Select Page


Untuk adik-adik mahasiswa ataupun yang baru tamat ataupun yang belum merasa puas dan bangga dengan pekerjaan sekarang – jangan takut. Bahkan walaupun anda bukan tamatan perguruan tinggi, sungguh IP/ nilai tidak selalu berbanding lurus dengan penghasilan (mungkin 50% iya dan 50% tidak). Banyak contoh yang bisa dilihat baik dalam skala nasional maupun internasional.

Tanggapan 11 – Irfan Anshori

Menarik tulisan terakhir dari mas CH “krn rezeki bukan diukur dari jurusan dan IP. Tahukah kita bahwa IP itu tidak linear dgn salary? Bahkan banyak yg kebalik? Saya membuktikannya sendiri” Saya juga sudah membuktikannya mas. Saya yang waktu kuliah pernah mendapat IP Nasakom alias “NAsib SAtu KOma” dan luluspun dengan IP pas2an tapi alhamdulillah rezeki saya tidak pas2an dalam mendapatkan pekerjaan, karena setiap orang itu sudah ditentukan rezki dan jalan hidupnya.


Tanggapan 12 – Sugeng

Mohon maaf kalau saya kurang sependapat dengan “negative gradient” antara salary Vs. IP selama belum ada data BPS tentang itu.

Bidang kerja juga menentukan. Kalau di Research and Development tentunya tidak sekedar butuh “lulus”, tapi juga intuisi terhadap academic approaches yang luar biasa terhadap pekerjaan yang jarang berulang. Apalagi kalau R&D di pengembangan produk high tech…

Bidang ini tentu sedikit sekali di Indonesia.

Saya rasa kita harus tetap memotivasi students bahwa pendidikan formal adalah sesuatu yang harus diselesaikan dengan sungguh-sungguh dan serius sesuai dengan bakat dan minat.

Sekedar usul kalau mau membandingkan salary Vs IP sebaiknya dinormalisasi menjadi salary/risk Vs. IP/risk . sepertinya lebih fair.

Mohon maaf bila kurang berkenan


Tanggapan 13 – Zan zwarthannu@yahoo.com.sg

Sebenarnya saat ini kita sdg membicarakan hal yg bukan menjadi domain manusia. Domain manusia hanya berusaha sebaik2nya dng mengelola resiko yang ada. Masalah hasil itu sudah di luar domain manusia. Jadi kita bs lebih fokus dan tidak perlu melihat kantong orang lain.


Tanggapan 14 – Martin Fatah

Banyak juga, yang tidak ber-university dan ber-ip, memiliki pendapatan yang jauh lebih besar……:)

Menurut pendapat saya ……rejeki sudah ada garisnya masing-masing…..yang penting, kita mau berusaha dan berdoa………

Jangan terlena, saya ber-ip tinggi/berasal dari universitas terkenal maka pendapatannya besar…….demikian juga sebaliknya, jangan minder kalau ber-ip kecil/universitas tidak terkenal maka tidak bisa mendapat pendapatan yang besar…..

Pun, yang namanya rejeki, tidak terbatas hanya di pendapatan……….kesehatan merupakan salah satu rejeki yang sangat luar biasa…


Tanggapan 15 – Dirman Artib

Terkadang saya juga ingin mengintip apakah diskusi seperti ini juga terjadi pada milis kawan2 negara lain. Saya pernah bertanya kpd kawan Pilipini, apakah diskusi masalah peluang kerja, gaji dan karir mendapat tempat favourite, jawaban nya “ya”. Lalu aspek-aspek apa sajakah yg didiskusikan dalam hal “boosting your salary” atau “boosting your career”. Yg jelas mind set spt aspirasi Mas Cahyo yg Islami tentunya unlikely, krn memang para Pilipini tengah dan utara tak banyak yg beragama Islam. Lebih ekstreme lagi ide “kepasrahan” kepada jalan nasib juga yg sudah ditentukan sang Pencipta (God) hampir tak ada , sehingga istilah yg persisi sama dgn kamus Melayu “mudah-mudahan” tak dikenal dalam bahasa Tagalog. 

Kemudian, apakah IP atau prestasi sekolah diyakini menentukan juga, ternyata mereka berasumsi bahwa IP menentukan jalan profesi, yaitu bagi yg ber-IP tinggi cenderung memilih berkarir di sekitar pemerintahan dan atau di dalam negeri, karena di dalam negeri juga meyakini hubungan paralel antara IP dan performance dunia kerja. Tetapi katanya ada kecenderungan inspirasi bahwa yg bekerja di dalam negeri dan dekat dgn bisnis pemerintah akan kecipratan “kotor” nya permainan politik dan kelompok geng, tribe, klan, sehingga ada trend yg pintar-pintar dan bernyali besar juga ingin ke LN mengais USD, terutama terpedaya melihat para perantau yg mudik dgn gadget terkini, krn para pilipini memperlihatkan sukses dgn kekinian dan trend mainan, mobile phone terbaru is a must.

Yang paling menarik dari keyakinan para perantau Pilipini dan India adalah bahwa mereka mem’boosting” karir dgn menambah pendidikan formal dari jalur profesional, sehingga mereka menyisihkan USD untuk bisa membayar kursus-kursus profesi dan sertifikasi, misalnya dari BGAS, PMP, CWIP, AWS, IRCA, ASNT dan lain-lain.

Khusus bagi Pilipini, selain memilih Middle East sebagai tujuan rantau minimal, anak buah saya yg berasal dari Bagyo mengatakan bahwa menjadi citizenship of Canadian atau Australian atau negara immigrant lain nya juga merupakan ambisi yg hrs diusahakan. 

Khusus yg satu terakhir di atas tidak pernah terdengar terucap lisan dan tulisan oleh perantau NKRI, mngkn karena orang NKRI itu memang nasionalis dan heroik yg terinspirasi oleh bait lagu Indonesia Raya “Tanah Tumpah Darahku, di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku”. Tapi tak tertutup kemungkinan di jaman global ini adanya warga NKRI yg berganti passport krn ingin dapat USD lebih banyak, tetapi saya hanya beranggapan krn mereka hanya sebagai “warga negara Indonesia”, karena tak terlalu meyakini “Indonesia Tanah Air Beta”.


Tanggapan 16 – Kiagus Ismail Hamzah bin Mahbor

Dear All,

Menarik tulisan pak Irfan Anshori yang berkata bahwa walaupun ip nasakom tapi rezeki yang didapat tidak pas-pasan

Memang selayaknya lah kita seperti pak Irfan yang selalu mensyukuri nikmat yang didapat walaupun kriteria rezeki yang tidak pas-pasan masih kurang jelas

Rezeki dikatakan tidak pas-pasan jika kebutuhannya tidak melebihi pendapatan. Sedangkan kebutuhan seseorang tidak sama satu dengan yang lain. Misalnya ada orang yang cukup senang ke kantor memakai Avanza/Xenia sedangkan yang lain minimal menggunakan Nissal X-Trail ataupun Toyota Alphard

Apakah ada penelitian tentang ini?, sementara dari pengalaman dan pengamatan saya, saya cenderung setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa Pendapatan berbanding lurus dengan asal university dan IP


Tanggapan 17 – rizkiwistomenengo

Ada benarnya mengenai IPK ini…dan utk adik2 yg msh kuliah,..saya setuju dgn ungkapan IPK tinggi hanya mengantar kita sampai tahap interview, soal kesuksesan di tempat kerja tergantung pada skill dan integritas masing2 (kl bersaing ama “penjilat” udah diluar nalar), dan jatah rejeki tergantung pd doa juga sbg org yg beriman selain skill.


Tanggapan 18 – Hari Subono

Dear para Milis.

Mantap bin markotop nih pendapatnya Pak Cahyo.

Allah itu Maha Adil. Mungkin kebanyakan manusia melihatnya dari sisi materi saja, jelas itu salah.

Untuk adik-adik mahasiswa ataupun yang baru tamat ataupun yang belum merasa puas dan bangga dengan pekerjaan sekarang – jangan takut.

Bahkan walaupun anda bukan tamatan perguruan tinggi, sungguh IP/ nilai tidak selalu berbanding lurus dengan penghasilan (mungkin 50% iya dan 50% tidak).

Banyak contoh yang bisa dilihat baik dalam skala nasional maupun internasional.


Tanggapan 19 – OK Taufik

Susah lah kalau membandingkan TK dan GL di dunia perminyakan, karena posisi mereka di dunia migas jelas berbeda. Geologi sudah jelas posisinya masuk ke G and G, atau subsurface di oil com lain dan juga operation geologogist, sedikit yg masuk ke drilling atau resevoir. TK umumnya ke production, processing, bisa reservoir atau DE. TK jelas tak pernah (tak bisa ke G nG) ntah kalau di S2nya ngambil study geologi.

SEMANGAT!


Tanggapan 20 – Irwan Fauzy

Mohon maaf sebelumnya, ikut nimbrung, saya amati ada fenomena menarik di milis migas ini.

Ketika ada isu universitas, maka akan ada komentar reaktif:

Saya bukan dari universitas top, tapi saya sukses kok, bahkan lebih sukses dan berpendapatan lebih tinggi dari lulusan universitas top.

Ketika ada isu IP, maka akan ada komentar reaktif:

IP saya kecil, tapi saya sukses kok, ba
hkan lebih sukses dan berpendapatan lebih tinggi dari lulusan dengan IP tinggi.

Dan kasus sejenis lainnya.

Bagus sih jika motif pengangkatan isu tersebut adalah untuk memotivasi, walau mungkin juga sebagai sarana aktualisasi diri. Tapi bisa jadi bumerang jika disalah artikan oleh kawan-kawan mahasiswa atau pelajar untuk berleha-leha karena rejeki udah ada yang atur, kuliah ujian santai aja, IP gausah gede-gede, dll. Padahal domain manusia itu ikhtiar atau berusaha.

Saya jadi teringat Bill Gates yang dropout dan dia jauuuh lebih sukses dari mayoritas lulusan sarjana, master, phd, professor seluruh dunia, lantas apakah sebaiknya semua mahasiswa kita drop out saja biar sesukses bill gates? Padahal bill gates ini hanya kasus ekstrim.

Tidak banyak pula yg menyadari jika bill gates bisa masuk universitas top, artinya memang dia bukan orang biasa-biasa saja terlepas dari kasus drop out nya. Yang jelas membandingkan itu akan lebih valid jika apple to apple, lulusan ip tinggi yang gagal lebih fair dibandingkan dengan lulusan ip kurang tinggi yang gagal, atau si DO yang sukses dibandingkan dengan si sarjana yang sukses, misalnya Bill Gates vs Carlos Slim.

Kasus kehidupan secara statistik bisa diwakili dengan distribusi normal, ada kasus umum (probabilitas besar) dan ada kasus ekstrim (probabilitas kecil). Ketika misalnya mba rania bilang lulusan ivy league tidak diragukan kapabilitasnya, saya setuju, karena ini kasus umum, tentu ada kasus ekstrim dimana lulusannya gagal. Pun demikian saya juga cukup maklum jika ada yang bilang fresh grad dengan ip tinggi linear dengan salary. karena pada umumnya seperti itu, walau bukan berarti semuanya.

Kembali ke artikel.

Apabila lebih cermat membaca artikel yang dibuat, saya tidak melihat ada kesan pengunggulan jurusan / IP / narsisme.

 

” … fresh graduate yang bisa menembus oil company/oil service ini adalah mereka yang disebut Best of The Best, tidak hanya akademik (udah pasti IP di atas 3.2), namun kecakapan non teknis lainnya, atau belakangan disebut dengan Soft Skill.”

Penyebutan best of the best dalam artikel tersebut BUKAN merujuk kepada jurusan teknik kimia atau lulusan yang ber IP besar, melainkan merujuk kepada requirement bagi fresh grad yang ingin berprofesi di bidang yang mereka favoritkan, dalam artikel ini yaitu oil and gas. Penulis memposisikan diri sebagai recruiter di KKKS yang ingin best of the best candidate, yaitu ipk tinggi PLUS soft skill mumpuni.

Dan memang faktanya seperti itu, KKKS tertentu mensyaratkan IP 3.5 dan lainnya 3.2 untuk saringan awal bagi fresh graduate. (artikel tersebut relevant untuk mahasiswa dan fresh grad – disebutkan di paragraf pembuka).

Jadi saya menilai artikel tersebut cukup valid dan justru memotivasi mahasiswa agar berjuang mendapatkan IP tinggi agar mempermudah salah satu jalan, sekaligus memberikan informasi bagi yang terlanjur IP nya kurang bagus agar mengasah area soft skill nya karena dua hal itu sama pentingnya.

Mohon maaf bila kurang berkenan.


Tanggapan 21 – Riky Bernardo

Rekans,

 

Marilah kita selalu ambil sisi positifnya. Bagi yang masih SMA, berusaha yang terbaik agar mendapatkan universitas yang baik dan jurusan yang cocok sesuai bakat, kemampuan dan cita-cita. Bagi yang sedang kuliah, berusaha yang terbaik untuk mendapatkan ilmu yang sedalam-dalamnya, sekaligus juga mendapatkan pengalaman berorganisasi, dan membina hubungan yang baik dengan semua pihak dan golongan.

 

Setuju bahwa seringkali almamater dan IPK tidak bisa dijadikan parameter keberhasilan yang mutlak. Akan tetapi agar digarisbawahi bahwa statement ini tidak bisa diputar-balik. Artinya sangatlah salah untuk membenarkan bahwa jurusan dan IPK adalah tidak penting. Tentu keduanya penting, dan tidak ada alasan untuk siswa/mahasiswa untuk mengorbankan IPK demi mendapatkan sesuatu yang lain yang juga sama-sama penting (missal: kegiatan kemahasiswaan, etc.).

 
Tanggapan 22 – Aank

Sukses tidak nya seseorang ada pada kumulatif faktor2x yang banyak sekali.

Misal:

Jurusan, ipk, critical/creativ, komunikasi, analysis skill, personality, usaha, taqdir/ qodarullah. Karena kita tidak tahu taqdir Allah kecuali sampai terjadi, maka kitalah yang mempersiapkan faktor2x diatas sebaik2nya. Berilmu yg baik dan banyak shgga ipk tinggi, berorganisasi, memanfaatkan waktu efficient dan berbekal. 

Note: Allah akan meninggikan kedudukan orang2x yang berilmu beberapa derajat.


Tanggapan 23 – Ardhian Solichin

Ikut nimbrung yaa rekan rekan

 

cuma mau ngasih satu kalimat saja

 

“Tuhan mendekati takdir kita dengan apa yang kita usahakan “

 

so mari berdoa, belajar , bekerja, dan berusaha sungguh2 agar takdir kita didekatkan Alloh kepada apa yang kita inginkan.

 

Be excellent, and the success will follow you…..(ranchodas chanchad) (penuhi diri kita dengan ilmu ,bakat, dan potensi  maka kesuksesan akan mengikuti)

 
Tanggapan 24 – Mico Siahaan

Sales dan marketing kok nggak masuk ya. Sepertinya mayoritas lulusan perguruan tinggi termasuk lulusan teknik kimia menjadi sales dan atau marketing. Ini dikatakan favorit dari sisi “yg didambakan” ya?


Tanggapan 25 – Kiki Bangka

Rekan Mico,

Mungkin yg dimaksud TS adalah 9 jenis industri, bukan jenis pekerjaan.

Btw, sehemat saya tiap2 jenis industri yg disebutkan oleh TS apakah itu bidang energi, consumer goods atau bahkan pemerintahan (PNS), masing2 mempunyai divisi penjualan/pemasaran. Sebagai ilustrasi, khusus untuk di pemerintahan, biasanya jika ada instansi yg mengadakan sebuah acara atau kegiatan, akan dibentuk suatu panitia untuk mengurusi segala hal hingga promosi (walaupun kegiatan tersebut pelaksanaannya oleh pihak lain -kontraktor).

Memang sepertinya Sales Engineer awalnya bukanlah idaman, namun ketika sudah “terciprat” bonus bisa jadi makin mencintai pekerjaan tersebut. Pada akhirnya, masing2 kita merupakan Sales Person bagi pribadi kita sendiri. Baik buruknya kinerja akan berpulang ke perkembangan karir kita sendiri.

Share This