Select Page

Ketika memperoleh amanat untuk melakukan tugas pengangkatan LIMA flowstation (anjungan lepas pantai) Laut Jawa, saat itulah Project Senior Manager PTPertamina Hulu Energi OffshoreNorth West Java (PHE ONWJ)Taufik Aditiyawarman merasakan beban yang amat berat, suatu pertaruhan besar antara harga diri dan karier.

Pembahasan – S. Herry Putranto

‎Migas Indonesia,

Terlampir saya posting sebuah artikel dari Migas Review tentang seorang sahabat ‎Kang Aditiyawarman Senior Manajer Manajemen Proyek PHE ONWJ yang sangat inspiratif dan saya berharap rekan rekan Milis Migas juga bersedia berbagi info yang diperoleh dari tempat kerja untuk di share di Milis tercinta sebagai pembelajaran bagi kita semua. Silahkan jika ada rekan rekan ingin menanggapi sebagai bahan diskusi. Salam Migas

——-

Migas Review, Jakarta –

Ketika memperoleh amanat untuk melakukan tugas pengangkatan LIMA flowstation (anjungan lepas pantai) Laut Jawa, saat itulah Project Senior Manager PTPertamina Hulu Energi OffshoreNorth West Java (PHE ONWJ)Taufik Aditiyawarman merasakan beban yang amat berat, suatu pertaruhan besar antara harga diri dan karier.

Kalau berhasil, kebanggaan yang tiada tara akan dia rasakan. Sebaliknya, kalau gagal, kariernya berada di ujung tanduk.

Bagi Taufik, pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman itu adalah bahwa manusia dituntut untuk selalu mencari terobosan dan berani ambil risiko, meski tentu saja keberanian itu harus terukur. 

Keberhasilan pengangkatan anjungan itu adalah satu dari dua pengalaman Taufik yang menurutnya paling berkesan selama menjalani karier di sektorminyak dan gas (migas).

Pengalaman lain yang juga mengesankan baginya adalah ketika membuat platform dengan memakai bahan-bahan dari platform bekas.

Berikut penuturan Taufik kepadaMigasReview.com saat ditemui di Jakarta akhir pekan lalu.

————–

Saya kerja pertama kali di sektor migas yaitu ketika masuk ke Atlantic Richfield Company (Arco) setelah lulus pada 1992 dari Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB).

Saya ditawari dua pilihan, mau masuk produksi (operation) atau di konstruksi (project). Saya memilih di project. Pekerjaan saya adalah perencanaan development untuk konstruksi, mulai dari pengawas lapangan untuk platform sampai memasang platform di tengah laut.

Pada 1999, menjelang pengambilalihan Arco oleh BP (British Petroleum) saya sempat sekolah S-2 di Universitas Indonesia (UI) mengingat saat itu tidak banyak kegiatan.

Setelah BP masuk pada 2000, saya disuruh ngurusin proyek pengembangan yang tidak terlalu banyak. Sempat juga saya diberi kesempatan belajar manajemen proyek ala BP di Manchester. Pada 2009, saya masuk Pertamina sampai sekarang.

Platform Bekas 

Waktu di Arco pada 1997, kami membuat  platform dengan memakai platform bekas. Kami potong-potong platform di levelbasepindahkan ke tempat baru. Jadi, anjungan minyakterpakai itu kami potong-potong, untuk kemudian dimanfaatkan diBalongan gas mulai dilirik. Gas mulai ada nilai uangnya, sehingga pengembangan lapangan gasbooming pada 1997.

Daripada fasilitas-fasilitas yang sudah tidak berproduksi tidak dipakai, ya lebih baik dimanfaatkan.

Kalau bikin baru atau beli baru itu gampang. Karena saya orang konstruksi, ya itu menarik karena di situlah tantangannya. Belum pernah ada orang yang melakukan relokasi seperti itu.

Lapangan Arco itu kan di Pulau Seribu sampai di atas Indramayu(dalam peta). Waktu itu, kami memindahkan dari lapangan Mike-Mike ke Lapangan Lima. Tapi dari Mike-Mike kami bawa dulu ke Balongan untuk fabrikasinya. Kamibenerin. Kami konversi ke pemrosesan gas baru di pasang lagi di laut. Kami pasang lagi di lokasi baru di daerah Lima dan lepas pantai laut Jawa.

Ya, menariknya itu karena kami tidak bikin baru. Lumayan, bisa hemat sekitar 30 persen dibanding dengan bikin baru. Untuk ukuran kekuatan, buktinya sampai sekarang masih berdiri.

Pengangkatan LIMA Flowstation

Pengalaman paling mengesankan kedua adalah pengangkatan LIMAFlowstation. Pengangkatan konstruksi semacam itu bisa dibilang adalah yang pertama kali dilakukan. Tetapi saya tidak mau bilang pertama di dunia karena pada 1987 di North Sea itu sudah dilakukan meski metodenya berbeda. Nah, metode di LIMA itu adalah yang pertama di dunia.

Pengangkatan lima struktur secara bersama ini merupakan aplikasi teknologi terbaru dengan skala terbesar yang pertama di seluruh dunia. Proyek ini dilaksanakan karena anjungan lepas pantai diLIMA Flowstation mengalami penurunan (subsidence) dasar laut yang disebabkan oleh kompaksi batuan jauh di dalam tanah. Agar dapat beroperasi dengan baik dan aman dalam jangka panjang, anjungan perlu ditinggikan (deck raising).

Platform itu sudah ada sejak 1973 dan kami mulai merasakan penurunan dasar laut 12 cm per tahun.

Sebenarnya, tantangan bagi saya sendiri adalah bahwa itu merupakan hal yang baru.

Persiapan

Proses pengangkatannya hanya dua jam, tapi persiapannya itu enam bulan karena memasang alat-alatnya cukup susah. Anjungan dinaikkan sampai 4 meter karena anjungan yang terendam akan menyulitkan orang bekerja. Sampai dengan 2026, diharapkan ini bisa tetap kuat.

Proses persiapan selama enam bulan seperti memasang dongkrak hingga sebanyak 100 buah. Bayangkan saja, berat satu dongkrak saja hingga 5 ton.

Opsi pengangkatan diambil karena di sana masih ada potensi cadangan sampai 2026 hingga 2030. Saya evaluasi, kira-kira metode apa yang paling ekonomis. Opsi bikin platform baru, jelas nggak mungkin karena harganya US$ 1 miliar. Kami nggak punya duit. Lalu ada opsi bikin mobile production unit (MOPU) tapi ituoperating cost-nya tinggi karena tiap lima tahun sekali selama tiga bulan harus dilakukan perawatan khusus sehingga berpotensi menghambat produksi. Ada banyak opsi. Lalu saya coba metode jack up. Saya search opsi itu di web. Di Amerika Serikat pernah dilakukan namun cuma satu platform. Saya kejar terus, siapa penyedia jasanya. Sampai-sampai, untuk  meyakinkan diri, kami teleconference denganproject manager yang dulu melakukannya di Meksiko.

Nah, berarti opsi ini yang paling dekat dengan kasus yang ada di laut Jawa ini, pikir saya. Sayaeksplorasi, saya presentasikan kepada manajemen. Kami kalkulasi semua kemungkinan, semua risiko kegagalan, sampai katakanlah, skenario kalau ambruk bagaimana.

Saya pikir, kalau ambruk, saya harus resign karena kredibilitas sudah habis, karir juga habis. Banting stir, nggak di migas lagi. Mesti jadi buruh atau jadi petani saja.

Jadi saya ambil tanggung jawab itu bukan tanpa risiko. Saya bilang itu taruhannya kepada manajemen. Tapi kalau manajemen tidak mendukung, ini tidak akan pernah terjadi. Problem pasti ada tapi opportunity itu harus kita manfaatkan.

Keberhasilan pengangkatan platform itu terus terang menjadi kebanggaan semua pihak. Saya bangga karena bisa merealisasikan seperti itu dan aman. Selain itu, pekerjaan ini dikerjakan mayoritas olehkontraktor nasional, kecuali penyedia teknologinya.

Pelajaran dari situ sebenarnya adalah kita dituntut selalu mencari terobosan dan berani mengambil risiko, tapi tentunya risiko yang terukur. Jangan kita hanya melihat ilmu engineeringkan bilang ‘jangan’.  Tapi, jangan sampai kita hanya melihat text book saja, melihat apa yang kita pelajari di kuliah dulu dan buku-buku referensi. Itu tidak ada kreasinya.

Kalau manajemen mendukung, karena semua tahu ada kalkulasinya. Proyek ini kami asuransikan, jaga-jaga kalau ambruk.

Dengan modifikasi ini, biayanya US$ 130 juta, bandingkan dengan bikin baru yang sampai US$ 800 juta. Efisiensinya jauh benar.

Produksi Tetap Jalan

Di tengah proyek ini, kami tetap bisa mempertahankan produksi, paling turun sedikit. Tadinya, kekhawatiran terbesar adalah kehilangan produksi.

Tadinya saya minta shutdown 60 hari. Ini yang pertama di Indonesia. Biasanya kalaushutdown, orang paling minta
10 hari. Ini nggak populer. OrangSKK Migas sempat bingung. Ternyata shutdown cuma 6 hari. Tapi dalam 30 hari, kami melakukan jumper aliran minyaknya.

Tentang Deck Raising LIMA Flowstation

PHE ONWJ telah melaksanakan pengangkatan dek/deck raisingyang kedua pada LIMA SubsidenceRemediation Project pada Rabu (19/9/2013).  Pengangkatan kedua setinggi 3 meter yang berlangsung selama 2 jam 22 menit ini merupakan lanjutan dari pengangkatan pertama setinggi 1 meter yang telah dilaksanakan pada 4 September 2013.

LIMA Subsidence Remediation Project adalah proyek pengangkatan anjungan LIMA Flowstation (3 platform , 1 platform bridge, dan 1 flare bridge) setinggi 4 meter secara bersama-sama dengan metode “Synchronized Hydraulic Jacking System”.

Pengangkatan 5 struktur secara bersama ini merupakan aplikasi teknologi terbaru dengan skala terbesar yang pertama di seluruh dunia. Proyek ini dilaksanakan karena anjungan lepas pantai di LIMA Flowstation mengalami penurunan (subsidence) dasar laut yang disebabkan oleh kompaksi batuan jauh di dalam tanah. Agar dapat beroperasi dengan baik dan aman dalam jangka panjang, anjungan perlu ditinggikan (deck raising).

Setelah deck raising ini, pekerjaan selanjutnya adalah hook up guna penyambungan fasilitas untuk dikembalikan ke posisi awal.

Lapangan LIMA, terletak di Laut Jawa, sekitar 100 mil timur laut Jakarta, terdiri atas anjungan LIMA dan beberapa NUI (normally unattended installation/unmanned platform). Lapangan LIMA berada di wilayah kerja ONWJ yang dimiliki dan dikelola oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ.

Lapangan LIMA, termasuk ke 12 NUI, telah mengalami jalani penurunan dasar laut sejak 1997. Pengukuran penurunan di wilayah LIMA sudah menunjukkan tingkat penurunan sedalam 3,1 meter, dan penurunan anjungan NUI mencapai 5 m.

Lapangan ini menghasilkan 4000 barel minyak per hari dan 20 juta kaki gas per hari (mmscfd), dengan 75 mmscfd dihasilkan dari cadangan L-Parigi (Pertamina EP). (aw/cd)

Tanggapan 1 – Elwin Rachmat Menarik cerita Kang Taufik. Kita memang kurang mengetahui bagaimana pengembangan suatu lapangan migas bisa dilakukan oleh tukang sinyur bangsa dewek. Mungkin saya juga dapat sedikit bercerita tentang apa yang pernah saya lakukan di Delta Mahakam, yaitu pengembangan lapangan Peciko dan kemudian Sisi Nubi.Saya mulai mengikuti preproject pengembangan Peciko pada tahun 1996 (sesudah POD disetujui BPMIGAS).Sebenarnya saya bukan orang project ataupun surface production (walaupun saya pernah sekitar 2,5 tahun pernah bertugas di surface production).  Tugas saya pada waktu itu adalah mereview Feasability Study pengembangan Peciko sebelum menjadi Development Project. Ruang lingkup yang diberikan kepada saya adalah review down hole production equipment beserta fasilitas yang diperlukan di permukaan untuk operasi produksi dan perawatan sumur pada Manifold & Well Platform (MWP). Semua platform termasuk MWP di Peciko harus merupakan unmanned platform. Fasilitas proses pemisahan migas (diluar ruang lingkup tugas saya) akan dilakukan di darat yaitu di Terminal Senipah. Tidak ada pembatasan waktu yang diberikan kepada saya, setahu saya rata rata setiap assignment diselesaikan dalam waktu minimum 1 bulan. Tugas ini dibawah supervisi langsung kantor pusat yang berada di Paris. Sudah tentu hal ini menjadi beban mental yang terbesar yang pernah saya alami sesudah 16 tahun bekerja di migas. Namun saya juga melihat bahwa tugas ini merupakan peluang emas bagi saya untuk berkontribusi jauh lebih berarti lagi bagi produksi migas nasional, dan ini juga merupakan kepercayaan yang pertama kepada insinyur nasional. Pada waktu itu di Total seluruh dunia belum ada lapangan lepas pantai yang unmanned, sehingga saya tidak dapat belajar atau meniru design yang pernah dilakukan oleh Total. Syukurlah pada hari pertama saya langsung berhasil menyelesaikan review production Down hole equipment. Hasilnya adalah penghematan sebesar USD 540,000 per sumur dari hampir 100 sumur yang akan dibor di Peciko. Kapasitas produksi sebuah sumur adalah maksimum 80 MMSCFD untuk membatasi jumlah sumur yang harus dibor. Divisi yang mensupervisi saya di Paris, saya kira sudah mulai memestakan kinerja saya. Keekonomian pengembangan lapangan Peciko yang dianggap memasuki wilayah marginal dengan resiko ekonomi dan teknis operasi yang lumayan, menjadi prospek yang harus dilaksanakan secepatnya. Hari hari berikutnya adalah benar benar merupakan tantangan yang cukup berat yang harus dihadapi. Instalasi test separator di MWP merupakan suatu perjuangan yang didukung oleh divisi reservoir engineering yang tidak menginginkan well testing dilakukan didarat setelah sekian kilometer dari sumur (hasilnya pengukuran akan tidak teliti untuk interpretasi reservoir). Saya juga harus meyakinkan bahwa diperlukan pedestal crane yang mampu untuk menunjang pekerjaan well services di atas platform dengan aman untuk menggantikan ide penggunaan removable knock down crane dengan lifting device lainnya untuk mengangkat, memasang dan menurunkan kembali knock down crane tersebut. Saya tidak mengingat lagi berapa banyak penghematan yang dilakukan dengan pedestal crane yang saya usulkan. Yang pasti semua operasi lifting dan well Services di platform menjadi safe. Untuk keperluan well start up saya menambahkan removable burner untuk membakar hidrokarbon dari sumur sebelum cukup bersih dan layak untuk diproduksikan. Untuk menunjang semua pekerjaan di platform seperti well services, konstruksi, maintenance, operasi produksi dan lain lain, saya mendesign sebuah kapal utility dengan kapasitas POB (persons on board) 40 orang. Kapal ini jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan rig yang memiliki POB minimum 100 orang. Kapal yang yang saya usulkan memiliki juga kemauan untuk fire fighting, oil spill intervention dan well killing. Jadi aspek yang diperhatikan tidak hanya semua operasi teknis, namun juga HSE.Tidak lupa arah posisi platfom, posisi boat landing serta posisi pedestal crane dan removable burner mempertimbangkan arah angin dan arus air laut sepanjang tahun agar platform dapat dioperasikan sepanjang tahun.Kapal utility ini ditunjang juga oleh crew boat untuk personel, spare parts & logistics transportation. Beberapa detail yang saya adviskan kepada divisi project di kantor pusat adalah bagaimana dapat menstart up platform dengan pneumatic instrument bertenaga nitrogen sebelum sumur gas yang pertama di platform dapat diproduksikan. Akhirnya semua tugas tersebut dapat saya selesaikan hanya dalam waktu 2 minggu saja. Kantor pusat di Paris berpesta lagi. Awalnya Peciko direncanakan dengan pemasangan dua MWP dengan selang waktu beberapa bulan antara yang pertama dan kedua. Saya juga yang pertama tama mengkritik rencana ini. Saya menginginkan tidak ada selang waktu dengan tujuan menghapus waktu tunggu yang harus dilakukan oleh rig. Instalasi dua platform yang berurutan memungkinkan saya juga untuk melakukan penghematan rig time lebih lanjut dengan melakukan perforasi sesudah pemboran dan komplesi di sumur dipasang tanpa kehadiran rig di platform. Saya tidak tahu berapa banyak nilai penghematan rig time yang saya lakukan karena saya bukan drilling engineer. Tentu saja pekerjaan saya tidak sepi dari kritikan bahkan kecaman yang saya terima dari sejawat bahkan atasan saya. Dari kejauhan MWP platform menjadi tampak lebih besar dengan adanya pedestal crane serta removable crane yang saya usulkan. Belum lagi kapal utility yang terlihat tidak lebih kecil dari pada MWP sendiri. Anggapan yang muncul adalah saya melakukan over design.Namun kritikan tersebut dengan cepat berubah pada saat operasi dan produksi Peciko dimulai pada akhir 1999. Tidak ada over design yang telah saya lakukan.Bahkan bayak hal dari pengembangan lapangan Peciko menjadi model dari pengembangan lapangan Sisi Nubi yang merupakan unmanned field dan yang relatif marginal.Tidak kecil kontribusi Peciko dan Sisi Nubi bagi produksi gas dan kondensat kita.Paris berpesta, tetapi tidak ada pesta di Balikpapan atau Jakarta. Syukurlah karena saya memang tidak hobby berpesta. Tugas saya sudah selesai. Semoga banyak lagi para insinyur kita ya
ng dapat berkontribusi langsung atau tidak bagi negara terutama di sektor migas hulu.

Share This