejadian yang sudah terjadi: misalnya gas yang telah bocor, kebakaran kecil di technical room, kebocoran minyak di pipeline, dst. Kedua jenis shutdown ini dapat pula dipicu oleh spurious trip atau gagalnya sistem shutdown tanpa sebab sebab yang diketahui dengan jelas. lebih rendah levelnya dari PSD ialah USD, atau Unit shutdown. Perlu dicamkan penamaan bisa berbeda beda antar company, misalnya ada yang menyebutnya sebagai ESD1, ESD2, ESD3 dan seterusnya, ada yang menyebutkannya sebagai ESD, PSD, USD dan seterusnya. Tidak penting, yang penting pahami betul filosofi mengapa mereka diset seperti itu

Tanya – Zachari Alamsyah
Dear para milis migas Indonesia

Saya ingin menanyakan beberapa hal tentang sistem shutdown:
1. Apakah perbedaan antara PSD (Process Shutdown) dan ESD (emergency Shutdown), karena saya belum menemukan perbedaan yang kontras antara 2 hal tersebut
2. Mana yang lebih fatal akibatnya terhadap suatu Oil/Gas Plant, Process Failure atau Utility Failure
3. Apakah betul ESD lebih disebabkan oleh kegagalan utilitas (utility Failure) daripada kegagalan process (Process Failure)
4. Apa perbedaan mendasar antara sistem DCS dan SCADA? dari beberapa referensi saya simpulkan bahwa DSC beroperasi secara otomatis tetapi SCADA lebih kepada intervensi manual operator?

Terima kasih atas perhatian dan tanggapannya.

Tanggapan 1 – Munir, Miftachul@chevron

4.

SCADA dan DCS, Kedua2nya bisa dibuat beroperasi automatis atau manual. Tergantung kebutuhan design criteria-nya pabrik. SCADA mesinnya berkemapuan seperti namanya: supervisory, control and data acquisition. SCADA bisa supervise,memonitor, mengopersikan, mengendalikan dan mengambil data. Tanpa operator bisa jalan sendiri pabrik itu. Dibanding DCS, Scada punya keterbatasan jumlah I/O,  beberapa fungsi aritmatic tidak tersedia, kapasitas kommunikasi data dan jaringan terbatas, dll.

DCS juga punya kemampuna seperti SCADA supervisory, control dan data acquisisi. Bahkan diatasnya. Seperti namanya DCS (distributed Control System) merupakan mesin sistem control terdistribusi. Apanya yang didistribusikan? 4 hal, yaitu: 1-CPU 2-ruang 3-Resiko dan 4-man power (yg nomer 4 ini di cek dulu betul apa salah ya? sudah agak lupa pelajaran lama). DCS bisa pakai mesinnya sendiri 100%, (semisal yokogawa CS3000, Honeywel TDC 3000, ABB infi90, dll) , bisa juga pakai mesin SCADA 100%, misal: Pabrik Semen Gresik di Tuban DCS-nya dibangun dengan mesin SCADA merek XXXX. Bisa juga DCS konfigurasi hybrid atau campuran, misal Yokogawa STARDOM. Malah dicampur PLC sesua ikebutuhan efektivitas di pabrik.

Aplikasi DCS di pabrik: Pabrik dibagi dalam berbagai proses plant (distribusi klasifikasi dan resiko), ditentukan areanya tersendiri, lokalisasir  (distribusi ruang), setiap proses atau lokasi pabrik di assign CPU sendiri menghadle nya,( entah 1-2-3 CPU tergantung besar kecilnya proses, entah redundant apa single CPU), dan terakhir manpowernya juga diassign ditiap proses tadi. Tidak perlu manpower buanyak terpusat di control room (perbandingan man power ini dibanding pendahulu DCS yaitu mimic panel yang operatornya ngumpul di control room dan lapangan).

Untuk fungsi2 khusus DCS tidak menangani sendiri tapi menugaskan CPU lain di bawahnya. Bisa dari SCADA utk menangani. Bahkan CPU dari PLC klo proses sederhana sekali dan tidak rumit. Atau klo rumit sekali, diwakilkan proses-control-khusus atau proprietary. Misal: MARK VI, TRICONEC, dll. DCS dengan kemampuan jaringan yang besar, mengambil data/status saja dan melakukan fungsi supervisory ke perangkat khusus tersebut. Misal: shutdown system di lakukan SCADA atau PLC, metering dilakukan flow computer, atau analyzer GC dihandle oleh CPU-nya sendiri. Dimana CPU DCS tidak melakukan semua ‘permisif/squensial’ shutdon system maupun perhitungan meter dan proses analisa GC. Tapi di scada atau flow computer dan GC controller. CPU DCS tinggal supervisory dan foto copy saja.

Diatas kelas DCS masih ada juga yang lebih super. Namanya CIM, Computer Integrated Manufacturing. Orang masih menyebutnya DCS juga. Karena mesinnya pakai DCS yg ditambahi fungsi management information system. Misalnya terintegrasi dg MIS, CMMS, LOTO (atau redtag), PAGA, dll.

Mudah2an bemanfaat.

Tanggapan 2 – adie ranupane

Pak Munir,
Saya melihat sedikit kerancuan dari penjelasan bapak.
terlihat penjelasan bapak lebih ke PLC dan bukan SCADA secara keseluruhan.

PLC dan DCS atau RTU adalah sebuah komponen peralatan control dalam level yg sama yang membedakan hanyalah jumlah IO.

RTU mempunyai sedikit jumlah IO, biasa nya RTU ini bisa berbentuk PLC compact dimana IO nya sudah fixed terpasang dan tidak expandable
menginggat proses nya juga sederhana, seperti wellhead atau metering system.

PLC mempunyai jumlah IO yang cukup banyak diatas RTU namun dibawah DCS. proses nya pun cukup banyak namun tidak sekompleks refinery

DCS mempunyai jumlah IO yg besar dan mampu menghandle proses proses yg kompleks sedangkan SCADA adalah sebuah system untuk memonitor atau melakukan action secara terpusat seluruh kegiatan atau status baik dari RTU atau PLC atau DCS disimpan secara terpusat di SCADA Server SCADA server ini hanya membutuhkan sebuah PC yg cukup handal minimal sekelas workstation.

SCADA System saat ini bisa melakukan proses aritmatic yg dilakukan oleh PLC/DCS namun bahasa yg digunakan berbeda dengan PLC/DCS. bahkan SCADA system sudah bisa terintegrasi dengan system yg lebih tinggi seperi PIMS (Plant Information Management System).

terkadang sedikit rancu antara SCADA dan kombinasi PLC+HMI kalo DCS fungsi HMI sudah embedded didalam paket DCS, sedangkan PLC dipasang terpisah dengan HMI nya bisa saja PLC brand A di kombinasi dengan HMI brand B sedangkan DCS tidak bisa.

Tanggapan 3 – maryadi_ahmad

Saya rasa dgn semakin berkembangnya teknologi elektronik,mikroprosesor,IT,telekomunikasi dll batasan2 istilah PLC,DCS,SCADA akan semakin rancu yah..

Yang terpenting bagi saya sendiri dalam mendesign Control System adalah optimasi & efektivitas fungsi dari control system tadi sesuai kebutuhan control,monitoring & safety design yg dibutuhkan proses.
tdk bisa dikatakan DCS lebih hebat dari PLC, ya sekali lagi tergantung kebutuhan..
diluar istilah PLC,DCS,SCADA sendiri masih ada banyak system control yg didedikasikan utk keperluan spesifik:
misal flowcomputer,machinery protection system, vibration monitoring
system,antisurge control dll.
selaen programmable elektronik based yg disebutkan diatas .
Electro mechanic relay, pneumatic-hydraulic circuit juga terkadang masih dipakai kok utk pengontrolan..
untuk plant yg sangat kompleks toh biasanya Control System terdiri dr sub-sub control system (yg mungkin datang dr manufacturer-vendor yg berbeda) yg terintegrasi & masing2 punya fungsi & tugas tersndiri..

Tanggapan 4 – adie ranupane

Saya setuju dengan pendapat pak Maryadi
“mendesign Control System adalah optimasi & efektivitas  fungsi dari control system tadi sesuai kebutuhan control,monitoring & safety design yg dibutuhkan proses”

dan pendapat DCS lebih hebar dari PLC juga ada benarnya, mengacu ke pendapat sebelum nya
untuk proses proses yg lebih banyak aplikasi regulatori dibanding digital, maka DCS bisa lebih tepat dalam pemilihan namun untuk proses digital yg lebih dominan maka PLC bisa dijadikan pertimbangan selain karena kemampuan nya juga pertimbangan masalah harga.

dan PLC juga mempunyai flexibilitas yg lebih dibanding DCS dalam hal komunikasi antar system lain.

Tanggapan 5 – Cahyo Hardo

Pak Zachari,
Coba menjawab.

PSD disebabkan melulu karena proses upset atau intrumentasi yg digunakan sensor itu fail.

ESD bisa disebabkan oleh proses yg dpt membahayakan plant, seperti hi hi level di flare KO drum. Biasanya ada dua level shutdown system di flare KO drum ini, satu PSD dan lainnya ESD.

ESD umumnya disebabkan oleh sistem diluar BPCS, seperti fire and gas, smoke detector, pshh di fire water ring, dsb.

Mana yg lebih fatal? Dari sisi safety, jika genuine, maka level ESD itu lebih tinggi bahayanya secara umum.

Tanggapan 6 – Darmawan A Mukharror, CFSE, TUV FS Eng – Crootth Crootth

Dear Mas Zachari

Saya coba melengkapi uraian yang disampaikan mas Cahyo, sahabat saya dari Premier Oil

1. Apa yang membedakan antara PSD dan ESD? Secara umum keduanya berfungsi “membawa” sistem pemroses ke “keadaan yang lebih aman”. Namun secara spesifik PSD lebih ditujukan kepada sebab sebab Process Specific seperti: Overpressure di bagian hilir kompressor, temperatur tinggi di heater untuk fuel gas, level yang terlau rendah di slug catcher, dst. Sementara ESD lebih ditujukan untuk menanggulangi dampak dari suatu kejadian yang sudah terjadi: misalnya gas yang telah bocor, kebakaran kecil di technical room, kebocoran minyak di pipeline, dst. Kedua jenis shutdown ini dapat pula dipicu oleh spurious trip atau gagalnya sistem shutdown tanpa sebab sebab yang diketahui dengan jelas. lebih rendah levelnya dari PSD ialah USD, atau Unit shutdown. Perlu dicamkan penamaan bisa berbeda beda antar company, misalnya ada yang menyebutnya sebagai ESD1, ESD2, ESD3 dan seterusnya, ada yang menyebutkannya sebagai ESD, PSD, USD dan seterusnya. Tidak penting, yang penting pahami betul filosofi mengapa mereka diset seperti itu

2. Lebih fatal atau tidak tidaknya seharusnya me-refer ke Risk Assessment. Kasus utility failure (saya lebih suka menyebutnya demikian) seperti di Bhopal yang menyebabkan kematian lebih dari 3000 jiwa … mungkin saja lebih fatal dibanding process failure seperti di Texas City Refinery Accident 2005. Tidak bisa dianggap secara hitam putih seperti itu, semua musti melewati risk assessment agar kita bisa secara objektif bisa menyimpulkannya

3. ESD itu bisa ditrigger oleh: si empunya fasilitas memencet ESD button, terjadinya efek atau dampak kejadian yang tidak dinginkan dengan skala besar (gas bocor, tumpahan minyak, ledakan, kebakaran), atau karena kegagalan peralatan karena sebab yang belum jelas (spurious trip)

4. SCADA (biasa juga disebut telemetri) dan DCS berbeda karena media yang digunakan berbeda, telemetri/SCADA umumnya menggunakan gelombang radio sementara DCS lebih kepada penggunaan hard wiring/electronics. DCS lebih kepada pengendalian kontrol sistem (dan kadang melibabkan system shutdown, meski tidak direkomendasikan) sementara SCADA lebih kepada akuisisi informasi dan data.

Semoga membantu.

Tanggapan 7 – Agus Yulianto

Sambil nunggu pswt ke yogya, saya coba ikut menambah dua jawaban diatas:
1. Perbedaan PSD dan ESD, saya pernah mendengar penggunaan istilah PSD dan ESD di BP, di TOTAL istilahnya ESD level 1, level 2 dstnya. Kalau kita lihat dari initiatornya PSD dipicu dari fault di proses seperti over pressure atau low pressure di flowline dll. Sedangkan ESD initiatornya adalah Fire and Gas(F&G). Kalau kita lihat output atau action yang terjadi: PSD akan menjatuhkan atau closing wing valve dan master valve sedangkan ESD akan menjatuhkan atau closing wing valve, master valve, downhole safety valve (DHSV) serta akan menjatuhkan dan mengisolasi electrical power, sehingga menyebabkan total shutdown.

2. Besar kecilnya risk antara utility dan proses tentunya harus dilakukan risk assesment secara menyeluruh. Dari hasil assesment tersebut akan diketahui risk dan impactnya bila suatu sistem safety
mengalami kegagalan. Penilaian besar kecilnya impact biasanya berdasarkan impact terhadap production loss($), human fatality, environment dll. Tapi kalau kita lihat dari design suatu unit prosestidak menggunakan sebuah back up, sehingga bila terjadi fault di proses tentu akan mengalami production loss. Kalau di utility seperti boiler, compressor, generator dll biasanya installasinya menggunakanback up, kalau salah satu unit fail maka masih ada back up unit satunya sehingga tidak akan menyebabkan production loss.

3. ESD dipicu atau ditrigger dari fire and gas, bila sensor fire and
gas mendetec adanya api atau gas bocor maka akan mentriger terjadinya ESD. Selain itu juga di trigger dari push button ESD, bila seorang operator melihat sesuatu yang sangat membahayakan tentunya akanmengaktifkan tombol ESD ini. ESD kadan juga bisa dipicu oleh sinyal palsu atau juga adanya fail di sistem sensor fire and gas itu sendiri atau loss power. Sistem fire and gas biasanya designnya menggunakan voting 2ooN. N adalah jumlah sensor yang terpasang. Artinya bila 2 sensor menyatakan aktif maka akan terjadi ESD.

4. Perbedaan DCS dan SCADA. Biasanya DCS digunakan bila kita memerlukan jumlah input/output atau I/O yang sangat banyak atau besar dan distribusi I/O tidak terlalu jauh. Sedangkan scada kita gunakan bila kita memerlukan sedikit I/O, untuk prosessornya ada yang menggunakan design yang khusus atau bisa juga kita gunakan PLC. Kalau kita lihat dari sistem komunikasi antara prosessor master dan slave:
biasanya DCS menggunaka local area network(LAN) atau WAN. Untuk menggunakan sistem radio atau telepon, karena penggunaan scada biasanya untuk monitoring yang jaraknya jauh dari kontrol room atau remote area. DCS dan SCADA keduanya hanya digunakan untuk sistem
monitoring proses bukan untuk safety. Sedangkan untuk sistem safetybiasanya ada unit prosessor tersendiri.

Mudah2an bermanfaat.

Tanggapan 8 – berlian syako

Sedikit menambahkan.
1. ESD penekanannya untuk mengamankan bahaya terhadap personel , misalnya kebakaran, kebocoran, ledakan, fire & gas, explosive gas, dll, sedangkan PSD penekanannya untuk mengamankan produksi, equipment, machine, dll.
2. Kalau process failure berdampak ke produksi, sedangkan utility failure bisa berdampak ke personel.
3. Tentu human safety is number 1 (ESD) karena nyawa gak bisa diganti, tapi kalau produksi terhenti atau fasilitas produksi hancur bisa dibangun kembali. Tapi tentu semuanya adalah penting, tidak bisa digeneralisir, harus melalui analisa yg tepat.
4. DCS digunakan untuk sistim kontrol dan monitoring satu fasilitas misalnya refinery, petrochemical plant, offshore platform, dll, sedangkan SCADA digunakan untuk sistim kontrol dan monitoring beberapa fasilitas yg berbeda lokasi. Misalnya ada beberapa fasilitas, offshore platform, onshore processing plant, dan kantor pusat. Maka dengan menggunakan SCADA kita bisa mengontrol dan memonitor fasilitas di offshore, fasilitas di onshore melalui kantor pusat, jadi bisa menghemat waktu untuk operasi dan maintenance, dengan berada dikantor pusat saja maka semua data bisa didapat. Kalau di Analogi kan ke komputer, DCS itu identik dengan LAN (Local Area Network) hanya jaringan komputer untuk satu office saja, sedangkan SCADA identik dengan WAN (Wide Area Network) yaitu jaringan komputer antar office yg berjauhan.
Benar apa yg disampaikan Mas Dam bahwa telemetri menggunakan SCADA karena telemetri sudah antar lintas area.
Aplikasi lain dari SCADA misalnya sistim kontrol dan monitoring pipepline, sistim kontrol dan monitoring jaringan listrik, karena kedua aplikasi ini melintasi area yg panjang jadi harus pakai teknologi SCADA.

Tanggapan 9 – Cahyo Hardo

Nanya mas.

Saya selalu memikirkan ttg ESD yg otomatis mengisolasi aliran listrik sbg power supply. Jika itu terjadi di platform kami di laut china sana, serta daya tahan UPS yg terbatas, apakah aman yach?

Karena akan gelap gulita ketika ESD itu padahal kita kadang hrs cek dulu, apakah itu genuine atau false alarm. Ada input?

Tanggapan 10 – muhammad.sutomo
Ikutan nimbrung Mas, (CMIIW)
Sepengetahuan saya, bila terjadi ESD di platform, urutannya adalah adanya load shedding system yg akan bekerja dan emg lighting,critical load akan tetap teraliri listrik untk jangka waktu tertentu (max 2 hour) yg di supply oleh UPS,selama rentang wkt tersebut emergency generator dgn relay diff voltage sebagai trigger akan beroperasi untuk mensupply system kelistrikan di platform, biasanya set point nya antara 1 ~ 5 menit (goal team maintenance) akan langsung beroperasi untuk mencegah black out,

Tanggapan 11 – Cahyo Hardo

Maksudnya setelah 2 jam setelah akan gelap gulita. Amankah? Apalagi jika kondisi ditambah bad weather. . .

Tanggapan 12 – wahyu kristowo

Mas Cahyo,

Apa kabar?, semoga masih ingat…?

Pada setiap  ESD system biasanya, akan selalu tersedia ESD hierarchy (tingkatan). ESD hierarchy tersebut akan menginformasikan tingkatan dari setiap ESD, kemudian ESD tsb akan diperjelas dengan interlock logic diagram dan “cause effect ESD logic” (lebih gampang dibaca dan dimengerti oleh orang ops).
Di document cause effect ESD logic tersebut akan diinformasikan setiap ’cause’ yg menyebabkan ESD dan ‘effect’ dari ESD tersebut.

Sementara ESD hierarchy antara lain dpt di contohkan sbb:
level 1. ESDVD (ESD, Blowdown & electric disconnection – misalnya saat plant abandon/ Gas leakage di LQ/ CCR) — akan terjadi electric disconnection power
level 2. ESDV (ESD + blowdown)– tidak terjadi disconnection power
level 3. ESD (emergency shutdown without blowdown)
level 5. dll

Jadi  ESD terssebut mengakibatkan power disconnection atau tidak?,  sebenarnya tergantung dari “cause effect ESD logic” yang diapplikasikan pada fasilitas tersebut dan TIDAK semua ESD mengakibatkan power disconnection.
pada contoh diatas ESD yang mengakibatkan power disconnection adalah yg level 1, selain itu tidak.
apabila terjadi power failure pd ESD level 2,3, dll maka itu bukan effect dari ESD melainkan factor lain yg menyebabkan matinya power supply.

ESD biasanya di supply oleh power sources dari UPS, UPS dicharging  oleh power dari normal bus dan/ atau  emergency bus. sehingga pada kondisi emergency pun selama kurun waktu tertentu (biasanya kekuatan UPS 2-4 jam), UPS  akan tetap bisa mengoperasikan ESD system pd kondisi emergency.

Memang agak sulit jika lampu mati dan belum bisa solve problem pada waktu selama 2-4 jam (dgn battery UPS) tersebut  dan kurun waktu itu harus benar2 dimanfaat kan untuk tracing historian di MCS/ DCS di alarm hystory dan melakukan problem solving secepatnya.

Semoga membantu.

Tanggapan 13 – Cahyo Hardo

Kabar baik Mas Wahyu. Kebetulan saya lumayan familiar dgn tingkatan level ESD tsb krn dulu kami terbiasa melakukan ESD test annually dan saya umumnya kebagian jatah kehormatan utk mencet tombol ESD tsb.

Anyway, Platform kami pernah gelap gulita following ESDVD (ESD with venting and electrical disconnection) dan UPS tdk dpt bertahan lama. Maka kami lintang pukang ktk troubleshootingnya.

Dari pelajaran yg mahal ini, kami akhirnya, salah satunya adalah membuat blackout start up procedure pd various scenario dan merupakan topik wajib dalam planning utk regular emergency exercise.

Namun, tetap ada di hati saya, kenapa yach saya harus disconnect electrical pd kondisi ESD yg terburuk sekalipun. Apakah memang ini credible scenario?

Tanggapan 14 – Wahyu Hidayat

Mas Cahyo,
Bukannya itu untuk menghindari adanya source of ignition yang masih aktif ketika level ESD semakin darurat. Kalo ESD level total process shutdown seharusnya hanya fired equipment dan internal combustion engine yang dimatikan dan gak perlu sampe UPS (lihat seterusnya di bawah)

Karena, tergantung level ESD-nya, ESD system seharusnya menginisiasi kombinasi fungsi-fungsi berikut:
- Block-in the process
- Shutdown production facilities
- Isolate feed and export lines
- Close well-head valves dan downhole safety valves
- Blowdown the process
- Shutdown machineries
- Shutdown all utilities with the exception of safety critical services.
- Isolate sources of ignition

Tanggapan 15 – Wahyu Hidayat

Dari philosophy milik salah satu major operator di sini, ESD level terdarurat sebelum abandon platform (TPSD – Total Plant Shutdown) mengharuskan shutdown UPS, emergency power, dan life support system plus equipment yang harus shutdown sesuai requirement ESD satu level di bawahnya (sebut saja Level 1): shutdown fired equipment, internal combustion engines dan HVAC, main generator, IA system, coolign water system dan drain system. Sementara diesel driven firewater pump tetap jalan sampai habis fuel atau rusak. Level-1 ESD dalam hal ini initiated salah satunya karena confirmed fire di open HC area atau confirmed flammable gas detection in an open area.

Jadi credible scenarionya adalah release of flammable gas detection yang terignited oleh source of ignition yang tidak terisolasi.

Tanggapan 16 – Cahyo Hardo

Terima kasih mas. Saya cuma lihat dari sisi praktikabilitinya. Misalkan yg mas sebutkan, sebelum.abandon atau PAPA (prepare alarm platform abandon), maka dilakukan TPSD yg memutus semua aliran energi (saya tdk tahu apakah nav aid lamp juga ikut terputus gara2 ini, kalo iya malah bahaya. . .)

Nah, kalo terjadi di malam hari, bukannya bahaya tuh ke orangnya? Kondisi gelap gulita tanpa energi akan membuat saya tergerak utk men downmanning orang2 yg berada di platform, atau malah saya abandon sekalian.

Kedua, dgn kondisi spec electrical yg umumnya Ex itu, apakah memang masih credible skenario gas terbakar krnnya kemudian langsung TPSD?

Tanggapan 17 – Akh. Munawir

Mas Wahyu,

Bagaimana dengan philosophy ESD level untuk confirmed gas leak di
Classified Hazardous Area dan Unclassified Area, apakah dibedakan ESD
level-nya ataukah ditempatkan pada level yang sama ? Maskud saya ESD level
sebelum CCR menekan pushed-button untuk Totally Abandon.

Tanggapan 18 – maryadi_ahmad

Pak Cahyo,
bukankah philosophy dr ESD system itu sendiri bersifat “fail safe design”.

Tanggapan 19 – akangbagus
Pak Cahyo,
Biasanya kl ESD aktif untuk power DC yg di process control shutdown system tetep ada (batrei/ups), cuma aliran dc ke selenoid yg mentrigger ssv, sssv ,sdv dll putus sehingga akan closed hal ini akan bisa bertahan bisa sampai 2 harian tgtg berapa AH kapasitas batrreinya.
Kalo untuk emergency light/power biasanya bisa pake UPS tp bisa juga pakai genset diesel yg sensornya akan aktif untuk me ruNning diesel jika power AC dari turbin atau gas engine mati.
Power akan available tp system tetap down sebelum di check2 oleh dokter2 maintenance dimanual reset.
Ini tergantung seni design available budget dari Inst./field engineernya.

Tanggapan 20 – Dirman Artib

Mumpung topiknya SCADA, saya mau tanya juga nih.
Di tempat saya, SCADA kayaknya menggunakan jalur cell phone. Kayaknya client saya membuat kontrak dgn penyedia jasa henpon (Omantel).
Bagaimana sebenarnya pengaturan atau jatah bandwidth antara industri dan layanan publik? Apa sebenarnya yg dimaksudkan dgn bandwith?
Apakah ini penyebab sehingga internet di area gurun saya ini lambat?
Apakah bandwith bisa diperbesar?

Tanggapan 21 – hendrac09
SCADA juga bisa menggunakan jaringan tegangan tinggi pak sebagai media ntk komunikasi datanya dmn frekuensi yg dipakai menggunakan frekuensi dari JTT trsebut.

Tanggapan 22 – adie ranupane

Pak Hendra,

ini menggunakan Modem PLC (Power Line Carrier)
saya sudah lama juga gak gitu ngikutin perkembangan power line carrier dan modem nya bisa bertingkat mengingat HPF (High Pass Filter) nya sesuai dengan KVA yg digunakan sebagai carrier
namun untuk membawa data diluar data digital sewaktu saya masih tugas akhir saya gagal membawa data Analog
dengan menggunakan carrier tegangan AC 220, karena flicker/noise yg tinggi pada jaringan jala jala.

mungkin pak Hendra sudah berhasil menggunakan PLC untuk membawa data Analog?

Tanggapan 23 – Cahyo Hardo

Pak Dirman,

Kaifa khaluk?

Kalau di tempat kami, bandwith itu melulu urusan sendiri, jd dedicate utk company. Barusan pula di perbesar bandwithnya, speednya jd lumayan utk orang2 offshore. Namun jika seseorang sudah mulai download yg besar, jalan tol bandwith juga keliatan seperti tol dalam kota jkt sehari-hari, padat merayap.

Utk defenisi bandwith, moderator telekomunikasi-lah yg paling shahih utk menjawabnya.

Tanggapan 24 – Dirman Artib

Alhamdulillah Khair, Mas Cahyo.

Iya nih, karena lagi ada kerjaan mengganti sekitar 2300-an Well Monitoring system, jadi ingin tahu lebih jauh cara kerja SCADA. Kalau kita kontraktor kan cuma pasang spt instruksi. drawing, saat commissioning dibantu oleh vendor yg dikirim client. Jadi ada RTU (Remote Transmission Unit)  yg menurut si vendor sama dgn Modem “Wymax” di kamar saya, lalu data dimanipulasi oleh receiver/processor dikontrol room. Lalu saya mikir, oooo ini toh yg bikin internet sangat lelet pada jam-jam tertentu.

Tanggapan 25 – adie ranupane

Pak Dirman,

Biasa nya untuk suatu lingkungan SCADA yg besar apalagi dengan jumlah RTU yg banyak jaringan komunikasi nya di pisah, untuk kebutuhan proses/data dan kebutuhan kantor berikut internet nya.
pemisahan ini dilakukan di layer ke 3 oleh router untuk membedakan domain jadi tidak saling berbenturan.

RTU bisa berhubungan dengan GSM system dengan menambah modem module di RTU atau modem yg terpisah dari RTU nya jadi yg berfungsi mengirim data (modulasi data dengan frekuensi GSM ya si modem tsb dan bukan RTU nya) setelah data dikirim ke kontrol room (SCADA Server) dengan melalui si modem yg kedua untuk memisahkan antara data dan carrier (demodulasi) sehingga data dari RTU dapat di baca oleh si SCADA Server.

data yg berasal dari RTU kebanyakan sangat kecil dan berbentuk txt atau sejenis nya.
data yg berasal dari station lokal kontrol room bisa lebih besar dari RTU hal ini mungkin disebabkan data yg akan dikirim ke SCADA Server tidak hanya berasal dari RTU
tapi juga dari lokal HMI (SCADA sub-server)

untuk masalah jaringan internet yg lambat di lingkungan kantor bisa banyak faktor.
1. kapasitas bandwidth data yg terbatas
2. overload pemakai internet
3. tercampurnya voice dengan data/internet

untuk point 3 mungkin kawan kawan dari Pertamina EP region sumatera bisa juga sharing soal pengabungan Voice+data
dijaringan VOIP nya.

Tanggapan 26 – Dirman Artib

Pak Adie/Pak AM,
Terima kasih atas tambahan info nya. Yg saya maksud keleletan internet adalah di dalam kamar saat beristirahat malam hari. Kalau di kantor ya nggak sempat internetan atuh, email sebiji dua boleh lah, karena kerja di lapangan bukan pake PC tp pake torque wrench  dan crane:)
Kalau masalah produksi air yg semakin banyak, itu mah rahasia client pak, saya nggak mau komen, mana tahu dari pabrik hydrocarbon bisa disulap jadi pabrik pepsi, karena harga air kan juga mahal pak. Semua sumur di selatan sekitar 10.000, jd kalau cuma ganti RTU 2300-an ya gak banyak kan.

Tanggapan 27 – maryadi_ahmad

Internet lelet pd jam-jam tertentu barangkali temennya pak Dirman
sedang mendownload file atau film kalih.. :) saya fikir harusnya “saluran” yg dipakai utk keperluan email,internet terpisah dgn keperluan process monitoring-control apalagi utk monitoring well..
apajadinya nanti kalo monitoring well-nya yg ngalah sm orang yg sedang browsing internet atau main game online.. :)

Dan lagi volume transfer data antara SCADA-RTU (Remote Terminal Unit) di well dgn MTU (Main Terminal Unit) di Main Control Room sana harusnya stabil (continue).

Umumnya monitoring well via SCADA melibatkan signals :
Status open-closed Christmas tree valves, Alarm Fire Gas Detector
Pressure,Temperature,Flowrate(bila ada) dari flowline
Alarm dari Power supply ataupun Wellhead Control Panel Downhole monitoring instrument (kalo ada) (tapi tergantung kebutuhan juga sih)

btw, “mengganti sekitar 2300-an Well Monitoring system”..wah banyak banged tuh, proyek besar (sy denger2 produksi wells di Oman semakin banyak kandungan airnya yah drpd oil & gas) ,
memangnya system yg lama pakai apa pak ?

Tanggapan 28 – wahyu kristowo

ESD system  atau fire protection system biasanya di design berdasarkan base on case study (fire case, flamable gas leakage, safety operability, dll).

Menurut pemahaman saya, ESDVD akan dipergunakan pada ‘extra ordinary’ condition misalnya confirm akan adanya ‘flamable gas leakage’ yang masuk ke CCR atau ke electrical room (MCC)  sehingga kemungkinan akan memicu terjadinya auto ignition/ explosion di MCC/ CCR tersebut (ada flamable gas dari gas leakage, ada heat/ panas dari equipment yg ter energize dari MCC, ada oxygen dari lingkungan)  sehingga pada kondisi tsb diatas ESDVD diperlukan untk mencegah hal tsb terjadi.
Biasanya akan di pasang FGS detection system pada HVAC air intake utk medeteksi adanya flamable gas leakage yg masuk ke MCC/CCR yang akan men shut down kan facilty (by logic or manual) jika ada flamable gas leakage tetapi jika FGS nya fail…, mau tidak mau kit aharus pencet ESDVD.

atau pada suatu case emergency  yang memerlukan ‘platform abandon’ dengan cepat sehingga jika hal tsb diperlukan maka tinggal di pencet ESDVD selanjutnya bisa escape secepatnya dari platform (misalnya platformnya di tabrak chopper, platform nya ditembakin sama negara tetangga, dll – semoga tidak terjadi).

Tanggapan 29 – Cahyo Hardo

Terima kasih mas.

Memang ada sistem yg dirancang untuk dipencet ketika ada gas masuk ke ccr atau mcr. Namun itu berarti at least ada dua yg gagal, yaitu fgs yg mas Wahyu komentari barusan plus pressurise sistem yg umum ada di ccr dan mcr sebagai perlindungan dr gas yg akan masuk ke ccr/mcr. Nah, kalau kata yg suka nge-Hazop, ini namanya double jeopardy dan susah utk dianggap sbg credible scenario (menurut saya. .).

Kecuali bila sistemnya memutus UPS spt yg dicontohkan di email yg lain, yg kalau terjadi pada kasus ini menurut saya malah memperburuk jadinya.

Kalau scenario upsnya yg gagal (?) maka orang instrument akan keberatan krn dia umumnya redundant (meski sy setuju dgn hal ini krn terkadang ups ini terlalu glamour dgn nama depannya. . Uninterruptible pow. . ). Padahal namanya barang itu pasti akan rusak, tinggal masalah kapan waktunya. .

Just my opinion

Share...Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest

Leave a Reply