Select Page

Prospek kerja lulusan Teknik Mesin itu sangatlah luas.
Di Indonesia saja, lulusan teknik mesin BISA kok kerja di sektor Perbankan, Pertanian, BAHKAN Peternakan.
Entah jadi CSR, Insemination Designer, atau bahkan Banking Credit Analyser. Tentunya  jadi Credit Analyser yang mengerti tentang Hal yang berbau teknikal.


Tanya – Eddy Sijabat

Dear bapak/ibu yang sudah berkarir di Migas,

Saya adalah mahasiswa jurusan Teknik Mesin yang sebentar lagi akan mendapatkan gelar Sarjana. Saya sangat minat dan ingin berkarir di Migas bagian Offshore dan Onshore. Saya ingin bertanya Bapak-bapak atau Ibu-ibu, spesifik ilmu dan bidang kerja apa yang perlu ditekankan untuk kami yang baru lulus apabila jalur lain (experience) ke depannya melihat minimnya lowongan untuk fresh gradute. Seandainya ada untuk fresh graduate diprioritaskan untuk Top Four University (UI, ITB, UGM, dan ITS)
Sedangkan saya bukan dari Top Four University tersebut.

Tanggapan 1 – Eko Drajat, Nugroho

Mas Edy,
Jangan patah semangat, tetap semangat tanpa harus melihat dari mana mas Edy berasal.

Kalau utk mechanical ada baik nya mulai bisa memilih ke disiplin rotating (pump, turbin, compressor, dsb) atau static (pressure system spt pressure vessel, piping dan pipeline). Ilmu yg harus dipelajari related kedua nya sangat luas.

Mulailah pelajari dimana yg paling diminati, boleh mulai menembakkan lamaran ke semua lowongan yg diminati. Skrg kirim lamaran sangat gampang dan cepat hanya dg sentuhan jari. Beda dg dulu yg harus pake hard copy kirim via pos. Semakin sering menembakkan lamaran disertai persiapan belajar, dan berusaha serta doa restu ortu, teman akan mempercepat keberhasilan.

Semoga membantu.

Tanggapan 2 – Irfan Anshori

Mas Edy,
Bahwa lulusan baru dari non-reputable university agak susah masuk oil and gas itu memang kenyataan harus diterima, tapi tidak membuat anda patah semanggat utk berusaha menembus oil company tsb.

Banyak jalan menuju kesana, kalo nggak bisa langsung bisa pakai “jalan memutar”, seperti kerja diperusahaan2 or contraktor oil and gas yg tidak pilih2 apakah anda lulusan reputable or non reputable university, cari pengalaman sebanyak2nya disana sambil tetap tebar lamaran ke perusahaan yg anda inginkan, siapa tau nasib anda baik anda bisa diterima.

Seperti pengalaman saya. Saya jg lulusan TM, tapi bukan dari reputable university, sehingga butuh waktu 16 tahun baru bisa masuk ke oil company setelah pakai cara “jalan memutar” tadi.

Tanggapan 3 – Dirman Artib

Apa itu maksudnya reputable University ya?

Tanggapan 4 – Irfan Anshori

Uda Dirman,
Sebenarnya saya juga tidak tau apa definisi reputable university tsb. Kata2 ini saya dapat waktu dulu saya sering memplototin iklan lowongan kerja di koran2 yg dikit2 menyebutkan “dicara mechanical engineer lulusan reputable university” malah ada yg terang2 menyebut nama universitasnya (spt yg disebut Saudara Edy yg Top Four University).

Tapi tak apalah klo Uda Dirman mau membahas masalah ini saya ok ok saja….Uda kan jagonya klo membahas yg begini2…he..he pisss…apalagi sesama alumni salah satu reputable university yg di Sumatera….he..he..baa gak ati Da..

Tanggapan 5 – Dirman Artib

Ya, sebaiknya jgn dibahaslah, ntar kriterianya melebar kemana-mana. Apalagi kalau ada yg mengusulkan agar memasukan kriteria jumlah minimal alumni yg diperkarakan KPK, nah……kan repot membahasnya. Padahal logic juga ya, term reputable hrs memasukan jumlah alumni yg tersangkut kasus kriminal luar biasa tsb.

Btw.
Bagi yg merasa kurang pede krn merasa bukan lulusan reputable University, buatlah diri anda jadi reputable, itu lebih penting. Jgn ke-pede-an digantungkan kepada merek sekolah, dan alumni, hanya alumni berpikiran picik yg bikin iklan lowongan dg kriteria begituan.

Tanggapan 6 – Doni Afrizal

Mas Edy,

Anda beruntung sebagai lulusan TM. Saya kalau bisa memprediksi bidang yang jadi mata pencaharian saya sekarang maulah jadi TM juga. Secara saya TE yang kurang match dengan profesi sekarang.

So, tentukan pilihan anda lalu cari training dan sertifikasi yang bersesuaian. Lulus perguruan tinggi saja belum cukup tanpa mereka.

Tanggapan 7 – harysatriyo

Untuk Lowongan yang mencantumkan reputable university itu tergantung yang punya Owner atau Company. Yang bersangkutan, mau nyari yang reputable atau non reputable. Karena
Seleksi yang membuktikan. Sebagai owner sah-sah aja mencantumkan reputable atau tidak…karena mereka yang punya kuasa dan kuasa, yang melamar monggowae ikutan atau tidak. Ya itu enaknya jadi owner bebas menentukan buruh dan pekerjanya.

Tanggapan 8 – Antoni Ginting

Sebagai anak bangsa yg katanya punya Pancasila dengan keadilan sosial……sangat sedih rasanya kalau perusahaan baik pemerintah maupun swasta hanya mencantumkan graduate non graduate, bukankah pada saat proses seleksi akan tersaring mana yg benih mana yg ampas?

Hanya administrasi saja sdh tak lolos, apakah harus putar2 jadi OS?

Tanggapan 9 – dimas yudhanto

Ini bukan masalah kita, tapi masalah pemerintah, dan tanggunjawab menteri
Pendidikan Nasional.
Mengapa udah 65 tahun merdeka, kualitas pendidikan kita & kualitas output nya begini begini saja.
Boleh lah kita menjadikan negara maju sebagai rujukan, di UK, Eropa, US, Kanada, Aussie, agak2nya hanya ada 2 kriteria universitas dan 2 kriteria lulusan, Bagus dan Bagus Sekali.
mengapa?
karena sistem di sana memiliki standar kualitas yg tinggi.

urusan subjectivitas, itu manusiawi.

di US pun, dikenal Ivy League.
bidang yg dianggap ber-reputasi tinggi, di sana adalah Keuangan, Law dan
Kedokteran.

di sini, aja, masih menganggap sektor migas bergengsi.

Tanggapan 10 – Riksha Lenggana

Masbro Eddy,

Prospek kerja lulusan Teknik Mesin itu sangatlah luas.
Di Indonesia saja, lulusan teknik mesin BISA kok kerja di sektor Perbankan, Pertanian, BAHKAN Peternakan.
Entah jadi CSR, Insemination Designer, atau bahkan Banking Credit Analyser. Tentunya  jadi Credit Analyser yang mengerti tentang Hal yang berbau teknikal.

Lha kalo yg bikin aplikasi itu perusahaan Teknikal / Inspeksi bodong trus minta bantuan dana ke Bank anda, kemudian Bank tempat anda kerja gak ada yg ngerti Teknis Permesinan / Inspeksi yaaa….Bank anda ke Tipu !
Kalau pun bank anda minta jasa 3rd party, yaaa….pasti ada juga alumni Teknik Mesin yg bersinergy harmonis dengan Alumni Teknik lainnya.

Di perusahaan Asuransi Jiwa/Kendaraan Bermotor/Teknis juga sebelas dua belas. Butuh Orang Teknik Mesin yg mengerti soal Hal yg berbau Teknikal.

Di perusahaan Elektronik pun sama.
Lulusan Teknik Mesin SANGAT di butuhkan mereka. Lha kalo semua sarjana Teknik Mesin tertarik dan Hijrah ke O&G, lalu siapa yg ngerti metoda dan teknik menjalankan / ngebenerin Mesin Kompressor, Molding, Injeksi.

Tak usah jauh-jauhlah, setting Mesin Jahit atau Mesin Bubut aja butuh teknisi yg dominan lulusan teknik mesin. Walo SMK (Kan ada juga Teknik Mesin di SMK)

Gak usahlah berdebat soal Lulusan Reputable/Non Reputable University di milis ini.
Udah pernah di Bahas tahun lalu & jadi Trending Topic yg gak berakhir, karena masing-masing punya kubu !

Btw Masbro Eddy sendiri gak tertarik jadi Guru di SMK / Dosen di kampusnya ?
Kan Prospek juga, trus persentase di terimanya 80% lebih besar !!

Tanggapan 11 – Slamet Hadi Cahyono@pertamina

Sedikit tambahan dari saya semoga bermanfaat. 1.Bulatkan tekat , niat dan keyakinan untuk bisa diterima sesuai dengan yg anda maukan atau cita citakan. 2.Jika No 1 tersebut sudah ada ,maka tambahkanlah DOA dan yakinlah segala kalau Allah swt sudah berkehendak maka kemungkinan yg baik pasti ada dan akan jadi milik anda walaupun persentasenya kecil. 3.Jika No 1 dan 2 sudah ada dan lengkap maka tambahkan minta doa restu kepada ke 2 orangtua.No 3 ini sangat penting krn bisa menggagalkan No 1 dan 2 diatas. Jadi kesimpulannya. 1.Dari No 1, 2, 3 tsb diatas itu berlaku untuk semua manusia alumni dari UN riputibel maupun non riputibel. 2. Hal hal tersebut diatas cuma “enak omonge angel lakonane”. Demikian dan selamat berjuang.

Tanggapan 12 – Crootth Crootth

Melihat asal usul adalah hak paling hakiki yang mau merekrut, mau mau mereka dong karena mereka yang bayar. Juga karena mereka tentunya mempertimbangkan bobot – bibit – bebet nya dengan seksama.

istilah gampangannya: “You pay peanut, you got monkey!”

Tapi jangan berkecil hati mas Eddy.

Setuju dengan reputable university kadang  kabur definisinya, tidak sejelas apa itu Safety Instrumented Function sesuai IEC-61511 yang udah terang benderang pengistilahannya. Supaya imbang, reputable harusnya mempertimbangkan masalah etika, kinerja, dan profesionalisme sang alumni. Rapor dari KPK tentang perilaku korup alumni, Rapor dari polisi tentang perilaku kriminal dari alumni, misalnya, bisa saja jadi bahan pertimbangan.

Percaya diri saja masukkan lamaran .. karena kalau memang pribadinya berkualitas, tentu recruiter akan jatuh hati.

Tanggapan 13 – akangbagus

Menambahkan,
Dalam rekrutment, Hal seperti ini sudah lumrah. Ini adalah salah satu methode scrrening filtering awal supaya dapat cepat, tepat minim budget tentunya. Kalo gak ada syarat spesific, jelas lamaran akan membludak, proses lama, hrd user milih2 makin pusing bnyk pertimbangan lain tentunya. Mungkin kl masih terlalu bnyk pelamar, Kadang syaratnya diperumit dgn ipk min, pengalaman lebih dr 20th(keburu mati), single dll. Inilah “market price”(istlh saya). Proses spt ini tentunya tetap bisa ditembus selagi dilakukan manusia, bukan mesin. Contoh biar tidak reputable tetap masukin aj, biar gak dipanggil tp tau ada test, dateng aj langsung ngadep hrd, jurusan beda kl masih ada nyenggol2nya goyang aj. Intinya “ngeyel/ngotot/fight” secara halus tentu disertai pengetahuan/teknis kita yg memadai. Contoh biar syaratnya exp. 30th tp jika kita baru 2 th dah paham hapal mati standartd2 teknis dll spt exp. 30th, why not?. Masih ada faktor emotional price” dari hrd user. Kadang “last moment in the last minutes” itu yg berhasil. Asal jng last moment terus…..
Tp jng lupa ada juga sisi lain, “emotional price”
Bahkan jika kita sudah kerja di GLOBAL o&g sekalipun, hal2 yg sifatnya “emotional price” cenderung lebih dominan. Misal geng a, geng B, geng C geng D dll yg kadang jika kita lihat analisa lutju, bisa dipahami, mau2nya mangmnt dunk.. Aturan standard teknis tetep ada, tp namanya yg bikin aturan manusia tetep bisa digoyang sana-sini. Contoh biar standard teknis paham, interview lancar, pertanyaan dr A s/d Z, pinternya sundul langit tp kl “emotional price” gak masuk, akan sulit diterima. Kl “emotional price” masuk, gak perlu ptnyaan yg rumit. Cukup tanya: apa hobimu? Badminton, aerobic, tenis atau golf, dll, wah sama donk kita….hasilnya Lolos…..pokoknya jawaban beda atau salah akan tetep di pas2kan….selagi hrd user msh manusia maka “emotional price” tetep berlaku, manusiawi…
Intinya : apapun syarat ketentuan berlaku, jnganlah kita menyalahkan/mengkambing hitamkan system/manusianya…..ubahlah pola pikir kita dari “MENGAPA begini-begitu(cenderung menyalahkan nasib) menjadi BAGAIMANA(mengakali keadaan yg buruk jd lebih baik)!”..
Selamat berjuang buat para fresh gaduates….

Tanggapan 14 – harysatriyo

Untuk Lowongan yang mencantumkan reputable university itu tergantung yang punya Owner atau Company. Yang bersangkutan, mau nyari yang reputable atau non reputable. Karena Seleksi yang membuktikan. Sebagai owner sah-sah aja mencantumkan reputable atau tidak…karena mereka yang punya kuasa dan kuasa, yang melamar monggowae ikutan atau tidak. Ya itu enaknya jadi owner bebas menentukan buruh dan pekerjanya.

Tanggapan 15 – berlian syako

Buat yg berasal dari non reputable university, ada kabar kembira.
Saya sudah bekerja cukup lama dari satu negara ke negara yg lain, orang2 Indonesia yg paling sering saya temukan di manca negara adalah orang2 yg berasal dari universitas non reputable. Saya bisa katakan 75% berasal dari sekolah yg non reputable yg pergi ke luar negeri berdasarkan apa yg saya temukan. Saya tidak tahu apakah informasi ini valid karena perlu di check dan dibuat survey nya.
Tapi paling tidak itu yg saya lihat.

Ada beberapa faktor saya kira yg menyebabkan lebih banyak lulusan non reputable university yg ke luar negeri:
1. Lulusan non reputable agak susah dapat kerja di dalam negeri karena HRD di Indonesia sudah tahu yg mana yg reputable university dan mana yg tidak, sehingga dapat kerjanya pun yg sisa2 dan yg susah2, tapi ada hikmahnya bisa cepat dapat skill karena memulai dari bawah, lebih tahan banting, mau menerima apa saja, tidak sombong, pekerja keras, sabar dan tekun, sehingga waktu dan kesempatan akhirnya mengantarkannya dapat kerja di luar negeri.

2. Company2 di luar negeri tidak tahu yg mana universitas yg reputable di Indonesia, mereka pukul rata pokoknya dari Indonesia dan punya pengalaman yg relevan, punya hands on experience. Kalau disebut pun ITB mereka tidak tahu apa itu ITB? Issued To Bidder ?

3. Umumnya company di luar negeri cari tenaga skill dari Indonesia (yg penting hands on experience), bukan level managerial kecuali kalau perusahaannya milik bangsa Indonesia. Sementara banyak lulusan dari reputable university sudah establish karena pintar sehingga jenjang karirnya pun cepat naik sehingga merasa sayang kalau resign. Jadi setiap kesempatan peluang dari luar negeri selalu yg berani ambil adalah yg dari lulusan non reputable university karena memang di Indonesia pun mereka susah dapat pekerjaan yg mantap.

Kesimpulan nya para lulusan non reputable university itu di asah di Indonesia dengan pekerjaan2 yg berat tanpa mereka sadari menjadi hikmah buat mereka untuk mendapatkan pekerjaan yg lebih baik di kemudian hari.
Hayoo para lulusan non reputable jangan cengeng, tunjukkan kalian bukan pecundang, taklukkan waktu maka kesempatan akan datang.

Tanggapan 16 – Dirman Artib

Pak Berlian,
Nah, sekarang para agency/PJTKI akan bikin persyaratan :

“Non reputable University is preferred, because you will be assigned in overseas”.

Btw.
Info Pak Berlian itu memang benar, ITB memang dikenal luas sebagai “Invitation to Bidder”, tapi kalau UI dikenal agak luas, yaitu University of Indonesia  (artinya Universitas asal Indonesia), tak peduli apakah sebenarnya lulusan Universitas Tadulako, Universitas Haluoleo atau dll.

Tanggapan 17 – Elwin Rachmat
   
Walaupun saya alumni Issued To Bidder, saya termasuk yang tidak setuju dengan istilah reputable university. ITB juga tidak termasuk didalamnya karena bukan universitas, tetapi institut.
KMI dalam melakukan program goes to campus juga tidak memilih milih reputable atau tidak.

Kebijakan banyak perusahaan masih menggunakan istilah reputable kurang dapat saya mengerti. Alasan untuk memudahkan HR dalam rekrutmen juga sulit saya mengerti. Umumnya staff HR memiliki lulusan psikologi. Padahal lulusan psikologi umumnya mengerti bahwa keberhasilan dalam dunia kerja itu berbeda dengan keberhasilan akademik. Biasanya yang mendapat nilai akademik A menjadi dosen.
Yang memiliki nilai B bisa melamar kerja di banyak tempat. Tetapi yang dapat nilai C tidak bisa ja
di dosen atau pegawai, justru membangun perusahaan yang mempekerjakan yang punya nilai A dan B. Intermezonya kurang lebih seperti itu.
Yang berhasil di dunia kerja itu bukan nilai akademik yang sedikit banyak
berhubungan dengan IQ. Keberhasilan di dunia kerja lebih ditentukan (sekitar 80%?) oleh EQ. EQ sulit dikorelasikan dengan nilai akademik. Apakah perlu setiap perti melakukan test EQ bagi semua mahasiswanya? Rasanya semua mahasiswa berhak juga tahu berapa nilai IQ dan EQnya agar dapat meningkatkan potensinya. IQ mungkin lebih bergantung pada genetik atau tingkat kesehatan, tetapi EQ lebih bergantung pada tata nilai seseorang. EQ dapat ditingkatkan dengan pelatihan dan
praktek sehari hari. Mungkin juga pelatihan pengembangan EQ dapat dilakukan sejak dini yaitu SMP sehingga tidak ada lagi yang tawuran. Mungkin ada psikolog yang dapat menanggapinya?

Tanggapan 18 – haditomo_irawan

Rekan2 milis,

Saya mempunyai rekan dimasa SMA dulu sangat pandai dan pintar bahkan smart istilahnya top ranking 3 besar. Utk sebuah SMA favorit di Jkt.
Namun malang tak dpt dihindari saat UMPTN beliau sakit thypus dan gagal utk diterima di PTN ternama.
Hingga kuliah di PTS ternama Jkt, saat ada penerimaan mahasiswa baru dgn UMPTN thn berikutnya saya tanya knp tdk ikut ambil lagi kan ada kesempatan kedua sapa tahu keterima di PTN favorit.
Tapi jawabannya sangat “wise” yaitu اَللّهُ sdh menakdirkan saya utk belajar di PTS ini, biarlah kesempatan yg ada saya berikan kpd adik2 kelas saya.
Bahkan kini rekan saya saya sdh ambil S3 di Jerman walaupun dia ex alumni PTS atau bukan PTN ternama.
Jd intinya bukan darimana mahasiswa itu dihasilkan tp kemauan dan talenta ybs yg akan membawa seseorang itu sukses.
Spt kata bung andrie wongso :” success is my right”
Beliau jg bukan engineer spt qta namun semangat utk sukses selalu beliau ajarkan buat qta.

Tanggapan 19 – Vishwa Pradana patra

Mau ikut berkomentar,
Kalo saya sih berpendapat bahwa asal sekolah itu tidak penting, yang penting bagaimana kita bisa memanfaatkan kesempatan yang ada. Jaring koneksi/kenalan, manfaat kan dan maksimal kan alat-alat di lab, memahami pelajaran kuliah dengan baik (ini yang agak susah hhe). Sebagai fresh graduate di Bidang Electrical Engineering – Control and Instrumentation, ketika saya bergabung di milis ini, saya sering iseng2 baca sesuatu yang berhubungan sama Elektro, Instrumen, dan HSE seperti postingan dari Pak Gharonk, Pak Dirman, Pak Sapto, dan senior2 yang lainnya, dan itu sangat membantu saya ketika bekerja serta menambah wawasan. Ini nih yang saya simpen sampai sekarang dari pak Dharmawan ketika saya tanya tentang prospek kerja dulu :

” Sebenarnya inti dari pesan saya adalah: menjalani pekerjaan dengan sungguh sungguh dan giat/tekun itu jauh lebih baik dari segala sertifikasi.
Tetap semangat, tekun dan giat bekerja, jangan pikirkan K-idol, K-pop atau KARA, mereka akan berlalu. “

Buat mas Eddy Sijabat, mungkin kata2 dari Pak Dharmawan bisa diinget tuh. Semangat cari ilmu dan pengalaman, InsyaAllah, pekerjaan tinggal nyusul.
Mohon maap jika ada salah kata, teksih sinau (Masih belajar.red) =).. Sukses selalu!

Tanggapan 20 – mahir irfan

Saya pernah ikut pelatihan perekrutan karyawan, disini fokusnya menilai
kerja karyawan, masa lalu, ke bohongan, tidak disiplin dll, kalau dilihat
seperti kerja detektip.
Hanya dengan di suruh menulis beberapa paragrap tulisan, dari situ bisa
dinilai personality karyawan tersebut. Ini lebih akurat dlm memilih karyawan.

Kalau ada iklan seperti gitu mmg syah2 saja yg punya hajat tapi apakah akan akurat sesuai bidang kerjaan, salah dlm memilih, bisa berakibat kesulitan kita mengarahkan karyawan.

Tanggapan 21 – muhammadadeirfan

Nggak kerja di Oil gas juga nggak apa2. Coba tengok Forbes 40 tidak ada satupun Owner Oil Gas yg masuk dalam jajarannya.

Jadi jangan berkecil hati apabila tidak kerja di Oil Gas, Tuhan Maha Kaya.

Tanggapan 22 – haditomo_irawan

Rekan Irfan,

Saya setuju karena memang saya sdh mengalaminya jd muter2 dulu sekitar 3-5 years trus ancang2 alias perdalam ilmu dan jgn jaim sama senior2 utk learning by doing.
Jangan malu utk bertanya dan jgn terlalu bangga dgn title S1 krn trus terang aja lulusan S1 kita kurang aplikatif dan memenuhi kriteria utk bekerja di O n G.
Faktor luck jg ikut andil so jgn lupa berdoa, tirakat, puasa, bayar zakat dan masih banyak lagi sarana utk memendekkan berputar2 di Contractor.

Tanggapan 23 – Dadang Purwanto

Kuliah dmnpun sebaiknya tidak mematikan semangat utk trs belajar & berkarya. Jika pribadinya sudah berkualitas, insyaallah berada dimanapun Anda akan selalu bs memberikan impact positif bagi sekitar & sukses dalam karirnya.

Saya alumni salah satu “top university” yg disebutkan dibawah, justru saya pernah mengalami beberapa kali perlakuan diskriminatif dr beberapa (beberapa yaa, bukan semua) alumni “top university” yg lain ketika saya masih magang atau ketika saya msh junior engineer. Sangat menyakitkan memang mendapatkan perlakuan diskriminatif ketika kt sedang belajar, apalagi kalo disertai kata-kata/sikap yg tidak menyenangkan. Tapi semestinya hal ini dijadikan pemicu semangat utk trs belajar & berbuat lebih baik, bukannya jadi semakin lemah.

 Saya sangat setuju dengan pepatah dibawah, Emas tetaplah Emas meskipun berada di kubangan lumpur 🙂

Tingkatkan semangat utk trs belajar & menghasilkan yg terbaik. Semoga sukses!

Share This