Select Page

Saya biasanya mendesain gas dehydration unit menggunakan glikol, khususnya injeksi langsung MEG, DEG, TEG, dll, tapi saya dengar ada teknologi yang namanya supersonic dehydration, cara kerjanya yaitu menghilangkan moisture gas dengan cara mengalirkan Wet Gas melalui sebuah nozzle. Karena dilewatkan didalam nozzle, velocity dari gas itu meningkat dan energi potensialnya berubah menjadi energi kinetik, lalu temperatur gas turun di bawah dew poin of water vapor. Condensed water yang tercipta karena perubahan temperatur ini dipisahkan dengan dry gas oleh swirling flow yang tercipta didalam supersonik separator.

Tanya – Anggun TM

Salam Hidrokarbon,

Saya biasanya mendesain gas dehydration unit menggunakan glikol, khususnya injeksi langsung MEG, DEG, TEG, dll, tapi saya dengar ada teknologi yang namanya supersonic dehydration, cara kerjanya yaitu menghilangkan moisture gas dengan cara mengalirkan Wet Gas melalui sebuah nozzle. Karena dilewatkan didalam nozzle, velocity dari gas itu meningkat dan energi potensialnya berubah menjadi energi kinetik, lalu temperatur gas turun di bawah dew poin of water vapor.Condensed water yang tercipta karena perubahan temperatur ini dipisahkan dengan dry gas oleh swirling flow yang tercipta didalam supersonik separator.

Nah, yang jadi pertanyaan saya:- Apa syarat wet gas supaya dapat menggunakan teknologi supersonik dehydration ini? apakah harus ada minimal/maksimal Flow, temperature, atau pressure?- Secara ekonomis apakah lebih unggul supersonic dehydration?- Kelemahan dan kelebihan supersonic dehydration?

Tanggapan 1 – Muhammad Riduan

Mbak Anggun,

Secara economis jika melihat scara mikro mestinya lbih menguntungkan sistem ini karena equipmentnya jauh lbh sdkit dan hanya static equipment dbandingkan glycol package. Biaya maintenance lbh murah, tdak perlu ad glycol refill juga.

Tetapi, untuk cek yg mana yg bnar2 lbh ekonomis perlu dpertimbgkan jg energi yg hilang (jka mgunakan compresor,akan ad tmbhan beban) atau efek k sumur krena adanya tambhan back pressure.  Sehingga beberapa aspek tersbut, bs dicek total costnya, mana yg lbh murah.

Untuk requirement yg plg pnting saya rasa adalah pressure inlet krena akan ad pressure drop yg lumayan bsar untuk menurunkan tmperatur. in case presure sumur d masa mendatang trun, compresor akan dperlukan. Untuk flowrate dan jg jmlah water impactnya mestinya k sizing. In case waternya terlalu bnyak, lbh baik ad pretreatment dlu, seperti warm separator.

Tanggapan 2 – AnggunTM

Kalau memang lebih menguntungkan dari segi capex, opex maupun kemudahan maintenancenya, seharusnya type ini dg mudah bisa lgsng populer disini, apakah sudah diterapkan di Indonesia dehydration unit dg metode ini?Karena project2 yng pernah saya tangani belum ada yng meminta unit ini. Lebih sering yng menggunakan Glikol ataupun dessicant.

Tanggapan 3 – Muhammad Riduan

Mungkin kata yg lebih tepat dari saya sebelumnya adalah analisa ekonomi ecara segmented yg lebih mnguntungkan tipe ini (bukan mikro). Karena dengan adanya tambahan pressure drop jika kita konvert ke pnurunan produksi (karena tambahan beban ke well atau k kompressor), dan penurunan produksi kita convert k operating cost,seharusnya akan tetap lbih ekonomis metode konvensional dengan glycol dan chiller refrigerant.Selain itu perlu dicek berapakah turndown dari equipment ini, apakah masih bisa dipakai saat potensial sumur audah decline? Karena teknlogi ini sangat bergantung pada pressure drop produced gas d dalam nozzle, khawatirnya ketika flowrate sudah rendah, perlu ada sizing baru lagi.Kalau d tempat saya juga blum pernah ada lpangan yg memakai tekonologi ini, terlebih gas processing kita semuanya ada d onshore jadi tidak terkendala maslah space avaibility…

 

Tanggapan 4 – Anggun TM

Terimakasih pak M. Riduan atas tanggapannya,Memang kalau dipikir dg adanya pressure, maka perlu dipikirkan jg bagaimana bila tekanan pada sumur sudah tidak sesuai dg kondisi awalnya, ataupun design kompressor di awal.Dan seberapa besar penurunan pressure yang diijinkan supaya terpisah water dari gas’nya, apakah berdasarkan Dew Point, atau perbandingan pressure in-out.Secara engineering detail, saya memang belum tau detailnya seperti apa, apakah pak M. Riduan mempunyai literatur yang berkaitan tentang gas dehydration supersonic ini?Seperti Shell DEP dan sejenisnya. Terimakasih.

Tanggapan 5 – Mico Siahaan

Selva, setahu saya prinsip kerjanya beradarkan  Joule Thomson Effect: http://en.wikipedia.org/wiki/Joule%E2%80%93Thomson_effect

Efektif digunakan jika feed flowrate  (> 100 MMSCFD) dan pressure  ( > 75 bar) besar. 

Tanggapan 6 – Anggun Trantika M.

Pak Mico,

Berarti sama ya pak dg yang dipakai di refrigerant. Apakah teknologi ini bisa di simulasikan di Hysys untuk dehydration supersonic ini?

Memakai equipment apa?

Kalau memang bisa dengan prinsip JT-effect, dapat saya simpulkan dengan memasang valve dan separator sederhana saja cukup. Mari kita coba simulasikan bersama-sama,, hehe

Tanggapan 7 – Anggun Trantika M.

Pak Mico,

Ternyata Supersonic Gas Dehydration Technology ini tidak dapat disimulasikan dengan menggunakan valve throttling biasa, memang harus menggunakan nozzle khusus  (engineering design?). Tetapi jika menggunakan metode perbedaan Dew Point, hal ini justru bisa disimulasikan dg menurunkan suhu wet gas diantara HC dew point dan Water dew point, tetapi metode ini masih kurang efektif dibandingkan metode Glycol yang dapat mereduksi water content hingga dibawah 0.1 ppmv. (masih penasaran,, hehe) dari yang masih belajar.

Share This