Cerita ini cuma mereka2 saja, tapi siapa tahu ada hikmahnya. Maaf kalau kepanjangan. Saya ini pekerja harian biasa. Yang kalau pagi-pagi wajib ikut safety meeting dan kalau sorenya ikut production meeting. Memang belum banyak yang saya lihat, tapi mudah-mudahan cukup untuk mewakili suara hati para pekerja lapangan.

Cerita ini cuma mereka2 saja, tapi siapa tahu ada hikmahnya. Maaf kalau kepanjangan.

Saya ini pekerja harian biasa. Yang kalau pagi-pagi wajib ikut safety meeting
dan kalau sorenya ikut production meeting. Memang belum banyak yang saya lihat,
tapi mudah-mudahan cukup untuk mewakili suara hati para pekerja lapangan.

Kira-kira beberapa tahun yang silam, saya masih ingat kejadian di mana gas
floatation unit kami membludak airnya. Karena isinya oily-water, tentu saja
orang2 pada blingsatan karena berkaitan dengan lingkungan sekitar. Saya masih
ingat betapa banyak modifikasi dilakukan guna membuat produk sisa yang tidak
bernilai ini bisa aman dilepas ke lingkungan. Satu mungkin yang saya pelajari
dari sistem ini, yaitu ketidaktangguhannya menghadapi laju alir yang berfluktuasi.
Sistem Skimmer yang diharapkan mampu membuang lapisan minyak di atas badan air,
terkadang gagal dan cuma menyapu udara, atau bubbling gas yang dihempuskan dari
bawah sesuai petunjuk hukum Stoke, terkadang tidak efektif. Mungkin karena gelembungnya
kegedean kali yach..

Lalu masih ingat juga ketika suatu hari Gas Plant superintendent minta ditengok
reboiler pumpnya yang terletak di bawah condensate stabilizer (tipe kolom distilasi)
karena nyala-mati, nyala-mati terus. Persis seperti burner di glycol reboiler
column yang kapasitasnya kegedean. Selidik punya selidik, penyebabnya adalah
kapasitas pompa yang kegedean ketimbang laju alir yang harus dikembalikan ke
bagian bawah reboiler. Ketika ditanya, wah emang produksi kondensat kita sekarang
jauh berkurang karena emang gasnya tidak sebesar dulu. Make sense! Terpaksa,
dipindahlah kondensat tsb ke heater treater untuk diuapkan supaya titik uapnya
menjadi stabil. Cuma saya berpikir, bagaimana jika plant tsb tidak punya heater
treater. Kalaupun punya, tentunya relokasi dari kolom distilasi itu ke treater
haruslah dicek dulu, mulai dari kapasitas, pressure drop, safety sistem, operability,
dan seterusnya. It was lucky probably. Until someday, condensate stabilizer
tsb dihidupkan kembali karena ditemukan sumur yang
lumayan besar sehingga masih masuk ke batas rentang operasi alat tersebut. Tapi
reboilernya ternyata tidak mampu memanaskan, sepanas yang diinginkan. Why? Dan
ketika problemnya diperbaiki, dalam arti reboiler temperatur bisa menanjak lagi,
produk specs keluarannya (TVP = true vapor pressure) tidaklah stabil, why?

Suatu hari, produksi gas dari suatu plant harus dikurangi karena tiba-tiba
saja aliran dari sumur yang dilewatkan ke sebuah cooler, temperaturnya cenderung
tinggi dan tidak mau turun. Sebenarnya gejala kenaikan temperatur tersebut sudah
terdeteksi sejak lama, tapi masih dalam batas yang diijinkan dan belon kena
setting TSHH-nya. Cek2 dan ricek, laju alir massanya masih sama, rasio fluida
cair serta fluida gas yang yang mengalir masih sama, tidak ada pressure drop
yang significant, motor penggerak induce fan-nya masih jooss, but why?

Atau suatu ketika, ketika katup joule thomson, sudah dicek2 setengah mati oleh
orang instrument, sampai2 dikalibrasi siang malam, tapi tetap saja dew point
gas lebih besar dari biasanya. Backpressure dari pipeline juga termasuk hal
yang diperiksa, but still as it is, why?

Atau kasus kompresor yang tiba2 saja butuh energi lebih tinggi untuk mengkompress
laju alir massa yang sama? Temperatur serta inlet pressure oke2 saja ka-ka.
Deterjen wash? Rajin kita! Lalu apa?

Atau kasus hirdrocylone yang dulunya bagus tapi sekarang jadi melempem karena
suatu sebab yang jelas tapi terkadang tidak terpikirkan.

Rasanya saya sekarang tahu, bahwa ada hal2 yang terkadang kita tidak bisa prediksi
sebelumnya, karena keterbatasan pengetahuan manusia itu sendiri. Mungkin yang
bisa dilakukan adalah memperkuat ketajaman dalam hal planning atau perencanaan.

Jika kembali ke kasus di atas, rasanya gas floatation unit sudah waktunya ditinggalkan
kali yach. Yach karena sifat kelemahan sejatinya, yaitu tidak tahan akan fluktuasi
di inletnya, serta pengoperasiannya yang kerap harus ditengok. Dengan memanfaatkan
hidrocyclone mungkin problem bisa teratasi, asal, data partikel liquid droplet-nya
benar-benar mewakili kondisi minyak yang paling ekstrem. Kalau sudah ada kondensat
(sebagai akibat kenaikan laju produksi gas), biasanya hydrocyclone tidak tahan,
karena oil droplet-nya semakin mengecil. Gaya sentrifugal yang didapat dari
operasi hydrocylone tidak bisa memisahkan partikel kondensat itu. Semua kondensatkah?
Belon tentu, ada juga yang masih bisa, terutama jika karakterisktik droplet-nya
masih masuk rentang kerja hydrocylone. Kalau tidak mau pusing dengan menambahkan
chemical untuk menggambungkan partikel2 kondensat2 tsb, biasanya dipilih sentrifuge
yang punya kecepatan putaran berkali2 lipat (baca=gaya sentrifugal) dibandingkan
hydrocylone. Tapi harganya? Jangan tanya ke saya yach! Ngomong-ngomong ttg kondensat
ini, terkadang bola yang digunakan untuk meter proving bisa benjol2 jika direndam
dengan crude oil yang mengandung kondensat. Jadi harus hati2.

Kasus kedua mungkin lebih menarik. Masih untung punya heater treater yang bisa
membawa kondensat ke standard TVP yang diinginkan. Kalau tidak? Desain engineer
biasanya menambah suatu unit condensate stabilization bertipe multiple flash
drums. Looks OK, tetapi kalau dikritiskan, bagaimana menebak flash calculation
yang terjadi di separator tersebut? Data komposisi mana yang digunakan, data
sekarang, atau data yang akan datang (yang artinya belon ada?).

Looks gambling. Terkadang, karena sudah terlalu lama tidak digunakan, orang
lupa isolasi yang telah dilakukan di condensate stabilization tersebut. Tidak
heran jika beban reboiler yang seharusnya cukup malah tidak cukup karena lupa
membuka side water draw di kolom yang menjulang itu. Air di badan kondensat
yang baru saja dialirkan pertama kali, setelah alat tersebut di shutdown untuk
sekian lama lupa untuk diperhatikan. Air masuk ke bagian tengah dan jatuh ke
bawah kolom dan dipanasi oleh reboiler. Air naik ke atas kembali, tapi karena
adanya gradien temperatur sebagai konsekuensi adanya aliran reflux, air mengkondensasi
kembali. Mutar-muter air ini sampai akhirnya berkumpul. Harga kapasitas panas
air yang dua kali lipat dari kondensat bisa membuat reboiler kelojotan sampai
akhirnya menyerah. Buka side draw-nya, dan hilanglah masalahnya. Tapi tidaklah
lama ketika produk kondensat specs-nya (TVP-nya) naik turun. Ah, lagi2 orang
lupa untuk men-tuning control valve yang mengatur inlet flow ke kolom distilasi
ini.

Ingatlah kawan, umpan ke kolom ini asalnya dari suatu yang relatif tidak stabil
(sumur-sumur produksi), maka untuk membuatnya stabil, tentunya stategi kontrolnya
juga harus joss plus penambahan surge drum sebagai kapasitor proses. Low selector
switch di keluaran separator, antara level dan flow mungkin bisa dipilih kali
yach. Kalau cascade? Saya belon pernah mencobanya.

Kasus ketiga mungkin lebih ke pemahaman teori tentang termodinamika. Ketika
tekanan menurun, maka spesific enthalpi biasanya jadi naik mengikuti hukum termodinamika.
Kenaikan specific enthalpi ini tentunya membawa akibat kenaikan panas yang harus
diserap untuk menurunkan temperatur di keluaran cooler. Kegagalan untuk memonitor
specific enthalpi tsb, bisa membuat kita pusing kepala di lapangan, karena tentu
saja manajer akan ngamuk2 akibat laju produksi yang harus diturunkan supaya
temperatur keluaran cooler menjadi on-specs.

Joule thomson! Kasus favorit. Katup ini sangat rentan dengan komposisi gas
diinletnya. Temperatur anda bisa naik atau turun, tentunya sangat tergantung
dari komposisinya. Lalu bagaimana dengan komposisi gas di tahun ke sepuluh?
Masih bisakah katup si joule thomson ini memenuhi specs?. Alternatif? Mungkin
bisa milih refrijerasi atau turboexpander.wuih.mahalnya bung alat ini (katanya!)

Kasus kompresor, kasus yang tidak terkenal karena sudah pasti keliatannya,
feed gas anda semakin ringan berat molekulnya (MW-nya). Yach, apa harus dikata,
banyak kerjaan juga untuk urusan yang satu ini. Bukan cuma menurunkan laju alir
ke feed kompressor terkadang, tapi surge line dan surge control line harus direview.

Anyway, pelbagai contoh di atas bisa jadi dialami oleh anda2 semua. Benang
merah yang bisa saya ambil adalah perlunya proper planning. Termasuk pengambilan
sampel komposisi fluida pertama kalinya dari perut bumi sebelum mendesain suatu
pabrik. Jika meleset, plant anda produknya juga bisa meleset dari specs yang
diinginkan.

Semoga hal ini tidak terjadi di plant anda.