Select Page


Lazimnya perusahaan di negara kita khususnya BUMN kurang menghargai keahlian kita; mereka rela membayar expatriate dengan harga yang tinggi sedangkan untuk orang Indonesia sendiri dengan kualifikasi yang sama bahkan lebih – hanya dihargai kurang dari separuhnya dengan alasan peraturannya memang begitu.

Tanggapan 14 – Elwin Rachmat

Kalau terjadi blow out atau major accident lainnya, yang bergaji US$ 1000/day adalah orang yang termasuk terancam nyawanya. Apakah negara harus menghargai nyawa nasional dibawah nyawa ekspatriat? Tidak begitu penting apakah pekerja memiliki jiwa nasionalisme atau tidak. Yang terpenting adalah penguasa yang memutuskan segala sesuatunya memiliki wawasan nasional.


Tanggapan 15 – Ignatius

Rekan-Rekan MI,

Terkait dengan topik ini, saya menyadari Industri migas merupakan industri yang sangat konservatif sehingga tidak ada organisasi yang terlibat di industri ini rela menjadi kelinci percobaan, karena misalnya kesalahan operasi pemboran dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar, sehingga industri ini menuntut pekerja dengan jam terbang tinggi.

Akibat kondisi di atas, organisasi2 di lingkungan migas cenderung mencari para pakerja dengan jam terbang tinggi dibandingkan memberikan kesempatan pada para nubie dengan membuka jalur apprentice atau mentoring sehingga akan terjadi regenerasi dalam bidang SDM.

Mungkin, saya cukup beruntung, karena tanpa background pendidikan yang sejalan dengan kegiatan operasi, dapat berkecimpung di kegiatan operasi migas dikarenakan mendapat kesempatan dari teman-teman yang berjam terbang tinggi tadi.

Saya menghargai kesempatan yang diberikan oleh teman-teman sebelumnya, sehingga pada saat ini saya juga sedang berbagi kesempatan dengan teman-teman nubie untuk mendalami industri ini dan semoga pada akhirnya mereka dapat mendapatkan kemampuan yang mumpuni.

Memang tidak banyak yang dapat saya lakukan, tapi saya tetap berharap industri ini di Indonesia tidak lagi pernah mengalami “the great crew changes” seperti saat ini ataupun di medio 80an


Tanggapan 16 – Dirman Artib

Male, 43 thn, Indonesian, Mechanical Engineering degree, 17 years experiences, 14 years focused in Professional Quality and HSE MS, Level 2 NDT-MP, PT, RT, UT, IRCA QMS 2000 Certified, Excellent Management Model, Six Sigma, having overseas exposure experiences: Malaya, Qatar, Oman. Very interested to work in Indonesia.

Kira-kira begitulah kata kunci yg dibuat dan disebar di situs-situs pencari tenaga kerja, dan pencari pekerjaan agar para recruiter Nusantara tertarik dan menemukan dn mudah saat searching. Tapi nggak pernah tuh agency atau recruiter yg pernah menawarkan opportunity kepada saya di teritorial RI, bahkan justru para agency yg menawarkan kerja di Sabah dan Sarawak serta Peninsular yg suka tilpon-tilpon, tes-tes water “awak sekarang duduk kat mana, hantarlah you punya CV kat i?”. Sampai2 saya frustrasi dan pernah coba ganti aja kunci-nya “Willingness to work in Trinidad-Tobago only”, eeeemang ternyata benar, di kasih call oleh ejen utk kerja dgn kontraktor BP Trinidad-Tobago.

Jadi ungkapan Pak Rudi itu saya anggap kurang akurat, selain RI nggak bnyk minyak-nya (wong msh di dalam Tanah kok), tenaga perminyakan asal RI yg nyari kerja migas juga susah dapat job mas bro. Jadi, tetaplah di Luanda, Port Hard Court (betul gak ejaan-nya ?), Lagos, Sakhalink, Khazan, Thayfut, Basra, Damam, Rumaila, Qarna Alam (biarkan saya sendiri aja yg pulkam next month, nggak nahaaan hi..hi..hi..). Jadi sama susahnya kayak nyari orang Qatar yg mau nyopir taxi (maunya minimal nyetir Prado atau Cadillac aja)


Tanggapan 17 – Wahyu Affandi

Setuju….Jangan pulang ke tanah air, tetaplah berkiprah di lapang2 migas dunia….dan bawalah rekans yg ingin kerja di luar negeri, gembar-gemborkan, biarlah loker di dalam negeri diisi oleh tenaga 2 baru (sbg latihan kerja sebelum ke luar negri)….shg diharapkan uang berlimpah yg didapat akan dibawa pulang ke dalam negeri utk membiayai putra/i nya mendapat sekolah yg baik.


Tanggapan 18 – Hari Subono

Salam,

Begitu juga menurut saya bahwa tidak benar pendapat nih wakil mentri. Bisa jadi tujuannya adalah justifikasi masuknya tenaga kerja asing (semoga saya salah). Lazimnya perusahaan di negara kita khususnya BUMN kurang menghargai keahlian kita; mereka rela membayar expatriate dengan harga yang tinggi sedangkan untuk orang Indonesia sendiri dengan kualifikasi yang sama bahkan lebih – hanya dihargai kurang dari separuhnya dengan alasan peraturannya memang begitu. Lah yang bikin peraturan siapa? Manusia khan? Yha dirubah donk peraturannya, gitu aja koq repot.

Kali ini saya setuju dengan Pak Dirman, yang sudah “di luar” dengan gaji lebih dari 2 kali gajinya Pak Jokowi – tetaplah di luar. Bangun negara ini dengan mengirim devisa sebanyak-banyaknya ke dalam negeri. Toh dari luar pun kita-kita ini tetap bisa memberikan advise ke negara tercinta ini.

Semoga di pemilu 2014 yang akan datang terpilih pemimpin dengan good will yang mulia untuk menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia, bukan golongan dan kelompoknya saja, aamiiin.


Tanggapan 19 – Wahyu Affandi

Semoga bermanfaat.

Yang perlu segera dilakukan adalah: para HRD atau Recruitment Agent mencantumkan “salary range” pd iklan tenaga kerja nya Pemerintah (cq.SKK-Migas? atau KMI? dll)agar membuat Daftar Gaji setiap jenjang, mulailah dari sektor Migas (acuan bisa merujuk ke gaya HAY recruiting guidelines)

..dgn adanya 2 hal tsb diatas, segera SDM perminyakan akan melimpah di negeri kita.


Tanggapan 20 – Haris Hwidyar

Buat Uda Dirman yang katanyo mau pulkam….

Hahaha, saya kira kalau kekurangan tenaga mah ya ga seh….Kalo yang high flyer ya mungkin memang rada sikit susah, apalagi kalo ga mau bayar gaji deket para ezpat, hehe….

Tapi kalau kelebihan yang nyari kerja, itu mungkin saja…..

Nah bagi para nubie, sebenarnya kesempatan masih ada dan banyak, cuma tantangannya (saya pakai istilah ini rather than “masalahnya”)…..adalah bagaimana meyakinkan para recruiter yang sudah jago2 itu untuk mengambil kita……Satu lagi, saran2 ini diberikan bagi nubie yang bukan /tidak menjadi “top of class” (karena biasanya top of class disaring secara tersendiri – jalur khusus….)

Secara pribadi, saya juga pernah mengikuti proses recruitment (bantu2 HR) untuk nyari orang yang akan kerja buat perusahaan kami (di unit saya) PLUS juga melewati proses cari kerja saat pindah2 kumpeni……

Yang selalu berhasil melewati proses saringan adalah yang secara mental menunjukkan karakter “mau dan siap belajar”….selain kemampuan teknis dan non-teknis

Ijazah (bahkan ijabzah…..) hanya satu dari sekian banyak kriteria yang dituntut untuk menjadi pegawe.

Bagi yang mau nyari kerja baru sebenarnya ada beberapa proses yang harus dilewati dan harus tembus satu-per-satu yakni…..

1. Proses untuk bisa dipanggil dipanggil test atau interview -screening admin (INI KRITIKAL……karena kalau ga pernah dipanggil artinya ya akan selalu sulit cari kerjaan yang baik…….:-)

Disini kwalitas surat lamaran serta CV/resume sangat menentukan, kasarnya harus dibuat sebaik mungkin akan tetapi tetap wajar dan membumi (banyak contoh CV/resume yang bagus – googling saja). Bahasa yang digunakan harus baik, proper English akan sangat meyakinkan.

Banyak recruiter yang sangat mengharapkan para calonnya adalah orang mempunyai watak/karakter yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang lagi vacant tersebut. Jadi ya memang para calon sudah harus menyiapkan karakter yang sesuai (alias siap dengan perkiraan job-desk yang akan dihadapi). Kemampuan menulis untuk self-marketing penting.

2. Psiko test / aptitude test -kadang juga test teknik atau apalah…. Beberapa kumpeni bahkan mempersyaratkan untuk para calon yang lepas screening CV/resume untuk menjalani psikotest/aptitude test terlebih dahulu. Biasanya perusahaan ini punya prinsip ga mau beli kucing dalam karung,
alias harus tahu dulu watak, karakter, IQ, aptitude, kecerdasan, dll dari si calon tadi. Di proses ini calon ga bisa ngelak lagi, ga bisa ngarang2 lagi…semua karakter dan kemampuan teknis-non teknis dll dibuka lebar2, dan biasanya 75% calon rontok disini (test-nya memang susah….) Apakah test ini bisa dipersiapkan?? Bisa2 saja, asal mau googling atau beli buku cara menghadapi psikotest…….

3. Setelah dipanggil interview (pertama)

– Pertemuan dengan HR dan User

Persiapan interview secara fisik dan mental sangat diperlukan. Jangan salah kostum. Behaviour/perilaku yang tepat sangat diperlukan guna menghadapi para dewa yang akan menentukan masa depan karir kita (moga bahasanya ga berlebihan ya….). Di proses ini behaviour sangat memegang peranan. Penampakan/penampilan Karakter yang tepat sesuai dengan jabatan yang ditawarkan akan sangat bermanfaat. Semangat harus terlihat…..Kemauan belajar harus bisa disampaikan…Teknik menghadapi interview bisa dipelajari via google dan harus terus dipelajari kayak kita mau kontes karaoke (maksudnya biar ga sumbang suaranya….) Biasanya di proses ini dilakuikan verifikasi data, test teknik secara langsung oleh User…..termasuk juga, barangkali verifikasi gaji…. Kalau sudah proses ini biasanya calon sudah mengerucut hanya tinggal 10an orang……jadi memang kans sudah lebih besar, tapi perjuangan belum selesai…Keputusan disini biasanya adalah penentuan 3 besar akhir (calon utama…) yang akan disarankan untuk medical check

4. Med check….

ga ada saran….sangat umum….

5. Interview dengan Calon boss

Lepas medical, biasanya kita akan menghadapi test interview terakhir, termasuk nego2 gaji, kompensasi, dll…. Di interview ini, para calon boss menilai apakah kita punya karakter yang sesuai dengan kebutuhan riil…..apakah butuh engineer yang bekerja secara stand-alone atau perlu karakter “team-work”.

Di proses ini biasanya calon 3-besar ini sudah dianggap memenuhi semua persyaratan, jadi pemilihan yang mana akan jadi pegawe ya seperti “jackpot saja”…..hehehe, banyaklah berdoa….

Semoga bermanfaat sharing saya…..


Tanggapan 21 – Wahyu Affandi

..kiat lainnya, diajak oleh ‘orang dalam’ (istilahnya referral), cara ini agak ringan,syukur tdk berhadapan frontal dgn HRD yg (maaf) sering ribet (he3x)

…atau ada geliat orang muda sekarang, perbaiki bahasa Inggris,maka dgn modal ijazah, langsung nyari2 iklan di internet.

Selamat berjuang,


Tanggapan 22 – Adiy

Dear All,

Sudah jelas dibawah bahwasannya SDM kita banyak yang mampu, namun kebanyakan mereka lebih prefer untuk di luar negri karena salary and benefit yyg ditawarkan jauh dari offering yg diberikan perusahaan nasional kita.

Seharusnya, salah satu parameter ini, menjadi evaluasi dari perusahaan tsb untuk bisa setidaknya reasonable dalam memberikan offering thd expectationnya.

Kawan saya mendapatkan kesempatan di pertamina ep, ketika nego salary, dia tidak menyangka bahwa yg ditawarkan ternyata jauh dengan standard salary kelas EPC company. So mereka memutuskan untuk menolaknya dan masuk ke epc company tsb.


Tanggapan 23 – ilham.1970

Dear MMI members,

Kita jg tdk bs langsung menyalahkan ‘keluhan’ pemerintah kita (pemerintah RI) mengenai pernyataan adax kekurangan tenaga perminyakan di negeri ini, karena itulah salah satu bentuk keprihatinan pemerintah. Tetap kita hargai.

Namun, sy hanya menyoroti ungkapan tersebut dari sisi lemahx data pendukung pernyataan. Di indonesia ini kan pemerintah sdh punya data, berapa banyak perguruan tinggi baik PTN maupun PTS yg memiliki program studi Teknik Perminyakan, dari sini saja secara kasar sdh bs diketahui rata-rata produk sarjana tek perminyakan brp orang. Ini sisi produksi sdm tek perminyakan. Hal selanjutnya, pemerintah melalui lembagax jg sdh tahu pasti berpa banyak perusahaan migas yg saat ini dlm status melaksanakan pekerjaan explorasi migas?

Jadi data-data itu saja sudah bisa dibandingkan dan dihubungkan satu sama lain, apakah memang ada kekurangan sdm perminyakan, sehingga perusahaan2 yg ceritanya mau explorasi itu, mengurungkan niatx atau berhenti dan lari keluar negeri mencari lahan baru?

Atau kurangx produksi migas karena pemerintah sendiri yg tidak menciptakan suasana kondusif untuk mendorong kegiatan explorasi migas secara intensif dan extensif, termasuk banyakx kesulitan dlm urusan2 pembebasan lahan terutama bila rencana explorasi di wilayah onshore, pergesekan sosial di lapangan, lemahx kepastian dan penegakan hukum dan jg kurang menghargai sdm sendiri, maux di jadikan buruh saja dgn gaji rendah, padahal tenaga terdidik misalx saja tek perminyakan semasa kuliah sdh menghabiskan duit berapa. Kalau Jokowi naikkan Upah buruh ke arah yg lebih baik, itu justru bentuk kepedulian yg baik bukan malah disindir, kata email Pak Zulkifli sebelumx.

Pemerintah kita jangan terlalu banyak mengeluh, boleh bersedih hati tp jangan ditampakkan ke anak-anak bangsa tp semestix harus bekerja keras. Untungx hal yg dihadapi ini bukan seperti kejadi bocorx radiasi nuklir reaktor fukushima di Jepan yg benar2 butuh kesigapan, tp ini mash ada wkt berleha2, berkeluh kesah, untuk menanti rasa simpati masyarakat. Atau2 jangan2 malah pencitraan lagi…..:).


Tanggapan 24 – Trisnadi

Pada waktu pernyataan RI kekurangan tenaga perminyakan ini dilontarkan, data faktualnya seperti apa ya? Berapa banyak sebenarnya kebutuhan di dalam negeri dan berapa banyak tenaga ahli kita yang ada di luar negeri?

Maaf baru mengikuti diskusi ini belakangan.

Share This