Technology Foundation Fieldbus (nama teknologi, disingkat FF) ini adalah satu dari sekian banyak Teknologi Fiedbus yang muncul di dunia. Dari sekian teknologi yang ada, pada saat ini Profibus (http://www.profibus.com) dan Fieldbus Foundation (nama organisasi) (http://www/fieldbus.org) adalah dua teknologi yang mendominasi bidang ini di dunia.

Technology Foundation Fieldbus (nama teknologi, disingkat FF) ini adalah satu
dari sekian banyak Teknologi Fiedbus yang muncul di dunia. Dari sekian teknologi
yang ada, pada saat ini Profibus http://www.profibus.com
dan Fieldbus Foundation (nama organisasi) http://www/fieldbus.org
adalah dua teknologi yang mendominasi bidang ini di dunia. Teknologi Profibus
yang diprakarsai oleh Siemens lebih banyak mendominasi di benua Eropa, sedangkan
Teknologi Foundation Fieldbus (lihat bagian Sejarah di bawah) lebih banyak mendominasi
di benua Amerika. Akan tetapi pada dua tahun terakhir ini tampaknya Teknologi
Foundation Fieldbus semakin banyak diterima di seluruh penjuru dunia termasuk
para pengguna di Eropa.

Perbedaan mencolok dari kedua teknologi ini adalah pada FF semua Function Block
(PID, AI, DI, AO, DO, TOT, ARITH, dsb.) pada umumnya dilaksanakan pada Perangkat
Lapangan (Field Devices), sedangkan Profibus lebih memfokuskan implementasinya
pada digital communication yang pada umumnya Function Block dilaksanakan pada
suatu Processor/Controller Module dari sistem.

Sejarah Lahirnya Teknologi FOUNDATION. Fieldbus Teknologi ini berawal dari dipergunakannya
Mikroprosesor pada Smart/Intelligent Transmitter. Penggunaan mikroprosesor yang
pada awalnya ditujukan untuk kemudahan kalibrasi dan kompensasi-kompensasi seperti
terhadap suhu proses, ternyata kemampuan mikroprosesor sangat berlebih apabila
hanya dipergunakan untuk keperluan tersebut. Para perancang mulai memikirkan
untuk menggunakan kelebihan kemampuan itu untuk keperluan lainnya, yaitu untuk
komunikasi secara digital sehingga Transmitter bisa dikonfigurasikan melalui
Handheld Configurator, dan beberapa field database (range, spesifikasi material,
tanggal kalibrasi terakhir, dsb.), sehingga lahirlah Smart/Intelligent Transmitter
yang mempunyai transmisi sinyal digital.

Dengan diperkenalkannya transmisi sinyal digital, industri instrumentasi dan
kontrol yang semuanya sudah menggunakan sinyal standard analog 4~20mA menjadi
bergolak, ditambah lagi transmisi sinyal digital yang muncul bersifat proprietary
dari masing-masing pabrikan, sehingga transmisi sinyal digital dari perangkat
lapangan hanya bisa dipergunakan pada sistem dari pabrikan yang sama. Hal ini
memperkuat keterikatan Pengguna terhadap Pabrikan, dan sangat mengurangi fleksibilitas
untuk aplikasi yang memerlukan perangkat-perangkat dari berbagai pabrikan.

Hal ini memicu kebutuhan akan standardisasi transmisi sinyal digital, sehingga
bermunculan beberapa organisasi yang berupaya menentukan sinyal transmisi yang
standard. ISA (dahulu ‘Instrument Society of America’, sekarang
‘The Instrumentation, Systems and Automation Society’) http://www.isa.org/
pada pertengahan dekade 1980-an membentuk komite yang disebut ISA-SP50 yang
bertugas untuk membuat standard transmisi sinyal digital. Para pabrikan berlomba-lomba
agar standard yang dipakai adalah teknologi dari pabrikan tersebut; konon hal
ini didasari lebih pada alasan komersial; alhasil ISA-SP50 menemui jalan buntu,
boleh dikatakan gagal dan bubar pada awal dekade 1990-an.

Roda bisnis para pabrikan harus terus bergulir, sehingga mereka mulai menggabungkan
diri pada beberapa organisasi, komite dan foundation yang masing-masing mencoba
memproklamirkan bahwa teknologi-teknologi yang dikoordinirnya adalah standard
de facto. Diantara sekian banyak organisasi, yang populasi pendukungnya banyak
adalah HART (Highway Addressable Remote Transducer) Communication Foundation
yang diprakarsai Rosemount diakhir 1980-an http://www.hartcomm.org/technical/history.html.
Teknologi HART mempunyai banyak keunggulan, sayangnya kecepatan komunikasi digital-nya
sangat terbatas (3~5 Variable per detik), sehingga untuk melaksanakan kontrol
proses yang cepat seperti aplikasi flow merupakan hal yang mustahil. HART mengatasi
hal ini dengan men-transmisikan sinyal process variable melalui sinyal analog
(4~20mA), sedangkan untuk besaran lainnya yang non-time-critical menggunakan
transmisi sinyal
digital yang di-superimpose diatas sinyal 4~20mA. Ada pula beberapa pabrikan
yang mengimplementasi function block seperti PID Control, Totalizer, Characterizer,
dsb. Untuk diproses di Transmitter itu sendiri, sehingga tidak memerlukan transmisi
sinyal untuk besaran process variable.

Rupanya ide untuk mengimplementasi function block di perangkat lapangan menimbulkan
ide baru bahwa sebenarnya perangkat lapangan bisa dipakai sebagai bagian atau
komponen dari Sistem kendali itu sendiri. Hal ini memicu para ilmuwan untuk
mengembangkan arsitektur Sistem Kendali baru yang akhirnya melahirkan arsitektur
yang sekarang kita kenal dengan istilah FCS (Fieldbus Control System, atau ada
yang menyebutnya sebagai Field Control System).

Pada arsitektur FCS, selain banyaknya komunikasi data, sistem ini juga memerlukan
kemampuan linking dari component object satu dan lainnya serta networking yang
lebih memadai. Beberapa ratus pihak Pabrikan, Pengguna, Engineering Contractor
dan Akademis yang bergabung kedalam Fieldbus Foundation (lihat ttp://www.fieldbus.org/About/Join/MembershipList/#anchortop)
dan terus mengembangkan teknologi FF ini. Dari keanggotaan Fieldbus Foundation
tampak bahwa Pengguna (User) lebih banyak berperan dalam menentukan spesifikasi
yang pada akhirnya membuahkan spesifikasi yang banyak menguntungkan pihak Pengguna,
dibandingkan menguntungkan Pabrikan seperti yang dahulu sering terjadi.

Artikel selengkapnya dapat di-download di bawah ini.