Operasi pemompaan minyak mentah dan kondensat dari suatu satelit atau pabrik ke pabrik pengumpul umumnya menggunakan pompa. Bisa pompa jenis sentrifugal ataupun recripocating. Dan sudah merupakan hal umum, bahwa pompa yang terpasang kapasitas total-nya lebih dari yang harus dipompakan. Alasannya?

Operasi pemompaan minyak mentah dan kondensat dari suatu satelit atau pabrik
ke pabrik pengumpul umumnya menggunakan pompa. Bisa pompa jenis sentrifugal
ataupun recripocating. Dan sudah merupakan hal umum, bahwa pompa yang terpasang
kapasitas total-nya lebih dari yang harus dipompakan. Alasannya? Buat spare,
buat jaga2 donk kalo fail.

Ada berbagai macam sparing phylosophy yang umum digunakan para pendesain ketika
merancang pompa2 tersebut. Biasanya, sparing phylosophy itu berdasar atas: cost,
flowrate flexibility, maintenance capability, criticality of service, company
sparing phylosophy, serta personal preference.

Menurut orang, ada sparing phyloshophy yang berdasar pada kapasitas, seperti
2 x 100%, 3 x 50%, dst, bla..bla..

2 x 100% berarti kita mempunyai satu ekstra pompa yang siap sedia untuk dijalankan
jika pompa yang satunya lagi ngadat, atau lagi dalam perawatan. Secara kasar,
bisa ditebak bahwa metode ini membutuhkan biaya yang relatif mahal. Dan biasanya
dipakai untuk suatu operasi yang tidak bisa di ganggu (harus kontinyu maksudnya
(?)).

Kalau 3 x 50%, berarti untuk setiap pemompaan, dua pompa akan dijalankan untuk
memenuhi kebutuhan, sementara yang satunya lagi di-off-kan. Jadi kalau satu
pompa yang lagi jalan tiba2 down, maka pompa yang ketiga (yang lagi stand by)
akan dihidupkan. Cara ini adalah sangat umum dan mungkin yang paling ekonomis.
Lalu bagaimana kalau dua2 pompanya gagal. Well my friend, frekuensinya adalah
sangat jarang sekali. Mungkin dari sinilah muncul prinsip ‘ No double jeopardy’.
Keuntungan lainnya? Adalah kita bisa mengubah2 lebih leluasa fluida yang akan
dipompakan tanpa banyak masalah ketimbang rekannya yang menganut 2 x 100%. Untungnya
lagi, jika kita harus mompa lebih dari kapasitas design, pompa yang ketiga bisa
bantuin dua rekannya yang lagi kerja. Tapi..ingat, jika pompa yang digunakan
adalah jenis sentrifugal, informasi ttg kurva pompa dua atau tiga yang bekerja
paralel tsb sangat dibutuhkan (ingatkah anda pelajaran ttg hal ini di mekanika
fluida?).

Ada lagi penganut sparing phylosophy yang sukanya ‘hot’ dan ‘cold’
spare. Dan sistem ini rupanya punya dua arti.

Yang penganut pertama mengatakan bahwa ‘hot’ dan ‘cold’
itu berasal dari control system. Maksudnya gini kawan, ‘hot’ berarti
jika pompa utama yang lagi bekerja tiba2 gagal, maka secara otomatis pompa kedua
yang sedang nganggur tadi akan hidup. ‘Cold’ spare, berarti, jika
pompa utama yang bekerja tiba2 gagal, pompa yang kedua hanya bisa dijalankan
secara manual, jadi tidak otomatis.

Penganut sparing philosophy kedua mengatakan bahwa "hot" dan "cold"
spare berasal dari cara bekerjanya yang bergantian. Jadi misalnya, Jika kerjaanya
bergantian setiap satu minggu, maka minggu pertama si pompa nomor 1 yang bekerja
– dia itu di posisi "hot" sedangkan pompa yang kedua berarti "cold".
Di minggu kedua, ditukar. Pompa kedua yang bekerja – dia jadi si "hot"
sedangkan pompa pertama di si "cold". Penganut sistem ini biasanya
berpendapat hal ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa dua pompa itu selalu siap
sedia mompa, meskipun alasan dibalik itu adalah karena program preventive maintenance-nya
yang jelek (he..he..). Bahkan kata ahlinya Reability Center Maintenance, justru
penganut philosophy ini salah besar, terutama jika kedua pompa tersebut identik
(dan biasanya pompa spare itu identik). Kenapa?

Dia menjelaskan seperti ini: Jika saya punya pompa dua, satu akan saya jalankan
terus sampai dia rusak. Lalu ketika sedang memperbaiki pompa yang rusak ini,
pompa yang kedua dihidupkan. Jika pompa pertama yang rusak tadi sudah selesai
diperbaiki, dia dijalankan kembali, dan pompa kedua yang tadi dijalankan dimatikan.
Kenapa? Karena dengan begitu, saya akan tahu pola-pola kerusakan pompa, apa
saja yang bisa membuatnya rusak bisa saya record dan catat trendingnya. Dengan
begitu saya punya data yang cukup akurat untuk melakukan suatu aktivitas maintenance
yang lebih bagus dari preventive maintenance, yaitu predictive maintenance.
Jika pompa itu saya jalankan secara bergantian dan teratur, sulit bagi saya
untuk mengambil data reability pompa. Masuk akal juga yach….

Suatu perusahaan yang punya lebih dari satu pabrik minyak yang letaknya berjauhan,
sparing phylosophy biasanya dikembangkan lebih jauh, guna menjamin bahwa export
minyaknya reliable serta untuk mengantisipasi tidak tentunya jadwal kapal tanker
minyak. Katakan ada suatu pabrik minyak yang punya tiga pabrik dan satu pelabuhan
minyak. Pabrik pertama letaknya paling jauh, yang kedua lebih dekat ke pabrik
ketiga, dan pabrik ketika adalah pengumpul utama. Dari pabrik ketiga mengirimkan
semua minyak ke pelabuhan.

Pabrik pertama mengumpulkan minyak dari sumur, dan setelah diproses guna memenuhi
spesifikasi, lalu dipompakan ke pabrik kedua. Di pabrik kedua, pompa transfernya
memompakan minyak dari pabrik pertama dan juga minyak dari sumur yang masuk
ke pabrik kedua. Semua minyak tsb dipompakan ke pabrik ketiga. Di pabrik ketiga
ini, semua minyak yang dipompakan dari pabrik kedua dan juga dari sumur2 minyak
yang diposes di pabrik ketiga diblending kembali untuk mendapatkan harga spesifikasi
yang sesuai pasar. Dari pabrik ketiga inilah semua minyak dipompakan ke pelabuhan.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kalau pabrik kedua fail, dalam arti terjadi
sesuatu keadaan darurat sehingga dia tidak dapat memompakan minyak ke pabrik
ketiga, apakah pabrik pertama harus menghentikan pemompaan minyaknya. Wah, ini
uang men, kita harus membuatnya tetap dapat memompa, jika tidak sumur2 minyak
bisa2 ditutup karena tangkinya luber. Jika sumur2 minyak itu ditutup, apalagi
sumur2 yang kritis, belum tentu si minyak mengalir kembali dari sumur ini setelah
sumur2 tsb dibuka kembali.

Untuk mengatasi hal ini, nampaknya si designer pabrik sudah memikirkannya.
Si Designer ini merancang pipa by-pass yang dikenal sebagai disaster by-pass
line , dimana fungsinya adalah untuk memby-pass pabrik yang lagi disaster/fail
dan minyak dari pabrik dihulunya tetap dapat dipompakan ke tempat tujuan yang
terakhir. Dalam hal ini, kapasitas pompa yang terpasang di pabrik pertama bisa
memompakan minyak langsung ke pabrik ketiga jika pabrik kedua fail. Bagaimana
kalau pabrik ketiga itu yang fail? Maka pompa di pabrik kedua dirancang sedemikian
rupa sehingga bisa memby-pass pabrik ketiga dan langsung memompakan minyak ke
pelabuhan, yang juga menggunakan disaster by-pass line. Jadi dengan kata lain
yang lebih singkat, kapasitas pompa pabrik pertama bisa langsung memompakan
ke pabrik ketiga, dan kapasitas pompa pabrik kedua bisa langsung memompakan
minyak ke pelabuhan.

Itu jika plant-nya yang disaster frend…

Bagaimana kalau semua pompa transfernya rusak, atau sistem pembangkit tenaga
di area pompa lagi trouble (meski kemungkinan ini rasanya sangat kecil). Untuk
pabrik yang pertama, tidak ada cara lain kecuali menutup sumur minyak atau membakarnya
di burn pit setelah tangki2 pengumpul minyaknya penuh. Tapi jika terjadi pompa
yang rusak adalah di pabrik kedua. Bisa dengan dua cara yang berurutan. Pertama,
penuhi dulu tangki di pabrik kedua tersebut baru memby-pass pemompaan langsung
ke pabrik ketiga, atau langsung memompa ke pabrik ketiga. Hal yang sama juga
diberlakukan jika semua pompa di pabrik ketiga fail. Pemilihan tsb sangat bergantung
kepada jadwal kedatangan tanker minyak, serta juga kualitas /spesikasi minyak
pada saat itu.

Sumber Contekan:

  1. Vico Indonesia Crude Oil Transfer Philosophy.
  2. Discussion with Maurice Steward PhD, " Sparing Philosophy"