Select Page

“Top 20 Prospective host countries: 2012 -2014”. Indonesia menduduki urutan ke 4 sebagai negara untuk berinvestasi.Kalau dilihat memang urutan itu tidak jauh dari urutan jumlah penduduk Indonesia yang juga no 4 di dunia. Dapat disimpulkan sementara bahwa Indonesia merupakan pasar yang kuat, dan mampu membeli. Seandainya orang Indonesia itu tidak mampu membeli produknya maka tidak akan mereka menginvestasikan di Indonesia. Jadi kalau hanya BBM naik segitu, saya yakin rakyat Indonesia mampu ! Salah satu PeeR utamanya adalah mengangkat yang terbawah supaya kesenjangannya tidak melebar… Pembahasan – Rovicky Dwi Putrohari

INDONESIA MAMPU !

Gambar ini memperlihatkan grafik urutan tujuan investasi di dunia menurut UNTAD – United Nations Conference on Trade and Development – tahun 2012. “Top 20 Prospective host countries: 2012 -2014”. Indonesia menduduki urutan ke 4 sebagai negara untuk berinvestasi.

Kalau dilihat memang urutan itu tidak jauh dari urutan jumlah penduduk Indonesia yang juga no 4 di dunia. Dapat disimpulkan sementara bahwa Indonesia merupakan pasar yang kuat, dan mampu membeli. Seandainya orang Indonesia itu tidak mampu membeli produknya maka tidak akan mereka menginvestasikan di Indonesia.

Jadi kalau hanya BBM naik segitu, saya yakin rakyat Indonesia mampu ! Salah satu PeeR utamanya adalah mengangkat yang terbawah supaya kesenjangannya tidak melebar…

Tanggapan – Administrator Milis Migas  

Jawaban saya : Kita Pasti Mampu

Bravo Migas Indonesia

Tanggapan – Rizqie kikibangka

Pak,

Kalau jawaban saya: Mau Tidak Mau. Karena adalah pemerintah yg berwenang menentukan kebijakan sedangkan rakyat hanya bisa demo (bagi yg menolak) namun tetap harus menjalani. Kalau mau mencoba melihat lebih lebar, jangan hanya tampilan di Jakarta. Masih terlalu banyak hal2 yg jauh dari ideal seperti listrik byarpet jadi rutinitas sehari2, antri BBM di SPBU (karena hanya buka di waktu siang), infrastruktur seperti jalan, jembatan, dsb yg kurang memadai. Sementara pembangunan tidak beranjak dari kawasan sentral kota: jalan yg masih bagus diaspal lagi (karena lokasinya di depan rumah salah seorang anggota dewan -yg notabene juga menjadi kontraktornya). Itu yg tampak di pandangan di daerah asal saya di wilayah Sumatera. Karena saya juga (saat ini) tinggal di Jakarta, “orang miskin” disini mayoritas berstatus semu. Berbeda dengan di daerah, yg masyarakatnya dominan memang “hidup susah” -melihat sendiri kondisi aktual sewaktu bertugas di Sumatera, Jawa & Sulawesi. Hanya bisa berdoa, semoga orang2 peduli seperti Pak Herry & penggiat aktif KMI yg lain bisa menjadi pemimpin di negeri ini. Hanya bisa takjub kepada (alm.) Sophan Sopiaan, Tere, yg berbesar hati mundur dari Senayan karena masih bernurani. Yg masih duduk disana? Masih belum percaya.

Tanggapan – Kiagus Ismail Hamzah bin Mahbor

Rakyat yang sebelah mana yang mampu? Berapa persentase nya dari keseluruhan rakyat Indonesia.

Kalau yang ada di milis ini, saya sangat yakin pasti mampu.

Bagaimana dengan yang katanya adalah rakyat Indonesia di pelosok Sumatera,  Jawa dan Papua.

Fyi, Adik saya memiliki klinik di pinggir kota semarang,  terkadang masih menerima buah-buahan sebagai tanda terima kasih dari pasien yang tidak mampu membayar biaya pemeriksaan dan obat. Ini adalah di Jawa, kondisi masyarakat di luar jawa mungkin lebih buruk lagi.

Subsidi adalah kewajiban pemerintah terhadap rakyatnya,  pemerintah USA aja masih memsubsidi petaninya.  Bagaimana dengan pemerintah RI yang katanya pancasilais, kenapa berkeberatan mesubsidi BBM, sedangkan diketahui bahwa multiplier effect dari harga BBM sangat besar. Mengatasi penyalahgunaan bbm subsidi dengan menaikkan harga bbm adalah kebijakan yang tidak tepat.  Harusnya pemerintah mempunyai kebijakan yang lebih tepat dengan misalnya melarang mobil sedan, mpv, suv dan mobil mewah membeli bbm subsidi.

Saya teringat pada salah seorang kawan kuliah saya di Tahun 80-an yang karena ingin menghemat Rp. 200 (dulu mie ayam harganya Rp.200) supaya ada uang makan siang, beliau berjalan kaki kuliah dari rumah pamannya di pasar minggu menuju kampus UI depok pp. (Alhamdulillah beliau sekarang sudah punya Moge dan fortuner sehingga gak perlu jalan kaki jarak jauh lagi). Saya gak bisa membayangkan kesulitan orang miskin yang bertambah sulit dengan naiknya harga bbm yang membuat ongkos transportasi, dan harga harga juga naik.

Cobalah kita berpikir normal, mengapa di sangatta (kaltim), Sungai lilin (sumsel) yang notabene adalah daerah penghasil energi, tapi listriknya byar pet? Belum lagi kondisi infrastruktur yang buruk… adakah yang bisa menjawab ini?

My personal opinion,  mostly rakyat Indonesia tidak mampu dan hanya menjadi penonton ke sebagian kecil sekali rakyat yang mampu.

Tanggapan – Supriyono

Seputar harga BBM

1. Di berbagai negara penghasil BBM:

Harga BBM di Beberapa Negara

United Arab Emirates ($ 0.37/liter atau Rp.4.300,-/L)

United Arab Emirates adalah sebuah negara yang menarik untuk menjadi tempat tinggal. Selain memiliki salah satu harga BBM termurah di dunia mereka juga negara terkaya nomor 4 di dunia.

Bahrain ($ 0.27/litre atau Rp.3.159,-/L) Sebagai negara dengan luas wilayah yang kecil dan mempunyai akses yang luas pada negara-negara produsen minyak, maka jangan heran jika harga BBM di negara ini murah meriah.

Qatar ($ 0.22/litre atau Rp.2.575,-/L) Dengan produk minyakya yang melimpah dan dengan jumlah penduduk yang tak tertlalu besar, Qatar menjadi salah satu negara terkaya di dunia. wajar saja negara ini mempunyai kemampuan untuk menjual minyak yang mahal ke luar negeri dan menjualnya dengan harga murah di dalam negeri.

Kuwait ($ 0.21 / liter atau Rp.2.457,-/L). Hampir sama seperti di Qatar, Kuwait adalah negara nomor 5 terkaya di dunia, jadi sangat masuk akal bahwa harga BBM di Kuwait sedikit lebih murah daripada di Qatar.

Libya ($ 0.14/Liter atau Rp.1.636,-/L)

Negara yang baru saja terkena krisis pemerintahan ini adalah negara dengan cadangan minyak terbesar di Afrika dan nomer 9 di dunia. Pantas saja kalo harga minyak di negara ini miring.

Arab Saudi ($ 0.12/liter atau Rp.1.404,-/L)

Tak ada yang meragukan negara ini untuk membentuk harga murah terhadap BBM di negara ini. Semua orang di dunia ini juga tahu kalo negara ini adalah dedengkotnya petrodollar.

Iran ($ 0.11/liter atau Rp.1.287,-/L)

Walaupun oleh para ahli negara ini diperkirakan akan kehabisan cadangan minyak pada 74 tahun mendatang, namun negara ini nyatanya tetap memberlakukan harga murah untuk BBM di negara ini.

Nigeria ($ 0.10/liter atau Rp.1.170,-/L) Nigeria memiliki cadangan minyak 10 terbesar di dunia. namun juga memiliki catatan konflik yang berkepanjangan, jadi jangan heran jika pemerintah setempat tak ingin membuat rakyat marah dengan harga Bm yang tinggi.

Turkmenistan ($ 0.08/liter atau Rp.936,-/L)

Entah sebab apa negara ini bisa mempunyai harga yang rendah untuk minyak mereka, yang jelas, negara yang terletak di sekitara perbatasan Asia dan Eropa ini mempunyai harga yang rendah untuk BBM, bahkan harga seliternya lebih murah dari sebungkus mie instan.

Venezuela ($ 0,05 / liter atau Rp.585,-/L)

Venezuela dipimpin oleh Presiden Hugo Chávez – cukup terkenal untuk orang-orang yang mengikuti politik internasional. Seorang sosialist. Ia melakukan hampir apapun yang ia pikir membantu rakyatnya untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Tentunya dengan harga BBM yang murah, akan lebih mudah rakyat memilih dia kembali pada pemilu.

sumber IslamPos.com

2. Dari Masa ke Masa di Indonesia:

Soeharto

1991: Rp 150 naik jadi Rp 550

1993: Rp 550 naik jadi Rp 700

1998: Rp 700 naik jadi Rp 1.200

BJ Habibie

1998: Rp 1.200 turun ke Rp 1.000

Abdurrahman Wahid

1999: Rp 1.000 turun jadi Rp 600

2000: Rp 600 naik ke Rp 1.150

2001: Rp 1.150 naik ke R
p 1.450

Megawati Soekarnoputri

2002: Rp 1.450 naik jadi Rp 1.550

2003: Rp 1.500 naik jadi Rp 1.810

SBY

2005: Rp 1.810 naik jadi Rp 2.400

2005: Rp 2.400 naik jadi Rp 4.500

2008: Rp 4.500 naik jadi Rp 6.000

2008: Rp 6.000 turun ke Rp 5.500

2008: Rp 5.500 turun ke Rp 5.000

2009: Rp 5.000 turun ke Rp 4.500

2013: Rp 4.500 naik jadi Rp ????

Jadi dengan 3x menurunkan harga BBM di 2008-2009 akhirnya SBY mendapatkan simpati luar biasa dan Demokrat akhirnya jadi jawara di Pemilu 2009 ya….

SBY saat itu kayaknya belajar dari fenomena “Venezuela, yg dipimpin oleh Presiden Hugo Chávez – cukup terkenal untuk orang-orang yang mengikuti politik internasional. Seorang sosialist. Ia melakukan hampir apapun yang ia pikir membantu rakyatnya untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Tentunya dengan harga BBM yang murah, akan lebih mudah rakyat memilih dia kembali pada pemilu.” Namun skrg karena scr konstitusi SBY udh tdk bisa lagi nyalonin lagi, makanya dia tdk lagi memakai strategi BBM murah, karena tidak ada target untuk jadi presiden lagi. Sorry kesimpulan ngasal…

Tanggapan – Aroon Pardede

Menambahkan saja:

indonesia:

 

– produksi sekitar 900,000 bopd

– Konsumsi: 1,400,000 bopd

– Impor BBM: 400,000 bopd. Bila dihitung secara nilai uang, sekitar 500milyar rupiah per hari.

– Pos subsidi bbm di APBN 2013, sebelum di revisi: 27.5%. pos biaya terbesar di APBN Defisit anggaran 2013: 2.4% = 235 triliun rupiah (defisit anggaran ini ditutup dengan berhutang, baik dalam bentuk hutang dari lembaga dan negara donor, maupun dengan menerbitkan surat utang (obligasi, surat utang negara)

Angka2 harga2 bbm di berbagai negara di bawah ini menjadi kehilangan konteks, dan menggiring kepada kesimpulan yang salah kalau tidak disertai data pendukung seperti produksi minyak dan konsumsi bbm dalam negeri masing2 negara, serta berapa besar prosentase subsidi BBM di APBN tiap2 negara.

Tanggapan – Rovicky Dwi Putrohari

Ada yang bisa memplot [harga BBM] vs [produksi migas/perkapita] utk masing2 negara  ?

Supaya tidak membandingkan [apple] vs [jeruk], tetapi paling enggak [apple malang] vs [apple washington],

Tanggapan – Dirman Artib

Pak De,

Kalau [harga BBM] vs [produksi migas/perkapita] utk negara Qatar tentu hasilnya sangat bueda banget, harga BBM akan secuil hampir kecil tak berhingga dibandingkan produksi migas/perkapita negara mereka. Tapi hanya itulah yg mereka punya, mereka tak punya air permukaan, rerumputan dan pepohonan. Tapi mereka bangun Petrochemicalan (HDPE/LDPE/PVC), Pupukan, Aluminium Smelteran, Aljazeera Pertipian, Persepakbolaan dan……pasar tenaga kerja migas Internasional dgn migas yg mereka produksi, 

Tanggapan – Tomo Moslem

Semalem sekilas nonton talkshow di tvri yg menurut sy ada benarnya juga.

“Sebenarnya wajar sih minyak harganya mahal. Coba kita tengok air mineral yang cuma ngambil di permukaan, 1.5Liter harganya 5ribu. Bahkan kalau di kereta yang merk ga terkenal aja bisa 8ribu. Apalagi kalau di karaoke atau di club malam, harga 1 botol kecil (300mL) bisa seharga 1 galon air mineral di luaran alias 12rb. Padahal proses pengeboran, pengambilan, dan pengolahan minyak jauh jauh lebih susah dibanding mengolah air mineral yang memang sudah jernih. Dengan naiknya harga bbm paling tidak bisa lebih sedikit menghargai minyak lah, dsb dst”. Hmm, ada benarnya juga ya (dalam hati kecil sy).

Tanggapan – Kukuh Thoriq Ariefian

Sepertinya harus melihat segala bentuk kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak tidak hanya dari segi teknis ataupun hitungan matematis yang masih banyak asumsi (seperti di APBN) dan data base yang masih kacau dari BPS. Cuman ketika melihat ataupun mendengar saudara kita merasakan kenaikan harga beras dan kebutuhan 9 bahan pokok lainnya tanpa ada kenaikan gajinya, jadi berfikir apakah kenaikan harga BBM ini dirasakan manfaatnya (menguntungkan) untuk masyarakat ? Kalau lah pemerintah sudah bisa memperbaiki sistem logistik kita dari puncak gunung (sebagai penghasil sayuran, padi, dll) sampai ketengah laut (penghasil ikan, pembeli) dan sebaliknya kemungkinan kenaikan BBM akan terasa positif baik untuk kalkulasi APBN maupun untuk masyarakat.

    Tanggapan – Heru Suprapto

Maaf gak tahan juga untuk diam terus, mudah2an ada benarnya. Sepertinya pemerintah ibaratnya sudah “kuping budeg mata picek”. Sejak orba APBN cuma ngandalin dari kontribusi oil&gas yang buntutnya ya seperti ini “Gejolak”. Pertama jelas gak berdaya menyetop/menindak penyelundup (kalau kelas pengecer mah kecil). Kedua setengah hati mengembangkan potensi yang lain seperti yang diungkap pak Maruar Sirait, Arifin Panigoro dan banyak lagi. Indonesia sama dengan negeri gajah, kaya dengan SDA dari Agro. Bedanya di Bangkok sang raja sadar dengan potensinya dan komit dengan pemberdayaan SDA tsb sehingga yang negara super power (Amrik) saja kelakon dibanjiri eksport produk agronya sampai saya heran yang namanya rebung atau jantung pisang saja banyak ditemukan di supermarket sayur. Dan mau tahu lagi yang bisa dijual? Sayur asem mas, tapi produk Filipina yang sudah dikemas cantik dan tinggal cemplung. Saking herannya saya beli beberapa dan tak bawa pulang kampung buat bukti. Gak tahu juga kenapa bikinan Filipina, apa wong Filipina juga makan sayur atau orang Filipina yang pinter otaknya. Nah sekarang intrspeksi deh….what are you doing so far??? BBM naik bisa juga, cuma lihat timingnya dan apakah rakyat sudah disosialisasi dan mengerti.

Tanggapan – Pagaralam

Hanya koreksi saja, maaf.

Produksi sekitar 900,000 bopd adalah produksi minyak mentah. Sedangkan konsumsi yg 1,400,000 bopd dalam bentuk BBM (atau minyak mentah juga? Tdk punya data sih).

Kalau 900,000 bopd minyak mentah diproses paling bisa bisa menghasilkan kira2 10-15% bensin dan kira2 10% diesel (tergantung karekteristik minyak mentah nya) plus BBM jenis lainnya plus bottom produk yg tdk bisa digunakan buat BBM. Kalau konsumsi yg 1,400,000 dalam bentuk BBM siap pakai spt diesel dan bensin maka sebenarnya Indonesia mengimpor mungkin lebih dari 1000,000 barrel BBM/hari.

Tanggapan – Rizkie Kiki Bangka

Data BPS, BBM subsidi paling banyak digunakan oleh kendaraan pribadi. -perkiraan adalah jenis bensin (http://www.tribunnews.com/2013/06/17/60-persen-konsumsi-bbm-bersubsidi-dari-sep eda-motor)

Sementara itu, Pemerintah bersiap dengan dengan program mobil murah. (http://www.kemenperin.go.id/artikel/4805/Menanti-Program-Mobil-Murah)

Namun, hampir semua kebutuhan BBM domestik, baik subsidi maupun non subsidi, impor. (http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=179880:90-keb utuhan-pertamax-masih-impor&catid=18:bisnis&Itemid=95)

Pun ketika diterapkan nol subsidi, SPBU Pertamina diperkirakan perlahan akan mati, karena harus bersaing dengan SPBU asing yang memproduksi BBM sendiri. Tidak bisa dipungkiri, mayoritas penduduk kita hedonis dan masih inferior terhadap kemampuan sendiri. Apalagi urusan harga, tidak perlu malu, lebih murah jadi pilihan utama, barangnya sama pula.

Di samping itu, anggaran untuk BBM (padahal sudah menerapkan harga keekonomian) akan memuncak seiring semakin ramainya pengguna mobil. Itupun karena di daerah belum muncul SPBU milik Shell atau Total.

Solar, BBM bersubsidi yang paling banyak diselewengkan. Sebenarnya sudah bisa ditebak siapa dalang penyelundupan. Yang jelas rakyat biasa tidak akan punya “kuasa” untuk itu. Segera hapus total subsidi untuk solar, namun perlu disiapkan insentif bagi pengusaha terutama transportasi umum agar bertahap mengalihkan sistemnya ke gas. Dengan sendirinya biodiesel akan bersanding dengan solar.

Yang mendesak, pembangunan infrastruktur gas, bagi transportasi dan pembangkit listrik. PLN harus didorong untuk secepat mungkin mengkonversi pembangkit yang masih menggunakan BBM ke gas, disertai percepatan pengembangan tenaga surya, panas bumi, gelombang, mikrohidro, dan sejenisnya.

Walau
pun sinar matahari di Indonesia “tidak begitu panas “(menurut pakdhe), setidaknya masih bisa memancarkan radiasi untuk mengalirkan listrik.

Nuklir? Jerman yang lihai pun takut. (http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-13592208)

Catatan kaki:

Ulasan diatas sekedar buah pikiran sederhana, hanya ingin masalah bangsa terkait energi dapat terpecahkan. Karena BBM dan listrik adalah kunci perekonomian untuk berdenyut. Bagaimana implementasi dan lanjutannya, hanya pemerintah dan DPR yang berwenang, jika mempunyai niat baik untuk benar-benar memajukan bangsa.

Tanggapan – Alfiyansyah

Mas Kiki,

Kata siapa SPBU asing yg beroperasi di NKRI memproduksi sendiri BBM nya ? Anda perlu cross check dgn data Pertamina Niaga dan Pertamina hilir serta perlu tahu rantai (value chain) domestic supply sebelum mengeluarkan informasi ini. Saya kira sangat tidak tepat kalo SPBU milik PTM akan mati, data valid apa yg mendukung hal ini ?

Mind set kita mesti diubah dan naikkan BBM adalah pilihan terbaik serta diganti fokus costnya pada pembangunan infrastruktur seperti transportasi masal. Yang paling parah, iklan transportasi dikuasai produsen motor dan mobil pribadi, belum lagi jualan sinetron selalu mengupas lebih banyak adegan bermobil, jarang yg memakai transportasi masal karena memang tidak jadi favorit masyarakat menengah ke atas karena berbagai faktor.

Sekian dulu.

Tanggapan – Dirman Artib

Kalau Syeikh AAL sudah berkomentar, saya memberikan dukungan setuju……sekali.

Terutama tentang iklan transportasi yg sarat iklan motor (motor bike), dan mobil pribadi. Saya tidak pernah lihat ada iklan Kopaja, Bus Mayang Sari, Damri, PPD dan keretapi jabotabek, bahkan Bus Trans Jakarta pun tak lagi pede beriklan, apalagi LRT/MRT dan Monorail yg masih jadi mimpi 30 juta orang Jabotabek. Khusus untuk LRT/MRT/Monorail, kenapa yg punya nyali untuk meraih mimpi cuma Pak Jokowi? Apakah pertanda kualitas pemimpin dan pemerintah propinsi/kabupaten seputar Jakarta tak pernah punya ide untuk mengintegrasikan moda transportasi Jokowi dgn daerah DKI yg jadi tetangga mereka? Kacian skali ya…

Tanggapan – Puluh Rianto

Meningkatkan kualitas transportasi masal akan berdampak turunnya kebutuhan kendaraan pribadi. Ini berlawanan dengan kepentingan bisnis otomotif.

Masih ingat berita beberapa bulan lalu, pimpinan pabrikan mobil terkemuka meminta jaminan investasi usaha dari pemerintah (headline di koran nasional), ketika akan menanamkan investasi 1T untuk perluasan kapasitas pabrik perakitan?

Jaminan itu salah satu bentuknya ya kebijakan transportasi publik yg lebih berpihak pada industri otomotif, termasuk mempertahankan subsidi BBM.

Kira2 begitulah… Kenapa Jokowi sendirian mikirin LRT/MRT/monorail. (Bagaimana nasib ribuan taxi? Bukan cuman sopir taxinya, tapi juga pabrik mobil taxinya, perusahaan taxi dst…)

Tanggapan – Haditomo Irawan

Rekan2 milis Migas YSH,

Memang ironis disaat salah satu ciri kota modern terabaikan yaitu public transport yg ter-integrasi dengan baik dan memberikan akses kenyamanan dan keamanan bagi warganya (citizen).

DKI Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia membutuhkan sarana dan prasarana yg memadai bagi warganya.

Saya melihat bahwa memang kekurangan kita sebagai negara berkembang adalah menjadi sasaran “Growth economic” bagi negara2 maju seperti Jepang, Korea bahkan Cina.

Memang ironis disaat kita merindukan sarana dan prasarana public transport yang aman, cepat, bersih dan nyaman belum dapat disediakan oleh pemerintah kita, baik PEMDA maupun pusat.

Padahal produsen kendaraan bermotor juga tidak perlu kecil hati kalau produknya tidak akan laku apabila public transport terwujud.

Saya yakin bahwa dapat diciptakan suatu station KA dengan menyediakan lahan parkir untuk motor atau mobil, sehingga tetap dibutuhkan sarana feeder transport atau bridge access transportation ke station KA dari rumah setiap individu masyarakat.

Kendaraan bermotor roda 2 atau 4 tetap dibutuhkan oleh masyarakat sebatas keperluan urgent spt kebutuhan access mendadak ke UGD atau IGD bahkan keperluan bagi ibu2 utk mengantarkan putri-putranya ke sekolah serta keperluan ke pasar lokal.

Pemerintah harus siap juga mengurangi iringan para pejabatnya yang menurut saya sangat mubazir kecuali tingkat Presiden dan Wapresnya.

Untuk tingkat Menteri, Bupati dan Gubernur sudah nggak perlu lagi iringan pengawal yg membutuhkan pengawalan melebihi 2 units. Toh, negara kita aman2 saja bukan negara konflik.

Nah, dapat dihitung biaya penghematan energy yg dapat dilakukan (pejabat pemerintah harusnya memberikan contoh yang baik bagi rakyatnya).

Pemerintah harus berani mengadakan penghematan dengan memangkas biaya operational pejabatnya dengan menggunakan kendaraan dinas setingkat Avanza atau Ertiga. Bahkan Kalau perlu memakai kendaraan hemat energy dan ramah lingkungan, sehingga penghematan bbm benar2 tepat sasaran.

Kecuali presiden mungkin masih di izinkan memakai kendaraan roda empat dengan cc engine max 2000 saja.

Walaupun mobil dinas pemerintah, BUMN dan TNI memakai bbm pertamax atau pertamax plus, tetap saja pemborosan karena biaya untuk penyediaan bbm nya di budget-kan melalui mekanisme APBN dan APBD.

Justru sudah saatnya pemerintah dan pejabat negara mulai berhemat karena semua fasilitas mereka dibayar oleh pajak rakyat.

Tanpa keberanian pemimpin bangsa yang bersih dan berhati nurani maka sulit rakyat menerima setiap kebijakan pemerintah yang benar2 pro-rakyat.

Saya menyarankan agar dikota2 besar dimana penggunaan listrik sangat “mewah” sepatutnya mulai dialihkan menggunakan “cahaya matahari/ solar cell”.

Masyarakat mulai diperkenal bbm ramah lingkungan yaitu memakai V-Gas dan produsen kendaraan “diwajibkan” memasang “converter kit” utk bbm memakai gas.

Dulu rakyat kita terbiasa dengan minyak tanah utk kegiatan didapur, kini mulai tergantikan dengan gas 3kg.

Sudah saatnya pemerintah mulai memberikan contoh kepada rakyat tentang hidup berhemat energy dan hemat pengeluaran.

Saya yakin insyaallah energy Indonesia akan tetap bertahan sampai 20-50 tahun lagi bahkan lebih apabila kita memakai sumber energy abadi yaitu “Matahari”.

Tanggapan – Hamzah bin Mahbor

Saya pengguna bbm pentamax (lebih sering memakai shell super/v-power) termasuk yang tidak setuju terhadap kenaikan harga bbm mengingat multiplier effect-nya dan ada cara lain supaya harga bbm tidak naik.

Bagi kita yang ada di milis ini, kenaikan harga bbm dan kenaikan harga2 tidak berpengaruh banyak, bagi kita efek kenaikan harga bbm mungkin adalah persentase kenaikan gaji yang lebih besar dari tahun lalu dan syukur syukur bonus juga meningkat.

Bagaimana dengan rakyat kecil di seluruh Indonesia yang pada saat bangun tidur masih banyak masih bertanya tanya makan apa hari ini.

Hari hari kemarin aja masih banyak orang miskin, hari ini dan selanjutnya mungkin orang miskin akan berkurang karena banyak yang mati.

Subsidi adalah kewajiban pemerintah terhadap rakyatnya terutama terhadap yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dan ini adalah amanat UUD1945.

Btw, melihat pemerintah seperti ini, rasanya saya gak mau bayar pajak, yang ada rasanya sakit hari aja gaji yang diterima sudah dipotong buat bayar pph21. Kemana uang pembayaran pajak kita kalau tidak buat subsidi? Sementara infrastruktur masih buruk dan PNS yang performance nya kita semua tahu.

Wajar kalau ada yang tidak memiliki kepedulian dalam masalah ini, karena mungkin:

– Terima gaji netto (pajak pph21 dibayar perusahaan/employer)

– bekerja sebagai expatriate di LN sehingga gak bayar pajak di Indonesia atau bekerja di Indonesia tapi terima gaji di Singapura/LN

– tidak pernah berjumpa dengan orang miskin di Indonesia atau pun pernah berjumpa tapi tidak berempati

– mendukung subsidi bbm dialihkan ke subsidi lapindo

Tanggapan – Segaf Husein

Ya begini kalau negara sudah jadi “semi kapital
is”, saya setuju sekali dengan pendapat mas Hamzah, efek kenaikan BBM ini sangat memukul rakyat kecil, bagi kita yang ada di milis ini mungkin tidak terlalu berpengaruh. Memang betul ada angka rata2 pendapatan sekarang yang sekarang +- 4500 US$, tp bagaimana dengan pemerataannya?. faktanya Range pendapatan di Indonesia ini jauh sekali. Jakarta ini gambaran kecil kehidupan di Negeri ini, di tengah kemegahaan gedung-gedung bertingkat pencakar langit, masih banyak perkampungan kumuh berjejeran. 🙁

Belum lagi “Balpirik” yang sengaja di bagi setelah kenaikan BBM kental sekali muatan politiknya, jadi ingat 2009 pas “Si Biru” suka pasang Iklan “BBM Turun 3 kali” untuk menarik simpati masyarakat padahal saat itu harga Crude Oil juga sedang meningkat tajam, nasib orang banyak jadi menu tawar-tawaran politik yang menjijikkan.

Tanggapan – Supriyono

Betul bang, biangnya adalah knp tahun 2008-2009 turunin harga BBM yg akhirnya diklaim si biru dan akhirnya si biru jd jawara pemilu 2009. Skrg ketika tdk ada kesempatan si boss biru untuk tampil lagi, dianya malah naikin harga BBM. Weleh weleh

Tanggapan – Rizqie Kiki Bangka

Saya pribadi tidak yakin 2009 demokrat menang “murni karena efek turun harga BBM 3x”. 

Faktor2 yang patut dilihat:

 

– andi nurpati mundur dari KPU menuju demokrat pasca pemilu (periode sebelumnya, anas)

– kasus century berlangsung sebelum pemilu ’09

– pidana Antasari Azhar dimulai semenjak beliau menjajaki kasus IT KPU

Mengutip dari Michael Corleone (the Godfather): politics & crimes, they’re the same thing.

Maaf kalau OOT-nya terlalu jauh. Setidaknya disitulah seninya “debat kusir” apalagi menyangkut politik, melenceng kemana2. 8P

Tanggapan – Rizqie Kiki Bangka

Pak Aal,

Memang yang saya tahu hanya Shell dengan kilang yang terdekat di Pulau Bukom, SG. Tapi, apa mau SPBU asing menjual BBM di Indonesia namun beli dari Pertamina? Mereka sepenuhnya perusahaan swasta, beda dengan Pertamina. Jadi orientasinya pasti 100% profit. (http://www.majalahtambang.com/detail_berita.php?category=18&newsnr=5351)

Jika memang sekarang SPBU asing sudah membeli dari Pertamina, maaf, berarti saya kurang update infonya. Karena belum menemukan sumber terkait hal itu.

Saya yakin, mayoritas penduduk tidak keberatan walaupun pemerintah menerapkan harga paling mahal. Tapi, pemerintah harus bertanggung jawab dulu terhadap jaminan ketahanan pangan dan daya beli masyarakat secara keseluruhan serta menjamin pendidikan layak yang bermutu dan ketersediaan lapangan kerja.

Sedikit OOT, karena kuatnya pengaruh hedonisme disamping meningkatnya biaya hidup, perilaku korupsi pun kini hinggap ke selain pemerintahan. Pekerja level bawah yang paling kena dampak kenaikan harga, tidak segan-segan “mark-up” daftar belanja perusahaan. Ini berdasarkan pengakuan yang bersangkutan, dan bukan hanya satu atau dua orang. Padahal gaji riil mereka, saya pikir sudah mencukupi untuk hidup “secara normal”.

Kalau sekedar memikirkan diri sendiri, Alhamdulillah, rejeki masih mampu untuk membeli dengan harga pertamax plus atau beras pandan wangi.

Tanggapan – Administrator

Mas AAL

Tampaknya memang Shell dan Total dulu juga ada Petronas mengirim BBM ke Indonesia dari kilang atau Stock mereka sendiri di Singapore atau Malaysia.

Benar kita tidak perlu takut Asing akan menguasai pasar domestik karena Pertamina juga mmpu bersaing dengan mereka terbukti dengan SPBU Petronas yang dijual karena Petronas kalah bersaing dalam menjual BBM di Indonesia dari 19 SPBU Petronas telah 9 dibeli Pertamina dan 1 lokasi di Cibubur Jakarta Timur diteruskan kontraknya oleh Pertamina. Kalau di Hilir memang Pertamina berjaya sekarang tinggal kita support agar di Migas hulu juga Pertamina berjaya.

Tanggapan – Dirman Artib

Kan Pak De pernah bilang dulu, semuanya adalah potensi, potensi dan potensi. Kalau tidak tahu cara untuk mentransformasikan potensi tsb. menjadi kenyataan untuk kesejahteraan yg adil, maka potensi hanya akan dimanfaatkan oleh sekelompok dan segelintir orang saja. Untung KPK sudah memasukkan segelintir orang tersebut ke penjara, tetapi ada lagi mungkin gelintir-gelintir yg lain masih berkeliaran mengincar potensi tsb. buat diri sendiri dan kelompoknya, termasuk potensi yg membuat investor tertarik untuk menanam benih finansial agar tumbuh besar dan berbuah.

Kebetulan saya kemarin memperpanjang KTP yg sudah expire semenjak bbrp bulan lalu, karena baru sekarang sempat keluar dar gurun. Nah mulai dari tingkat Desa sampai ke Kecamatan cukup menantang juga proses memperpanjang KTP ini. Menurut SOP (nggak jelas siapa yg meng-approve SOP) maka pembuatan KTP itu adalah 21 hari kerja dan damage cost Rp. 15.000 (USD 1.6). Tetapi bisa lebih cepat, atau sangat cepat serta super cepat jika melalui proses “short cut”. Saya tertarik utk push to the limit untuk mengetahui proses super cepat. Prosesnya adalah langsung ke kantor Kecamatan dan membawa surat  pengantar dari Kepala Desa. Perjalanan dari rumah ke Kantor Camat adalah petualangan tersendiri kayak “off-road” di tipi-tipi, karena apa yg dikatakan para politisi pendukung kenaikan BBM ttg kondisi infrastructure jalan yg kayak kubangan babi memang terlihat nyata. Sempat terlintas dalam pikiran bahwa ada kolusi antara pabrik spare part per mobil dgn otoritas infrastruktur, lalu saya cepat beristigfar supaya gak jadi perkara di sidang akherat kelak.

 

Begitu sampai di Kecamatan, saya parkir mobil pinjaman dari istri yg berkelas BBM bersubsidi tsb. Berbekal pengalaman gaul di kampus 20-an tahun lalu insting saya mengatakan bahwa sumber informasi ada dikantin. Saya ucapkan salam kepada orang-orang di sekeliling sebelum duduk dibangku panjang kayu,  yg entah sengaja atau tidak hampir semua menatap saya sebagai calon mangsa, terutama penjaga kantin tentunya, paling tidak segelas kopi akan terjual. Saya sengaja membawa berkas persyaratan dalam map plastik, dan smart phone pinjaman dari anak dgn sok buka-buka imel, ternyata umpan mengena karena salah seorang bertanya “mau ngurus apaan bos?” dan lalu sambil bercanda menyambung “mau nikah lagi bos he..he..he.? dst…dst…berlanjut tentang obrolan seputar e-KTP yg ternyata prosesnya cukup lama, yaitu 6 s/d 7 bulan , tetapi KTP biasa bisa diperpanjang dulu sembari menunggu produk iklan Pak Mendagri tsb. Informasi yg saya dapat memang benar, proses super cepat KTP biasahanya memakan waktu 3 jam, tak perlu berjubel ngantri dalam kantor , tinggal tunggu saja di kantin sembari nambah lagi kopi-nya dan menikmati Dji-Sam-Soe yg ditawarkan oleh ejen berseragam tsb. Lalu apakah saya menggunakan strategy tsb? 

Saya tak akan beritahu anda trik yg saya gunakan, yg jelas saya udah punya KTP baru lagi tanpa membayar pek-go spt prices list illegal dr kantin tsb. dan siap-siap berkompetisi meramaikan pasar tenaga kerja di NKRI ini 🙂