Apakah migas merupakan resources yang limited ? Jika migas merupakan limited resources, kapankah migas di Indonesia habis ?Apakah dalam orde puluhan tahun lagi ataukah ratusan tahun ?

Apakah migas merupakan resources yang limited ? Jika migas merupakan limited
resources, kapankah migas di Indonesia habis ? Apakah dalam orde puluhan tahun
lagi ataukah ratusan tahun ?

Pertanyaan yang dilontarkan di atas adalah pertanyaan fundamental. Jika kita
tidak bisa menentukan jumlah kekayaan migas kita yang ada saat ini, bagaimana
kita mau menentukan strategi ke depan ? (baik dari sisi bisnis migas itu sendiri
maupun dari sisi masyarakat sebagai pengguna produk).

Ya, migas merupakan limited resources. Artinya migas adalah barang yang tidak
dapat diperbaharui lagi, begitu dipakai habis. Terjadinya migas di alam memakan
waktu yang sangat lama dan membutuhkan kondisi tertentu sehingga tidak setiap
tempat di bumi dapat mengandung migas. Berbahagialah kita karena negeri kita
Indonesia tercinta ini dikaruniai Tuhan selain alam yang subur juga kandungan
buminya penuh dengan hasil tambang termasuk migas. Bagaimana dengan cadangan
migas di Indonesia?

Contoh, kandungan minyak yang ada dalam bumi Indonesia adalah sejumlah x liter
air dalam bak yang bervolume kira-kira 100 liter. Jika kita buka kran air dengan
kecepatan 0.1 liter/minute, karena kita beranggapan bahwa KIRA-KIRA masih ada
70 liter air lagi, padahal air di dalam tinggal 10 liter lagi maka dalam waktu
kira-kira 100 menit air dalam bak sudah habis. Dan kitapun saling salah-salahan
karena tidak adanya air yang muncul dari kran.

Konsekensi dari KETIDAKTAHUAN kita, akan berbuntut banyak. Contoh lagi, misalnya
kita selalu berusaha mencari teknologi yang paling top dalam eksplorasi dan
produksi migas, ini memacu kecepatan cadangan minyak kita semakin tipis, dan
pada akhirnya teknologi itu tidak berguna lagi untuk (bukan karena teknologinya
jelek, tapi karena resource sudah habis). Ketidaktahuan kita akan membawa kita
pada kebodohan dalam bertindak yang dapat berkonsekuensi pada penderitaan anak
cucu kita.

Cadangan migas yang ada selalu berubah dengan selalu adanya pencarian-pencarian
cadangan baru. Dan dengan teknologi yang terus berkembang banyak lapangan-lapangan
migas yang sebelumnya sudah dinyatakan habis karena diproduksi dengan metode
primer, diproduksi kembali dengan metode sekunder, kemudian tertier (disebut
sebagai Enhance Oil Recovery). Sedemikian rupa manusia berusaha untuk memperoleh
migas dari alam karena migas adalah barang yang sangat dibutuhkan manusia dalam
damai dan perang.

Kiranya sulit sekali kita sebagai manusia di dunia dapat memprediksi berapa
cadangan yang ada di dalam perut bumi ini. Kenapa ? Karena pencariannya di alam
tidak mudah, membutuhkan teknologi tinggi dan biayanya mahal. Oleh sebab itu,
kalau ditanyakan kapan minyak habis, tidak ada seorangpun yang dapat menjawabnya.
Bila pertanyaan itu diajukan kepada seorang geologist, maka jawabannya adalah
: "tidak tahu kapan habisnya" atau bahkan yang lebih spektakuler "tidak
akan pernah habis". Berbeda bila pertanyaan itu diajukan kepada kalangan
ekonom, mereka akan menghitung berdasarkan : Cadangan yang ada (saat ini) dikurangi
produksi perhari sehingga diketahui kapan cadangan itu habis. Kita hanya dapat
berharap semoga Indonesia masih memiliki banyak cadangan yang masih dapat diketemukan
lagi, mungkin dengan teknologi-teknologi baru pada masa yang akan datang sehingga
tidak akan habis untuk masa yang singkat.

Yang harus kita pikirkan untuk mengatur strategi ekonomi adalah bukan berapa cadangan
yang kita punya di negeri tercinta ini, tetapi berapa cadangan terbukti yang kita
punyai pada saat ini. Dan hal ini harus terus direvisi setiap tahun. Berdasarkan
cadangan terbukti ini kita dapat mengetahui/menghitung dan mengatur berapa produksi
migas yang akan dihasilkan dan berapa penerimaan kita, bagaimana pemasarannya.

Karena kita harus ingat gas yang diproduksikan tidak dapat disimpan seperti
minyak pada tanki-tanki penimbun. Begitu gas tersebut diproduksikan, ia harus
segera dijual dan ada pembelinya. Di sinilah dibutuhkan kepiawaian ahli-ahli
pemasaran kita untuk mendapatkan kontrak-kontrak jangka panjang untuk penjualan
gas tersebut. (Berbeda dengan minyak yang dapat dijual perkapal).

Cadangan terbukti ini (setiap tahun) selalu diketahui oleh pemerintah karena
cadangan ini dilaporkan setiap tahun oleh PSC/Pertamina/Migas dalam wujud laporan
tahunan PSC yang menghitung berapa cadangan terbukti pada satu cut-off date
tertentu. Cadangan yang dilaporkan ini adalah cadangan yang telah terbukti,
yang kita yakini dapat diproduksi dengan semua teknologi yang dilakukan saat
cadangan tersebut dihitung (proved recoverable reserves), termasuk dari IOR
(Improved Oil Recovery, Secondary dan Tertiary).

Data ini diberikan oleh masing-masing PSC ke induk perusahaan mereka, setelah
divalidasi dan disetujui, baru ke Pertamina/Migas. Data ini diperlukan untuk
berbagai perhitungan ekonomis : untuk mengevaluasi berapa nilai perusahaan untuk
urusan saham (nyse, nasdaq etc..), berapa investasi yang akan ditanamkan untuk
tahun-tahun mendatang, berapa exposure perusahaan di Indonesia (melihat situasi
saat ini dengan segala macam sweeping etc..), berapa jumlah cadangan tersisa
negara kita (untuk Pertamina/Migas) yang kemudian dipakai untuk RAPBN, pembagian
porsi daerah dalam era otonomi, dll. dst.

Di US dan beberapa negara Europe salah satu indicator yang dipakai ialah R/P
(Reserves/Production). R/P selalu dijaga pada nilai 10 (saat ini menurut perhitungan
R/P global berada pada kisaran 50). Dengan kata lain jika reserves drop mencapai
10 kali dari production maka production akan menurun bersamaan dengan menurunnya
reserves (Bayangkan bagaimana bisa menentukan production jika tidak tahu reserves!).

Production sendiri increase rata-rata 0-3% per tahun. Dalam almanak ditahun
2000, reserves oil ada kira-kira 992 BB. Studi lain yang sering disebutkan ialah
studi dari Laherrre (1998) menunjukkan kira-kira 900 BB. Sementara US Geological
Survey (2000) menunjukkan beberapa angka optimis (dibagi atas tiga kategori
probabilitas (95%, 50%, dan 5%) menunjukan angka berturut-turut 2248, 3003,
3896 BB. Kalau dikonversikan ke beberapa data yang production dan consumption
yang lain maka didapat berturut-turut 1348, 2103, 2996 BB. Kesimpulannya :

Good case (USGS 5%);
2996 BB dengan inital increase in production 1% maka peak production ialah pada
tahun 2062.

Bad case (Laherrere);
900 BB dengan initial increase in production 3% maka peak production ialah pada
tahun 2014.

Likely case (USGS 95%);
1348 BB, increase in production 2%, peak production akan dicapai pada tahun
2025.

Back to the issue, the real question is not ‘when we run out of oil ?’,
but when will the production peak make petroleum so expensive as to be economically
nonvialle as the energy foundation of civilization (especially transportation).

Jadi, kapan migas habis? Silahkan coba kalkulasi sendiri. Jawab pastinya, ‘No
one really knows, but sometimes in your lifetime’.