Select Page

“Secara pribadi (berdasar pengalaman di lapangan & cerita rekan2 yang berkecimpung di industri ini), berikut gambaran garis besar penyebaran beberapa prodi menurut sisi hulu-hilir & bidang keahlian.”

Pembahasan – Rizqie (kikibangka)

Menanggapi pertanyaan dari Pak Aank,

sebenarnya sering mendapat pertanyaan serupa dari adik2 yang baru lulus SMA dan berminat dengan karir migas. Secara pribadi (berdasar pengalaman di lapangan & cerita rekan2 yang berkecimpung di industri ini), berikut gambaran garis besar penyebaran beberapa prodi menurut sisi hulu-hilir & bidang keahlian:

1. Fase hilir (Eksplorasi, Produksi)ekslorasi, survei seismik: geologi/TG, geofisika/GF, geodesi/GDeksplorasi, pengeboran: surface logging/MLU (MNC hanya menerima perminyakan/TM & TG), mud engineer (TM, TG, kimia/TK), directional drilling/MLWD (TM, TG, elektro/EL, mesin/ME, sipil/SI, TK, informatika/IF), cementing (TM, TK, ME), topdrive (ME, EL), Wireline (EL, IF, ME), HSE atau K3LH (TK, lingkungan/TL, kesling/KL), liner hanger (ME) completion: rata2 lulusan D3 teknik, termasuk DST (drill stem test)produksi: hampir semua teknik, namun dalam operasional (sebagai production engineer) seringnya TM & TK untuk reservoir engr sebagian besar diisi oleh TM, tapi ada juga temen dari TK yg jadi Reseng disebut diatas utamanya adalah bagianoperasional Proyek2 pengadaan fasilitas produksi migas mulai dari perancangan dikerjakan oleh konsultan & kontraktor sampai dengan konstruksi & commissioning atau biasa disebut EPCI. Yang terlibat juga tidak sedikit, antara lain process engineer, piping, instrument, structural, dsb.


2. Fase hulu (Pengolahan, Pemasaran)Pekerjaan di kilang (refinery/pengolahan) hampir sama pada pabrik2 umumnya. Ada bagian proses (TK), power (EL), perawatan/maintenance (ME), utilitas, olah limbah (WWT) disamping SDM, legal, keuangan, IT, marketing dan sebagainya. Termasuk administrasi kantor dan bagian operator yang biasanya diisi lulusan SMA/K.

Jika ada yang kurang atau keliru, mohon koreksi/ditambahkan. Karena saya yakin masih banyak lagi yang lain.


Tanggapan 2 – Wahyu Affandi

Mas Rizqi dkk,..anda tertukar, yg anda sebut Hilir harusnya Hulu, dan penjelasan sebagian benar,misal utk Urusan Hilir sdh memelukan pendidikan tinggi, mungkin di lapangan2 akan ada bbrp yg lulusan SLTA,a.l krn mengakomodir stakeholders. Pd bidang Hulu,msh ada yg belum disebut adalah bagian simulasi reservoir. Dmkn, meluruskan dan melengkapi.

Tanggapan 3 – Rizki (kiki bangka)

Terima kasih Pak Wahyu, atas koreksinya. Mohon maaf sebelumnya, iya penulisannya terbalik, maksud Saya No. 1 adalah hulu (upstream) dan No. 2 nya hilir (downstream). Sedikit menambahkan, kadang juga ada yang menamakan midstream untuk kegiatan usaha distribusi & pemasaran minyak mentah & gas (crude oil) dari fasilitas produksi ke pembeli baik itu broker atau langsung kilang/pengolahan.

Tanggapan 4 – Wahyu Affandi

Yaa kayaknya typo-eror,mungkin mas Riqki sedang di lapangan yyaaa? …sdh saatnya kalibrasi,he3x. sy perhatikan ada kaitan dgn besar-kecilnya kumpeni,dan misi  dll,secara umum sdh benar bhw petroleum engineering akan mencakup reservoir eng,production eng, dan drilling eng,..dan pernah sy alami pd tahun 80an bersama perusahaan migas Amrik. Ok,ini forum silaturahmi….shg obrolan menjadi wawasan kita semua. 

Tanggapan 5 – rizqie (kikibangka)

Penjabaran tersebut sebenarnya lebih ke operasional lapangan, yang biasanya dikerjakan oleh pihak vendor atau service company. Sedangkan untuk posisi di KKKS (oil company), umumnya bersifat kantoran. Termasuk reservoir yang kadang disebut kelompok kerja GGR (geologi geofisika reservoir), seperti diterangkan Pak WA, banyak bekerja dengan software (simulasi). Dan posisi tersebut tidak bisa diisi oleh jurusan selain ahli GGR itu sendiri.

Ada yang saya kurang begitu paham detail posisinya, yaitu antara petroleum engineer dan production engineer. Telaah awam saya, prod engr hanya terfokus ke sistem produksi (surface facilities) sedangkan petrol engr mencakup juga subsurface seperti well service & rancang ESP. Cmiiw.

Tanggapan 6 – Dirman Artib

Pak Rizqie, Uraiannya bagus, mudah-mudahan para orang tua dan anggota milis bisa mencerahkan para tetangga. Kalau boleh saya tambahkan, bahwa tak perlu berkecil hati jika anak, ponakan, adik, adik ipar, sepupu dan para tetangga tidak sekolah di Jurusan Teknik yg disebutkan di atas, karena industri migas itu juga perlu para Sarjana Teknik Komputer, Psikology, Sarjana Hukum, Sarjana Akuntansi, Sarjana Ekonomi, Sarjana Manajemen dan Pemasaran, Ilmu Komunikasi, Perawat, Dokter, ahli Kesektariatan (Sekretaris) dan Sekuriti. Terkadang iklan  di TV menggiring kepada mindset sesat, seolah-olah bekerja di migas itu hanya kerja mengebor yg berlepotan lumpur “macho” crude oil. Bahkan pendiri milis almarhum Mas Budhi Sawstioko yg sarjana ITB-pun menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) terlebih dahulu baru kemudian berkiprah di industri migas.

Btw.Jika saya berkunjung ke perkantoran rekan-rekan yg berbisnis migas, saya juga mengobservasi para penjual dan konsultan asuransi juga suka nongkrong di situ, bahkan ada yg nongkrong-nya hampir abadi, jadi secara tak langsung mereka juga bekerja di sektor Industri Migas, yaitu meng-“insurance” project-project migas dan para pekerja migas.

Tanggapan 7 – Rania Indrianingsih

Pak Rizqie, saya coba tambahkan, jurusan dan universitas, yg banyak alumninya berkiprah di sektor migas (upstream, midstream, downstream):

1. Teknik Geologi: ITB, UGM, UPN, Trisakti, Unpad, Unhas, Undip

2. Teknik Geofisika/Geofisika: ITB, UGM, UI, ITS

3. Teknik Geodesi: ITB, ITS, UGM, Undip

4. Teknik Perminyakan: ITB, UPN, Trisakti

5. Teknik Kimia: ITB,ITS, UI, UGM, Undip

6. Teknik Sipil: ITB, ITS, UI, UGM, Undip, Trisakti

7. Teknik Mesin: ITB,ITS,UI, UGM, Undip, Trisakti

8. Teknik Elektro: ITB, ITS, UI, UGM 

9. Teknik Industri: ITB,ITS, UI, UGM, Trisakti, Undip

10. Teknik Fisika: ITB, ITS, UGM 

11. Teknik Informatika: ITB,ITS,UI, UGM

12. Teknik Lingkungan: ITB, ITS 

Tentu banyak universitas2 lainnya di Indonesia yg bekerja di sektor migas, namun pekerja2 lulusan dari universitas di atas memang faktanya secara kuantitatif paling banyak ditemui di dunia perminyakan.

Non Teknik umumnya bersifat supporting:Akuntansi, Manajemen, Hukum, Administrasi, Psikologi, dll. Jika di luar negeri, tentu universitasnya beragam dan tersebar di Australia, Asia, Eropa dan Amerika Serikat-Kanada.

Tanggapan 8 – Haryo Matsani

Tambahan untuk teknik lingkungan, Undip juga sudah ada sejak 15 tahun yg lalu.. Dan saya sendiri salah satu lulusannya.

Tanggapan 9 – OK Taufik

Paling banyak Jurusan Geologi di Jateng+Jokjakarta, UGM, UPN, UNDIP, Unsoed dll

Tanggapan – Martin Fatah

Bagaimana dengan prospek lulusan S2/S3 di industri minyak dalam negeri? Kalau di LN, saya melihat beberapa company memiliki tempat R&D, tetapi tidak di Indonesia (sependek sepengetahuan saya). Lalu bagaimana prospek mereka, karena O&G industry cenderung lebih mementingkan pengalaman di bandingkan dengan kualifikasi pendidikan (logikanya, bagaimana mereka akan memiliki pengalaman kalau tidak diberikan kesempatan terjun ke lapangan…….)

Tanggapan 10 – Abdul Hadi

Dear Mbak Rania

Menurut saya Teknik Metalurgi pun banyak yg berkiprah di industri migas. Coba lihat beberapa moderator bidang utama. Banyak yg berasal dari Teknik Metalurgi. Karena di Teknik Metalurgi belajar material selection, pengelasan, korosi, NDT, dan ilmu lainnya yg berhubungan dengan dunia migas. CMIIW. Terimakasih.

Tanggapan 11 – Hari Subono

Ikutan ngasih info nih.

Kalo untuk bekerja di overseas – perusahaan biasanya lebih melihat kepada experience daripada asal universitas/ perguruan tinggi-nya.  Bahkan ada yang tamatan SMA/ sederajat.  Sedangkan saya sendiri
keluaran USU. Kalo untuk dalam negeri saya lihat memang seperti yang disampaikan oleh Pak/ Bu Rania. Semoga bermanfaat.

Tanggapan 12 – OK Taufik

Experience di dapat setelah ada kiprah kerja di dunia migas dalam negeri, jadi kalau PT itu banyak yg berkiprah di dunia migas DN, maka kesempatan overseasnya juga banyak dari PT tersebut, hanya hitungan jari yg berasal dari USU atau Andalas seperti Dirman itu.

Tanggapan 13 – Oktantin

Rekan Migas,

Sepertinya kalau melihat topik bahasan dan hasil pembahasan lebih banyak menyebutkan lulusan SMU/Sederajat dan S1. Berarti dari sini bisa saya simpulkan kalau untuk D3 kiprah karirnya “hanya” dipandang sebagai tamatan SMU sederajat saja dan hanya memiliki peluang berkarir di Service Company atau pergi sekalian overseas nyangkul di negeri seberang.

Atau ada rekan sekalian yang bisa memberi pencerahan lebih?

Tanggapan 14 – Ramzy Siddiq

Ketika membaca topic ini yang cukup banyak penggemarnya saya jadi tertawa, termasuk menertawakan diri saya sendiri. Kita ini ribut2 kuliah dimana, prodinya apa (dan ada alumni kadang2 timbul egonya dengan mengatakan alumni dan prodi aku adalah the best) toh ujung2nya hanya berlomba-lomba untuk jadi Pegawai (tangan dibawah, alias penerima gaji).

Saya merasa malu dan sangat malu karena saya pun Alhamdulillah yang mendapat kesempatan sekolah kejenjang yang cukup tinggi tapi hingga usia yang sudah asar ini, ya masih tetap jadi pegawai, tapi saya berpikir bagaimana kalau mayoritas para adik2 yang sedang tolab ilmu tujuannya sama dengan saya yang hanya mau jadi pegawai, kapan Negara ini maju.

Ini ada sebuah artikel yang saya ambil dari koran Kompas, mudah2an bisa menjadi bahan renungan bagi kita2, bahwa sekolah bukan lah satu2nya untuk berkarya tapi kemauanlah yang menjadi penentu kalau orang pesantren bilang man jadda wajada (siapa yang berusaha dengan serius pasti sukses).

Don’t give up teman2, jangan hanya berdiskusi tapi mari berkreasi malu dong sama Wu Yulu.

Wu Yulu, seorang petani berusia 49 tahun dari luar kota Beijing, menjadi perbincangan di negaranya karena robot rumahan buatannya.

Saat ini robot ciptaan Wu, yang disebutsebagai anaknya, selangkah lagi mendapat pengakuan internasional. Robot itu terbuat dari barang bekas seperti kawat dan sekrup. Wu telah menciptakan lebih dari 47 robot yang dapat menuangkan teh, memberi api kepada perokok, dan mengecat.

Wu yang tidak sekolah lagi setelah lulus SD menjadi pahlawan di media massa China atas kreativitas danpenemuannya. Belakangan, media massa asing juga tertarik mewawancarainyasebelum dia muncul di Shanghai World Expo yang akan berlangsung dari Mei hingga Oktober 2010.

”Saya sedikit terkenal sekarang. Padahal, saya telah melakukan ini lebih dari 20 tahun. Di ekspo nanti saya dapat menerima pengakuan lebih luas lagi. Saya akan mewakili para petani dan saya senang sekali,” katanya.

pWu mengakui, untuk membiayai hobinya mengutak-atik robot memang memerlukan biaya besar. Dia sampaibercerai dengan istrinya karena menghabiskan uang terlalu banyak untuk hobinya itu. Robot buatannya telah diperlihatkan di Jepang, Korea. (Sumber: Kompas.com

Tanggapan – Yantua Valentino Hutagalung

Memang bekerja di overseas experience lebih di perhitungkan dibanding berasal dari Institute/University mana. Akan tetapi di tempat saya bekerja, pernah sewaktu mengadakan rekruitmen melalui referal program, HRD nya telpon saya dan tanya “The best university/institute di Indonesia itu apa?”, saya jawab saja ITS (Institute Teknology Sepuluh November).Alhasil 5 of 12 Indonesian engineers di tempat saya bekerja berasal dari kampus perjuangan tersebut.Persentasi terbesar sampai saat ini. 🙂 🙂

Tanggapan 15 – Triez

Wah ruar biasa pak Valentino.

Tanggapan – M Iqbal Matondang

Semua jurusan sudah disebutkan kecuali,

Teknik Fisika…

Padahal dirut pertamina sekarang ini lulusan teknik fisika loh. Insya Allah bagus juga prospeknya. Sekedar informasi saja.

Tanggapan 16 – Aank

Bagaimana Kalau pengin puncak karir sebagai pengusaha migas? 

1. Medco: Kalau tidak salah pak helmi panigoro jurusan t geologi dengan mba

2. Konsultan, epc, tek kim?

3. Supplier, bisnis/managemen?

Tanggapan 17 – Berlian Syako

Kalau pengen jadi pengusaha migas, tidak harus sarjana jurusan tertentu bahkan tidak sekolah juga tidak apa2. Tidak ada aturan yg mengharuskan pengusaha harus lulusan sarjana. Yg penting punya modal dan sanggup menjalankan bisnisnya. Orang perusahaan dia sendiri, terserah dia mau sekolah atau mau belajar sendiri.

Tanggapan 18 – OK Taufik

Hilmi panigoro (bukan Helmi) dulunya berkarir dari Huffco===Vico sebagai geologist dengan jabatan terakhir sebagai Explo Mgr. Usaha migasnya sudah dimulai oleh abangnya Arifin Panigoro yg bergerak di bidang drilling kontraktor, bekerjasama dengan Bp.Karamoy (mantan Huffco juga), membentuk divisi oil company nya, lapangan pertama adalah di kaltim.

Tanggapan 19 – Hamzah

Mau jurusan apa aja bisa, karena jurusan kuliah hanya basic aja. Tergantung apa yang didalami setelah lulus kuliah. Banyak contoh, misalnya Akbar Tanjung adalah insinyur elektro yang gak pernah berkecimpung di dunia teknik Ada lagi salah seorang senior saya semasa kuliah, saat ini beliau adalah PE Pressure Vessels, padahal semasa kuliah mana ada jurusan metalurgi belajar pressure vessel Ada lagi kawan saya kuliah yang saat ini menjadi GM logistic sebuah perusahaan MNC, ada yang menjadi CEO perusahaan property, VP perusahaan telekomunikasi dan lain lain dan ada juga yang hingga sekarang masih menjadi sales manager/engineer.

Jadi semuanya tergantung “NASIB” gak tergantung jurusan dan universitas tempat kuliah.

Tanggapan 20 – Muhammad

Saya nggak 100% setuju, secara umum kerja ya mesti berkaitan dengan apa yang dikerjakan di kuliah… meskipun yang menyimpang juga banyak… apalagi kalo dulu waktu kuliah hanya karena ikut2an atau nurut ortu… terutama yang bakat dan jiwanya beda ama sekolahnya…. yang jiwa bisnisnya besar, cepat ato lambat nyemplungnya ya ke bisnis dll.

Orang sastra nggak bakalan langsung jadi geologist… mana ada perusahaan yang mau menerima fresh grad untuk geologist tapi sekolahnya sastra…

Contoh yang metalurgist dengan PE Pressure Vessel juga sebenernya nggak menyimpang amat… dan perusahaan migas itu besar… jadi perlu engineer, designer, operator, personnalia, public relation, bahkan tukang sapu… wong Tool Pusher aja banyak dibutuhkan kok. Jadi, kalau tujuanya jelas, lebih baik tentukan dari awal mo kuliah di apa kalo ada yang bilang kuliah di perguruan ternama juga nggak penting, sebaiknya itu dianggap untuk kasus khusus aja… secara umum, yang cantik/ganteng lebih banyak yang nyari….

Tanggapan 21 – Aank

Saya setuju dengan pak Rifai, kuliah di univ ternama lulus tes masuk, mengalahkan ribuan orang, kemudian lulus ip 3, kerja dibidang nya, kemudian berusaha dibidangnya ini lebih mantap. Apalagi klo kuliah lagi ambil mba. Akarnya kokoh, tidak tersapu angin. 

Katanya warren buffet, kita bisa cukup dan sangat sukses dengan menguasai satu bidang saja.

Rekanan saya di Sydney seorang senior ekonom bisnis mempunyai perusahaan fabrikasi, dia coba expansi ke indonesia untuk survive. Anaknya disekolahkan di unsw mesin karena dia merasa bersalah menang tender dengan hanya lobby2x bisnis. Dia bilang harus bisa lobby secara teknis.

Contoh Medco memang dipimpin orang yg pas, geologist dengan mba.

Ada hadistnya juga, orang yang berilmu akan ditinggikan derajat. Tetapi jika ingin jadi pengusaha sebaiknya ilmunya beragam dari basic agama (supaya tidak menyuap), engineering ke managementnya dan pengalaman dibidangnya juga.

Tanggapan 22 – OK Taufik

Kerja dengan salah jurusan sebenarnya tergantung kebutuhan management perusahaan, kalau seorang jurusan sipil disuruh ke subsurfac
e jadi Geologist, jelas terlampau banyak biaya yg dikeluarkan perusahaan untuk mendidiknya lagi. tapi kalau tujuan management untuk mencari bibit bagi posisi manejerial mungkin ok saja.

Tanggapan 23 – S Herry Putranto (Administrator)

Pak Ramzy

Terimakasih untuk pencerahannya, anda benar memang tidak mudah memberi wacana kepada calon calon sarjana atau Fresh Graduate ini untuk berani mengambil pilihan hidup sebagai Teknopreneur di bidang Migas atau Energy.Biasanya tergantung lingkungan juga atau bahkan gengsi karena begitu lulus dorongan untuk menunjukkan kesuksesan adalah diterima bekerja di Perusahaan Migas Intl ataupun industri penunjang yang sudah punya reputasi beken. Peran lingkungan tampaknya mempengaruhi juga, kebetulan saya sering berkeliling ke Campus dalam rangka KMI Goes to Campus. Ada hal yang menarik saya perhatikan di Teknik Perminyakan UPN Yogyakarta, saya bertemu dengan beberapa mahasiswa saat itu dan saat ini sudah lulus mereka tidak melamar pekerjaan tetapi mulai berbisnis sesuai bidang study nya al. masuk ke pengelolaan sumur sumur tua yang bertebaran di sekitar Blora, Cepu dan sekitarnya. Bentuknya bisa bekerjasama dengan Koperasi ataupun dengan dosen mereka atau Lembaga Penelitian Kampus. Ini hanya salah satu contoh saja, rasanya masih banyak case yang lain. Mengingat pengalaman Pak Ramzy yang segudang ini bolehlah kita rancang diksusi di beberapa kampus tentunya dengan share pengalaman dari para senior yang bisa dimulai dari rekan rekan Pak Ramzy untuk berbagi ilmu di Kampus dan KMI siap untukmemfasilitasinya. Di milis ini juga banyak pengusaha muda di bidang Energy dan Migas dulu rajin posting namun sekarang karena sudah berhasil waktu jadi terbatas beberapa saya cc kan disini. OK pak Ramzy, saya tunggu ide ide cemerlang dari senior Milis.

Tanggapan 24 – Andy Indradjaja

Pak Rizqie dan rekan2, Mau menambahkan saja. bila pertanyaaannya ttg “menjadi pengusaha migas”, maka jelas jawabannya semua prodi bisa mencakup hal ini. Yang penting ada modal, ada koneksi, ada keinginan utk belajar yg tinggi.- Bila anak teknik, bisa mengambil pengalaman bekerja di dunia migas kemudian “menjual” pengalaman tsb utk mendapat koneksi2 yg kuat. Kemudian akhirnya bisa mulai menjual.- Bila anak ekonomi, bisa fokus bljr di teknik marketing dan keuangannya, sambil me-rekrut pegawai yg kompeten di bidang teknik utk meyakinkan calon pembeli bhw kita mampu secara teknis.

Secara basic, chance-nya sama. Jadi untuk meningkatkan chance, maka saya sangat menyarankan Anda utk mengambil jurusan yg sama dgn teman/kenalan yg sudah Anda kenal dan beliau sdh berhasil di bidangnya, dengan alasan:

1. Sdh ada bukti nyata, shg mjd motivasi tsendiri utk lulus

2. Bila belajar / minta bimbingan supaya bisa sukses di kampus dan setelah lulus.

3. Sudah ada “channel” sejak awal.

Selamat memilih. Good luck.

Tanggapan 25 – Rania

Dear rekan2,

ada yg ketinggalan, di dunia offshore migas, juga diperlukan engineer2 di bidang kelautan,

1. Teknik Perkapalan: ITS, UI (merancang bangunan apung)

2. Teknik Sistem Perkapalan: ITS

3. Teknik Kelautan: ITB, ITS (merancang struktur bangunan coastal/offshore)