RBI adalah suatu metoda yang relatif baru untuk melakukan inspeksi, khususnya terhadap mechanical integrity dari suatu pabrik. Dalam hal ini, tentu saja sebagian besar tentang korosi alat-alat serta perpipaan di pabrik.

RBI adalah suatu metoda yang relatif baru untuk melakukan inspeksi, khususnya
terhadap mechanical integrity dari suatu pabrik. Dalam hal ini, tentu saja sebagian
besar tentang korosi alat-alat serta perpipaan di pabrik.

Bayangkan metode kuno yang masih dipakai. Hanya dengan bermodalkan jadwal preventive/predictive
maintenance, seorang corrosion engineer akan melakukan maintenance. Dan sifatnya
statis tidak dinamis. Tidak ada metode sistematis untuk merubah interval waktu
inspeksi berdasarkan hasil inspeksi sebelumnya, kerusakan yang teridentifikasi,
serta umur peralatan.

Bagaimana implikasinya ?. Ada kemungkinan terlambat mengantisipasi bahaya.
Bisa saja belum waktunya diinspeksi, suatu bejana proses sudah pecah karena
suatu hal, misalnya korosi internal, korosi eksternal, korosi pada sambungan
las, erosi, kavitasi, mulur, kelelahan mekanis dan termal, korosi retakan tegangan,
perapuhan karena suhu, retakan akibat hidrogen basah dan panas, fouling , dst.

Lagi pula kita akan mengulang-ulang inspeksi bejana yang sama untuk kurun waktu
tertentu, tanpa ada perubahan jadwal, dan kalaupun misalnya ada, itu tidak terintegrasi
satu dengan yang lainnya. Di lain pihak RBI dapat secara sistematis menganalisa
mekanisme kerusakan, akibat lebih lanjut yang harus diwaspadai, serta menggagas
strategi inspeksi yang lebih efektif.

Berangkat dari hal tersebut, si empunya pabrik berpikir… kalau begitu, berarti
bisa menghemat biaya inspeksi yang rutin, karena berdasarkan hasil inspeksi,
RBI dapat secara gamblang membangun atau merevisi jadwal interval inspeksi.
Artinya, inspeksi yang benar-benar kita perlukan yang akan rutin dilakukan,
lainnya bisa diprediksi waktunya dengan mekanisme tertentu yang ada di RBI,
dengan hasil yang relatif akurat…. saving money man…

Apa tantangannya ?

Sebagai langkah pertama, RBI membutuhkan data PFD, P&ID yang akurat, rentang
parameter operasi, kemungkinan kontaminasi, perhitungan proses, gambar fabrikasi
alat terpasang, spesifikasi pipa, serta gambar isometrik. Dan juga faktor-faktor
yang bisa memicu korosi, seperti kelembaban udara, serta fluida yang ada di
dalam bejana / pipa tersebut, parameter operasi yang akurat seperti tekanan
dan temperatur serta laju alir atau kecepatan. Dan jangan lupa, laporan inspeksi
terdahulu yang pernah dilakukan. Hal-hal tersebut adalah vital karena akan menentukan
keberhasilan progam RBI ini.

Ini membutuhkan kerja keras kawan. Bayangkan kita harus mendata semua peralatan,
baik itu bejana, pipa, ataupun tangki. Berapa jumlah pipa yang harus di data
beserta data tekanan dan temperatur desainnya, dan juga kondisi umurnya. Satu
lagi, lokasinya, di dalam atau di atas tanah.

Hal ini, butuh komitmen yang kuat dari manejemen operasi pabrik. Tidak heran,
RBI butuh multidisiplin keilmuan seperti : inspection engineering, corrosion
engineering, maintenance, operation engineering, dan process engineering.

Dengan bekal awal tersebut, corrosion/inspection engineer memimpin tim untuk
menelaah hasil inspeksi yang didukung oleh data analisis sensitivitas, yang
tentu saja masih banyak asumsi. Hasilnya biasanya berupa laju korosi per tahun
(MPY). Dia, bersama tim akan menentukan kriteria atau batasan laju korosi yang
sesuai dengan kondisi pabrik. Dan muncullah high, medium dan low probability.

Kalau ingat kata probability atau kemungkinan, rasanya dia tidak akan lepas
dari konsekuensi, berarti dia erat hubungannya dengan risk. Benar… karena
RBI singkatannya adalah Risk Based Inspection. Kita butuh petunjuk seberapa
besar risk yang ada. Lalu dari mana kita mendapatkan konsekuensi-nya ?. Dari
Plant Risk Management Program (PRM).

Dari PRM tersebut kita bisa langsung ambil hasilnya, semudah itukah ??. Tidak-tidak…Ingatlah,
risk = probability x consequences. Probabilitas di PRM hampir-hampir tidak menyentuh
mechanical integrity pabrik, sehingga dengan engineering judment, dia kita kesampingkan,
dan kita gunakan konsekuensinya saja. Bila dirasa kurang, beberapa standard
praktis industri juga bisa dimasukkan untuk melengkapi kriteria konsekuensi
tersebut.

Penggabungan keduanya menghasilkan suatu risk ranking yang berhubungan dengan
mechanical integrity. Biar mudah, pilih dulu yang high-risk. Kelompok high risk
ini jumlahnya tidak sedikit, dan untuk menghemat waktu, kita harus memilih "wakil"
yang sesuai dengan tujuan dan kriteria termaksud. Well, disinilah seorang insinyur
proses sangat berperan. Keberhasilan program RBI selanjutnya, dialah yang menentukan.
Selanjutnya, corrosion engineer akan kembali bekerja untuk mengambil data berdasar
"juklak" dari insinyur proses tadi. Dia akan kembali menelaah hasilnya
dan mengujinya dengan pelbagai teori korosi.

Hasil analisanya, dirapatkan kembali dengan tim untuk menentukan derajat kepercayaan
dan guna mencapai kesepakatan (secara profesional). Bahkan, jika dirasakan datanya
meragukan, tim bisa merekomendasikan untuk dilakukan inspeksi ulang. Hasil-hasil
yang disetujui selanjutnya diolah sebagai bibit pertama RBI dan menjadi Inspection
Policy pertama yang dinamis, yang meliputi cara, interval waktu, serta lingkup/metode
inspeksi.

Cukupkah sudah ? … Penyempurnaan harus selalu dilakukan untuk mendapatkan
data se-akurat mungkin. Apalagi jika pabrik kita juga dinamis dan relatif banyak
perubahan, baik perubahan fisik dari aset, engineering alteration, adanya proses
modifikasi, start-up & commissioning fasilitas baru, atau bahkan decommissioning.
Semua ini harus tertera di basis data RBI.

Kelihatannya semakin ruwet dan butuh biaya yang tidak sedikit untuk mewujudkannya
?. Tergantung memang untuk ini, biasanya ada sofware khusus yang dapat membuat
jadwal inspeksi yang dinamis, bergantung input yang akurat dari lapangan. Tapi
saya percaya, suatu saat teman-teman kita di sektor korosi pasti bisa membuat
program serupa yang sederhana, karena bekalnya cuma pengetahuan akan basis data.

Penghematan selanjutnya apa? Hanya mereduksi ongkos inspeksi ?

Setelah membaca penjelasan tadi, saya berani menambah adanya keuntungan lain
dari program ini dari sisi cost wise :

  1. RBI punya akibat langsung untuk mereduksi inspection cost
  2. Reduksi dana untuk asuransi plant, karena kita sudah berani mengeluarkan
    angka yang lebih akurat, karena merupakan penggabungan risk management dan mechanical
    integrity, sehingga premi asuransi bisa ditekan.
  3. Reduksi dana untuk plant population, injury/fatality cost.
  4. Reduksi dana karena berhasil memperpanjang jadwal regular maintenance (maintenance
    budget cost saving), dapat mereduksi jumlah unpredicted shutdown dari pabrik.

Referensi : Vico Indonesia Risk Based Inspection Program Master Plan